Alhamdulillah kalau saya bawa sendiri udah kec 120km/jam, lgsung ngurangi 
kecepatan.
Suka ngeri sendiri.
Yg penting waktu berkendara dengan apapun jangan lupa berdoa .
"Subhaanalladhi sakhoroo lana haadhaa wa maa kunna lahu mukriniin. Wa innaa 
ilaa robbinaa lamunqolibuun"
Atau :
Bismillaahi majreehaa wa mursaahaa.

Mudah2an bermanfaat.

Alfian 
H. Sufyan Tsauri

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: ASROFI <[email protected]>
Date: Sat, 28 Nov 2009 12:08:11 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [kendal-online] Jika Harus Naik Ojek Membelah Kemacetan Jakarta

hati-hati Pak Alfian,
jangan ngebut lagi
kalo kenapa-kenapa gimana coba....

ASROFI

Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah
Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta
Selatan
Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal

Mobile  : +6281 311 661 479
Yahoo : asrofism
G-Talk : [email protected]
Email : [email protected]
Blog : www.asrofi.web.id
Office : www.sentraproperty.com


2009/11/28 <[email protected]>

>
>
> Ya memang harus begitu. Pernah kepikiran tuk naik ojek waktu harus ke
> bandara penerbangan jam 9 pagi. Dari cibubur jam 6 pagi. Tapi emang hebat
> tuh supirku, tak suruh ngebut akhirnya sampai bandara jam 9 kurang 40 menit.
> Tp ya sama aja, ternyata pesawat delay 30 menit.
> Padahal sudah sport jantung...
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> ------------------------------
> *From: * Yusuf Iskandar <[email protected]>
> *Date: *Fri, 27 Nov 2009 08:53:52 -0800 (PST)
> *To: *Kendal Online<[email protected]>
> *Subject: *[kendal-online] Jika Harus Naik Ojek Membelah Kemacetan Jakarta
>
>
>
> Jika Harus Naik Ojek Membelah Kemacetan Jakarta
> ------------------------------------------------------
>
> Jam sudah menunjukkan pukul 18:15 waktu Pondok Indah Jakarta. Kendaraan
> yang akan mengantarkan saya menuju ke stasiun Gambir masih saja berjalan
> merayap, bahkan nyaris tidak bergerak. Jalan di depan Wisma Pondok Indah
> nampak demikian padatnya. Saya mulai gelisah. Pada tiket kereta api Argo
> Lawu yang akan saya tumpangi kembali ke Jogja malam itu jelas menunjukkan
> waktu keberangkatan jam 20:00 WIB.
>
> Harus ada jalan keluarnya, kata hati saya. Sebab jika tidak, saya pasti
> akan ketinggalan kereta. Kalau sampai esok paginya saya belum tiba di Jogja,
> berarti saya tidak bisa sholat Idul Adha di kampung dan yang lebih saya
> khawatiri adalah kalau sampai saya gagal menjaga amanah dan komitmen untuk
> membantu Panitia Qurban di kampung saya.
>
> Akhirnya saya putuskan turun dari kendaraan yang malam itu akan mengantar
> saya ke stasiun yang masih saja mbegegek (berhenti total) tertahan kemacetan
> parah. Segera saya menyeberang jalan untuk mencari taksi pada lajur jalan
> yang berlawanan yang tampak lebih lancar. Berdiri di pinggir jalan hingga
> lebih 15 menit ternyata tidak juga ketemu taksi kosong. Hati saya semakin
> gelisah disertai perasaan tegang. Tiba-tiba saya ingat kalau petang itu saya
> belum membatalkan puasa Arafah yang saya jalani. Saya lalu menuju tukang
> rokok di pinggir jalan membeli sebotol air mineral sekedar untuk membatalkan
