Kageuing ku seratan Mang Mama (heuheu) ngeunaan Bojong Kokosan, --tamba
panasaran-- kuring susad-susud maké pakarang Gugel. Ti antara hasilna, anu
lumayan lengkep dipilih dipidangkeun di handap ieu. Mung, punten pisan, can
pareng disarikeun, komo di-Sundakeun mah... :D

Wilujeng ngadangukeun! Eh... Wilujeng ngaos!

---------------------------

PERJUANGAN RAKYAT JAWA BARAT MEMPERTAHANKAN DAN MENEGAKKAN KEDAULATAN
REPUBLIK INDONESIA DARI RONGRONGAN SEKUTU (1945-1946)

Herry Wiryono


Abstraksi

Pada awal kemerdekaan negera Republik Indonesia, rakyat Jawa Barat ikut
aktif dalam perjuangan mempertahankan dan menegakkan kedaulatan negara
Republik Indonesia dari berbagai rongrongan dan gangguan, baik yang datang
dari luar maupun dari dalam negeri. Perjuangan rakyat Jawa Barat tercermin
dalam bentuk pertempuran-pertempuran yang terjadi di hampir seluruh wilayah
Jawa Barat. Berkobarnya pertempuran itu menunjukkan gigihnya semangat
perlawanan rakyat Jawa Barat menentang segala upaya Belanda yang ingin
kembali menguasai Indonesia.


Pendahuluan

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, telah membawa
rakyat Indonesia untuk memasuki tahapan baru, yaitu tahapan untuk
memepertahankan dan mengisi kemerdekaan. Upaya tersebut tidak dapat berjalan
mulus, karena masih adanya upaya Belanda un-tuk kembali ke Indonesia. Oleh
karena itu, upaya awal dalam mengisi kemerdekaan Indonesia adalah upaya
mempertahankan kemerdekaan itu sendiri dari rongrongan luar yang hendak
menghancurkan kemerdekaan Indonesia, terutama dari pihak Belanda dan Sekutu.

Upaya mempertahankan kemerdekaan itu tidak hanya dilakukan oleh pemerintah
Republik Indonesia, tetapi seluruh rakyat Indonesia. Rakyat Jawa Barat
sebagai bagian dari rakyat Indonesia, ikut andil dalam upaya menegakkan dan
mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka bergabung dalam
berbagai kesatuan BKR dan laskar rakyat.

Tentara Sekutu datang ke Jawa Barat

Penyerahan Jepang tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945,
ditandatangani secara resmi tanggal 2 September 1945 di atas kapal perang
Sekutu "Missouri" yang berlabuh di teluk Tokyo. Dengan demikian, sejak saat
itu secara yuridis, Indonesia telah berada di bawah kekuasaan Sekutu.
Sedangkan, secara de facto, Indonesia masih tetap berada di bawah kendali
tentara Jepang karena Sekutu masih berada di luar Indonesia.

Sementara itu, pemerintah Inggris dan Belanda pada tanggal 24 Agustus 1945
melakukan perjanjian Civil Affairs Agreement yang isinya mengakui kedaulatan
Belanda atas Indonesia yang tidak boleh disentuh oleh Sekutu. Untuk
melaksanakan pemerintah sipil di Indonesia, maka dikirim NICA, yang
pelaksanaannya diawasi oleh tentara Sekutu. Sesuai perjanjian tersebut,
tentara Belanda datang ke Indonesia dengan mendompleng pada tentara Sekutu,
dan bahkan memakai pakaian Sekutu.

Panglima tentara Sekutu, Letnan Jenderal P. Christison mengetahui bahwa
tugas tentara Sekutu di Indonesia tidak akan berhasil tanpa bantuan
Pemerintah Republik Indonesia. Oleh karena itu, Christison berusaha
melakukan pendekatan dengan pemerintah Republik Indonesia.

