lamaaaaaaaa, tanganku baru bisa pindah dan memencet tuts keyboard, dadaku terasa sesak, meski bukan tersedak; bulir kecil air mata, gelayutan dipelupuk mata; aku baru bisa bernafas panjang sesaat....
ujian dari Allah, tidak hanya bagi penderita; tapi juga orang tua, saudara, bahkan teman dan tetangga; ikhtiar dengan gigih untuk sembuh, dan kadang tanpa perhitungan kemampuan; keyakinan, kesabaran, dan tawaqal / kepasrahan menjadi modal menghadapi ujian. hasil ujian penderita, bukan perkara sembuh dan melanjutkan sisa hidup atau tidak alias menghadap yang Maha Pencipta (toh akhirnya pun, kita akan kembali kehadiratNya); tetapi bagaimana menyikapi atas ujian itu dengan keyakinan, kesabaran, dan tawaqal / kepasrahan. Terimakasih Dok, telah berbagi dan saling bersemangat karena semua itu menjadi pelajaran. aburayhan --- Pada Sel, 12/1/10, Kuntadi <[email protected]> menulis: Dari: Kuntadi <[email protected]> Judul: RE: A2 Untuk Ananda Saron Kepada: [email protected] Tanggal: Selasa, 12 Januari, 2010, 1:34 PM Mas BY, diakhir cerita khan sudah dikasih tahu kalau sang bidadari sekarang lagi dikerubuti para pangeran temen sekolahnya. Ya kemungkinan bidadari itu malah akan menjadi milik orang lain. He….he….he…. Semoga Saron tetap sehat dan akan sehat selamanya, bebas dari penyakit mengerikan itu. -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Bambang Yulianto Sent: Tuesday, January 12, 2010 1:21 PM To: [email protected] Subject: A2 Untuk Ananda Saron Untuk ananda Saron, semoga tetap sehat dan menjadi bidadari pendamping yang dikirim Alloh bagi kedua orang tua yang sangat mencintai dan mengasihinya. 2010/1/12 edi santosa <[email protected]> Untuk sang Sprinter Ayub yang sering bete kesepian di Pontianak ….. Untuk 3 Pendekar yang sedang menempuh program S3 (Saben Setu Setorrrrrrrrrrr) BeYe, Kuntadi dan DJ yang sering kesepian di malam hari Untuk bu Yayuk yang telah selesai dioperasi …… Untuk rekan senasib Kami Hartadi ……. Dan untuk semua handai taulan yang mungkin sedang berjuang melawan Tumor 17 TAHUN (KAMI) BERGULAT DENGAN TUMOR Si cantik Saron Sejak lahir di tangan sebelah kanan anak kami yang ke 2 Sarona Gaharu terlihat ada bercak kebiru biruan dan di ketiak sebelah kiri ada benjolan kecil. Dokter yang memeriksa Saron menghibur kami dengan mengatakan “tidak apa apa dengan benjolan tersebut mungkin akan hilang dengan bertambahnya umur”. Seperti kebanyakan anak balita pada umumnya, Saron tumbuh dengan sehat, lucu, cantik dan sangat menggemaskan. Meski tiap hari Saron dapat bermain dengan lincah dan ceria, tetapi kami sebagai orangtuanya mulai mencemaskan perkembangan benjolan di ketiak sebelah kiri dan bercak warna biru di tangan kanan yang semakin membesar. Inikah yang dinamakan tumor suatu benjolan yang paling ditakuti oleh manusia? Saron di meja operasi Pada umur 2 tahun, dokter yang memeriksa Saron menyarankan agar benjolan tersebut sebaiknya dioperasi agar tidak terus membesar. Satu minggu setelah merayakan ulang tahun ke 2nya, dengan berat hati dan penuh doa kami menyerahkan Saron ke dokter untuk dioperasi di salah satu rumah sakit di Jogjakarta. Meski ada 2 benjolan, akan tetapi dokter hanya berani mengambil satu benjolan sebesar telur ayam yang ada di ketiak. Operasi berjalan dengan lancar selama 1,5 jam dan dokter mendiagnosa benjolan tersebut adalah tumor yang dikenal dengan nama hemangioma (tumor pembuluh darah) dan lipoma (timbunan lemak) cavernosa yang bersifat “JINAK” atau tidak ganas. Pasca Operasi Setelah keluar dari rumah sakit, kami merasa ploooong, karena Tumor yang