Menunggu Dimimpikan
-------------------------------

Minggu pagi ini ada yang aneh pada istriku. Beliau terlihat baik sekali di 
depan saya, lebih dari hari biasanya. Gaya bahasanya pun terdengar lebih halus 
dan manis dari biasanya. Ada apa gerangan? Ada yang berulang tahun? Ada yang 
sedang syukuran? Menang lotere? Meraih sukses lebih? Semua jawabannya ternyata 
tidak. 

"Mau dimasakin air untuk bikin kopi, enggak mas?", tanyanya mesra. 
"Kok tumben saya ditanya begitu", kataku heran tapi hanya dalam hati. Biasanya 
kalau saya bikin kopi sendiri dengan menggunakan air dari dispenser, sering 
dikomentari : "Kopi terusss...". Kebetulan hari ini air mineral di galon di 
atas dispenser memang sedang habis dan telat diganti. Dalam keadaan seperti ini 
maka kalau mau bikin kopi mesti menjerang air dulu. 

"Pasti ada apa-apa", kataku lagi dalam hati. Tapi apa ya? Di depan beliau 
ekspresi saya sengaja cuek aja..., pura-pura seperti tidak ada apa-apa 
(boro-boro memuji, dasar...!). Tapi hati saya penuh dengan rasa penasaran dan 
curiga. Meski beliau penggemar Mario Teguh, dampaknya pasti tidak sedrastis 
pagi ini. Sampai akhirnya istri saya yang justru tidak bisa menahan 
perasaannya, tipikal seorang wanita.

Barulah kemudian istriku duduk mendekat dan berkata : "Semalam aku mimpi 
buruk... Sampeyan meninggal dunia...".
"Innalillahi wa-inna ilaihi rojiun", kata saya spontan dalam hati. Wooo..., itu 
to sebabnya. Pantesan pagi ini kok tampak lain dari pagi biasanya, rupanya saya 
'meninggal dunia' tadi malam. 

Sejujurnya saya sendiri sempat galau. Kenapa sampai mimpi buruk itu hadir 
menjadi bunga tidur istriku. Jelas ini bukan bunga yang mekar indah harum 
mewangi, melainkan bagai kuncup bunga kembang tak jadi karena diserang hama KPK 
(kutu putih kecil). Kalau kebanyakan orang berangan-angan tentang dream comes 
true. Tapi kali ini sungguh saya berharap jangan comes true dulu, deh...

***

Sambil menikmati secangkir kopi susu yang susunya full enggak 
setengah-setengah..., dan menghisap sebatang rokok putih dalam-dalam, saya 
merenung dalam hati (padahal biasanya kalau merenung itu dalam pikiran). 
Hasilnya?
 
“Sssttt..., hari ini saya punya alasan dan bargaining position untuk rada 
dimanjakan oleh beliau”.

“Sssttt yang kedua..., saya punya alasan tambahan untuk menjadi lebih mesra". 
Lebih mesra kepada istri? Ya. Dan kalau itu sih sudah jelas menjadi kewajiban 
harian yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tapi bagaimana menjadi lebih mesra 
kepada Sang Pemilik Hidup?  Ampun Gusti wastaghfirullah. "Masak sih saya harus 
menunggu dimimpikan dulu untuk menambah kemesraanku padaMu?"... 

Yogyakarta, 15 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com



      

Kirim email ke