Adanya itikad baik dari panglima tentara Sekutu itu disambut dengan baik
oleh pemerintah Repu-blik Indonesia. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia
menyambut kedatangan tentara Sekutu dengan sikap netral dan tangan terbuka,
apalagi setelah adanya pengakuan de facto dari Panglima AFNEI (Sekutu)
tersebut. Sikap pemerintah Indonesia itu segera berubah setelah diketahui
ternyata tentara Sekutu (yang terdiri atas tentara Inggris) membawa serta
tentara NICA (Belanda). Tentara NICA dengan terang-terangan berusaha
menegakkan kembali kekuasaan Hindia Belanda. Hal ini menimbulkan sikap
curiga bangsa Indo-nesia terhadap sepak terjang tentara Sekutu.

Situasi keamanan di Indonesia memburuk sejak kedatangan tentara NICA. Hal
diperparah dengan tindakan tentara NICA yang mempersenjatai orang-orang KNIL
yang baru dilepaskan dari tawanan Jepang. Orang-orang KNIL dan NICA di
beberapa kota di Jawa Barat, seperti Bandung, Bogor, dan Sukabumi selalu
memancing kerusuhan dengan cara menakut-nakuti, menggeledah rumah, dan
bahkan menangkap rakyat yang dicurigai menjadi atau membantu para pejuang
Indonesia. Keadaan ini terus memanas dan akhirnya menimbulkan kontak senjata
antara para pejuang Indonesia dengan tentara Sekutu dan Belanda.

Front Pertempuran di Jawa Barat

1. Pertempuran di Kota Bandung

Tentara Sekutu datang ke Indonesia untuk mengurus penyerahan kekuasaan dari
tangan Jepang, memulihkan keamanan dan ketertiban, serta memulangkan tawanan
tentara Jepang ke negara asalnya. Dalam tugasnya ini, tentara Sekutu banyak
disusupi oleh tentara NICA Belanda yang terang-terangan berusaha memulihkan
kekuasaannya kembali di Indonesia. Oleh karena itu, kedatangan tentara
Sekutu di berbagai kota telah menimbulkan rasa curiga bahkan permusuhan dari
rakyat dan para pejuang Indonesia.

Untuk mengantisipasi hal di atas dan untuk ketentraman rakyat Jawa Barat,
Gubernur Jawa Barat, Sutardjo Kartohadikusumo dan Lembaga Komite Nasional
Indonesia Daerah (KNID) Jawa Barat, BKR dan lasykar rakyat pada tanggal 8
Oktober 1945 mengadakan pertemuan untuk membahas rencana kedatangan tentara
Sekutu ke daerah Jawa Barat. Pertemuan memutuskan bahwa pada dasarnya
masyarakat Jawa Barat menolak kedatangan tentara Sekutu di Jawa
Barat(Mohammad Rivai, 1983: 71).

Sikap tegas rakyat Bandung terhadap tentara Sekutu tampak dalam pelaksanaan
rapat akbar di Lapangan Tegalega Bandung. Ra-pat dihadiri oleh ribuan rakyat
dari berbagai lapisan dan berasal dari segenap penjuru Bandung. Rakyat yang
memadati lapangan Tegalega membawa poster-poster yang ber-tuliskan
semboyan-semboyan per-juangan yang menolak kedatangan tentara Sekutu(Suara
Merdeka, 2 Oktober 1945: 3).

Oleh karena itu, untuk memasuki daerah Jawa Barat, tentara Sekutu terlebih
dahulu mengadakan perundingan dengan pimpinan pe-merintah pusat Republik
Indonesia di Jakarta. Pemerintah Indonesia mengijinkan tentara Sekutu masuk
ke Jawa Barat asal tetap menjaga keamanan dan melaksanakan tugas sesuai
dengan tugas-tugas yang diembannya. Akhirnya, tokoh-tokoh Jawa Barat dengan
perasaan berat harus tunduk pada keputusan pemerintah pusat dan terpaksa
menerima kedatangan pasukan Sekutu, tetapi dengan syarat tentara Sekutu
tidak membawa tentara Belanda.

Tentara Sekutu Brigade Mc Donald dari Divisi India ke-23 pada tanggal 12
Oktober 1945 tiba di kota Bandung, dengan menumpang kereta api. Kehadiran
tentara Sekutu telah mengubah keadaan kota Bandung secara drastis. Rakyat
Bandung yang gembira karena kemerdekaan baru diproklamirkan menjadi tegang
dan penuh kecurigaan. Apalagi ternyata, tentara Sekutu telah menyelundupkan
tentara NICA Belanda ke kota Bandung dengan memakai pakaian tentara Sekutu.

