Miris bacatulisan ini, Sayangnyasaya tidak dapat menemukan siapa penulis aslinya. Link yang di kompasiana pun sekarang sudah dihapus dengan alasan penulis copy-paste dari tulisan orang lain.
Walaupun demikian, Tulisan ini memang harus dibaca bener-bener oleh kita semua yg masih punya hati. ASROFI Address 1 : Jl. RA Kartini No.14 Kebumen Sukorejo Kendal Jawa Tengah Address 2 : Jl. Attahiriyah No.33H Pejaten Barat Pasar Minggu Jakarta Selatan Address 3 : Ds. Getas Blawong Rt.02 Rw.04 Pageruyung Kendal Mobile : +6281 311 661 479 Yahoo : asrofism G-Talk : [email protected] Email : [email protected] Blog : www.asrofi.web.id Office : www.sentraproperty.com 2010/9/1 moh anto <[email protected]> > > > > > Dari milis sebelah, dan akupun menggulirkan airmata entah ini nyata atau > tidak,,,, > > > > > > > Menggendong Mayat Anaknya karena Tak Mampu Sewa Mobil Jenazah > Hanya ingin menyampaikan pesan yang mungkin belum tersampaikan” > > PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat > anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah. > > Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger > > Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono > (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). > Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan > menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari > kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah > korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas > karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono > membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi. > > Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang > muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan > Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya > uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya > hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp > 10.000,- per hari”. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong > perlintasan rel KA di Cikini itu. > Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama > sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh > (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya > terbaring digerobak ayahnya. > > Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan > nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00. > Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak > yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali > sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal > Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil > dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih > terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak > berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat > menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di > sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung. > > Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet. > Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah > si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang > tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si > sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. > Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri > Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya > telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang > mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung > dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya > ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam. > > Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. > Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan > pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. > Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah > meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul > 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karen > atidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki > menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan > Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos > perjalanan ke Bogor. > > Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal > Supriono dan Muriski di perjalanan. > > Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku > benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena > masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap > sesama. “Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita > bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga > Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat > tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia”, ujarnya. > > “Terkadang kita terus berpikir, apa yang ditinggalkan dari kita setelah > kita mati…..” > > sumber : http://regional. kompasiana.com/2010/07/ > 28/menggendong-mayat-anaknya- > karena-tak-mampu-sewa- > mobil-jenazah/<http://regional.kompasiana.com/2010/07/28/menggendong-mayat-anaknya-karena-tak-mampu-sewa-mobil-jenazah/> > > > > >