> puasa saya. Sambil saya minta pendapat penjualnya tentang bagaimana cara
> tercepat menuju stasiun Gambir. Rupanya kalau perasaan sedang gelisah dan
> pikiran rada panik, kita sering tidak mampu berpikir jernah. Sampai perlu
> minta pendapat orang lain, siapapun dia termasuk tukang rokok pinggir jalan.
>
> Solusi tukang rokok ternyata sederhana saja : "Kalau tidak ada taksi
> mending naik ojek, pak", katanya. Ya, benar juga. Akhirnya usul itu saya
> setujui. Bapak penjual rokok pun berbaik hati membantu mencarikan ojek.
> Ketika saya tanya kira-kira berapa ongkosnya, dijawabnya sekitar 35 sampai
> 40 ribu rupiah. "Tapi ditawar saja, pak", katanya lagi.
>
> Pak tukang ojek meminta ongkos Rp 50.000,- sampai Gambir, setengah jam
> sampai katanya. Wah boleh juga, pikir saya. Tapi seperti saran tukang rokok
> tadi, saya pun menawar. Tawar-menawar berjalan rada alot (sudah tahu keadaan
> terdesak, masih juga gengsi untuk menerima begitu saja tawaran harga tukang
> ojek). Akhirnya kami sepakat dengan ongkos Rp 40.000,- Perasaan saya mulai
> agak lega, walau belum sepenuhnya. Ojek belum jalan tapi pikiran saya sudah
> membayangkan membonceng ojek malam-malam membelah kemacetan Jakarta.
>
> Sebuah sepeda motor butut Suzuki Tornado yang spedo meternya sudah bolong
> ditutup plastik yang diplester, kedua kaca spion diganti kecil-kecil, lampu
> depan remang-remang dan suara mesinnya mbeker-mbeker..., segera meluncur
> menembus malam, menembus kemacetan Jakarta. Saya tidak ingat lagi jalan mana
> saja yang kami lalui malam itu, karena pandangan mata saya tajam ke depan
> mengikuti liak-liuknya sepeda motor yang saya boncengi sambil perasaan full
> tegang. Ya bagaimana tidak tegang, wong terkadang lampu merah diterobos,
> berpindah lajur asal wesss... begitu saja, tidak perduli klakson kendaraan
> lain yang sedang melaju kencang di lajur yang dipotong.
>
> Ketika sampai di kawasan Senayan, kami bertemu dengan kepadatan lalulintas
> lagi, sepeda motorpun mengendap-endap lalu tiba-tiba menyalip dengan cara
> menyusup celah sempit di antara dua buah bis yang sedang berjalan tidak
> terlalu cepat. "Oedan...", kata saya dalam hati. Tiba di bundaran Hotel
> Indonesia, sepeda motor kembali beraksi dengan menambah kecepatan untuk
> mendahului bis kota dari sisi kanan dengan mencuri celah sempit di sudut
> antara moncong bis dengan separator jalan. Wusss... berhasil, termasuk
> berhasil merobohkan dua buah traffic cones yang bentuknya menyerupai
> corongan warna oranye yang berada di ujung separator jalan sebelah kanan.
> "Huhhh...", kata hati saya.
>
> Mau saya tegur, saya khawatir nanti jalannya jadi pelan-pelan padahal saya
> berkepentingan untuk segera tiba di stasiun Gambir mengejar jadwal kereta
> Argo Lawu. Adrenain saya meningkat. Entah kenapa saya begitu menikmatinya.
> Sepeda motor pun kemudian melaju kencang menyusuri Jl. Thamrin ke arah utara
> menuju kawasan Monas, meski saya tidak sempat lagi memandang tugu itu. Lalu
> lintas mulai lancar dan tidak lagi merayap. Barangkali seperti itulah
> rasanya ikut balap road race.
>
> Tiba di Jl. Medan Merdeka Barat, tiba-tiba tukang ojek mengajak bicara.