Suasana kota Bandung menjadi genting. Tindakan tentara Sekutu dan NICA
Belanda dengan jelas ber-usaha menguasai kota Bandung. Mereka dengan
terang-terangan mempersenjatai interniran Indo-Belanda yang baru dibebaskan
dari tawanan Jepang dan membujuk serta merekrut sebagian rakyat Bandung
untuk menjadi mata-mata. Tindakan tersebut telah memancing kemarahan rakyat
dan para pejuang Bandung, sehingga bentrokan senjata tidak dapat dihindari.
Pertempuran antara para pejuang dan rakyat Bandung dengan tentara Sekutu dan
Belanda terjadi diber-bagai tempat di kota Bandung.

Para pejuang Bandung dengan semangat yang tinggi berhasil memukul mundur
tentara Sekutu di berbagai front. Melihat situasi dan posisi tentara Sekutu
yang tidak menguntungkan dan dalam keadaan terdesak, maka Brigjrn Mac Donald
mengeluarkan ultimatum terhadap Gubernur Jawa Barat. Ultimatum itu berisi
agar para pejuang Bandung yang berkedudukan di daerah Bandung utara segera
pindah ke Bandung Selatan. Batas Bandung utara dan selatan adalah rel kereta
api. Sedangkan batas Bandung Utara sebelah utara adalah enam kilometer dari
rel kereta api atau daerah Setiabudi.

Akibat tekanan politik Sekutu dan mempertimbangkan keselamatan rakyat yang
tidak berdosa, akhirnya pemerintah Jawa Barat memerintahkan para pejuang
yang berada di daerah Bandung utara agar pindah ke Bandung Selatan. Para
pejuang dengan dengan berat harus taat kepada pimpinan akhirnya pindah ke
selatan dan sebagian lain pindah ke daerah sebelah utara lagi, yaitu ke
sekitar Bumi Siliwangi (Sekarang Kantor IKIP Bandung).

Bandung Utara telah dikosongkan dari para pejuang dan rakyat Bandung yang
tidak mau bekerja sama Sekutu. Meskipun demikian, para pejuang tidak rela
apabila tentara Sekutu hidup tenteram. Para pejuang dari selatan atau utara
terus melakukan serang-an sporadis terhadap kedudukan tentara Sekutu dan
Belanda.

Akibat serangan terus menerus dari para pejuang dan laskar Bandung, telah
mendorong panglima AFNEI di Jakarta mengirim-kan pasukan tambahan ke kota
Bandung. Pasukan tambahan Seku-tu didatangkan melalui jalan darat dan udara.
Adanya bantuan pasukan tersebut membuat kedudukan tentara Sekutu menjadi
kuat. Oleh karena itu, tentara Sekutu berusaha meningkatkan serangan ke
daerah-daerah yang masih dikuasai para pejuang Bandung. Upaya tentara Sekutu
mendapat perlawanan keras dari para pejuang dan rakyat Bandung, pertempuran
terjadi di berbagai pelosok kota, seperti di Jalan Lengkong Besar, Cicadas,
Tegalega, dan Pasir Kaliki.

Adanya serangan tentara Sekutu yang terus menerus tidak membuat gentar para
pejuang. Para pejuang membalas dengan me-lakukan pencegatan terhadap konvoi
tentara Sekutu di Fokker Weg (Sekarang Jalan Nurtanio). Pertempuran di Jalan
Fokker merupa-kan pertempuran yang terhebat dan kemenangan berada di pihak
para pejuang Bandung. Kekalahan ten-tara Sekutu itu membuat pemim-pinnya
marah dan malu, karena dipecundangi oleh pasukan yang jumlah dan
persenjataannya jauh di bawah mereka(Djen Amar, 1963: 120-123).

