Cenah asal-usul jalma bisa diteangan tina DNA Mitokondria. Artikelna tina
Intisari, oktober 2001


DNA MITOKONDRIA
LORONG MENUJU PENGUNGKAPAN ASAL-USUL MANUSIA

http://www.indomedia.com/intisari/2001/Okt/khas_terawang.htm

Penelusuran asal-usul manusia seperti mendapatkan darah baru, setelah
selama puluhan tahun para ilmuwan berkutat menghubung-hubungkan riwayat
fosil yang didapatkan di berbagai belahan bumi. Darah baru itu adalah
penerapan teknologi genetika dengan menggunakan DNA mitokondria (mtDNA)
untuk mencari tahu hubungan kekerabatan antarpopulasi. Terobosan itu
membuka pintu gerbang menuju pengungkapan cikal-bakal manusia modern atas
dasar persamaan genetik.

Wuryantari di Lab. Eijkman. Penelitian mtDNA pada akhirnya bisa dipakai
sebagai dasar konseling genetik. (Yan)

Roots adalah buku yang sangat terkenal di Amerika. Buku ini mengisahkan
perjuangan seorang keturunan budak asal Afrika yang berhasil mendapatkan
jejak nenek moyangnya di tanah kelahirannya. Dari kisahnya kita tahu,
manusia punya naluri dasar untuk menelusuri asal-usulnya.

Dalam skala yang lebih luas pencarian asal-usul manusia modern dalam
konteks evolusi, masih belum tuntas hingga kini. Para ahli arkeologi dan
paleontologi tak kenal lelah menelusuri jejak nenek moyang manusia dengan
memelototi jejak, alat-alat, dan fosil-fosil yang ditemukan. Demikian pula
para pakar kebudayaan berusaha menyisir pertalian antara satu kebudayaan
dengan kebudayaan lain. Namun, bukti-bukti yang didapat umumnya masih
kurang memuaskan, karena sebagian masih berdasarkan dugaan.

Homo dan Australopithecus

Kendati begitu para pakar paleoantropologi sudah selangkah maju pada tahap
penggambaran global asal-usul manusia dalam suatu pohon keturunan. Itu pun
dengan satu catatan, penyederhanaan dan asumsi-asumsi yang tidak
disepakati semua ilmuwan. Satu hal yang mereka akur adalah adanya dua
kelompok besar (genera) yang diperkirakan muncul pada sekitar 4 juta tahun
silam.

Salah satu dari dua kelompok itu adalah genus Homo atau manusia. Genus ini
muncul dalam kurun waktu 2 juta - 0,5 juta tahun lalu. Anggota dari genus
ini paling kurang terdiri atas tiga spesies: Homo habilis, Homo erectus,
dan Homo sapiens.

Sampai titik ini para pakar yang bergelut dengan fosil kembali berbeda
pemikiran ihwal bagaimana genus Homo menggantikan genus Australopithecus.
Genus yang muncul lebih awal mendiami sebagian besar kawasan Afrika pada
sekitar 4 juta tahun lalu. Berbeda dengan Homo yang lebih modern, secara
fisik Australopithecines, salah satu anggota dari genus ini, mempunyai
bentuk badan seperti kera dengan volume otak yang lebih kecil dibandingkan
dengan Homo. Tetapi mereka sudah amat piawai menggunakan dua kaki, ciri
khas yang persis sama dengan manusia.

Pada tahun 1925, ahli anatomi Raymond Dart adalah orang pertama yang
menggambarkan fosil Australopithecines. Fosil itu ditemukan di gua batu
kapur Taung, Afrika Selatan. Salah satunya berupa tengkorak berumur
sekitar 2,5 juta tahun yang diduga dari kepala seorang bocah. Dart
mencatat bahwa lubang tempat sumsum tulang belakang keluar dari otak
berada di dasar tengkorak. Bagi Dart ini menunjukkan, bocah itu berdiri
tegak dan berjalan dengan menggunakan dua kaki. Dart memberi nama spesies
baru ini Australopithecus africanus, yang berarti kera asal selatan
Afrika.

