Dan
Di Antara Tanda-tanda (Kebesaran)-Nya
-----------------------------------------------------------
Seperti
pagi hari-hari Minggu sebelumnya, hari Minggu ini pun mestinya saya
segera
pergi mengaji ke pondok pesantren di sebelah rumah saya. Entah kenapa
hari ini
saya merasa agak malas berangkat. Menghatamkan geliat-geliat pagi di
atas
peraduan usai waktu Subuh rasanya enak sekali. Saya pikir Minggu pagi
ini libur
(pikiran yang sama dirasakan ketika seorang pelajar berharap gurunya
absen).
Sampai kemudian seorang teman mengaji mengirim pesan pendek singkat (SMS
singkat, maksudnya) : "Monggo ngaos, pak...
(mari mengaji, pak)".
Sambil
malas-malasan saya bangkit dari tempat tidur dan mengambil air wudhu.
Kemudian
mengenakan sarung, baju koko, kupluk
(peci) hitam, mengambil buku Al-Qur’an dan siap berangkat. Mendadak
perut berasa
mulas. Tak tertahankan ingin kembali ke jumbleng
(peturasan). Secepat kilat sarung, baju, peci, saya lepas dan lempar
begitu
saja. Bergegas ke kamar mandi. Leganya...! Lalu berwudhu lagi dan
kembali siap
mengenakan kostum mengaji. Tiba-tiba saya merasa status wudhu saya batal
(enggak usah tanya kenapa...?). Akhirnya balik lagi masuk kamar mandi
mengulang
mengambil air wudhu. Agak kesal sebenarnya, mesti bolak-balik ke kamar
mandi
hanya untuk mengulang mengambil air wudhu. Setidak-tidaknya sudah tiga
kali
pengulangan. Sampai akhirnya saya benar-benar berangkat mengaji.
***
Tentu
saja saya datang terlambat. Teman-teman mengaji yang hanya beberapa
orang itu
sudah mulai dengan tadarus membaca Al-Qur'an. Saya masih ingat kalau
Minggu
pagi ini sampai pada surat Ar-Rum. Saya langsung bergabung, membuka
Qur'an dan
bermaksud menyambung membacanya.
Teman
di sebelahku dengan cepat membisiki : "Sekarang ayat 20, pak". Maka saya
pun
langsung bergabung membaca surat Ar-Rum. Awal ayat 20 itu berbunyi : "Wa-min
aayaatihii...",
hingga akhir ayat.
Menginjak ayat 21, juga berawal dengan bacaan yang sama. Menyambung ayat
22 dan
seterusnya hingga ayat 25, ternyata berawal dengan lafal yang sama.
Sempat
terpikir sebenarnya, dan dalam hati saya bertanya : "Apa sih maksudnya
ayat-ayat ini kok semua diawali
dengan lafal yang sama...". Dan kenapa saya baru bergabung membacanya
mulai dari
ayat-ayat yang bacaan awalnya sama?
Sebuah
kebetulan? Mungkin iya. Selesai membaca surat Ar-Rum, baru kemudian saya
sempatkan membaca terjemahannya. Dan, terjemahan penggal kalimat yang
sama itu
adalah : "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya…..". Diam-diam saya
tiba-tiba merasa agak merinding.
Sekilas
saya mencoba mengingat beberapa kejadian sejak sebelum berangkat
mengaji. Sudah
berwudhu, lalu sakit perut, lalu batal wudhu, hingga keberangkatan
mengajiku
tertunda sampai setelah tiga kali berwudhu. Kemudian ketika bergabung
mengaji
ternyata saya memulainya dengan ayat yang bacaan awalnya sama dari ayat
20
sampai 25.
"Ah,
hanya kebetulan belaka", pikirku. Tapi berhubung saya ini penganut paham
bahwa
di dunia ini tidak ada hal yang kebetulan, maka perasaan merinding dan
takut
dalam diri sendiri itulah yang kemudian saya rasakan.
Saya
kemudian berprasangka (sepertinya oplosan antara prasangka buruk dan
baik
sekaligus) kepada Allah. Jangan-jangan saya sedang diingatkan oleh
Tuhan.
Jangan-jangan selama ini saya kurang memperhatikan tanda-tanda
(kebesaran)-Nya
dengan hati dan pikiran dalam porsi yang semestinya…
Ketika
kemudian seorang teman mengaji bertanya : "Sudah ada persiapan memasuki
Ramadhan, pak?". Saya terhenyak. Perasaanku menjadi gelisah. Saya tidak
siap,
atau lebih tepat kurang pede, untuk
menjawabnya. Sebab saya merasa ada yang salah, atau setidak-tidaknya ada
yang
kurang, dalam memberi "apresiasi" sebagaimana seharusnya, bahkan untuk
sekedar "wajar tanpa syarat", terhadap tanda-tanda (kebesaran)-Nya.
Terlebih
menyongsong tibanya bulan suci Ramadhan yang tingal sepenggalah jaraknya
lagi.
Itu pun masih berstatus "Insya Allah"...
(Diam-diam
saya berdoa dengan sepenuh penghambaan : "Ya Allah, beri aku kesempatan,
tolong
pertemukan kembali aku dengan Ramadhan").
Yogyakarta,
25 Juli 2010Yusuf Iskandar