Memang terasa lebih mudah melihat dan memberikan komentar manakala melihat 
orang lain mendapatkan ujian kehidupan. Namun berasa kelu, gundah dan tak tahu 
harus berbuat apa, manakala diri kita yang sedang menjadi 'peserta ujian 
kehidupan'. Boleh jadi kita akan kelihatan sangat sabar dan berwibawa, manakala 
hanya sebagai komentator. Tapi akan menjadi jatuh seluruh ketegaran dan 
keceriaan, manakala ujian hidup mencapai puncaknya.

Al kisah, RABU-KAMIS, persiapan mudik sudah dilakukan dengan baik, khususnya 
untuk mobil pribadi yang akan ditumpangi. Walau usia mobil sudah 20 tahun, 
tetapi dengan jaminan service mesin, ganti olie, dan perbaikan lainnya; 
dianggap lebih dari cukup untuk keamanan dan kenyamanan mudik. Apalagi beaya 
service sudah melebihi angka UMR (standard gaji pokok pekerja dasar), yang 
tergolong sungguh nekad untuk kelas ukuran akunya yang bergaji 3x UMR.

Jalur mudik : Yogya - Magelang - Temanggung - Kendal - Batang - Pekalongan - 
Pemalang - Tegal pp

Pukul 08.00 JUMAT jalur mudik pun dimulai. Niat mulia, sebelum ramadhan mau 
berziarah ke makam orangtua yang telah wafat. Semoga niat mulia ini membantu 
kelancaran jalan mudik. Ehm, niat mulia kok maksa dan berharap pada kondisi 
perjalanan ya...hehe

Keluhan pertama muncul, AC mobil kurang dingin. Sehingga berniat menambah 
freon. Entah karena bengkel AC bukan langganan biasanya, pasca pengisian, baru 
berjalan 5 Km-an, freon mobil malah habis. Balik lagi ke bengkel, isi lagi, 
mumpung masih belum jauh perjalanan.
Sampai di Muntilan - Magelang, mendadak mesin mati. Diduga kipas mesin tidak 
jalan. Untung ada bengkel terdekat. Lalu jalan lagi.

Namun stelan mesin (RPM) terlalu tinggi, sehingga mesin mudah panas. Mampir 
bengkel lagi di Kota Magelang. Lalu jalan lagi.

Sampai Secang, terasa kopling mobil melemah. Kata montir yang ditelpon "Kopling 
sangat sulit dideteksi kalau rusak, apalagi kalau pengemudi tidak ada keluhan". 
Sampai alun-alun Temanggung, kopling sempat blong, ditandai tidak bisa 
memasukkan gigi persneling. Sedikit memompa kopling, bisa jalan lagi. Untung 
ada bengkel, bisa ganti kopling bawah (yg atas diduga masih bagus). Eh, 
ternyata bengkelnya main palak harga. Ya gimana lagi, the show must go on 
(baca: mudik jalan teyus). Lalu jalan lagi.

Sekitar Candiroto, menjelang magrib, jalan berkelok dan berbukit; kopling 
sering blong ! haduh! Jalan pelan-pelan. Mental sudah drop. 2x terpaksa minggir 
dan mematikan untuk mengembalikan kopling dengan memompa beberapa kali. 
Alhamdulillah sampai di alun-alun sukorejo. Berhenti 2 jam-an untuk mencari 
montir, walau sudah jam 19an. Akhirnya dapat, olie kopling ditambah dan dicek 
lagi. Lalu jalan lagi. Kali ini membawa saudara yang berprofesi montir (walau 
bengkel truk dan tidak bawa alat, minimal buat menambah keberanian menyusuri 
jalan berkelok dan berbukit).

Sampai Weleri, ada ponakan yang kuminta bergabung. Sampai Batang, ponakan ganti 
mengemudi, karena kondisiku sudah KO (ujian ketegangan sejak jam 8 pagi sampai 
9 malam). Sampai di Tegal tengah malam.

SABTU perbaikan kopling dan RPM gas mobil. Hampir seharian. Kopling ga pas 
banget, tapi lumayan diperbaiki. 

MINGGU kembali ke Jogja. Ternyata salah stel kopling terlalu kencang. Kaki kiri 
sampai cidera dan sering kram karena sering menekan terlalu kuat. Jalur kembali 
ini lumayan lancar, tetapi sampai Temanggung, kopling bermasalah lagi. Sehingga 
perjalanan dengan pelan....
Perjalanan kembali dari jam 9 sampai jam 18 (9 jam). wajarnya 7 jam.

SENIN masuk bengkel lagi. Perbaikan kopling dll. Wah beaya setengah UMR hehee. 
Senin sore dicoba jalan ke kota. Eh, AC nyala, kipas mati, mesin juga ikut 
mati. Ada apa ini? jadilah ke bengkel lagi. Ternyata beberapa kabel konslet. 
Jadilah sehari lagi diperbaiki.

SELASA selesai berbengkel ria. Hampir seminggu ya. Mental mengemudi masih drop. 
Rasa was-was masih sering muncul. Mungkin inilah trauma. Begini rasanya apabila 
kepercayaan diri merosot tajam. Aku merenung, inikah cobaan? inikah ujian? 
apakah ini hanya urusan logika mesin yg sudah tua, jadi wajar rusak? tapi 
banyak masalah muncul diluar prediksi ilmu montir. Ataukah aku kurang amal? 
Ataukah.....

Orang beruntung adalah mereka yang dapat mengambil hikmah dari ujian yang 
dijalani. MaknaNYA ini demikian tergores di hatiku. Namun aku masih belum 
mengerti ada rahasia apa setelah ini.

Waktu berjalan seminggu kemudian. Ada keanehan yang terjadi. Dua orang kolega 
menyebutkan honor tambahan buatku, di luar honor yang seharusnya. Memang tidak 
besar sekali, tetapi setelah aku renungkan, bisa buat BEP (bak-bik-buk) dengan 
pengeluaran untuk service bengkel. Duh, ternyata DIA cepat memberikan pengganti 
sebagian materi yang hilang untuk beaya service. Hmm, agaknya rentetan ujian 
kemarin memang jadi 'ujian semesteran' buat kehidupanku. Menguji apakah tetap 
ikhlas walau berjalanan berliku. Menguji apakah sabar dalam menghadapi 
rangkaian 'soal-soal' tadi. Kerugian materi seperti tergantikan lunas. Namun 
ujian mental, tergantung bagaimana hati ini memaknai dan mengambil hikmah. 
Setelah kesempitan, ada kemudahan....

Inikah hikmah pertama memasuki Ramadhan yang mulia?


Ki Asmoro Jiwo


      

Kirim email ke