Panglima tentara Sekutu di Jakarta yang telah mendapat lapo-ran tentang
keadaan di Kota Bandung, segera menyampaikan ultimatum kepada pemerintah
Indonesia, yaitu Perdana Menteri Syahrir. Ultimatum itu berisi agar daerah
Bandung dikosongkan dari pasukan bersenjata. Pengosongan harus dilaksakan
paling lambat tanggal 24 Maret 1946 sebelum pukul 22.00 WIB. Apabila tidak
dilaksanakan, maka akan tentara Sekutu akan melakukan serangan besar-besaran
ke kota Bandung.

Para pemimpin TRI kota Bandung, yaitu A.H. Nasution, Sukanda Bratamanggala,
Aruji Kartasasmita, dan Mashudi menga-dakan pertemuan di Jalan Lengkong
Kecil untuk membicarakan ultimatum Panglima tentara Sekutu. Pertemuan
memutuskan untuk menolak ultimatum Sekutu, lebih baik bertempur sampai titik
darah penghabisan daripada harus me-ninggalkan Kota Bandung. Pada saat yang
hampir bersamaan terdapat perintah pemerintah pusat di Jakarta agar
mengosongkan kota Bandung agar tidak jatuh korban dikalangan rakyat sipil
yang sia-sia. Akhirnya dengan berat hati, Ko-mandan Divisi III, A.H.
Nasution dan para pemimpin Jawa Barat lainnya mengambil keputusan untuk
meninggalkan kota Bandung. Meskipun demikian, para pejuang Bandung bertekad
agar kota Bandung tidak dapat dimanfaatkan oleh tentara Sekutu maka akan
dibumihanguskan, terutama fasilitas atau kantor-kantor penting.

Pada tanggal 24 Maret 1946 malam, seluruh tentara Iandonesia yang bertugas
melakukan bumi hanguis telah bergerak ke sasaran masing-masing yang telah
ditentu-kan. Mereka menunggu perintah dari pimpinan Divisi III yang berupa
ledakan bom pukul 21.00 WIB. Tepat pada pukul 21.00 WIB. terdengar ledakan
dasyat dari daerah Bandung Selatan yang menjadi tanda dimulainya
pembumihangusan dan serangan terhadap fasilitas-fasilitas penting yang
dikuasai tentara Sekutu.

Pada malam itu, langit Bandung selatan memerah karena kebakaran di
mana-mana. Sejak dari daerah Cimindi sampai Ujungberung kebakaran
memusnahkan bangunan dan barang-barang di sekitarnya dengan diselingi
dentuman dan ledakan dahsyat. Tentara Indonesia di bawah komando langsung
Panglima Divisi III Siliwangi, A.H. Nasution, membakar sendiri markas TRI,
asrama prajurit, dan bangunan penting lainnya.

Sementara itu, penyerangan yang dilakukan anggota Batalyon Bandung Utara
berhasil menghancurkan asrama polisi di Suka-jadi dan pembangkit listrik
Dago Pakar. Serangan terhadap gedung di Jalan Jawa dan sekitarnya gagal,
karena bahan peledak yang digunakan tidak mampu menghancur tempat tersebut.

Serangan para pejuang Bandung terhadap kedudukan tentara Sekutu di Bandung
Utara menimbulkan kemarahan mereka. Keesokan harinya, tentara Sekutu dengan
mengerahkan pesawat terbang melakukan pemboman terhadap kedudukan dan tempat
pengungsian para pejuang yang berada di daerah Dayuehkolot, Ujungberung,
Soreang, Lembang dan tempat-tempat yang diperkira-kan menjadi tempat
persembunyian para pejuang. Serangan tentara Sekutu itu tidak melumpuhkan
kekuatan tentara Indonesia, karena tentara Indonesia telah meninggalkan
daerah tersebut.

2. Pertempuran di daerah Bogor

Pada awalnya, kedatangan tentara Sekutu ke Bogor tidak mendapat perlawanan
dari tentara Indonesia dan laskar rakyat. Akan tetapi, akibat tindakan
tentara Sekutu yang sewenang-wenang maka sejak Desember 1945 mulai terjadi
konflik berupa konflik senjata. Insiden terjadi di jalan raya yang
menghubungkan Jakarta dengan Bandung dan Sukabumi. Insiden itu merupakan
usaha pihak TRI untuk melakukan penghada-ngan terhadap konvoi Sekutu yang
menuju Sukabumi dan Bandung.