selama 2 tahun ngendon di ketiak Saron sudah menghilang dan kami berharap benjolan yang di tangan akan mengecil dan menghilang dengan bertambahnya umur sesuai dengan keterangan dokter. Enam bulan setelah operasi hati kami kembali terguncang karena kami melihat benjolan di ketiak/bekas dioperasi tumbuh membesar lagi dan tumor yang ada di tangan kanan juga semakin membesar. Rasa percaya kami terhadap dokter bedah mulai luntur dan kamipun mulai memburu berbagai informasi mengenai berbagai cara mengatasi tumor. Berbagai macam dokter spesialis juga kami kunjungi, agar Saron dapat terbebas dari benjolan yang terus membesar di tubuhnya. Meski kami sangat membutuhkan kesembuhan/mukjizat akan tetapi kami tidak berpaling ke paranormal ataupun dukun. Obat tradisonal Ketika rasa percaya kami pudar terhadap keahlian dokter, kemudian kami beralih kepada berbagai macam obat tradisional yaitu Benalu Teh, Kunyit Putih, Mahkota Dewa, Buah Merah yang digembar gemborkan oleh masyarakat sebagai obat anti tumor. Dengan biaya yang tidak sedikit untuk melawan benjolan tersebut, Saron berbulan bulan melahap berbagai obat tradisional tersebut dengan senang hati. Doa yang tulus dan penuh kepasrahanpun selalu kami naikkan ke hadirat Tuhan, agar anak kami terbebas dari benjolan tersebut. Hingga umur 7 tahun, kedua benjolan tersebut tidak menghilang bahkan semakin membesar meski obat tradisonal dan doa dari orang tua serta handai taulan terus dinaikkan tiada hentinya untuk Saron. Kami yakin, Tuhan mendengar doa kami, tetapi seolah olah yang Mahakuasa hanya berdiam saja tidak kuasa menjamah benjolan Saron. Operasi di Jerman Tahun 1997 sd 2000, saya diberi kesempatan oleh Pemerintah Jerman untuk studi S3 di kota Munich Jerman ditemani dengan 1 istri dan 4 anak balita termasuk Saron. Biaya hidup dan jaminan kesehatan anak dan istri ditanggung semua oleh pemerintah Jerman, sehingga kamipun menggunakan “aji mumpung” dengan membawa Saron ke berbagai dokter spesialis di Jerman yang terkenal lihai dan didukung dengan berbagai alat yang serba canggih. Setelah dilakukan berbagai pemeriksaan laboratorium oleh dokter, akhirnya dokter mengambil keputusan untuk melakukan operasi agar ke 2 benjolan tersebut lenyap dari tubuh Saron. Dua minggu sebelum Natal 1999 di musim dingin yang penuh Salju, akhirnya Saron dioperasi oleh bule bule yang terkenal pintar dan penuh didikasi terhadap sesamanya. Operasi berjalan lancar dan dokter Jerman juga memberikan diagnosa yang sama dengan dokter di Indonesia yaitu benjolan tersebut adalah hemangioma dan lipoma Jinak. Rasa gembira dan penuh optimisme dari kami sebagai orang tua semakin besar dan berharap Saron terbebas dari tumor seumur hidupnya karena telah dioperasi di negara maju. Setelah genap 3 tahun mencari Ilmu tentang “Perburungan” di Jerman, akhirnya pada bulan Maret 2000 kami sekeluarga tiba kembali di Indonesia. Pasca operasi ke 2 Enam bulan pasca operasi ketika kami dapat menikmati lagi nyuamlengnya nasi pecel, rawon, gulai, bothok, kolak, soto, lotek, tahu petis, tahu kupat, dawet yang tidak dapat kami jumpai di Jerman, kami dikejutkan oleh keluhan Saron…….. Ternyata ada 8 benjolan baru yang muncul diberbagai tempat di tubuh Saron antara lain di kepala, jari telunjuk sebelah kiri, tengkuk, kaki sebelah kanan dan di tangan sebelah kanan bekas operasi di Jerman. Benjolan di ketiak tidak tumbuh lagi. Saron yang cantik dan lincah dan beranjak remaja mulai minder dengan berbagai benjolan tersebut dan dalam hati kamipun juga sangat sedih dan bertanya tanya….. apakah salah dan dosa