Cantik, Seksi Dan Daun Kangkung
-----------------------------------------------

Mengawali pagi pada suatu hari dengan perasaan ringan, santai, tanpa beban, 
penuh dengan aura energi positif menyelimuti. Lalu menuju ke teras belakang 
rumah, membuka laptop dan mengakses internet memeriksa email-email yang masuk 
barangkali ada yang perlu direspon segera. Biasa...., sambil ngopi dan ngudut 
(ah, masih begitu juga kebiasaan buruknya). Dari jauh terdengar suara acara 
televisi yang sedang ditonton istriku di ruang tengah setelah selesai 
menyiapkan sarapan pagi.

Kemudian selintas saya mendengar siaran iklan panjang sebuah produk kecantikan. 
Iklan tentang produk slimming suit. Saya tersenyum sendiri membayangkan display 
iklannya. Lalu spontan saja muncul keisengan kepada istriku. Sambil 
membuka-buka Facebook saya bilang padanya : "Tuh, dengerin...". Maksudnya agar 
memperhatikan iklan produk kecantikan yang memang sedang ditontonnya. Produk 
yang pokoknya mampu memperbaiki performance (kayak mesin saja) tampilan dada, 
pinggang dan pantat dalam waktu singkat (padahal jelas sesuatu yang bakal 
tertutup kecuali bagi yang ingin membukanya, tapi kok ya ingin diperbaiki juga 
kinerjanya)

Saya tidak melihat bagaimana reaksi ekspresi istriku karena memang tidak 
terlihat dari posisi saya membuka laptop. Sejenak kemudian terdengar suara 
jawaban istriku dari dalam rumah. Katanya : "Harganya satu setengah juta, mau 
mbeliin apa?".

Sambil senyum sendiri saya menjawab : "Kuwi duit kabeh (Itu uang semua)?".
Jawab istriku cepat : "Ora! Oleh dicampur godong kangkung (Enggak! Bisa 
dicampur daun kangkung)". Kebetulan dia memang baru selesai memasak tumis 
kangkung untuk sarapan.

*** 

Kecantikan..., yang jamaknya kini diterjemahkan sebagai memiliki paras menawan 
bak artis yang memiliki bentuk tubuh yang ideal, menarik dan seksi. Begitu 
mahalnya bagi sebagian orang. Begitu wajarnya bagi sebagian yang lain. Bahkan 
bagi mereka yang sudah cantik, sudah menarik, sudah seksi pun masih ingin lebih 
dari yang sudah dimiliknya. Meski semua orang menyadari bahwa semua itu adalah 
obyek ekonomi berbiaya tinggi, yang bagi sementara kalangan adalah kebutuhan 
dan bagi kalangan lainnya adalah impian.

Maka gejala alam yang demikian ini dimanfaatkan benar oleh pelaku bisnis yang 
kreatif dan jeli melihat peluang. Ditambah lagi prospek pasar bahwa semakin 
banyak saja jumlah orang yang ingin tampil lebih menarik, lebih cantik dan 
lebih seksi. Ya siapa lagi kalau bukan para wanita yang mendambakan memiliki 
kecantikan fisik yang bakal mempesona kaum lawan jenisnya (enak sekali jadi 
lawan jenis ini). 

Ya memang tidak ada yang salah dengan semua itu. Kalau pun mau dicari salahnya, 
itu karena adakalanya para wanita itu lupa bahwa di samping kecantikan fisik 
ada juga kecantikan non-fisik yang mestinya lebih layak dibiayai. Itulah 
kecantikan batin yang oleh agama saya sering diejawantahkan menjadi kecantikan 
akhlak. Padahal yang terakhir itu justru lebih terlihat alami dan abadi, kalis 
dari rekayasa, dapat dibentuk dan diperbaiki nyaris tanpa biaya. Kalau bisa 
memang dua-duanya cantik, ya lahirnya, ya batinnya. Tapi kalau tidak bisa, maka 
pilihan ada di tangan para wanita yang menginginkannya.

Kecantikan fisik berbanding lurus dengan isi dompet. Siapapun yang isi 
dompetnya tebal, ingin cantik seperti apapun niscaya bisa saja. Dunia ini 
menyediakan fasilitas yang luar biasa komplitnya, pating sliwer (banyak 
melintas) di depan mata, kalau hanya ingin tampil cantik mempesona, seksi lekuk 
tubuhnya, menarik gairah penyaksinya dan mengundang… (mengundang untuk 
dibiayai, maksudnya).

Padahal yen tak pikir-pikir..., kalau dipikir-pikir (ah, dasar enggak punya 
kerjaan, sempat-sempatnya urusan beginian kok dipikir...), cantik dan seksi itu 
kan hanya soal persepsi. Persis seperti kita melihat hantu. Sejak lahir kita 
sudah dipersepsi oleh alam sekitar kita bahwa wajah manusia itu bermata dua, 
berhidung satu, bermulut satu dengan gigi kecil-kecil, bertelinga dua , 
berambut (kecuali yang akhirnya botak), dst, semua dalam ukuran dan komposisi 
yang dianggap proporsional, seperti yang setiap hari saling melihat dan 
dilihat. Ketika suatu malam kita bertemu dengan wajah bermata satu, telinganya 
panjang seperti kelinci, berkepala buesar, giginya lebih besar dari 
mulutnya..., maka segera kita berteriak ada hantu. Hanya karena melihat ada 
mahluk yang memiliki wajah dengan ukuran dan komposisi yang dianggap tidak 
proporsional, yang belum tentu hantu.

Demikian halnya dengan cantik dan seksi. Coba kalau dari dulu dipersepsikan 
bahwa yang disebut wanita cantik dan seksi itu adalah mahluk yang tampilannya 
seperti monyet wanita, sapi perempuan atau kadal betina, maka dunia ini akan 
memiliki sedikit saja wanita cantik dan seksi. Para wanita pun akan 
berlomba-lomba menyerupai monyet, sapi atau kadal. Mereka yang menyerupai 
manusia malah dipersepsikan sebagai tidak cantik dan tidak seksi. Para pakar 
kepribadian dan kecantikan akan mencari penghasilan tambahan dengan menulis 
buku manual tentang "How to be a Pretty Monkey", "Performs Like a Sexy Cow”, 
“10 Secretes Become an Impressive Lizard”, atau yang semacam itu.     

Jika cantik itu persepsi, maka sebenarnya sangat mudah untuk menjadi cantik. 
Manipulasilah dan ubahlah persepsinya setidak-tidaknya persepsi bagi orang yang 
ingin tampil cantik dan seksi, dan bukan apa yang dipersepsikan (Caranya? Coba 
nanti saya pikir sambil tidur dulu.... Tapi kayaknya rahasia, deh)

***

Karena itu, memberi perhatian lebih kepada kecantikan batiniah sepertinya 
menjadi keputusan yang layak dipertimbangkan. Sebab kecantikan batin atau 
akhlak berbanding lurus dengan isi hati tidak perduli seperti apapun prejengan 
(profil tampilan) fisiknya. Seperti sapi kah? Seperti monyet kah? Atau malah 
seperti hantu sekalipun, kecantikan akhlak itu akan tetap abadi dan merakati 
(mempesona), enak dipandang dan dinikmati sampai tetes air liur yang 
penghabisan. Luar biasanya, untuk kecantikan batin dan akhlak ini relatif tidak 
diperlukan biaya tinggi. Juga tidak diperlukan daun kangkung... 

Yogyakarta, 2 Desember 2009
Yusuf Iskandar 

http://yiskandar.wordpress.com


      

Kirim email ke