Adanya gangguan terhadap konvoi Sekutu oleh laskar setempat itu, dibalas
oleh Sekutu dengan se-rangan terhadap kampung-kampung yang ada di sekitar
jalan raya, seperti Ciawi, Pacet, Cugenang, Ciranjang, Rajamandala, Cipatat,
dan Padalarang. Serangan balasan dilakukan dari darat dan udara.

Pada awal Maret 1946, Panglima Divisi III Kolonel A.H. Nasution dipanggil
oleh Panglima Komandemen Jawa Barat Mayor Didi Kartasasmita. Mayor Didi
Kartasasmita memerintahkan Kolonel A.H. Nasution untuk sedapat mungkin
memutuskan hubungan Sekutu dari Bogor-Bandung.

Setelah mendapat perintah tersebut, A.H. Nasution segera memangil para
komandan resimen. Para komandan resimen diberi tugas untuk melakukan
serangan besar-besaran terhadap konvoi tentara Sekutu dan kedudukan Sekutu
di sekitar Kota Bandung. Resimen 3 yang dipimpin Kolonel Edi Sukardi
ditugaskan untuk menghantam vak Puncak-Citarum, Resimen 6 pimpinan Mayor
Umar Bakhsan ditugaskan menyerang vak Cianjur-Padalarang dari sebelah utara,
dan Resimen 9 pimpinan Letkol Gandawijaya ditugaskan menyerang vak
Cianjur-Padalarang dari arah Selatan. Dalam rencana ini, para komandan
re-simen harus melibatkan rakyat setempat dalam membuat rintangan-rintangan
jalan, sedangkan anggota resimen melakukan pengrusa-kan jembatan-jembatan.

Serangan TRI dan laskar rakyat terhadap konvoi Sekutu yang cukup besar
terjadi di daerah Bojong Kokosan atau dikenal sebagai Peristiwa Bojong
Kokosan. Peristiwa ini sempat menggegerkan Perlemen Inggris(A.H. Nasution, I
1971: 90).

3. Pertempuran di daerah Sukabumi

Sukabumi merupakan daerah perkebunan yang menguntungkan dan dapat dijadikan
sebagai benteng pertahanan yang baik bagi Belanda/NICA. Oleh karena itu,
para pejuang Sukabumi berusaha mempertahankan Sukabumi dengan sekuat tenaga
agar tidak jatuh ke tangan Belanda. Komandan Resimen III, Letkol Edi Sukardi
memberikan instruksi untuk berdislokasi pasukan, yaitu batalyon yang
berkedudukan di kota Sukabumi dipindahkan ke luar kota atas dasar strategis
dan teknis pertempuran.

Pertempuran pertama antara tentara Sekutu dengan para pejuang Sukabumi
terjadi di daerah Gekbrong. Pertempuran terjadi karena adanya serangan para
pejuang Sukabumi terhadap konvoi Sekutu/NICA yang menuju Bandung. Akibat
serangan itu, tentara Sekutu dan NICA kembali datang ke Sukabumi dengan
konvoi besar sebanyak kurang lebih 100 truk(Badan Pengelola Monumen Pa-lagan
Perjuangan 1945, 1986: 15).

TKR dan laskar rakyat yang mengetahui akan kedatangan tentara Sekutu,
berkumpul di daerah Gekbrong sekitar 10.000 orang. Pada pukul satu siang di
daerah Pancuran Luhur (tidak jauh dari Gekbrong) terjadi pertempuran sengit
antara pejuang Sukabumi melawan tentara Sekutu. Pertempuran berlangsung
sampai pukul 17.00 sore. Akibat perbedaan senjata menyebabkan para pejuang
Sukabumi tidak dapat menahan serangan Sekutu. Untuk meng-hindari korban yang
lebih banyak, TRI dan laskar rakyat mundur dan membiarkan tentara Sekutu
me-lanjutkan perjalanan ke arah Bogor(wawancara dengan Mohtar K, tanggal 12
Juni 1997).