kami sebagai orang tuanya sehingga hal itu terjadi pada anak kami? Rasa percaya kami terhadap dokter Jerman yang terkenal lihai dan canggih mulai memudar dan kami tidak tahu lagi apa yang harus kami lakukan kecuali PASRAH dalam doa kepada sang Pecipta yang menenun dan merenda Saron sejak dalam kandungan. Dokter dari Tiongkok Meski rasa kepercayaan kami terhadap dokter sudah sangat tipis tetapi kami tetap berkunjung ke berbagai dokter spesialis di Indonesia untuk meminta pendapat dari mereka.. Sebagaian besar dokter Indonesia telah angkat tangan dengan kasus tersebut dan ada yang menyarankan untuk dioperasi lagi, tetapi kami tidak damai dengan nasehat tersebut. Sampai akhirnya pada tahun 2007 kami membaca Iklan di Kompas, bahwa ada dokter spesialis Tumor dari Guangzo China yang membuka praktek di berbagai kota besar di Indonesia (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan Solo). Tanpa menunggu waktu kamipun membawa Saron ke dokter spesialis Tumor tersebut yang membuka praktek di kota Solo. Dokter tersebut tidak bisa berbahasa Indonesia atau Inggris dan hanya bisa berbicara dalam bahasa mandarin, sehingga dokter selalu dibantu oleh seorang penterjemah ketika memeriksa/menangani semua pasiennya. Seperti lazimnya seorang dokter dalam menentukan diagnosa penyakit kliennya, Saron harus dilakukan berbagai pemeriksaan laboratorium (darah, urin, Rontgen, dll). Pada akhirnya dokter menyimpulkan benjolan tersebut adalah multiple Hemangioma dan Lipoma seperti diagnosa dokter sebelumnya. Dokter menjelaskan kepada kami, Saron harus diterapi 1x dalam seminggu dengan biaya antara Rp Rp750.000,- s/d Rp1.500.000,- sekali datang dan kamipun menyetujui terhadap semua rencana dokter tersebut. Dengan hati yang pasrah dan mantap tiap hari minggu kami mengantar Saron ke Solo untuk disuntik di lokasi benjolan di tubuh Saron. Dokter tampak sedih dan terharu manakala melihat ketegaran Saron saat jarum suntik ditusukkan ke benjolan di tubuh Saron. Upaya maksimal yang dilakukan oleh dokter memberikan hasil yang mengagetkan kami semua, dan hal itu terlihat dari wajah dokter dan Saron yang nampak sangat gembira takala 1 minggu setelah penyuntikan pertama ada hasil yang ruaarrr biasa yaitu 2 benjolan yang diterapi mulai mengecil. Terapi dilanjutkan hingga 8 kali sampai akhirnya 8 tumor tersebut menghilang. Kami dan Saron sangat berterima kasih kepada Tuhan dan kepada dokter dari Tiongkok tersebut. Sebagai rasa ucapan terima kasih kepada dokter tersebut kami menawarkan beliau untuk Tamasya menikmati keindahan alam dan budaya di daerah Jateng dan DIY bersama keluarga kami, akan tetapi penawaran kami ditolak. Dokter hanya berkata, terima kasih atas penawarannya, sayang sekali saya tidak bisa karena jangka waktu tugas saya di Solo sudah habis hanya 6 bulan dan saya harus kembali lagi ke Guangzo China. Pasca terapi Hati kami terasa sangat ploong setelah bertahun tahun berjuang melawan Tumor, pada akhirnya benjolan yang diterapi oleh dokter dari Tiongkok tersebut tidak tumbuh lagi. Rupanya rasa sukacita kami hanya berlangsung 1 tahun, karena pada tahun 2008, Saron mulai mengeluh kepada kami bahwa ada benjolan baru yang tumbuh di leher sebelah kanannya. Dengan sedih ibunya Saron meraba bagian tersebut untuk memastikan bahwa benjolan tersebut adalah tumor yang baru tumbuh, dan sejak saat itu kamipun mulai bergulat lagi melawan Tumor. Saron yang duduk di kelas 2 SMU mulai kurang percaya diri dan gelisah dengan benjolan yang terus membesar di lehernya. Sebagai seorang remaja yang mulai dilirik perjaka thing