Serpihan tulang yang menjadi objek penelitian Wuryantari. Atas: Plawangan,
Bawah: Gilimanuk (Dok. Wuryantari)


Australopithecines yang berumur lebih tua juga ditemukan, sementara tujuh
spesies lain berhasil diidentifikasi. Beberapa spesies ini dinamai Robust
australopithecines, lantaran menunjukkan roman muka dan rahang yang berat.
Lucy merupakan salah satu spesies yang paling pas untuk menggambarkan
spesies ini. Ia berumur 3,18 juta tahun dan merupakan bagian dari
Australopithecus afarensis.

Lucy ditemukan oleh ahli paleoantropologi asal Amerika Donald Johanson
tahun 1974 di Ethiopia. Fosilnya dianggap bisa menggambarkan manusia
paling tua dan lengkap. Bahkan para ilmuwan ketika itu sudah menganggapnya
sebagai ibu dari umat manusia.

Namun, bukti ilmiah mengindikasikan, Lucy bukanlah nenek moyang manusia
modern. Secara genetis, ia berbeda dengan manusia masa kini. Para ahli
paleoantropologi punya hipotesis, asal muasal manusia modern adalah
"Hawa". Ia bukanlah manusia pertama yang diceritakan dalam kisah
penciptaan di kitab suci. Hawa dalam pandangan para paleoantropolog adalah
wanita yang hidup di Afrika antara 100.000 - 300.000 tahun lalu.

Ia membawa salah satu tipe DNA mitokondria (Deoxyribonucleic acid di dalam
mitokondria - "pabrik energi" di dalam sel yang memasok sekitar 90% energi
agar sel, jaringan, organ, dan sistem tubuh dapat berfungsi), bagian dari
sejumlah kromosom yang berfungsi meneruskan faktor keturunan dari sel
induk kepada sel turunan. Dalam hal ini, mtDNA hanya diturunkan kepada
wanita. Setelah mengkaji variasi genetik di dalam mtDNA dalam berbagai
populasi, para ilmuwan menyimpulkan, kita semua merupakan turunan dari
satu nenek moyang, wanita "Hawa" di atas.

Kesimpulan itu membuka cakrawala baru bahwa manusia modern kemungkinan
bukanlah keturunan dari manusia purba semacam Homo sapiens yang hidup
500.000 tahun lalu. Atau bahkan, spesies yang lebih tua seperti Homo
habilis (2,5 - 1,6 juta tahun lalu), Homo ergaster (1,8 - 1,4 juta tahun
lalu), dan Homo erectus (1,5 juta tahun lalu). Soalnya secara fisik Homo
sapiens tampak sangat berbeda dengan manusia modern. Lebih tegap dengan
wajah lebih lebar, dan kening mata menonjol.

Max Ingman, doktor genetik asal Amerika Serikat dalam tulisan bertajuk
Mitochondrial DNA Clarifies Human Evolution mengungkapkan hal senada
dengan pendapat para paleoantropolog bahwa manusia modern berevolusi dari
salah satu tempat di Afrika antara kurun waktu 100 - 200 ribu tahun lalu.
Dari situ moyang manusia masa kini itu lantas menyebar dan mendiami
tempat-tempat di luar Afrika. Gen manusia modern ini tidak bercampur
dengan gen spesies manusia kuno. Teori penyebaran manusia ini dikenal
dengan hipotesis Out of Africa dan disokong oleh bukti-bukti genetik yang
telah ditemukan.

Nenek moyang Jawa-Bali

Di Indonesia mtDNA dipakai untuk melacak jejak gen manusia purba. Hal
itulah yang dikerjakan oleh Wuryantari, lulusan Fakultas Biologi
Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1990. Ia melakukan penelitian untuk
menjawab pertanyaan apakah manusia dari situs Plawangan (Jawa Tengah) yang
hidup sekitar 2.400 - 3.500 tahun lalu dan Gilimanuk (Bali) sekitar 2.320
- 1.215 tahun lalu merupakan nenek moyang populasi orang Jawa dan Bali
masa kini.

