LINGKUNGAN HIDUP
Manfaat Beringin Dalam Pembangunan Kawasan Hutan
Oleh : Samsul Ulum | 07-Jan-2010, 12:15:49 WIB
KabarIndonesia
- Salah satu ciri kota-kota tua di Pulau Jawa adalah keberadaan
alun-alun yang berada di pusat kota. Pada kawasan alun-alun tersebut,
biasanya terdapat pohon beringin.
Berada dibawah pohon
beringin saat siang hari mampu memberikan kesejukkan bagi yang berada
dibawahnya. Sehingga bukan pemandangan aneh bila di bawah pohon
beringin sering dijadikan sebagai tempat untuk istirahat warga kota.
Mereka tidak perduli dengan suara ramai dan panas disekitarnya, karena
telah mendapatkan kenyamanan di bawah pohon yang rindang dengan
ditemani suara burung yang berkicau.
Pohon beringin
merupakan salah satu pohon yang sangat kharismatik bagi budaya
masyarakat Indonesia. Sehingga pohon ini sejak zaman dahulu selalu
ditanam di pusat kota sebagai salah satu simbul kekuasaan yang
mengayomi warganya. Bahkan pada masa orde baru pohon tersebut dijadikan
sebagai lambang untuk partai berkuasa di Indonesia. Bahkan pohon
beringin merupakan salah satu lambang yang ada dalam Pancasila yang
merupahkan falsafah Negara Indonesia.
Pohon beringin atau dalam bahasa latin bernama Ficus sp. merupakan tanaman dari
famili Moraceae. Ficus merupakan marga terbesar Famili Moraceae yang banyak
dijumpai di Indonesia, baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Ada
sekitar 1000 jenis Famili Moraceae, setengahnya adalah Ficus. Tanaman ini
berupa pohon yang bisa mencapai tinggi 35 meter, tumbuh di tanah dan ada yang
bersifat hemi-epifit.
Beringin
merupakan tanaman yang memiliki kemampuan hidup dan beradaptasi dengan
bagus pada berbagai kondisi lingkungan. Selain itu keberadaan tanaman
beringin pada kawasan hutan bisa dijadikan sebagai indikator proses
terjadinya suksesi hutan. Beringin juga merupakan tanaman yang memiliki
umur sangat tua, tanaman tersebut dapat hidup dalam waktu hingga
ratusan tahun.
Tanaman beringin memiliki kemampuan
sebagai tanaman konservasi mata air dan penguat lereng alami. Hal
tersebut dapat dilihat dari struktur perakarannya yang dalam dan akar
lateral yang mencengkeram tanah dengan baik. Selain itu, jenis-jenis
beringin memang diketahui sebagai habitat beberapa burung, reptilian,
serangga dan mamalia yang mengkonsumsi buahnya. Jadi, dengan menanam
beringin, secara tidak langsung juga akan mengkonservasi fauna yang
menjadikan beringin sebagai tempat hidupnya. Jenis tanaman Ficus juga
dikenal sebagai tanaman untuk upacara adat di Bali dan sebagai tanaman
obat. Beringin juga memiliki kemampuan yang tinggi untuk menyerap
polusi dalam hal ini CO2 dan timbal hitam di udara.
Pada
proses pembangunan kawasan hutan lindung di kawasan hutan produksi,
beringin memiliki peranan yang cukup penting. Hal tersebut karena
beringin memiliki nilai hidrologis, ekologis, budaya, religi dan
keamanan kawasan hutan. Sehingga dalam pembangunan hutan lindung,
beringin harus dimasukkan sebagai salah satu jenis tanaman yang perlu
dikayakan pada kawasan tersebut. Pengkayaan jenis beringin akan dapat
mempercepat proses suksesi kawasan hutan untuk mencapai kondisi
klimaks.
