Menggapai Matahari Baru 2010 Di Puncak Rinjani
-------------------------------------------------------------------

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan Sekalian Alam, bahwa akhirnya saya 
dan sahabat kecilku (Noval, 15 th) berhasil mencapai puncak gunung Rinjani 
(3726 mdpl) di Lombok, NTB, menggapai matahari baru pada pagi hari tanggal 1 
Januari 2010. 

Rencana awal kami memang akan melakukan duet pendakian ke puncak Rinjani, namun 
akhirnya pada hari terakhir sebelum berangkat menuju titik awal pendakian di 
Sembalun, Lombok Timur, bertambah dengan bergabungnya tiga pendaki dari 
Jakarta, yaitu : Insan (28 th), Angga Triangga (26 th) dan Ari Permana (19 th), 
yang masing-masing tiba di Mataram dalam waktu terpisah. Maka jadilah kami 
sebuah tim 5 pendaki yang masing-masing baru saling ketemu dan kenal.

Pendakian menuju puncak Rinjani sungguh merupakan perjalanan panjang yang 
sangat melelahkan dan menguras energi, bahkan sahabat kecilku sempat merasa 
putus asa ketika harus melalui penggal terakhir menuju puncak. Menempuh 
lintasan panjang dari Plawangan Sembalun mulai jam 3 pagi, menuju puncak adalah 
tahap paling berat. Melalui gigir gunung yang berlereng curam, di atas tanah 
kerikil dan batu vulkanik yang selalu merosot ketika diinjak membuat langkah 
semakin terasa berat. Angin gunung yang menerpa sangat kuat berlawanan arah 
juga menghambat gerak maju langkah kami. Udara yang sangat dingin dan oksigen 
yang menipis semakin menghambat pergerakan kami, sehingga untuk berbicara pun 
terasa berat. Bekal air yang kami bawa pun nyaris habis sebelum mencapai puncak.

Akhirnya, sekitar jam 6 pagi Noval lebih dahulu mencapai puncak lalu tidak lama 
kemudian disusul Angga. Saya baru berhasil mencapai puncak sekitar jam 7 pagi, 
lalu disusul Insan dan Ari. Cuaca pagi itu benar-benar sedang kurang 
bersahabat. Mestinya kami sudah menyadari hal itu, bahwa pendakian di 
bulan-bulan sekitar Desember dan Januari memang beresiko terhadap datangnya 
cuaca buruk yang tak terduga. Matahari baru 2010 tidak secara jelas dapat kami 
saksikan, sebab kabut dan awan datang dan pergi menyelimuti kawasan puncak 
Rinjani. Kami tidak mampu bertahan terlalu lama berada di puncak akibat hawa 
dingin yang begitu menusuk tulang dan terpaan angin yang sangat kuat. Bahkan 
Noval harus bersembunyi di balik batu demi menunggu saya yang tertinggal dan 
menyusulnya ke puncak.

Target awal untuk mengumandangkan adzan Subuh di puncak tidak berhasil kami 
penuhi, melainkan sholat subuh harus kami tunaikan sebelum mencapai puncak 
mengingat semakin habisnya waktu menjelang matahari terbit. Ini adalah 
pengulangan seperti yang pernah kami alami 18 tahun yll. ketika itu saya 
berduet dengan sahabat saya Riyadi Bakri juga terlambat mencapai puncak Rinjani 
pada tahun 1991. 

"Allahu Akbar" (Allah Maha Besar) adalah kata pertama yang saya ucapkan ketika 
akhirnya saya berhasil mencapai puncak bersama Noval yang kembali saya bawa 
naik setelah bersembunyi menunggu saya. Saya bersyukur telah berhasil 
mengantarkan Noval, anakku dan sahabat pendaki kecilku, ke puncak Rinjani 
sesuai dengan janji saya sebelumnya kepadanya.

Subhanallah (maha suci Allah), hanya semangat dan kemauan keras saja yang dapat 
membawaku ke sana. Semangat dan kemauan keras yang sama yang ingin saya 
tanamkan kepada Noval bahwa seberapa tinggi pun cita-cita yang dia miliki, 
tidak ada alasan untuk gagal sepanjang terus tertanam semangat dan kemauan 
keras untuk mencapainya. Berhenti, menyusun strategi, mengevaluasi, menghimpun 
kekuatan, adalah bagian dari tahapan untuk mencapai tujuan. Tapi tidak menyerah 
di tengah jalan. Noval bercerita bahwa sebelum mencapai puncak dia sempat 
merasa putus asa, "kok enggak sampai-sampai dan rasanya semakin berat, padahal 
puncak sudah kelihatan...", Namun kemudian dia bisa melawan rasa putus asanya 
dengan semangat pantang menyerahnya.

Akhirnya, kepada segenap teman dan sahabat yang senantiasa mendukung, memberi 
semangat, bahkan memonitor situasi Rinjani, serta turut mendoakan perjalanan 
pedakian kami ke puncak Rinjani, yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu 
persatu, baik disampaikan melalui media Facebook, SMS, email, blog, dsb, dengan 
segala kerendahan hati kami menghaturkan beribu terima kasih atas segenap 
ketulusan dan kebaikannya yang tak ternilai bagi pendorong semangat kami.

Sepanjang perjalanan kami terus berusaha meng-update status kami di Facebook, 
namun ternyata tidak semua lokasi dapat dijangkau sinyal tilpun seluler. 
Demikian halnya kami mohon maaf tidak dapat secara langsung menampilkan foto 
mengingat kami harus menghemat penggunaan battery Blackberry yang kami gunakan  
(bahkan kami sudah menyiapkan sebuah battery cadangan) untuk meng-update status 
di Facebook. Insya Allah, dokumentasi foto-foto akan kami upload di Facebook 
secara bertahap, demikian pula akan kami usahakan menuliskan catatan perjalanan 
pendakian ini.

Terima kasih secara khusus saya sampakan kepada mas Insan, mas Angga dan mas 
Ari, yang telah membuktikan berhasil menjadi teman seperjalanan yang luar biasa 
dalam pendakian ke puncak Rinjani menyongsong matahari baru tahun 2010, meski 
sebenarnya kami baru saling bertemu dan mengenal sesaat sebelum memulai 
pendakian. 
  
Semoga Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati kita semua, dan 
bahwa keagungan dan kebesaran-Nya tak kan pernah dapat kita ingkari.

Yogyakarta, 4 Januari 2010
Yusuf Iskandar  


      

Kirim email ke