> Katanya : "Kita lurus pak". Saya memang tidak terlalu hafal jalan-jalan di
> Jakarta. Tapi setahu saya kalau lurus berarti ke arah Kota, sedang stasun
> Gambir ada di sisi timurnya Monas. Spontan saya berteriak di tengah
> kebisingan lalu lintas : "Belok kanan, belok kanan...!". Sepeda motor pun
> spontan memotong ke kanan tanpa tolah-toleh. "Huhhhh, lagi...".
>
> Mulai feeling saya curiga, jangan-jangan tukang ojek ini tidak tahu dimana
> letak stasiun Gambir. Lalu saya tanya : "Bang, tahu stasiun Gambir kan?".
> "Ya, tahu", jawabnya meyakinkan.
>
> Tiba di ujung Jl. Juanda, sepeda motor terus melaju kencang ke arah timur.
> Saya kembali curiga, tapi saya tepis keraguan saya. Mungkin dia tahu jalan
> pintas. Akhirnya, dugaan saya ternyata benar. Tukang ojek salah jalan hingga
> mutar-mutar kehilangan arah hingga ke kawasan Senen. "Wuahhh, modar aku!".
>
> "Bang, sebenarnya lu tahu stasiun Gambir enggak sih?", tanya saya hendak
> memastikan. Jawabnya : "Tahu pak, tapi jalannya banyak berubah". Sudahlah,
> hati saya mulai gemas. Ketika akhirnya tukang ojek itu beberapa kali tanya
> orang mencari arah yang benar, telinga saya mendengar yang ditanyakan bukan
> 'stasiun Gambir' melainkan 'terminal kota'. "Aaahhhh... Guoblog!", kata saya
> misuh-misuh..., memaki dalam hati (heran, masih juga saya khawatir
> menyinggung perasaannya).
>
> Lha kok tiba-tiba berhenti dan bilang : "Bapak turun sini saja lalu
> menyeberang sana", maksudnya saya disuruh naik taksi. Wooo, wong edan tenan
> iki (orang gila beneran ini). Langsung saya bentak : "Jalan terus dan ikuti
> perintah saya!". Kalau urusan tersesat kemudian kembali ke jalan yang benar
> (maksudnya kesasar) rasa-rasanya saya cukup punya pengalaman dan ini menjadi
> sebagian dari keahlian saya.
>
> Meskipun saya tidak familiar dengan kawasan itu, entah saya sedang berada
> di sebelah mananya apa saya pun tidak tahu, tapi yang jelas di kawasan
> Senen. Setidak-tidaknya saya bisa membaca tulisan petunjuk arah yang berupa
> rambu berwarna dasar hijau dan berwarna tulisan putih. Akhirnya tukang ojek
> saya komando dari belakang menemukan jalan yang benar. Puji Tuhan
> wal-hamdulillah, akhirnya saya sampai ke pintu gerbang keluar stasiun
> Gambir. Tobat tenan aku!
>
> Begitu berhenti, tukang ojek yang semula saya pikir orang Jakarte (pakai
> huruf akhir 'e') dan saya panggil 'Abang', ternyata kemudian bilang begini :
> "Dalane ora ceto, ora koyo nek awan pak (jalannya tidak jelas tidak seperti
> kalau siang pak)", katanya dalam bahasa Jawa. Spontan saya jawab : "Lha wis
> ngerti aku, nek awan serngengene cedak ngobong sirahmu (lha sudah tahu saya,
> kalau siang mataharinya dekat membakar kepalamu)", kata saya sambil rada
> jengkel.
>
> Segera uang Rp 50.000,- saya sodorkan sambil saya pesan : "Turahane pek-en
> nggo tuku bensin (sisanya kamu ambil buat beli bensin)", lalu saya tinggal
> pergi bergegas menuju ke dalam stasiun. Hitung-hitung saya sudah diberi
> bonus diajak wisata malam keliling Jakarta...
>
> Yogyakarta, 27 Nopember 2009
> Yusuf Iskandar
>
> http://yiskandar.wordpress.com
>
>   
>

Kirim email ke