Setelah bergelut selama 22 bulan di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman,
Jakarta, Juni 2001 Wuryantari dalam disertasi berjudul Haplotipe DNA
Mitokondria Manusia Prasejarah Jawa dan Bali: Sejarah Populasi dan
Kekerabatannya menyimpulkan, manusia purba yang hidup di Plawangan dan
Gilimanuk mempunyai kekerabatan dekat dan mirip dengan manusia Jawa dan
Bali yang sekarang ada. Juga, ternyata, manusia prasejarah dari dua situs
itu merupakan keturunan ras Asia atau Mongoloid dengan ciri Polinesia.

Menurut Prof. dr. Sangkot Marzuki, MSc., PhD., Direktur Lembaga Eijkman,
penelitian terhadap DNA mitokondria sebenarnya sudah cukup lama dilakukan
di luar negeri. Di Indonesia, penelitian serupa mulai dikerjakan di
Eijkman, Jakarta, tahun 1993, mengenai keanekaragaman genom manusia di
Indonesia. "Sasarannya untuk melihat kedekatan kekerabatan di antara
sejumlah etnik di Indonesia," jelas Prof. Sangkot.

Menurut Wuryantari, sebagai negara kepulauan, Indonesia didiami oleh lebih
dari 438 kelompok etnik (populasi) yang tersebar di 17.500 pulau.
Masing-masing populasi itu memiliki ciri khas, baik morfologi, bahasa
(dialek), maupun budaya. Berdasarkan ciri-ciri tersebut, populasi
Indonesia dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok yang
mendiami Indonesia bagian barat yang mendapatkan pengaruh kuat gen
mongoloid (Austronesia), dan kelompok yang mendiami Indonesia bagian timur
yang mendapat pengaruh kuat dari gen melanesid (Austroloid).

Bagi Tari, panggilan akrab Wuryantari, penggunaan mtDNA sebagai sampel
bukanlah tanpa sebab. "Rangkaian informasi genetik yang terkandung dalam
DNA mitokondria dapat menggambarkan karakteristik suatu populasi dan
sangat mungkin merekonstruksi sejarah evolusi," jelasnya.

Tari yang dibimbing oleh dr. Herawati Sudoyo, PhD., Dr. H. Truman
Simanjuntak, dan Prof. Sangkot disokong oleh sejumlah peneliti yang
percaya bahwa mtDNA sangat berperan dalam penelusuran asal-usul manusia
dari sisi ibu (maternal), karena mtDNA hanya didapat dari dan diturunkan
oleh ibu kepada anak perempuannya. Pewarisan sepihak (ayah tidak ikut
campur) ini membuat rekombinasi tidak dijumpai pada mtDNA. Demikian juga,
dalam penelusuran gen yang membawa berbagai penyakit yang diturunkan,
mtDNA telah terbukti terlibat dalam sejumlah pewarisan penyakit tersebut.

Kendati begitu, pewarisan sifat genetik tidak selamanya berakibat suatu
penyakit. Sejumlah mutasi dan variasi lain di dalam gen ternyata juga
dapat terjadi secara alamiah dan tidak membawa akibat buruk kepada si
pemilik, kecuali menyebarkan variasi individu yang khas. Sifat ini dikenal
sebagai polimorfisme genetik. Dalam penelusuran asal-usul manusia dan
pencarian hubungan kekerabatan antarberbagai ras dan suku, sifat
polimorfisme inilah yang dipakai untuk menentukan atau membedakan ras yang
satu dengan yang lain.

Lantaran mtDNA dapat berubah oleh adanya proses mutasi sehingga
menghasilkan suatu variasi, dan karena variasi tersebut diwariskan,
jauh-dekatnya kekerabatan kelompok etnik dapat dilihat dari persamaan
variasi yang dimiliki suatu populasi. Variasi mtDNA di dalam populasi
dapat berupa penggantian (substitusi), penyisipan (insersi), atau
penghapusan (delesi) basa pada satu atau beberapa nukleotida tanpa
menyebabkan suatu kelainan atau penyakit.

DNA mitokondria tersusun atas 16.569 unit pasangan basa (nukleotida) dalam
setiap lingkarannya. Setiap unit merupakan kombinasi dari basa-basa adenin
(A), guanin (G), sitosin (C), dan timin (T). Dengan kecepatan mutasi 5 -
10 kali lebih cepat daripada DNA inti, molekul mtDNA sangat polimorfik
alias beragam.

Dalam penelitiannya, Wuryantari yang menyelesaikan S1-nya dengan predikat
cum laude itu menggunakan beberapa penanda genetik yang lazim digunakan
dalam mempelajari populasi. Tujuannya, untuk menentukan karakteristik
genetik yang menandai suatu populasi berdasarkan variasi susunan basa di
daerah mtDNA dan polimorfisme di bagian lain mtDNA dari sampel fosil-fosil
itu.

Selain itu, penelitian juga untuk menjawab apakah ada hubungan antara
manusia prasejarah dari kedua situs itu dengan manusia Jawa dan Bali
sekarang. Indikatornya adalah dengan mencari adanya delesi 9-pb pada
daerah tertentu dan motif Polinesia pada DNA mitokondria. Sementara untuk
membuktikan bahwa fosil tersebut berjenis kelamin wanita, Tari menggunakan
penanda gen amilogenin.

Adanya variasi susunan basa di daerah HVR-I pada D-Loop mtDNA pada
pasangan basa di urutan ke-16189, 16217, 16261, dan 16519 memberikan
gambaran bahwa manusia yang ditemukan di Plawangan dan Gilimanuk tersebut
sama-sama merupakan keturunan ras Asia dengan ciri Polinesia. Manusia
Plawangan dan Gilimanuk tersebut memiliki haplotipe mtDNA kelompok M-a dan
B*. Hal ini menunjukkan, keduanya mendapat pengaruh kuat gen Mongoloid
(berbahasa Austronesia).

Kode-kode dan istilah-istilah genetika di atas yang dipakai Wuryantari
dalam kesimpulannya memang tidak gampang dipahami oleh masyarakat awam.
Tetapi deretan kode dan istilah-istilah itu mengungkapkan bahwa jumlah
mutasi pada mtDNA merupakan cermin kekerabatan dua kelompok. Semakin besar
jumlah variasi yang memisahkan dua kelompok etnik, semakin jauh jarak
kekerabatan antara kedua kelompok tersebut. Bahkan kalau ada dua orang
yang mtDNA-nya persis sama, kekerabatan di antara keduanya sangatlah
dekat. Mungkin satu ibu, satu nenek, atau satu nenek moyang.

Sementara kalau Joko yang orang Jawa asli dibandingkan dengan Jack yang
orang Inggris, kemungkinan perbedaan antara basa-basa mitokondria bisa ada
beberapa buah. Tidak mungkin persis sama. Paling tidak, Jack punya
polimorfisme atau variasi yang khas bagi orang Inggris. Sementara Joko
punya delesi 9-pb yang khas buat orang Asia dan Polinesia. Kemungkinan
Jack punya delesi 9-pb sangat kecil, kecuali kalau ia tanpa disadari
ternyata punya nenek moyang orang Asia. Atau ia punya mutasi baru yang
mirip polimorfisme khas Asia.

Gunakan tulang padat

Agaknya kesulitan menerjemahkan hasil penelitian bungsu dari sepuluh
bersaudara ini bukan hanya monopoli masyarakat awam. Wuryantari sendiri
mengaku menemui kesulitan pada tahap mengisolasi DNA yang berukuran mikron
itu dan memastikan tidak adanya zat lain atau kontaminasi pada sampel yang
diteliti.

"Studi ini sangat dimungkinkan mengingat adanya sumber genetik yang dapat
bertahan dalam waktu lama, yaitu tulang-belulang yang merupakan salah satu
temuan purbakala dari aspek arkeologi," kata wanita kelahiran Kudus ini.
Hanya saja, ia mengingatkan, untuk penyempurnaan dan pengembangan
penelitian DNA prasejarah penggunaan sampel tulang bukan dari jenis tulang
pipih, tetapi tulang padat.

Meski begitu langkah Tari merupakan terobosan penelitian manusia purba di
Indonesia. Ia merencanakan penelitian lanjutan pada sampel tulang purba
yang berumur lebih tua lagi. Di samping itu, akan diteliti fosil manusia
purba yang ditemukan di pulau-pulau lain di Indonesia untuk tujuan yang
sana, yaitu mengetahui kaitan kekerabatan dan pola migrasinya. (Beatricia
Iswari/G. Sujayanto)




PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke