Bocah Penyemir Sepatu Yang Bercita-cita Menjadi Pilot
---------------------------------------------------------------------- 

Sambil menunggu seorang teman yang akan menjemput saya di Terminal F bandara 
Cengkareng siang kemarin, saya memesan coffee mix di sebuah kantin kecil di 
dalam bandara. Sengaja saya mencari kantin yang tidak ramai dan tidak berisik 
agar asap rokok saya tidak menggangu banyak orang dan banyak orang tidak 
mengganggu kekhusyukan saya bermain-main blackberry (Lha, namanya memang 
blackberry, kalau saya sebut ponsel berarti saya mengatakan yang tidak 
sebenarnya).

Tiba-tiba datang seorang bocah penyemir sepatu menawarkan jasanya. Tawaran itu 
saya tolak. Namun entah kenapa kemudian saya berubah pikiran. Ada dorongan kuat 
dalam diri saya untuk melakukan improvisasi kecil, sekedar memberi orang lain 
rejeki yang halal meski saya tidak sedang membutuhkan jasanya. Jadi bukan agar 
sepatu saya bersih dan mengkilap yang menjadi tujuan saya. Mau setelah disemir 
tetap kusam pun saya tidak perduli.

Setelah menyelesaikan hasil semirannya, saya tanyakan kepada bocah penyemir itu 
: "Sudah makan?", yang kemudian dijawab bocah itu : "Belum". Lalu saya suruh 
dia duduk di sisi kanan meja di depan saya dan saya pesankan makan kepada mbak 
pelayan kantin. Rupanya kantin itu tidak menyediakan menu makan. Maka mie 
instan dalam mangkuk sterofoam pun jadilah sebagai pengganti.
   
Sambil anak itu melahap mie instan, saya ajak dia mengobrol. Kebiasaan 
mengeksplorasi sesuatu yang tidak biasa mulai saya lakukan. Ketika saya tanya 
namanya, dijawabnya : "Muslim" (ditanya nama malah menjawab agama...., tapi 
namanya memang Muslim), Tiba-tiba saya ingat pengalaman setahun yll ketika saya 
mengajak sarapan pagi tiga orang bocah penyemir sepatu yang salah satunya 
bernama Muslim, di bandara ini juga. Saya tatap tajam-tajam wajah bocah itu 
hingga saya yakin ini memang Muslim yang dulu.

Ketika saya bilang bahwa setahun yll. kita pernah sarapan bersama, dia masih 
ingat. Bahkan ketika saya test nama kedua temannya, Muslim pun menjawab benar, 
yaitu Mamat (dulu saya mendengarnya Amat) dan Yudi. Saya tanya sekali lagi : 
"Apa kamu masih ingat saya?". Muslim pun menjawab : "Ya". Gaya bicaranya masih 
plengah-plengeh.... malu-malu sambil melenggak-lenggokkan kepalanya, khas 
seorang anak kecil ndeso.

Hanya bedanya, setahun yll. Muslim mengatakan umurnya 9 tahun dan sekolahnya 
kelas 3 SD, kini dia bilang umurnya 11 tahun dan kelas 5 SD. Ah, perbedaan 
setahun-dua yang tidak terlalu penting. Dulu Muslim mengatakan orang tuanya 
pengangguran, sekarang menjadi pemulung. Ini juga tidak terlalu penting, karena 
bisa saja setahun terakhir ini karir orang tuanya meningkat dari pengangguran 
menjadi pemulung. Yang penting bagi saya saat itu adalah dia memang benar 
Muslim yang saya jumpai setahun yll.      

Komunikasi kami menjadi lebih cair, enak dan bersuasana lebih akrab, seolah dua 
sahabat lama yang setahun tidak berjumpa. Sampai-sampai mbak penjaga kantin pun 
penasaran dan kepingin tahu pembicaraan kami. Saya lirik mbak penjaga kantin 
berjalan mendekat ke tempat duduk kami sambil pura-pura membelakangi dan 
merapikan susunan minuman botol yang sebenarnya tidak banyak jumlahnya dan 
sudah sangat rapi (kalau sekedar mengidentifikasi gesture bahasa tubuh seorang 
perempuan sepertinya saya punya pengalaman...).  

*** 

Untuk melakukan aksinya menjual jasa semir sepatu di bandara Cengkareng, hampir 
setiap hari sepulang sekolah Muslim naik angkot dari rumahnya menuju bandara 
dan akan pulang ke rumahnya lagi saat sore menjelang petang. Dulu dia naik 
sepeda karena sekolanya masuk siang, tapi kini menggunakan jasa angkot. Ongkos 
angkotnya sekali jalan Rp 3.000,- Jika rata-rata setiap hari Muslim berhasil 
mengumpulkan uang jasa menyemir sampai Rp 25.000,-, maka paling tidak Muslim 
setiap hari berhasil membawa pulang ke rumah uang sekitar Rp 19.000,-. Kalau 
lagi ramai, Muslim bisa mengumpulkan uang hingga Rp 50.000,- sehari. Begitu 
katanya.   

Uang itu dikumpulkannya untuk biaya sekolah, karena menurut pengakuanya dia 
ingin melanjutkan sekolah ke SMP. Sebuah niat dan cita-cita jangka pendek yang 
sangat sederhana namun sungguh bersahaja. Ketika saya tanya apa kegiatannya 
kalau di rumah selain belajar? Jawabnya adalah mengaji. 

