samsul ulum

The Forest Trust

wildlife&HCVF specialist

kaliwungu city, kendal, central java

www.tft-forests.org

--

LINGKUNGAN HIDUP
Penemuan Situs Arkeologi pada Hutan Randublatung
Oleh : Samsul Ulum | 03-Apr-2010, 00:47:51 WIB

KabarIndonesia - Menurut Grahame Clarke secara sederhana pengertian
arkeologi adalah suatu studi sistematik tentang tinggalan arkeologi
(antiquities) sebagai alat untuk merekonstruksi masa lampau. Melihat
pengertian diatas, maka benda arkeologi merupakan bagian dari
benda-benda cagar budaya.

Dalam UU N0. 5 Tahun 1992, pengertian Benda Cagar Budaya adalah benda
buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau
kelompok, atau bagian-bagian atau sisa-sisanya yang berumur
sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang
khas dan mewakili masa gaya yang sekurang-kurangnya 50 (lima puluh)
tahun, serta di anggap memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu
pengetahuan dan kebudayaan; benda alam yang dianggap mempunyai nilai
penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Kawasan hutan KPH Randublatung berbatasan dengan wilayah hutan
Propinsi Jawa Timur serta berdekatan dengan aliran Sungai Bengawan
Solo. Sungai Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa.
Pada zaman dahulu Sungai Bengawan Solo merupakan jalur transportrasi
air yang ramai, karena menguhubungkan Kota Raja Surakarta dengan Laut
Jawa. Bengawan Solo juga merupakan sungai yang telah tua usianya
sehingga pada daerah sepanjang alirannya banyak diketemukan
peninggalan-peninggalan purbakala atau benda cagar budaya. Hal
tersebut tidak lepas dari kebiasaan masyarakat pada zaman dahulu
dimana mereka biasa hidup disepanjang aliran sungai.

Daerah sekitar aliran Sungai Bengawan Solo merupakan daerah yang
banyak menyimpan situs-situs budaya dan purbakala, seperti di daerah
Sangiran Sragen yang sudah sangat terkenal di dunia sebagai daerah
situs purbakala. Selain itu, ternyata pada kawasan hutan KPH
Randublatung yang berdekatan dengan aliran Sungai Bengawan Solo juga
terdapat daerah yang banyak diketemukan fosil-fosil purbakala dan
situs-situs budaya.

Petak 123 RPH Mendenrejo BKPH Beran KPH Randublatung merupakan lokasi
yang banyak di ketemukan fosil binatang purbakala. Fosil-fosil
tersebut diketemukan dalam endapan tanah sedalam tiga meter dari
permukaan tanah. Menurut  ahli gajah purba Universitas Wollongong
Australia Gert Van den berg yang mengunjungi lokasi tersebut pada
akhir tahun 2009, jenis fosil yang diketemukan dilokasi  adalah
Banteng purba: Duboisia santeng, Kerbau Purba  Bubalus paleokarabau,
tempurung kura2 jenis  batagurit.  Lokasi penemuan merupakan alur
sungai bengawan solo purba dan merupakan daerah endapan lumpur.
Kemungkinan binatang-binatang tersebut dahulu mati dalam kubangan
lumpur, kemudian menjadi fosil selama ribuan tahun. Beberapa fosil
yang diketemukan di lokasi tersebut sebagian telah dipindahkan di
Museum Mahameru Blora untuk alasan keamanan, namun beberapa penemuan
baru masih disimpan di Pos Polhut Petak 123.

Sedangkan pada petak 122 diketemukan makam pada masa Mataram Kuno.
Makan tersebut awalnya berada didalam tanah, namun saat ini telah
disusun kembali dalam permukaan tanah. Makam tersebut terbuat dari
susunan batu bata merah yang berukuran cukup besar-besar dibandingkan
batu bata yang umum dibuat saat ini. Lokasi makan terletak kurang
lebih 100 meter dari Situs Budaya Ngreco petak 123 c RPH Mendenrejo
BKPH Beran. Lokasi makan kuno tersebut telah diteliti oleh peneliti
dari Puslitbang Geologi Bandung, bahkan mereka sudah membuat sumur di
dekat lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat penelitian. Secara
terpisah ketika hal tersebut ditanyakan pada Wardiyah S.Hum. (peneliti
di BP3 Yogyakarta), BP3 Yogyakarta belum mengetahui mengenai penemuan
situs budaya di kawasan hutan KPH Randublatung. Padahal seharusnya
berita tersebut harusnya sampai pada BP3 Yongyakarta karena masih
masuk dalam wilayah kerjanya.

Sementara itu menurut Mugni, S.Hut Kasi PSDA KPH Randublatung, melihat
 banyaknya benda-benda yang memiliki nilai sejarah tinggi disekitar
lokasi tersebut, rencananya lokasi tempat penemuan benda-benda
arkeolongi tersebut akan diusulkan menjadi kawasan Situs Arkeologi KPH
Randublatung. Penetapan lokasi menjadi situs Arkeologi diharapkan
lokasi tersebut mampu dikembangkan sebagai lokasi penelitian, wisata
sejarah dan pelestarian budaya bangsa. Dalam konsep HCVF, situs
arkeologi merupakan salah satu kawasan yang memiliki nilai konservasi
tinggi (NKT) 6 yang wajib dijaga dan dilestarikan oleh setiap
pengelola kawasan hutan yang baik.

Sedangkan menurut Zaenal Abidin, S.Hut. Asper BKPH Beran Pos Polhut
Petak 123 rencananya akan dibuat sebagai museum mini yang berfungsi
sebagai tempat memajang fosil-fosil yang diketemukan di sekitar
lokasi. Selain sebagai tempat pusat informasi dan pengamanan situs,
pos tersebut juga akan dijadikan sebagai tempat pengumpulan fosil yang
diketemukan oleh masyarakat sekitar hutan.  Rencana tersebut merupakan
sebuah inisiatif yang bagus dari pihak management KPH Randublatung
untuk turut serta memelihara dan mengamankan benda yang memiliki nilai
sejarah tinggi. (SU)

sumber : 
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=4&jd=Penemuan+Situs+Arkeologi+pada+Hutan+Randublatung&dn=20100402205201



      Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang 
Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com

Kirim email ke