Rekan milis semua,
Sebenarnya kalau disimak bung Putu ini masalahnya hanya karena line out korgnya
merasa kecil dan tidak seperti keyboard lainnya.
Kita dan saya khususnya hanya sekedar memberikan solusi agar bagaimana
memperkuat sinyal line out tersebut tanpa harus membeli sound system yang lain.
Kecuali kalau sedari awal itu memang dikehendaki oleh bung Putu.
Sederhananya, sama seperti yang disarankan beberapa rekan disini. Kalau mau
yang instan/cepat bisa membeli mixer mini kalau perlu yang second juga tidak
apa2. 4 chanel juga cukup.
Atau kalau mau merakit sebenarnya lebih sederhana lagi. Dalam dunia audio,
penguatan sinyal yang berasal dari line out, dalam sebuah peralatan yang
terintegrasi ada pada bagian penguatan gain. Bila dipisah struktur penguat gain
tersebut dapat disebut juga penguat depan atau op-amp bisa yang sederhana bisa
juga yang complicated. Op-amp yang sederhana mempunyai skema juga sederhana,
bisa hanya menggunakan 1 buah IC saja (e.g. IC 741/084 ect) ditambah beberapa
buah resistor dan kapasitor. Dengan catu daya yang berasal dari trafo 500mA
(out put 2x15volt/CT) plus dioda 4 buah, condensor 100uf/50v 2 buah, IC 7915
dan 7815 jadilah sebuah penguat gain, dengan hasil yang cukup linear. Tambahkan
potensio 10K selesai. Rakitan ini selain lebih (sangat) murah dan cukup untuk
memberikan solusi terhadap masalah tersebut. Skema ini sangat universal dan
banyak digunakan di berbagai peralatan audio. Perakitannyapun mudah bisa oleh
anak STM atau tukang service.
Paling hanya menghabiskan uang tidak lebih dari 50rb saja.
Yang penting sound Keenwood yang sudah dibeli dengan mahal itu tetap
bermanfaat.
Bagi saya penggunaan sound dengan karakteristik khusus untuk keyboard adalah
baik. Namun perlu juga dipikirkan kebiasaan telinga orang Indonesia. Pernah
diberikan hanya dengan cube saja, kesannya kurang ok. Ada yang bilang kurang
bas, terlalu mid, nyaring dlsbgnya.
Namun dengan sistem audio rumah yang karakteristiknya mampu dibuat karaoke
secara baik, dengan melakukan setingan yang juga sesuai maka hasilnya cenderung
lebih disukai.
Memang jika menilik pada istilah audio, baik yang public address, home theatre,
home audio, audio karaoke, car audio, dan audio lapangan semuanya mempunyai
pengertian dan karakteristik yang berbeda. Namun kalau kita mau menelusuri
lebih dalam hasil keluarannya adalah juga suara. Terkadang sebuah ruang sidang
ternyata diperlengkapi dengan berbagai peralatan yang tidak ada bedanya dengan
peralatan ortung. Ada mixer, ada mic wireless, ada power bahkan ada juga
equalizer.
Demikian juga dengan audio rumah, atau audio mobil sekalipun, selama dia mampu
membuat settingan yang sangat sesuai dengan kebutuhan sebuah alat musik maka
tidak ada yang salah terhadap itu.
Bukankah semua itu hanya sebuah alat reproduksi? Selama alat tersebut mampu
mengeluarkan reproduksi suara sesuai dengan yang diinginkan maka selesai sudah
pekerjaan itu.
Masalahnya ada hanya pada kemampuan dari masing-masing alat. Pertama adalah
penguat akhirnya apakah cukup? Untuk watt jngan berpatokan dengan wattnya
PMPO(Peak Music Power Output), itu watt suka2nya pabrik. Yang benar adalah RMS
(Root Means Square). Kedua adalah speakernya, bisa dari jenis, kemampuan, dan
besarannya (untuk sekarang besaran: tidak signifikan, karena tergantung
kebutuhan). Ketiga adalah pengatur nada/tone control.
Saya punya home theatre, ada subwoofer, main speaker, surround speaker, dan
center speaker. Sedemikian rupa saya lakukan setingannya, hasilnya sangat real
dan bagus. Suara dentingan gitar sangat detil, suara saxophone jadi real, gitar
listrik bisa melengking persis aslinya. Mengapa?
Karena pada home theatre seluruh speaker yang ada telah mewakili seluruh jenis
suara yang dikehendaki. Bukankah suara terbagi dalam range frequency dari 20hz
s.d. 20.000hz. Jadi selama alat reproduksi suara mampu mengeluarkan suara pada
frekuensi yang dibutuhkan maka terjadilah sudah. Di home theatre saya ada
fasilitas untuk tidak memfungsikan surround, center dll. Ada pilihan jenis
musik dari pop, rock, jazz dll. Sehingga bahkan bisa dibuat keluaran yang flat
sekalipun. Artinya apapun inputnya dia akan keluar seperti itu adanya.
Pada jenis peralatan sound besar/lapangan, kelengkapan yang dimiliki sebenarnya
analoginya sama. Disana ada mixer, equalizer, compressor
audio (pengatur/penguat nada), power amplifier, sub woofer, mid woofer, midle
speaker, high speaker. Anatominya hampir sama bila ditinjau dari kebutuhan
frekuensi suara yang diinginkan. Bedanya home theatre ada modul untuk
memanipulasi suara, pada modul sorround seakan-akan suara seperti terdengar
disekeliling kita bahkan kadang2 seperti berjalan dari kanan kekiri atau
sebaliknya. Tapi di sound lapangan ada fasilitas yang kurang lebih mengesankan
seperti itu, yaitu pada tombol panning. dengan fasilitas ini seakan-akan suara
dikiri bisa dilempar kekanan dan sebaliknya.
Sori jadi kepanjangan.Tapi ini untuk sharing saja.
Tak ada gading yang tak retak. Terlebih juga saya sendiri.
Mohon dikoreksi bila ada yang salah.
salam,
Hans
Apakah wajar artis ikut Pemilu? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers.
http://id.answers.yahoo.com