Pertempuran terus merembet ke daerah lain. Pada tanggal 2 Desember 1945
mulai terjadi pertempuran di daerah Bojong Kokosan. Pada tanggal 9 Desember
1945, para pejuang Sukabumi melakukan penghadangan terhadap konvoi tentara
Sekutu sehingga terjadi pertempuran yang dasyat. Pertempuran ini dikenal
sebagai Peristiwa Bojong Kokosan, yang menimbulkan korban yang banyak
dikedua belah pihak.

Peristiwa di atas terjadi, berawal dari adanya berita yang diterima para
pejuang Sukabumi di Pos Cigombong, bahwa tentara Sekutu sedang menuju
Sukabumi. Mendengar berita tersebut, Kompi III yang dipimpin Kapten Murad
dan kepala seksi I dan seksi II serta laskar rakyat Sukabumi berusaha
menduduki tempat pertahanan di pinggir (tebing) utara dan selatan Jalan
Bojong Kokosan.

Barisan TKR yang ikut terlibat dalam peristiwa Bojong Kokosan diperkuat 165
orang yang bersenjata senapan Ediston/ Hamburg, Bou-man/Double Loap, Pistol
Parabelm, granat tangan, dan senjata tajam (golok, tombak, dan bambu
run-cing) serta senjata buatan sendiri berupa botol berisi bensin yang
di-sumbat karet mentah yang disebut "krembing" (granat pembakar). Sedangkan
laskar rakyat didukung oleh Barisan Banteng pimpinan Haji Toha, Hisbullah
pimpinan Haji Akbar, dan Pesindo. Barisan laskar rakyat bersenjatakan
Kara-ben Jepang, pistol, dan bom molotov(Badan Pengelola Monumen: 20).

Sekitar pukul 15.00, konvoi tentara Sekutu datang. Konvoi di-dahului dengan
tank, panser wagon, 100 truk berisi pasukan Gurkha dan pembekalan, serta
dilindungi 3 pesawat terbang pemburu. Pada saat mendekati Bojong Kokosan
konvoi berhenti karena terhalang barikade yang dibuat para pejuang Sukabumi.
Adanya barikade ter-sebut membuat tentara Sekutu terlihat panik dan
bersiaga. Pada saat itulah, Kapten Murad, komandan kompi III memberi isyarat
dengan tembakan dua kali, sebagai tanda mulai penyerangan. Terjadilah
pertempuran sengit. Para pejuang segera melemparkan granat tangan, granat
krembing, dan tembakan. Serangan ini mengakibatkan korban jatuh di pihak
tentara Sekutu(wawancara dengan M. Sholeh Shafei, tanggal 12 Juni 1997).

Dalam situasi kacau, koman-dan tentara Sekutu berhasil meng-konsolidasi
pasukannya dan mengetahui lakasi pertahanan para pejuang Sukabumi. Tentara
Sekutu segera menembaki kubu-kubu pertahanan para pejuang dengan senjata
berat dari tank dan panser. Tanah tebing yang dijadikan kubu pertahanan
jebol dan longsor sehingga beberapa pejuang yang berada di kubu pertahanan
terjatuh ke jalan raya yang berada di bawahnya. Para pejuang yang jatuh
tersebut menjadi sasaran empuk senjata tentara Sekutu.

Dalam situasi yang tegang, tiba-tiba sebuah panser kecil berhenti di depan
salah satu kubub pertahanan. Panser tersebut berpenumpang dua orang. Salah
seorang memakai baret hitam dan seorang lagi memakai ubel-ubel yang
diperkirakan sebagai pim-pinan pasukan. Salah seorang penumpang keluar dari
kendaraan dan melihat sekelilingnya. Dia mengira situasi telah aman dan
dengan santai mengisap rokok cangklong sambil tertawa-tawa.

Tentara TRI yang berada di tebing mendapat perintah dari komandan seksi II
agar menembak tentara Sekutu yang memakai baret hitam. Tembakan mengenai
sasaran dengan tepat. Melihat temannya tertembak, tentara Sekutu yang berada
di dalam mobil berusaha menolong. Pada saat mereka turun dari mobil
diberondong oleh tembakan tentara TKR dan laskar rakyat.