Nilai Hidrologis
Beringin
merupakan tanaman yang memiliki struktur perakaran yang dalam dan akar
lateral yang mencengkram tanah dengan baik. Beringin merupakan salah
satu jenis tanaman yang mampu menyimpan cadangan air pada musim
penghujan dengan baik dan mengeluarkannya pada musim kemarau secara
teratur. Hal tersebut banyak dijumpai di banyak tempat, dimana tanaman
beringin selalu ada pada daerah-daerah yang merupakan sumber air.
Sehingga beringin memiliki peran yang penting dalam menjaga kontinuitas
ketersediaan pasokan air pada suatu kawasan baik pada musim hujan
maupun kemarau.
Selain itu beringin dengan sistem perakaran
yang kuat dan dalam merupakan tanaman yang mampu menjadi penahan erosi
tanah. Beringin juga sangat efektif berfungsi sebagai penahan
terjadinya tanah longsor pada daerah yang memiliki tekstur tanah yang
curam.
Beringin merupakan tanaman yang mampu hidup di berbagai
macam kondisi lingkungan yang ekstrim, salah satunya adalah diatas
batu. Dengan akar yang kuat tanaman tersebut mampu mecengkram batu yang
besar dan menahannya agar tidak jatuh ke bawah.
Nilai Budaya dan Religi
Beringin
merupakan tanaman yang memiliki nilai budaya dan religi yang tinggi
bagi masyarakat Indonesia. Keberadaan tanaman beringin pada suatu
tempat biasanya selalu identik sebagai tempat yang memiliki daya magis
yang tinggi. Beringin juga dijadikan sebagai tanaman suci bagi sebagian
masyarakat Indonesia, terutama buat umat Budha dan beberapa aliran
kepercayaan.
Dibawah pohon beringin yang berhawa sejuk, oleh
sebagian masyarakat Indonesia merupakan tempat cocok untuk melakukan
kegiatan-kegiatan ritual budaya. Sering ditemukan banyak aneka rupa
sesaji diletakkan di bawah pohon beringin yang berukuran besar dan
berusia ratusan tahun. Pohon beringin dipercaya sebagai tempat
bersemayamnya berbagai macam mahluk halus, sehingga banyak masyarakat
menjadikan pohon tersebut sebagai tempat pemujaan.
Nilai Ekologis
Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yangterdiri dari dua kata, yaitu oikos yang
artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi
diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk
hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Sehingga
ekologi berkepentingan dalam menyelidiki interaksi organisme dengan
lingkungannya.
Beringin (Ficus spp.)
merupakan spesies yang memiliki nilai ekologi sangat tinggi peranannya
pada kawasan hutan. Beringin selain berfungsi sebagai tanaman penjaga
erosi tanah dan penyimpan cadangan air juga merupakan tanaman yang
sangat disukai sebagai habitat satwaliar.
Beringin merupakan sumber
pakan untuk beberapa jenis burung, serangga, reptilia, ampibia dan
mamalia. Akar gantung pohon beringin merupakan tempat bermain untuk
beberapa jenis primata. Selain itu beringin juga merupakan tempat
bersarang untuk burung, reptilia dan mamalia.
Pada pohon
beringin terjadi suatu interaksi biotik yang sangat komplek. Interaksi
tersebut merupakan hubungan simbiosis mutualisme antara sesama spesies
yang ada di situ. Sehingga oleh beberapa ahli ekologi, pohon beringin
sering dijadikan salah satu indikator bahwa hutan yang bervegetasikan
tanaman dari jenis Ficus spp. adalah hutan yang dalam kondisi klimaks atau
dalam proses suksesi menuju klimaks.
Pada
kawasan hutan tanaman yang dibiarkan tumbuh secara alami tanpa bantuan
manusia, pohon beringin akan tumbuh dengan sendirinya. Proses
penyebaran beringin di alam merupakan peran dari satwaliar yang memakan
bijinya. Biasanya satwa yang berperan besar dalam proses penyebaran
beringin di alam adalah jenis burung pemakan biji dan primata.
Satwa
tersebut memakan biji beringin, kemudian membuangnya melalui feces atau
mulutnya di tempat yang berbeda dari tempat asal induk beringinnya.
Biji tersebut akan berkecambah di tanah ataupun menjadi parasit pada
tanaman lain (hemi-epifit).
Meskipun penyebaran beringin
di alam dapat dilakukan oleh satwaliar, namun untuk mempercepat proses
pembentukan hutan alam perlu dilaksanakan kegiatan pengkayaan jenis
beringin. Proses penyiapan benih untuk kegiatan pengkayaan jenis
beringin bisa dilakukan dengan cara menyemai biji atau dengan cara stek
batang.
Nilai Keamanan Kawasan Hutan
Selain dianggap sebagai pohon suci oleh umat Budha, pohon beringin juga
dianggap sebagai “pohon hantu”
oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Pohon beringin dipercaya
merupakan tempat tinggal berbagai jenis mahluk halus. Masyarakat
beranggapan bahwa dengan mengganggu beringin berarti mereka juga telah
mengganggu mahluk halus yang ada di dalam pohon tersebut. Sehingga
sebagian besar masyarakat tidak berani untuk mengganggu keberadaan
pohon tersebut.
Keberadaan pohon beringin mampu
meningkatkan keamanan kawasan hutan tempat pohon tersebut berada. Hal
tersebut dikarenakan keberadaan pohon beringin pada suatu kawasan hutan
mampu meningkatkan daya magis untuk kawasan tersebut. Kawasan hutan
yang bervegetasikan pohon beringin akan dianggap sebagai hutan yang
angker. Bahkan tidak jarang kawasan hutan yang bervegetasikan pohon
beringin dijadikan sebagai “hutan larangan” oleh
masyarakat sekitar hutan. Hutan larangan merupakan kawasan hutan yang
tidak boleh dimasuki secara bebas oleh masyarakat. Hal ini biasa muncul
dari mitos-mitos atau legenda yang berkembang dalam komunitas
masyarakat sekitar hutan.
Dengan status angkernya, masyarakat
sekitar hutan biasanya akan merasa takut untuk memasuki kawasan hutan
yang terdapat pohon beringinya. Sehingga secara tidak langsung dengan
tidak adanya masyarakat yang masuk kedalam kawasan hutan, maka kawasan
hutan tersebut akan aman dari kegiatan perusakan hutan oleh manusia.
Selain itu, beringin juga merupakan tanaman berkayu yang tidak
diproduksi sebagai bahan bangunan. Sehingga beringin tergolong tanaman
yang tidak akan dicuri atau di tebang oleh para pencuri kayu.
Pengamanan
hutan oleh hutan sendiri merupakan sebuah pola pengamanan hutan terbaik
dan terefektif. Dengan pola pengamanan seperti itu, tidak akan terjadi
konflik sosial atau korban jiwa dalam kegiatan pengaman hutan.
Pengelola hutan juga akan sangat terbantu baik dari segi tenaga maupun
biaya dalam kegiatan pengamanan kawasan hutan.
Melihat potensi
keamanan yang besar dampaknya bagi kawasan hutan, sebenarnya pohon
beringin selain bagus dikembangkan pada kawasan hutan lindung juga
bagus di tanam pada kawasan hutan produksi. Pada kawasan produksi,
beringin dapat dijadikan sebagai tanaman sela, tepi atau pengisi bagi
tanaman pokok hutan. Selain berfungsi sebagai penjaga keamanan kawasan,
beringin juga berfungsi sebagai tanaman yang mampu meningkatkan biodiversity
pada kawasan produksi.
(SU)Samsul Ulum
Biodiversity and HCVF Specialist
The Forest Trustsumber :
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=4&jd=Manfaat+Beringin+Dalam+Pembangunan+Kawasan+Hutan&dn=20100107095715
samsul ulum
The Forest Trust
wildlife&HCVF specialist
kaliwungu city, kendal, central java
www.tft-forests.org
Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya sekarang!
http://id.mail.yahoo.com