Antara Keinginan Dan Doa
------------------------------------ 

Bencana gempa yang memporak-porandakan wilayah Padang, Pariaman dan sekitarnya 
di provinsi Sumatera Barat pada tanggal 30 September 2009 dan keesokan harinya 
terjadi di wilayah Kerinci di provinsi Jambi, benar-benar membuat miris dan 
prihatin. Bisa dibayangkan betapa penderitaan yang sedang dialami oleh 
masyarakat korban gempa di sana, sebagaimana hal yang kurang lebih sama juga 
pernah terjadi di Aceh, Bengkulu, Tasikmalaya, Jogja dan tak terbilang lagi di 
wilayah-wilayah lain di Indonesia. 

Tayangan televisi yang sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia, 
semakin membuat dramatis dari kondisi sebenarnya di lapangan. Media televisi 
telah membuat seolah-olah bencana itu ada di depan mata siapa saja yang 
kebetulan menyaksikan siarannya. Dampaknya, simpati dan empati masyarakat yang 
tidak mengalami langsung bencana itu seperti menjadi mudah tersentuh dan 
tergugah.

*** 

Menyaksikan siaran televisi yang memberitakan tentang kedatangan tim bantuan 
dan relawan dari Swiss, Australia dan Jepang, anak saya Noval (15 th) agaknya 
terusik perasaannya.

"Siapa yang membiayai kedatangan orang-orang dari luar negeri itu, pak?", tanya 
Noval.
"Ya pemerintahnya masing-masinglah", jawab saya sekenanya.
"Lha, kalau orang-orang Indonesia yang pada datang ke sana?", tanya Noval lagi.
"Yaaa... ada yang dibiayai pemerintah, ada juga dari organisasi yang mengirim 
mereka, ada dari sponsor lain, dan banyak juga yang biaya sendiri terutama 
orang-orang yang tinggalnya di sekitar Padang sana", jawab saya lagi.

Diam sesaat, lalu dialog berlanjut. "Dulu waktu ada tsunami di Aceh, ustadku 
juga dikirim menjadi relawan ke sana", lanjut Noval yang menyebut guru-gurunya 
di sekolah dengan panggilan ustad. Saya mulai bisa menebak kemana arah 
pembicaraan anakku ini. Maka dialog sengaja ingin saya lanjutkan agar 
pembicaraan berkembang. Kata saya kemudian : "Ya, itu berarti organisasi 
ustadmu yang membiayai pengirimannya termasuk biaya hidup di sana".

"Enak ya...", kata Noval. Tentu saja kata-kata ini membuat saya celathu 
(bertanya dalam hati) sambil mengerutkan kening, apa maksudnya enak... Rupanya 
belakangan saya baru paham bahwa yang dimaksud dengan enak, adalah bukan enak 
dalam pengertian bergembira dan bersenang-senang, melainkan dalam pengertian 
merasa bangga dan berguna karena dapat membantu orang lain yang sedang tertimpa 
kemalangan. 
 
Setelah terdiam agak lama, tiba-tiba kemudian Noval berkata : "Saya ingin 
kesana-e...". Akhiran 'e' ini memang khas Jogja banget. Karena saya mulai paham 
arah pembicaraan Noval, saya pun memancingnya.

"Lha ngapain ke sana? Wong orang-orang lagi pada sibuk menangani bencana... 
Insya Allah lain waktu kalau ada rejeki kita traveling ke sana", kata saya 
menanggapi. 
"Ya membantu korban gempa no...", jawab Noval cepat. Penggalan ungkapan 'no' 
ini juga khas dialek wong Jogja dan Jawa Tengah umumnya.
"Bagaimana bisa, wong kamu masih masuk sekolah dan biaya kesananya kan juga 
tidak sedikit" kata saya kemudian.
"Kan bisa minta ijin", katanya mematahkan argumentasi pertama saya. Sedang 
untuk argumentasi yang kedua Noval menghibur diri : "Wah, kalau ada yang mau 
mengirim kesana, enak ya...". Kembali kata 'enak' digunakan sebagai ekspresi 
kebanggaan bisa menolong orang lain. 
"Kalau mau membantu kesana, memang praktisnya kalau kita tergabung dalam suatu 
organisasi relawan. Tapi bisa juga kalau mau datang langsung kesana dengan 
biaya sendiri dan bergabung dengan tim relawan yang sudah ada di sana", saya 
mencoba memberi penjelasan.

Dalam hati sebagai orang tua, saya merasakan sepercik kebanggaan kalau anak 
saya yang rodo ngglidig... (agak kebanyakan ide dan ulah) ini memiliki empati 
dengan penderitaan orang lain. Sekalian saja momen obrolan malam di rumah itu 
saya manfaatkan untuk sedikit cerita pengalaman. Ya namanya juga orang tua, 
bagaimana pun juga jam terbangnya lebih banyak dari anaknya. Maka mulailah sang 
bapak ini memamerkan kesombongannya (sudah sombong, pamer lagi...). Ini juga 
salah satu keterampilan yang perlu dimiliki oleh orang tua, yaitu harus pintar 
sombong di depan anaknya. Sombong bukan dalam konotasi takabur menurut istilah 
agama, melainkan dalam konteks memberi motivasi. 

Dulu sewaktu usia seputaran SMA, saya pernah menjadi anggota KSR (Korps 
Sukarelawan di bawah bendera PMI di Kabupaten Kendal). Saya sering ditugaskan 
untuk membantu kegiatan-kegiatan kemansiaan di sana. Ya, memang masih kelas 
kabupaten saja. Tapi jelas saya telah belajar banyak tentang ilmu 
tolong-menolong itu. Dan perasaan saya pada jaman tahun 70-80an itu kok 
Indonesia jarang dilanda bencana ya... Barangkali karena umur bumi waktu itu 
belum setua sekarang (30-40 tahun lebih muda dari sekarang), atau karena 
informasi dan komunikasi belum seterbuka sekarang, atau malah jangan-jangan 
memang Tuhan "belum punya alasan" untuk membencanai orang-orang Indonesia. 

Tujuan saya pamer kesombongan dengan cerita pengalaman itu sejatinya adalah 
agar kalau Noval ingin membantu orang lain yang terkena bencana, maka perlu 
memiliki bekal ilmu yang cukup. Apapun bidang ilmunya. Maksudnya agar di lokasi 
bencana nanti bukan malah bingung sendiri dan merepokan orang lain. Selain itu, 
akan lebih baik lagi kalau dapat bergabung dengan organisasi kemanusiaan yang 
ada.  

"Saya kepingin kesana-e...", kata Noval sekali lagi. Saya bisa merasakan 
kegalauan hatinya demi menyaksikan pemberitaan televisi tentang bencana gempa 
di Padang dan sekitarnya. Sementara dia merasa tidak bisa ikut berbuat apa-apa 
kecuali menyumbang melalui kotak amal yang digendong kemana-mana oleh para 
simpatisan di setiap perempatan jalan. Karena itu saya kemudian meyakinkan dia 
: "Niat yang bagus, le.... Insya Allah, suatu saat nanti kamu akan bisa 
melakukannya".

Selesai dengan kalimat terakhir itu, saya perlu buru-buru menambahkan : 
"Meskipun begitu ya jangan lalu kamu berdoa agar terjadi bencana lagi supaya 
kamu bisa menolong. Apalagi terus berdoa agar bencananya terjadi di dekat-dekat 
Jogja saja supaya biaya kesananya murah...", kata saya sambil tersenyum 
meninggalkan Noval yang lagi tidur-tiduran di depan televisi. Dan Noval pun 
tertawa sambil berseru : "Ya, tidaklah...".   
 
Yogyakarta, 3 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com


      

Kirim email ke