"Mengajinya sudah sampai mana?", tanya saya. "Masih juz 'Amma", jawabnya. 
"Surat Idhazul...", katanya lagi (yang maksudnya adalah Q.S. Zalzalah). 
Mendengar jawabannya itu saya menyimpulkan bahwa bocah ini pasti 
bersungguh-sungguh dengan mengajinya, bukan sekedar ikut-ikutan teman di 
kampungnya.  

Pertanyaan saya masih berlanjut : "Kamu sholat enggak?". Jawabnya : 
"Kadang-kadang". Ketika saya desak kenapa? Jawabnya : "Saya enggak hafal 
bacaannya". Mendengar jawaban itu, naluri 'tukang kompor' saya terusik. Lalu 
saya bilang : "Lho, sholat itu tidak perlu hafalan-hafalan. Kalau kamu sholat, 
ikuti saja jungkar-jungkir seperti orang lain di masjid itu, terserah kamu mau 
baca apa bahkan enggak usah baca apa-apa, kecuali niatmu beribadah kepada 
Tuhan". Muslim melongo.... Lalu saya lanjutkan : "Setelah sholat kamu sempatkan 
berdoa apa saja yang kamu inginkan".

Tentu saja nasehat saya itu saya sampaikan kepada Muslim yang memang tingkat 
logika berpikir dan pemahaman spiritualnya baru pada level seperti itu. 
Terhadap orang lain yang logika berpikirnya tentang nilai-nilai agama lebih 
tinggi, tentu pendekatannya berbeda. Dan perbedaan ini tidak berbanding lurus 
dengan usia melainkan pengalaman spiritual masing-masing. 

Akhirnya saya tanya : "Kamu punya cita-cita?". Jawabnya : "Punya". "Apa 
cita-citamu?", tanya saya kemudian. "Saya pingin jadi pilot". Wow....dalam hati 
saya bertasbih kepada Allah. Sebab dalam keyakinan saya, berani bermimpi itu 
adalah setengah dari pencapaiannya menuju cita-citanya. 

Bagi seorang 'tukang kompor' seperti saya ini, atau bolehlah disebut provokator 
(asal jangan motivator, takut diundang seminar.....), pada dasarnya tidak ada 
cita-cita yang tidak bisa dicapai. Kalau kemudian banyak orang yang gagal 
mencapai cita-citanya, itu karena sejak cita-cita itu ditancapkan di 
ubun-ubunnya ternyata perilakunya sehari-hari sama sekali tidak mencerminkan 
sebagai seseorang seperti yang dicita-citakannya. Alias, sak karepe dhewe..... 
semaunya sendiri, tercapai ya syukur, enggak yo wis..... Tidak disertai dengan 
ikhtiar keras untuk mencapainya. 

Akhirnya saya katakan kepada Muslim : "Muslim, insya Allah saya akan berdoa 
agar kamu bisa menjadi pilot. Syaratnya hanya ada dua dan gampang, yaitu rajin 
belajar dan berdoa setiap habis sholat. Nanti Tuhan akan menunjukkan jalannya". 
Seperti biasa, Muslim hanya nyengenges dengan mimik anak-anak banget. Provokasi 
saya masih berlanjut : "Saya kepingin suatu saat nanti saya naik pesawat dari 
Cengkareng dan kamu yang jadi pilotnya. Kamu mau enggak?". Sekali lagi Muslim 
hanya bereaksi cengengesan. "Kamu mau enggak?", ulang saya. Akhirnya dia 
menjawab malu-malu : "Mau".

Mengakhiri perjumpaan saya dengan Muslim, saya pegang pundak kirinya lalu saya 
katakan : "Salam ke orang tuamu. Dan jangan lupa belajar dan berdoa dengan 
sungguh-sungguh setiap habis sholat mulai hari ini!" (maksud saya sebenarnya, 
untuk bisa berdoa kan berarti dia harus sholat dulu.....), sambil saya selipkan 
sejumlah uang lebih.

***    

Ketika malam harinya saya tiba kembali ke rumah di Jogja, saya buka-buka laptop 
saya dan saya baca kembali catatan saya setahun yang lalu ketika pernah sarapan 
bersama Muslim dan teman-temannya di Cengkareng. Lho......, pandangan saya 
terpana seperti tidak percaya. Peristiwa setahun yang lalu itu rupanya terjadi 
pada tanggal 10 Desember 2008, dan pertemuan kembali dengan Muslim kemarin 
terjadi tanggal 10 Desember 2009. Jadi, kemarin adalah ulang tahun pertama 
sejak pertemua saya dengan Muslim bocah penyemir sepatu anak seorang pemulung 
yang sekarang bercita-cita besar menjadi seorang pilot.

Kejadiannya memang kebetulan belaka, tapi hakekat kejadian itu saya yakini 
pasti bukan kebetulan, pasti ada yang mengaturnya. Apa rahasia dibalik kejadian 
'kebetulan' yang saya alami itu?. Sayang sekali, meski sudah saya tinggal tidur 
semalam hingga ada yang membangunkan saya di pagi subuh, saya belum menemukan 
jawabnya kecuali bahwa tanggal 10 Desember adalah Hari Hak Asasi Manusia 
Sedunia.

Yogyakarta, 11 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Catatan :
Lihat catatan lama saya : "Sarapan Pagi Bersama Yudi, Muslim dan Amat", di : 
http://yiskandar.wordpress.com/2008/12/12/sarapan-pagi-bersama-yudi-muslim-dan-amat/




      

Kirim email ke