Bagaimana, pengalaman haji panjenengan? wak haji Sih Cerita ya....
--- Pada Sen, 11/1/10, Sih Riyanto <[email protected]> menulis: Dari: Sih Riyanto <[email protected]> Judul: A2 Naik Haji Kepada: "sma-n-1-a-82" <[email protected]> Tanggal: Senin, 11 Januari, 2010, 7:33 AM Ass Wr Wb, Prie GS, seorang budayawan asal kota semarang menceritakan pengalamannya saat naik haji, mulai dari embarkasi, sampai kota Madinah (belum pelaksanaan Ibadahnya). Barangkali ini merupakan kisah Nostalgia yang sangat manis bagi ibu/bapak Haji, dan akan merupakan masukan yang sangat berharga untuk poro Dulur calon calon Tamu Allah. Naik Haji Kolom ini saya tulis di Madinah, tepat dua hari setiba dari Tanah Air. Bohong jika saya tidak bergembira diberi kesempatan berhaji. Tapi juga bohong jika saya tidak tegang saat tahu hendak berangkat haji. Untuk seluruh pengalaman saya, akan saya tulis lengkap di lain kesempatan jika Tuhan mengizinkan. Di kesempatan ini saya hanya minta doa Anda semua agara saya kuat lahir batin, karena dari awal, saya memang dilanda kegentaran terutama menyangkut persoalan-persoalan fisik, yang atasnya saya merasa tidak terlalu diberi keahlian. Berebut antre saya tidak bisa. Nongkrong di toilet sambil ditunggu saya tidak bisa. Tidur bersama-sama saya juga tak bisa. Perjalanan jauh saya sering mabuk. Makan makanan asing saya mudah sekali mual. Berdesakan-desakan saya paling takut. Bepergian dalam jangka waktu lama saya selalu kangen keluarga. Tetapi seluruh apa yang saya takuti itu semuanya tersedia di dalam berhaji. Tentu ini bukan monopoli saya semata. Semua orang, jika boleh memilih, pasti tidak menyukai seluruh ketidak nyamanan dan soal-soal yang memberatkan. Tetapi berhaji tidak punya lain pilihan: berani atau sama sekali engkau tidak pernah akan berhaji. Maka menjadi berani itulah pilihan yang saya tetapkan, walau ini adakah keberanian dari orang yang takut. Untuk itu segenap pihak yang telah memberangkatkan dan menyemangati, kepada teman-teman yang titip doa, kepada istri yang tak tega melihat saya terselip di kerumunan begitu banyak manusia, kepada anak-anak yang di subuh buta berkeras ikut mengantar bapaknya, sayalah justru yang minta banyak didoakan. Begitu pula kepada teman seperjalanan yang di tengah lelahnya sendiri masih sempat memijat tengkuk saya yang bahkan menjelang berangkat saja sudah kaku dan kepala terasa berat karena penat. Kepada sahabat yang memaksa membawa teko plastik penjerang air yang ternyata banyak gunanya, kepada sahabat lain yang menyisipkan minyak angin karena mengerti watak fisik saya. Terbang satu jam Semarang-Jakarta pulang pergi saja saya sering tumbang. Padahal ini adalah terbang separtan 11 jam, dengan waktu tunggu tak kurang mulai dari pukul 03.00 dini hari dan baru terbang pukul 23.00 malam tambah waktu transit dua jam. Rampung terbang masih harus menempuh perjalanan darat lima jam dengan menunggu seluruh persiapan tak kurang dari tiga jam. Saya sungguh tidak pernah menempuh perjalanan seberat ini sebelumnya. Maka baru di hari pertama muka saya sudah seperti kepiting rebus dan mata saya setiap kali terasa melayang dengan setengah kesadaran. Jika ada waktu di pesawat saya mencuri-curi waktu untuk ke toilet dan menumpahkan segala bentuk kemualan di sana. Tidak mudah karena antrean sudah memanjang mulai dari sini. Di darat, setiap bus berhenti saya memaksa turun dan mencari keteduhan untuk perut yang terguncang seharian dengan terik memanggang di ubun-ubun. Saya tidak sedang mengeluh. Saya sedang ingin bergembira karena diizinkan menjadi bagian dari perjalanan yang menantang totalitas kemanusian ini. Kegembiraan yang berat, karenanya, saya mohon doa. Salam Antok Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo! memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba! http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