thing, Saron menjadi binggung untuk menyembunyikan benjolan yang secara kasat mata tampak jelas menonggol di leher sebelah kanannya. Benjolan rumit Kamipun berkunjung lagi ke Klinik di Solo tempat Saron disembuhkan tahun lalu. Dokter yang bertugas berasal juga berasal dari Guangzo China, akan tetapi bukan dokter yang pernah menangani Saron. Setelah melihat rekam medis dan melakukan berbagai pemeriksaan laboratorium, akhirnya dokter menyimpulkan bahwa tumor tersebut adalah Hemangioma Cavernosa (tumor pembuluh darah). Dokter terus terang kepada kami bahwa dia tidak berani melakukan tindakan dengan menyuntik di bagian lehernya Saron karena di lokasi tersebut ada saraf yang besar dan vital. Jika dokter salah sedikit dalam memasukkan jarum dan mengenai saraf tersebut, akan berakibat fatal untuk Saron ujar dokter tersebut. Dokter menyarankan kami agar kami berkonsultasi ke dokter bedah plastik di Indonesia untuk mengatasi problema Tumor di daerah leher tersebut. Sesuai dengan nasehat dokter, akhirnya kami berkonsultasi dengan 2 orang dokter bedah plastik yang berbeda dan mereka semua menganjurkan agar tumor tersebut diselesaikan di meja operasi bedah plastik. Meski dengan berat hati, akhirnya kamipun menyetujui rencana dokter tersebut dan kami mencari waktu operasi yang tepat agar tidak menganggu pelajaran sekolahnya Saron. Dokter bedah yang tidak membedah Saron sangat sibuk dengan kegiatan sekolah sehingga sangat sulit mendapatkan jadwal yang tepat untuk operasi, sampai akhirnya Saron mendengar dari ibu gurunya bahwa di daerah Bantul ada seorang dokter ahli bedah ternama bernama Rohadi yang melakukan pengobatan Tumor dengan tanpa membedah pasiennya. Dokter tersebut tugas utamanya di RS Sarjito Yogyakarta, akan tetapi beliau memiliki RS pribadi yang dibangun di daerah Plered Bantul. Tanpa menunggu waktu, pertengahan tahun 2008 kamipun bergegas ke dokter Rohadi yang pernah mengenyam Ilmu pengobatan dengan metode terapi Mikrotermi di Hongkong. Setelah dilakukan pemeriksaan, akhirnya dengan mantap dokter Rohadi mengatakan kepada kami, Tumor ini tidak perlu dioperasi dan dapat disembuhkan dengan metode mikrotermi (dipanasi) yang dikombinasi dengan pengobatan via oral. Akhirnya dengan biaya yang sangat murah sekali yaitu hanya Rp 40.000,- tiap kali datang, Saron diterapi tiap hari minggu di RS milik dr. Rohadi. Setiap kali datang, Saron harus terlentang dan bagian leher tersebut dipanasi dengan sinar lampu selama 15 menit, dan selanjutnya diberi obat yang harus diminum setiap pagi. Setelah dilakukan terapi selama 3 bulan, akhirnya tumor di bagian leher Saron mengecil dan menghilang sama sekali dan kamipun sangat bersyukur kepada Tuhan melalui tangan dr. Rohadi Saron mengalami kesembuhan. Pasca Terapi dr. Rohadi Saat ini sudah 1 tahun Saron terbebas dari Tumor, dan sekarang Saron sedang keranjingan mengikuti BIMBEL untuk persiapan UNAS dan test masuk ke Perguruan Tinggi. Setelah 17 tahun selalu mendampingi Saron, kini Ibunya Saron nampak bahagia dan lega untuk menemani Saron takala ada cowok yang datang pura pura pinjam buku ataupun hanya sekedar minta buah rabutan yang ada di depan rumah kami. Ibunya Saron juga dapat bersahabat dengan cowok cowok SMU yang “naksir buah hatinya”. Kami sebagai orang tua terus berdoa agar kesembuhan yang dialami oleh Saron berlangsung permanen dan Saron dapat menikmati hidupnya tanpa dihantui oleh sebuah kata yang menakutkan yaitu “TUMOR” (Ebs) -- beye Sikap Peduli Lingkungan? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers. http://id.answers.yahoo.com

