Beu....beu...beu...sedih nya ari nguping lalakon babakan Siliwangi ayeuna
sapertos kitu, kapungkur basa simkuring masih keneh ngageugeuh di babakan
gandok anu ayeuna tos tumper ludes janten wangunan anu disebat SABOGA tea, da
simkuring keuna ku gusuran, henteu kitu kaayaan RM.Babakan Siliwangi teh,
malihan kapungkur mah caket jambatan jalan siliwangi teh aya oge restoran Sunda
namina Balekambang, tapi teu kenging widi ti pemkot Bandung harita, nya
dibongkar ngalih ka Karang Setra anu ayeuna saurna kalahkah beuki rame.
Kang Abu ari Babakan Siliwangi teh kagungan Pemkot Bandung atanapi kagungan
PD.Pariwisata ? ( duka tah aya keneh henteu nunamina PD.Pariwisata teh ? )
kapungkur mah kantor na teh di Jalan Pasirkaliki nu ayeuna mah janten hotel
naon geuning kang ?, teras kapungkur mah PD.Pariwisata oge kagungan hotel
Pakunegara anu ayeuna janten BIP tea di jalan Merdeka. Beu....beu....sedih
kuring mah...
Wassalam,
Kang Aam di Malang Jatim
Abu Kasya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
punten panjang teuing upami disundakeun mah :)
Sepenggal Cerita Babakan Siliwangi
Ema Nur Arifah - detikBandung
http://bandung.detik.com/read/2008/08/23/121141/993175/490/sepenggal-cerita-babakan-siliwangi
Bandung - Papan nama usang berwarna biru muda yang pudar disertai warna karatan
di beberapa bagian terpancang dengan tulisan Rumah Makan Babakan Siliwangi
sedikit bersembunyi di balik dedaunan. Namun papan inilah yang menunjukan
kawasan ini sebagai Babakan Siliwangi, paru-paru kota yang selalu menuai
kontroversi.
Rumah makan ini berdiri di lahan yang disebut Lebak Siliwangi. Akibat kebakaran
tahun 2003 lalu, yang tertinggal hanya reruntuhan.
Berada di persimpangan Jalan Cihampelas, Jalan Ciumbuleuit, dan Jalan
Tamansari. Dari luar tak tampak seperti tempat wisata. Tukang tambal ban
menyambut kedatangan kala memasuki kawasan ini. Kemudian kios kecil dengan
baju-baju bergelantungan di tali jemuran.
Menuruni beberapa anak tangga atau tanah yang melandai sampai pulalah di Jalan
besar yang menghubungkan Jalan Cihampelas dan Jalan Ganesha. Jalan yang diapit
oleh rimbunnya pepohonan.
Dua galeri seni berdiri berdampingan. Di kedua galeri yaitu Mitra Art Center
dan Sanggar Olah Seni (SOS) ini tampak beberapa orang tengah memulaskan warna
di atas kanvas. Mungkin hanya dua galeri inilah yang masih memberikan identitas
bahwa tempat ini sebuah kawasan wisata.
Menurut Ketua SOS, Syarif Hidayat asal mula nama Lebak Siliwangi adalah Lebak
Gede. Walikota Bandung saat itu, Otje Djunjunan melihat kawasan Lebak Siliwangi
potensial untuk dijadikan tempat wisata.
Maka pada tahun 1970-an dibuatlah rumah makan dengan nama Rumah Makan Babakan
Siliwangi. Dari sana pula pemerintah Jawa Barat melihat wisata lainnya. Maka
atas gagasan seniman Popo Iskandar, Barli, Tony Yusuf dan seniman lainnya
Sanggar Seni SOS didirikan pada 1982. Peresmiannya dilakukan oleh Menteri
Pariwisata saat itu Jove Ave.
Kedua galeri ini menawarkan pembelajaran dan pembinaan akan seni, tak hanya
seni rupa tapi juga teater, musik dan seni lainnya. Diciptakan sebagai ruang
budaya antara seniman dan masyarakat.
Syarif menuturkan, setiap bulannya pada minggu pertama di tempat ini biasa
diadakan seni adu domba. "Kalau dulu adu domba ini lebih sering dilakukan
lagi," jelasnya.
Menyusuri jalanan hingga menembus Jalan Cihampelas, kawasan ini terlihat tidak
begitu terawat. Kawasan yang secara geologi sebagai tempat resapan air ini
tercatat sebagai salah satu kawasan terbuka hijau di Kota Bandung.
Pohon-pohon rimbun hijau hampir memenuhi keseluruhan wilayah. Dingin dan sejuk
jika dibandingkan kawasan olahraga Sabuga yang berbatasan langsung dengan
kawasan ini yang tampak panas, gersang dan berdebu. Namun di beberapa titik
tampak tumpukan-tumpukan sampah di antara pepohonan yang juga tidak tertata.
Reruntuhan bangunan yang tak lagi terjamah serta beberapa gubug kecil berdiri
menjadi 'penghias' lain.
Untuk tempat seluas itu, hanya seorang perempuan bernama Eli yang dipercaya
pemerintah untuk menjaga tempat ini. Dia mengaku menggantikan suaminya yang
dulu menjaga tempat ini. "Saya menjaga agar tempat ini tidak digunakan oleh
orang yang macam-macam," jelasnya.
Eli juga mengaku tidak ada yang menjaga datang untuk melakukan pemeliharaan
lingkungan di tempat ini.
Menurut Pengelola Mitra Art, Herman R Suwarna yang memelihara lingkungan masih
hanya orang-orang yang tinggal di kawasan ini termasuk para seniman. Herman
mengusulkan penerpaan konsep eco wista di Babakan Siliwangi, misalnya dengan
menata pohon dan memberikannya nama latin untuk menambah wawasan pengunjung.
Tahun 2001 lalu, penataan dan pengelolaan kawasan ini menjadi kawasan wisata
terpadu dicetuskan Walikota Bandung saat itu, Aa Tarmana. Di dalamnya akan
dibangun apartemen, wahana kawula muda, pusat seni, serta rumah makan.
Perencanaan yang sudah menggandeng developer PT EGI ini menjadi kontroversi
baru meski PT EGI menjanjikan akan melakukan penataan terhadap pohon-pohon di
tempat ini.
Kontroversi itu kini kembali mencuat. Berbagai kepentingan saling bersuara
untuk mendudukan kawasan ini pada posisi semestinya. Posisi dari sudut pandang
yang berbeda di mata pemerintah, pengembang, seniman dan masyarakat.
Semua memiliki dalih dan kepentingan termasuk kekhawatiran para masyarakat dan
seniman akan terancamnya kembali satu paru-paru kota. Sekaligus hilangnya satu
wilayah kreatifitas yang menjadi media pembelajaran bagi tangan-tangan pecinta
seni.
Memang, oase hijau ini seperti kue lezat yang memikat. Dalam perjalanannya
menuai kontroversi panjang dengan mempertanyakan, siapa yang akan menikmati kue
lezat ini nanti?
(ema/ema)