Adanya kejadian tersebut, tentara Sekutu meningkatkan ke-waspadaan. Mereka
melakukan gerakan melambung dari samping dan belakang untuk mengurung dan
menyergap tentara TKR. Dengan demikian, kedudukan TKR menjadi terjepit dan
panik karena kehabisan peluru. Pada saat yang kritis, tiba-tiba turun hujan
lebat disertai kabut. Suasana menjadi gelap sehingga para pejuang berhasil
meloloskan diri dari kepungan tentara Sekutu. TKR seksi II yang dipimpin
Letnan Muda D. Kusnadi mundur ke arah Parungkuda. TKR seksi I yang dipimpin
Letda Mustar mundur ke arah perkampungan Bojong Kokosan atau sebelah utara
(sekitar 300 meter) dari medan pertempuran(Badan Pengelola Monumen: 22).

TKR yang bergerak mundur secara diam-diam diikuti oleh ten-tara Sekutu.
Tentara Sekutu naik ke atas bukit dan menembakkan mortir ke bekas pertahanan
TKR. Tembakan tersebut salah sasaran, bukannya mengenai para pejuang
melainkan mengenai tentara Sekutu sendiri. Korban pun jatuh di pihak tentara
Sekutu.

Pada saat hujan reda dan cuaca kembali cerah, terdengar bunyi peluit dari
tentara Sekutut sebagai tanda pertempuran telah selesai. Pada saat itu, sisa
tentara Sekutu yang ada segera naik ke kendaraan sambil membawa
rekan-rekannya yang telah menjadi korban. Tentara Sekutu meninggalkan
Bojong-kokosan menuju Sukabumi dan sepanjang perjalanan mereka me-nembakkan
senjata secara membabi buta(wawancara dengan M. Mohtar, tanggal 12 Juni
1997).

Setelah pertempuran di Bojong Kokosan berakhir, maka satu regu TKR memeriksa
bekas pertempuran. Setelah diperiksa ternyata TKR telah kehilangan 73 orang,
yaitu 28 orang gugur (pasukan yang menempati tebing bagian bawah pinggir
jalan seperti Suban dan Aceng), dan 45 orang gugur di sepanjang jalan Bojong
Kokosan. Tentara Sekutu yang gugur diperkirakan sebanyak 50 orang(Sumber:
Museum Bojong Kokosan).

Adanya tembakan tentara Sekutu yang dilakukan dalam gerakan menuju Sukabumi
dibalas oleh para pejuang Indonesia. Pertempuran terus berkobar sepanjang
jalur Bojong Kokosan sampai perbatasan Cianjur, seperti di Ungkrak,
Selakopi, Cikukulu, Situawi, Ciseureuh sampai Degung; dan Ngaweng, Cimahpar
di Pasekon Sukaraja sampai Gekbrong. Serangan terhadap tentara Sekutu
mendapat bantuan rakyat yang ada di sekitar daerah tersebut(Rusman Wijaya,
1996: 67).

Pada saat tentara Sekutu tiba di Sukabumi, Komandan tentara Sekutu segera
mengajak berunding para pemimpin TKR dan pe-merintah setempat, yaitu Letkol
Edi Sukardi (Komandan Resimen III), Bupati dan Walikota Sukabumi, dan Dr Abu
Hanifah. Tentara Sekutu minta dilakukan gencatan senjata. TKR dan pemerintah
setempat menyetujui usul tersebut dan menginstruksikan penghentian tembak
menembak. Pada kenyataannya, tentara Sekutu sendiri yang bertindak cu-rang
dengan tidak mentaati ke-sepakatan gencatan senjata. Pada tanggal 10
Desember 1945, tentara Sekutu membombandir kota Cibadak sebagai balas
dendam. Mereka dendam atas kekalahan pada pertempuran di Bojong Kokosan.
Pertempuran terjadi lagi di Cikukulu. TKR dan laskar rakyat pimpinan Kapten
Juhanda dari kelompok Komando Batalyon I yang terdiri atas Mayor Yahya
Bahran Rangkuti, Kapten Muktar Kosasih dan Letnan Yusuf Juharsa, yang akan
mengadakan pengecekan ke Bojong Kokosan tertahan di Cikukulu. Pertempuran
pun me-letus lagi. Pertempuran terus merembet ke daerah Situawi Ciseureu
Karangtengah. TKR dipimpin Letnan Gowi Brata dengan senjata yang digunakan
adalah granat (buatan pabrik mesiu Braat) dan senjata krembing. Dalam
per-tempuran ini, TKR berhasil merebut sebuah truk berisi senjata dan
perbekalan. Pertempuran berlanjut sampai di Gedung Cipelang (sekitar
Talang).

