Kutu Putih Kecil Yang Menjengkelkan
---------------------------------------------------

Di belakang toko saya di Madurejo, Prambanan, Jogja, banyak tumbuh liar bibit 
tanaman pepaya. Saya duga itu berasal dari buangan biji pepaya yang biasanya 
dibuang begitu saja di halaman belakang lalu tumbuh menjadi puluhan bibit 
pepaya. Beberapa bulan yll. pegawai toko saya berinisiatif memisahkannya lalu 
menanam kembali gerombolan bibit pepaya itu. Idenya tentu agar kelak tumbuh 
menjadi pohon pepaya dan berbuah banyak. Sekalian saja lalu saya sarankan agar 
ditanam teratur di sekeliling tepi kolam ikan yang masih belum ada air dan 
ikannya, atau sebut saja kolam kosong.

Ketika pohon-pohon pepaya yang jumlahnya lebih 15 pohon itu semakin tumbuh 
subur dan besar, dan lalu mulai keluar buahnya, terbayang para pegawai toko 
yang akan menikmati panen buah pepaya bergantian dari satu pohon ke pohon 
lainnya, dari hari ke hari. Buah pepaya pun semakin besar dan mulai ada yang 
berwarna kuning kejingga-jinggaan dan jingga kekuning-kuningan. Buah pepaya 
yang bergelantungan itu terlihat begitu ranum menyegarkan.

Panen pertama beberapa butir buah pepaya akhirnya terlaksana juga. Unduhan demi 
unduhan buah pepaya jadi sering dilakukan oleh para pegawai. Lumayan sebagai 
selingan makan buah. Meski buahnya ya pepayaaaaaa..... terus setiap hari. Biar 
saja. Biar para pegawai saya semakin pintar bicara melayani konsumen seperti 
burung beo yang setiap pagi disuguhi pepaya, asal tidak mencret saja..... 
Sesekali saya juga ikut hadir dalam pesta pepaya di Madurejo.

Namun belakangan ini seiring cuaca panas berkepanjangan, buah pepaya mulai 
tampak layu. Tetap berbuah, tapi buahnya seperti balita kurang gizi. Berbuah 
segan mati tak mau. Semakin hari, bukan saja buahnya yang layu, juga daun dan 
pucuk pohonnya pun mulai terlihat ikut-ikutan lunglai dan akhirnya membusuk. 
Tidak lama kemudian satu demi satu pohon pepaya roboh dan mati. 

Innalillahi wa-inna ilaihi roji’un..... (semua berasal dari Tuhan dan kepada 
Tuhan pula akan kembali). Cuma untuk pohon pepaya ini tidak perlu dikubur, 
melainkan dibiarkan tergeletak di tanah dan akhirnya mengering. Beberapa pohon 
terakhir kini masih berdiri tidak tegak, miring-miring dan nyaris rubuh. 
Buah-buah terakhir pun tampak menjingga tapi layu. Maka hampir tamatlah dongeng 
tentang pesta pepaya di Madurejo.

*** 

Hama KPK (kutu putih kecil) rupanya datang tak diundang lalu menyerang 
berjamaah. Kutu putih kecil yang kalau disentuh terasa lengket di kulit yang 
kemudian saya ketahui memiliki nama latin pseudococcus sp. ini begitu 
dahsyatnya mengusik kesuburan pohon buah pepaya. Pelan tapi meyakinkan 
mengerubuti mulai dari pangkal buahnya, tulang daunnya, selangkangan bunganya, 
hingga merata menempel ke sekujur tubuh, daun, bunga dan buah pepaya. 
Benar-benar menjengkelkan. Mau disemprot dengan obat anti hama, khawatir bukan 
KPK-nya yang terkapar tapi malah orang yang makan buah pepayanya.
 
Belakangan saya membaca koran bahwa ternyata hama KPK ini sudah menyerang 
ladang budidaya pepaya di desa Mojosongo, kabupaten Boyolali. Separuh dari 
populasi pohon pepaya di sana (setelah dihitung ada 275.770 pohon buah pepaya) 
kini musnah dikeroyok KPK.

Rupa-rupanya KPK ini bukan hanya doyan pohon pepaya, beberapa tanaman jarak 
pagar pun diusiknya. Bahkan beberapa tanaman bunga kamboja (semboja) kuning, 
putih, merah dan jambon (pink) yang saya tanam di halaman depan rumah pun kini 
bagai bunga kembang tak jadi. Bunganya pungkring dan layu berguguran, padahal 
sebelumnya selama ini kalau mekar tampak indah sekali. Tanaman bunga kamboja 
kuning yang sudah saya setek jadi banyak itu dulu belinya Rp 75.000,- . 
Sedangkan bunga kambja yang merah dan putih itu memang dulunya saya setek dari 
kuburan saat sedang ziarah. Tentu saja bukan hasil nyolong, tapi atas ijin dari 
juru kuncinya.

Hingga kini tidak ada yang dapat saya lakukan untuk mengatasi serangan KPK 
kecuali pasrah kepada alam yang baik hati sudah sempat memberi kesegaran buah 
pepaya kepada pegawai toko saya dan memberi keindahan di depan rumah saya. 
Nampaknya saya harus lilo-legowo kalau memang saat ini sedang tiba giliran 
mongso (masanya) bagi KPK itu untuk berpesta. Mahluk kutu putih kecil yang 
secara fisik tampak tak berdaya yang beraninya menyerang berjamaah seperti 
peserta tawuran atau pengunjuk rasa atau penggusur paksa itu memang 
menjengkelkan. Beberapa tanaman kamboja terpaksa saya pangkas pucuk-pucuknya, 
sedang pohon-pohon pepaya akhirnya mati dengan sendirinya.

Kata orang : "Biarkan saja pak, nanti kalau tiba musim hujan biasanya akan 
hilang sendiri....". Orang itu pasti lupa kalau pepaya saya buahnya sekarang, 
bukan nanti menunggu musim hujan. Maka kalau musim hujan tiba, bukan kutu 
putihnya saja yang hilang melainkan tuntas sepohon-pohon pepayanya....

Yogyakarta, 2 Nopember 2009
Yusuf Iskandar  

http://yiskandar.wordpress.com



      

Kirim email ke