Haram jadi Halal 



"Man kesini kamu" Mi’un memanggil Sarman sedang duduk-duduk santai di
kebun milik Pak Lalim yang galaknya minta ampun.



"Iya kang, ada apa" sambil berjalan Sarman menjawab.



"Saya
lihat Pohon mangga pak Lalim dah berbuah"

"Terus Kang?"



"Kamu panjat dan abil gih, nanti saya yang mengambili dari bawah dan
mengawasi, takut-takut ada orang lihat."



"Ga Kang, takut" Sarman menjawab dengan nada merinding.



"Kamu ga mau Man!" Mi’un membentak sambil mengepalkan tangan yang
sudah di hadapan muka Sarman.



"Iiiya Kang, saya mau kang" jawab Sarman terbata-bata. Dengan
badannya yang lebih kecil dari Mi’un, Sarman secepat kilat memanjat pohon
mangga dan siap memanennya

ketika mangga sudah banyak tergeletak di bawah, Sarman menyaut "Udah
cukup belum kang."



"Belum" Jawab Mi’un yang juga rakus. Sarman terus mengambili mangga
pak Lalim sedangkan Mi’un yang licik menghilang berlari menuju rumah pak Lalim
untuk melaporkan bahwa mangganya dicuri orang.



"Salamlikum - salamlikum" Mi’un mengetuk pintu rumah sambil
terpongah-pongah





"Walikum salam, ada apa Run" jawab pak Lalim yang
hanya bersarung.





"Pak, ada yang sedang mencuri mangga kepunyaan
bapak".





"Kurang ajar...... Siapa orang nya".





"Kurang tau pak, lebih baik kita kesana aja"
dengan sigap pak Lalim bergegas dan membawa arit yang tergeletak di pekarangan
belakang rumah.

Kira-kira jarak 100 m antara pohon mangga, pak Lalim sudah berteriak
"woeei turun kamu maling kecil". mendengar suara Pak Lalim dari
kejauhan, Sarman pun melompat ketakutan dan lari terbirit-birit.





"Kurang ajar, kecil dah jadi maling gimana
besarnya?" Pak Lalim bergumam sambil mengacung-acungkan arit kearah maling
kecil yang masih terlihat berlari. Lalu pak Lalim megumpulkan mangganya yang
tidak terbawa dan berkata "Setan
Kecil, banyak sekali mangga yang akan dia curi. Saya yang menanam, orang lain
yang memetik hasilnya". dan Mi’un menambahi gumaman pak Lalim " Nanti
saya cari tahu siapa yang hendak mencuri mangga bapak. saya bantu "



"Kamu memang anak yang baik Mi’un". Mi’un tersenyum, dan terawa di
dalam hatinya. 

"Bapak pulang dulu" pak lalim berkata sambil menenteg 10 buah mangga
yang masih ada
dahannya.



"Laah terus, mangga ini gimana?"

"Itu buat kamu Un, milik kamu" sambil berjalan pulang, menjawab.
Dengan gembira Mi’un menggumpulkan mangga-mangga tersebut.



Ketika Mi’un berjalan pulang sambil memanggul 1/2 karung mangga, dia memergoki 
Sarman
yang sedang merintih kesakitan karna lecet-lecet akibat menjatuhkan diri. 





"Dasar penghianat, kau suruh aku mencuri dan kau juga
yang memberi tahu pemiliknya" Rahman marah sambil merintih kesakitan.Dengan
enteng Mi’un menjawab "MENCURI ITU DILARANG AGAMA. nih kita bagi dua,
mangga dari pak Lalim"




      

Kirim email ke