sampurasun. Ngiring mairan ah. ngeunaan tulisan Baraya Dani Wardani.

lamun ditingali tina kakurangan, memang aya. Kang Dani teu medar asal usul eta 
kaulinan. tapi lamun ku urang dilenyepan eta tulisan aya paedahna, ngebrehkeun 
filosofi jeung atikan dasar dina unggal kaulinan. najan kurang jero, tapi 
lumayan mangpaat. Tugas urang saterusna, bisa jadi, ngajeroaan eta tulisan 
sarta nepikeun kahadean ieu ka baraya baraya nu sejen. 
Dalah disebut kaulinan "pedalaman", ieu ge lenyepaneun urang. Bisa jadi nu 
sarwa sunda teh ayana tinggal di pasisian, kitu ge bari jeung terus kasered 
sabab  teknologi lomunikasi ayeuna geus ngarambah ka pasisian oge. Bisa kadi 
rupa sunda teh memang aya na dipasisian jeung di dunia maya. eh hiji deui 
ketang, dina peraturan nu dijieun ku pamentah propinsi. Eta ge dina peraturan 
wungkul, da dina prakna mah, angger we euweuh rasa sunda teh. 

cag ah
Hurip Sunda

Juandi

mh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               aya nu matak helok 
dina ieu artikel
 
 nu nulis jiga ngahajakeun, nyingkahan identitas sunda, padahal
 jelas-jelas, upama dirunut dina istilah nu dipake, pakait jeung
 kaulinan khas urang sunda. contona bae apan basa nu dipake dina eta
 kaulinan teh, meleg-meleg basa sunda:  cing kiripit (ciripit) tulang
 bajing kacapit. kunaon nya? pedah eta kitu, artikelna dimuat di
 kompas, koran nasional? atawa era kitu mun ditulis eta kaulinan teh
 kaulinan barudak di tatar sunda? teuing.
 
 salian ti eta, majar eta kaulinan teh kaulina urang leuweung
 (pedalaman), naha enya kitu? teuing oge. hehehe. (mh)
 
 ====
 Kompas. Kamis, 06 Desember 2007
 
 11Forum
 Potret Permainan Tradisional di Indonesia
 
 Oleh Dani Wardani
 
 Cing kiripit tulang bajing kacapit.... Masih ingatkah Anda dengan
 potongan kalimat tersebut? Sambil mendendangkannya, ujung telunjuk
 tangan kita dan pemain lainnya lekat di telapak tangan seorang teman
 yang ditunjuk. Akhirnya, beriringan dengan selesainya nyanyian itu,
 secara cekatan telunjuk kita harus cepat ditarik dari telapak tangan
 tersebut. Siapa yang telunjuknya tertangkap, dialah yang menjadi
 pemain awal atau ucing.
 
 Peraturan tersebut adalah salah satu cara anak-anak kita, terutama di
 pedalaman, dalam mengikuti atau menentukan pihak untuk memulai
 permainan tradisional. Begitu sederhana, unik, dan kreatif. Siapa pun
 yang pertama kali menciptakan aturan ini sangat memerhatikan
 nilai-nilai sportivitas serta memegang prinsip-prinsip kejujuran dan
 sikap taat aturan.
 
 Dalam pelaksanaan permainan tradisional, hampir tidak pernah ditemukan
 sikap protes, melanggar aturan yang disepakati, dan sakit hati di
 antara pihak-pihak yang bermain. Maka, tidak mengherankan, jenis
 permainan ini begitu banyak peminatnya.
 
 Karakteristik
 
 Permainan tradisional memiliki karakteristik tersendiri yang dapat
 membedakannya dengan jenis permainan lain. Pertama, permainan itu
 cenderung menggunakan atau memanfaatkan alat atau fasilitas di
 lingkungan kita tanpa harus membelinya.
 
 Salah satu syaratnya ialah daya imajinasi dan kreativitas yang tinggi.
 Pasalnya, si pemain harus bisa menafsirkan, mengkhayalkan, dan
 memanfaatkan beberapa benda yang akan digunakan dalam bermain sesuai
 dengan yang diinginkan. Tanpa daya imajinasi dan kreativitas yang
 tinggi, tuas daun dari pohon pisang, misalnya, tidak mungkin bisa
 disulap menjadi bentuk permainan bedil-bedilan (pistol-pistolan) atau
 kuda-kudaan oleh seorang anak.
 