Penutup

Pada mulanya kedatangan tentara Sekutu di Indonesia menemban tugas untuk
melucuti dan me-mulangkan tentara Jepang serta memulihkan keamanan dan
ketertiban di Indonesia. Mereka mendapat sambutan rakyat di berbagai daerah,
demikian pula di Jawa Barat. Keadaan ini segera berubah menjadi kecurigaan
dan bahkan memusuhi tentara Sekutu, setelah diketahui ternyata kedatangan
Sekutu membonceng tentara NICA Belanda yang ingin menguasai kembali wilayah
Indonesia.
Adanya tindakan tentara Sekutu dan apalagi tentara NICA Belanda yang
sewenang-wenang telah menimbulkan terjadinya konflik bersenjata dalam
bentukj pertempuran di berbagai daerah. Pertempuran yang terjadi sejak awal
kedatangan mereka sampai menjelang pertengahan tahun 1946 menunjukan bahwa
sikap tegas rakyat Indonesia yang tidak sudi lagi dijajah. Rakyat Jawa Barat
di berbagai daerah, seperti terurai di atas, misalnya di daerah Bandung,
Bogor, dan Sukabumi berusaha keras menentang dan berusaha mengusir tentara
Sekutu dan tentara NICA Belanda.

Daftar Pustaka

Amar Djen. 1963. Bandung Lautan Api. Bandung.
Badan Pengelola Monumen Palagan Perjuangan 1945 Bojong Kokosan. 1996.
Sejarah Peristiwa Bojong Kokosan, Sukabumi: Tidak Diterbitkan.
Disjarah Kodam VI Siliwangi. 1979. Siliwangi Dari Masa Ke Masa. Bandung: PT.
Granesia
Djadjusman. 1986. Bandung Lautan Api, Bandung: Angkasa.
Ekadjati, Edi S. 1980/1981. Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Barat.
Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional.
Muchtar, M. 1995. Sejarah Gedung Juang '45 Kotamadya Sukabumi. Badan
Penggerak Pembina Jiwa dan Potensi Angkatan 45.
Nasution, A.H. 1970. Sekitar Perang Kemerdekaan (Jilid I). Bandung: Angkasa
Poesponegoro, Marwati Djoened, dkk. 1990. Sejarah Nasional Indonesia (Jilid
VI). Jakarta.
Saleh, R.H.A. Keadaan Tentara Asing di Jawa Barat Tahun 1945-1946. Simpay
Siliwangi. No. 44 tahun XX/1993.
Suara Merdeka. 2 Oktober 1945.

Buddhiracana II/10

(disalin ti
http://cippad.usc.edu/Access%20Indonesia/themes/history/Perjuangan%20Rakyat%20Jawa%20Barat.pdf
)

On 5/23/07, Oman Abdurahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Kajadian pertempuran anu teu saimbang di Bojongkokosan, Sukabumi,
> ngalawan tangtara KNIL anu nangkod ka tangtara Sekutu jadi kayakinan
> sababaraha urang sajarawan yen eta kajadian teh leuwih ronglah
> tinimbang kajadian 10 November 1945 di Surabaya, boh dina sumanget
> bakorban keur lemah cai oge manfaatna keur rahayat Indonesoa
> sagemblengna.
>

-- 
sikandar
kumincir.blogspot.com


[Non-text portions of this message have been removed]



PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke