Hari Valentine, Dimana Coklat Laku Keras
----------------------------------------------------- 

Bagi pekerja bakulan atau pedagang mracangan atau ritel seperti saya, momen 
Hari Valentine tentu pantas dirayakan. Bukan untuk merayakan atau memaknai 
peristiwanya, sebab kalau hal itu saya lakukan pastinya saya akan diprotes oleh 
jutaan saudara Muslim sebangsa dan setanah air. Melainkan merayakan untuk 
memperoleh kebaikannya. 

Kebaikan Valentine? Bukan! Valentine dari dulu kala sudah baik-baik saja. Tapi 
kebaikan orang-orang yang memanfaatkan momen Valentine sebagai sebuah hari yang 
"enak dan perlu" membeli coklat. Sebab pada hari ini, coklat adalah komoditas 
yang enak dimakan dan perlu….. 

Apapun agama seseorang, momen tanggal 14 Pebruari seringkali disambut sebagai 
hari yang tepat untuk mengekspresikan saling berkasih dan bersayang seolah-olah 
364 hari lainnya dianggap tidak tepat, terutama bagi mereka yang memang sedang 
berada dalam situasi perkasih-sayangan. Tapi entah kenapa perkasih-sayangan itu 
kok dilambangkan dengan coklat. Sampai-sampai almarhum Gombloh mengilustrasikan 
dalam sebuah nyanyiannya : "Kalau cinta sudah melekat, tahi kucing rasa 
coklat". Lha iya, siapa sih yang kurang kerjaan merasai tahi kucing..... 

Lebih dari sekedar urusan tahi kucing, eh maksud saya coklat, bagi penggiat 
mracangan atau ritel, tanggal 14 Pebruari disambut sebagai hari panen raya 
berjualan coklat. Tidak terkecuali dua toko saya (maaf agak narsis sedikit, 
"Madurejo Swalayan" dan "Bintaran Mart", keduanya di Jogja), sejak jauh hari 
sudah menyiapkan diri dengan menambah stok coklat, terutama permen coklat yang 
harganya relatif lebih mahal. 

Ya, bukan salah saya kalau toko saya berniat menyambut Hari Valentine. Malah 
saya pikir toko saya justru membantu menfasilitasi bagi mereka yang memiliki 
uang lebih kemudian ingin bersedekah dengan memberi hadiah coklat kepada 
temannya, saudaranya, pacarnya, orang-orang yang disayanginya, atau orang lewat 
sekalipun. Semua baik-baik saja. Yang tidak baik adalah kalau untuk bersedekah 
kemudian mengutil di toko saya. Dan ini pernah terjadi... It’s OK, saya pun 
ingin bersedekah meski terpaksa (sebab di dalam hati mengumpat : "Kurang 
ajar...!").

Oleh karena itu, bagi penggiat bisnis ritel, Hari Valentine adalah salah satu 
hari dimana boleh berharap ada sedikit panen raya meningkatnya omset penjualan 
(juga keuntungan, tentu saja) dari hasil penjualan coklat. Maka kalau saya 
menyambut Hari Valentine, itu tidak ada urusannya dengan halal atau haram, 
sebaiknya atau tidak sebaiknya, pahala atau dosa, melainkan adalah menyambut 
sebuah hari dimana coklat di tokoku laku keras, melalui sebuah transaksi bisnis 
yang benar menurut kaidah hukum negara maupun agama.

Kepada sesama penggiat bisnis ritel, saya sampaikan : "Selamat merayakan Hari 
Valentine, dimana coklat laku keras".

Yogyakarta, 14 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar 

http://madurejo.wordpress.com



      

Kirim email ke