 Karakteristik kedua, permainan tradisional dominan melibatkan pemain
 yang relatif banyak atau berorientasi komunal. Tidak mengherankan,
 kalau kita lihat, hampir setiap permainan rakyat begitu banyak
 anggotanya. Sebab, selain mendahulukan faktor kegembiraan bersama,
 permainan ini juga mempunyai maksud lebih pada pendalaman kemampuan
 interaksi antarpemain (potensi interpersonal).
 
 Permainan pris-prisan, misalnya, tidak bisa dimainkan sendiri. Begitu
 pula dengan sederet permainan lainnya, seperti petak umpet, boy-boyan,
 congklak, dan somdah. Meski demikian, tetap ada beberapa permainan
 tradisional yang dimainkan sendiri.
 
 Ketiga, permainan tradisional menilik nilai-nilai luhur dan
 pesan-pesan moral tertentu. Menurut Sierly, penggagas lomba kau-linan
 budak di Spirit Camp, bebe-rapa permainan tradisional tidak sekadar
 menghilangkan stres anak atau membuat fokus dalam pelajaran, tetapi
 juga mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, kejujuran, tanggung jawab,
 sikap lapang dada (kalau kalah), dorongan berprestasi, dan taat pada
 aturan. Semua itu didapatkan kalau si pemain benar-benar menghayati,
 menikmati, dan mengerti sari dari permainan tersebut.
 
 Situasi aktual
 
 Permainan tradisional lahir dari hasil kreativitas yang bersumber pada
 nilai-nilai kearifan lokal. Dalam bahasa Van Peursen, hal itu
 merupakan sebuah manifestasi kebudayaan setiap orang dan kelompok yang
 mengarah pada segala perbuatan manusia, seperti cara menghayati
 kehidupan. Begitu penting permainan tradisional sehingga pemerintah
 melalui Dinas Kebudayaan memasukkannya sebagai salah satu bidang
 garapan. Hal ini merupakan upaya untuk mengonservasi, mendata,
 merawat, dan melestarikan nilai-nilai budaya kita.
 
 Menurut Hamzuri dan Tiarma Rita Siregar dalam bukunya, Permainan
 Tradisional Indonesia, permainan tradisional memiliki ragam bentuk dan
 variasi yang begitu banyak. Setidaknya ada 750 macam permainan
 tradisional di Indonesia, dan banyak yang belum terinventarisasi. Hal
 ini mengidentifikasikan bahwa permainan tradisional Indonesia sangat
 melimpah.
 
 Namun sayang, dari sekian banyak permainan tradisional tersebut,
 sekarang ini keberadaan sebagian di antaranya sangat sulit ditelusuri
 dan dilacak, atau bisa dikatakan terancam punah. Hal ini disebabkan
 antara lain oleh pergeseran zaman. Si pengguna mainan tradisional,
 terutama anak-anak kita, sudah jarang memainkannya.
 
 Komentar sebagian besar anak Indonesia sekarang, bermain petak umpet
 atau kelereng, misalnya, tidak up to date lagi. Mereka lebih senang
 dan tertarik menyendiri dan mengunci kamarnya sambil asyik
 memijit-mijit tombol stik playstation, yang tidak pernah mengajarkan
 nilai kepedulian sosial.
 
 Dibutuhkan upaya maksimal baik dari jajaran pemerintah melalui dinas
 terkait maupun masyarakat sebagai pelaksana dalam melestarikan produk
 budaya permainan tradisional yang kaya akan nilai-nilai luhur dan
 pesan moral. Tanpa usaha seperti itu, bersiaplah anak-anak generasi
 kita sekarang dan mendatang menjadi pribadi yang tidak memiliki
 identitas kebudayaan.
 
 Dani Wardani Peminat Masalah Budaya
 
 url: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/06/Jabar/29891.htm
 
     
                               

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]



PENTING..!

attachment akan dihapus & tidak diteruskan kepada seluruh member.

dilarang beriklan. pelanggaran atas peraturan ini akan dikenai sanksi berupa 
pencabutan membership.

terutama bagi pengguna ms outlook/outlook express, dihimbau untuk selalu 
mengupdate antivirusnya.
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke