ihik... 
ibu jadi korban... 
anak jadi korban...
ayahnya mendulang ujian...

siapa yang salah?
pernikahan yang tak direstui?
bola hadiah ulang tahun?
ekonomi keluarga?
atau .....
entahlah... ini adalah kisah dan pelajaran bagi kita semua; menyikapi 
saudara-saudara kita yang berjuang dinegeri orang (TKI/TKW); dengan semua 
resiko... (!...@#); adakah lapangan kerja dinegeri sendiri,  setidaknya 
hargailah pahlawan dollar, untuk tidak dipalak setibanya ditanah air.

true story

--- Pada Sel, 12/1/10, Sih Riyanto <[email protected]> menulis:
Ass Wr Wb,
Ternyata sampai hari ini milis masih sepi nyeyet.  Terlampir ada sepenggal 
kisah sedih, yang berdasarkan kisah nyata, untuk poro sedulur yang longgar 
monggo kita simak sejenak, barangkali setelah membaca kisah ini bisa menambah 
syukur kita, yang ternyata Tuhan masih memberikan nasib yang jauh lebih baik 
dari saudara kita yang satu ini.

Bola Untuk anakku
25 Tahun yang Lalu; Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi 
aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan 
Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi
pernikahan kami selesai. Tanpa sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa 
dan salam sejahtera dari kerabat.  Tapi aku masih sangat bersyukur karena 
Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku sudah menginjak seperempat 
abad dan Kania di bawahku. Cita-cita kami sederhana, ingin hidup bahagia. Itu 
25 tahun yang lalu.

22 tahun yang lalu, Pekerjaanku tidak begitu elite, tapi cukup untuk biaya 
makan keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan. 
Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia bisa menjadi perempuan 
sempurna, maksudku kaya akan budi baik hingga dia tampak sempurna. Kulitnya 
masih merah, mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak dijenguk 
kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, 
orangtuaku dan orangtua Kania tak mau menerima kami. Ya sudahlah. Aku tak 
berhak untuk memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin, suatu saat 
nanti, mereka pasti akan berubah.

19 tahun yang lalu, Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang 
berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke kursi lalu dari kursi 
ke lantai kemudian berteriak "Horeee, Iya bisa terbang". Begitulah dia 
memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu merekah seperti mawar 
di pot halaman rumah. Dan Kania tak jarang berteriak, "Iya sayaaang," jika 
sudah terdengar suara "Prang". Itu artinya, ada yang pecah, bisa vas bunga, 
gelas, piring, atau meja kaca. Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu 
dia melompat dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya 
terpental. Dan dia cuma bilang "Kenapa semua kaca di rumah ini selalu pecah, 
Ma?"

18 tahun yang lalu, Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal 
dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek minta 
dibelikan bola. Kania tak membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy 
apalagi jadi pemain bola seperti yang sering diucapkannya. "Nanti kalau sudah 
besar, Iya mau jadi pemain bola!" tapi aku tidak suka dia menangis terus minta 
bola, makanya kubelikan ia sebuah bola. Paling tidak aku bisa punya lawan main 
setiap sabtu sore. Dan seperti yang sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu 
kutunjukkan bola itu. "Horee, Iya jadi pemain bola."

17 Tahun yang lalu, Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan. 
Mainnya di rumah aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini. 
Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan bola di tas 
sekolahnya. Yang aku tahu, hari itu hari Sabtu dan aku akan menjemputnyanya 
dari sekolah. Kulihat anakku sedang asyik menendang bola sepanjang jalan pulang 
dari sekolah dan ia semakin ketengah jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa 
khawatirku mengalahkan kehati-hatianku dan "Iyaaaa..." Sebuah truk pasir telak 
menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya berhenti di atas dua kakiku. Waktu 
aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang 
kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku bekerja sementara 
pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah konsumen. Kulihat Kania 
menangis sedih, bibir cuma berkata "Coba kalau kamu tak belikan ia bola!"

15 tahun yang lalu, Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang 
pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur. 
Kania mulai banyak mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya bisa 
membelainya. Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat marah. 
Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa 
waktu Kania hendak mencari ke luar negeri. Dia ingin penghasilan yang lebih 
besar untuk mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan dia akan 
tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke Malaysia. 

13 tahun yang lalu, Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit 
membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi. Aku harus
mempersiapkan uang untuk Kamila masuk SMP. Anakku memang pintar dia loncat satu 
tahun di SD-nya. Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa 
melanjutkan sekolah. Aku bekerja serabutan, mengerjakan pekerjaan yang bisa 
kukerjakan dengan dua tanganku. Aku miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan 
anakku yang tumbuh remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi 
keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku harus kuat. Aku harus 
tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar.

10 tahun yang lalu,  Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku. Dan 
Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar. Dia 
sering jadi bulan-bulanan hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti 
ibunya. "Biar cantik kalo kere ya ke laut aje." Mungkin itu kata-kata yang 
sering kudengar. Tapi anakku memang sabar dia tidak marah walau tak urung 
menangis juga. "Sabar ya, Nak!" hiburku. "Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar 
tidak diganggu!" pintanya padaku. Dan aku menangis. Anakku maafkan bapakmu, 
hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku. Sejak hari itu, anakku tak 
pernah lepas dari kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah 
semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak pernah menunjukkan 
kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.

7 tahun yang lalu, Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, 
kembali menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku tak 
mungkin bohong pada diriku sendiri, jika aku masih menyimpan rindu untuknya. 
Dan itu pula yang membuat aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi 
TKI ke Malaysia. Sulit baginya mencari pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP. 
Haruskah aku melepasnya karena alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, 
tenagaku mulai habis dan dia ingin agar aku beristirahat. Dia berjanji akan 
rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal. Setelah itu dia akan pulang, 
menemaniku kembali dan membuka usaha kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali 
ini pun aku tak kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku 
baik-baik saja.

4 tahun lalu, Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang. Hampir tiga tahun dia 
di sana. Dia bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya. Tapi 
Kamila tidak suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak pernah 
siratkan sinar baik. Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya itu adalah 
istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah ingin pulang. Karena 
akhir-akhir ini dia sering diganggu. Lebaran tahun ini dia akan berhenti 
bekerja. Itu yang kubaca dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu 
menunggu hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku jangan pernah lupa salat dan 
kalau
kondisiku sedang baik usahakan untuk salat tahajjud. Tak perlu memaksakan untuk 
puasa sunnah yang pasti setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin 
untuk kuat hingga beduk manghrib berbunyi. Kini anakku lebih pandai menasihati 
daripada aku. Dan aku bangga.

3 tahun 6 bulan yang lalu, Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian 
pemerintahan Malaysia, kabarnya anakku ditahan. Dan dia diancam hukuman mati, 
karena dia terbukti membunuh suami majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini. 
Aku menangis, aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin membunuh. 
Lagipula kenapa dia harus membunuh. Aku meminta bantuan hukum dari Indonesia 
untuk menyelamatkan anakku dari maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus 
anakku selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku hanya bisa 
memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia memang bersalah.

2 tahun 6 bulan yang lalu, Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti 
bersalah. Dan dia harus menjalani hukuman gantung sebagai balasannya. Aku tidak 
bisa apa-apa selain menangis sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi
apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah 
keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri. Wahai Allah kuatkan 
aku. Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia. Anakku ingin aku 
ada di sisinya di saat terakhirnya. Lihatlah, dia kurus sekali.  Dua matanya 
sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada. Aku 
masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke arahku, memelukku erat, 
seakan tak ingin melepaskan aku. "Bapak, Iya Takut!" aku memeluknya lebih erat 
lagi. Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya. "Kenapa, Ya, kenapa kamu 
membunuhnya sayang?" "Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya tidak 
mau. Iya dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia jatuh dari jendela kamar. 
Dan dia mati. Iya tidak salah kan, Pak!" Aku perih mendengar itu. Aku iba 
dengan nasib anakku. Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa apa, istri 
keempat lelaki tua itu menuntut
 agar anakku dihukum mati. Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat. Aku 
sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia 
tidak mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam bulan untuk memohon 
hukuman pada wanita itu. 

2 tahun yang lalu, Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan 
hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada di 
belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya. Aku melihat isyarat tangan dari 
hakim di sana. Petugas itu membuka papan yang diinjak anakku. Dan 'blass" 
Kamilaku kini tergantung. Aku tak bisa lagi menangis. Setelah yakin sudah mati, 
jenazah anakku diturunkan mereka, aku mendengar langkah kaki menuju jenazah 
anakku. Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis. Aku mendongakkan 
kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat garis wajah 
yang kukenal. "Kania?"  "Mas Har, kau . !"  "Kau ... kau bunuh anakmu sendiri, 
Kania!"  "Iya? Dia..dia . Iya?" serunya getir menunjuk jenazah anakku.  "Ya, 
dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar."  "Tidak ... 
tidaaak ... " Kania berlari ke arah jenazah anakku.  Diguncang tubuh kaku itu 
sambil menjerit histeris. Seorang
 petugas menghampiri Kania dan memberikan secarik kertas yang tergenggam di 
tangannya waktu dia diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya "Terima kasih 
Mama." Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah tahu wanita itu ibunya.

Setahun lalu, Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku. Yang 
aku tahu, aku belum pernah menceraikannya. Terakhir kudengar kabarnya dia mati 
bunuh diri. Dia ingin dikuburkan di samping kuburan anakku, Kamila. Kata 
pembantu yang mengantarkan jenazahnya padaku, dia sering berteriak, "Iya 
sayaaang, apalagi yang pecah, Nak." Kamu tahu Kania, kali ini yang pecah adalah 
hatiku. Mungkin orang tua kita memang benar, tak seharusnya kita menikah. Agar 
tak ada kesengsaraan untuk Kamila anak kita. Benarkah begitu Iya sayang? (true 
story/CN02)

salam
Antok



      &quot;Coba Yahoo! Mail baru yang LEBIH CEPAT. Rasakan bedanya sekarang! 
http://id.mail.yahoo.com&quot;

Kirim email ke