Alamatna dimana PWJB teh Kang Asep? Yogya teh identik jeung wisma kujang, tapi 
geuning langkung lega nya tepas sunda di Yogya teh. Sugan pami ka Yogya deui 
tiasa nyimpang ka PWJB, libur kamari tacan kaudag amengan ka Kota Gede, Imogiri.
 
hatur nuhun
tirta

 ~ experientia docet sapientiam ~ 



----- Original Message ----
From: Aseptea <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, September 14, 2008 22:06:39
Subject: [kisunda] Fw: Jati tong kasilih ku junti, taman tong kaliung ku situ. 
Leungit ciri tinggal cara


Kanggo ngabuburit, ieu aya seratan kenging ti baraya Multiply.

Salam,
Asep
 



----- Forwarded Message ----
From: Djadja Sardjana (via Multiply) <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] com
Sent: Monday, September 15, 2008 9:39:19 AM
Subject: Jati tong kasilih ku junti, taman tong kaliung ku situ. Leungit ciri 
tinggal cara


 Djadja Sardjana has posted a new blog entry.
Manage alerts settings
   
 Jati tong kasilih ku junti, taman tong kaliung ku situ. Leungit ciri tinggal 
cara Sep 15, '08 9:38 AM
for everyone 
Paguyuban Warga Jawa Barat (PWJB)
Jendela Budaya "Urang" Sunda
"Jati tong kasilih ku junti, taman tong kaliung ku situ. Leungit ciri tinggal 
cara" (Budaya yang kita miliki selama ini agar jangan sampai terdesak oleh 
budaya lain).
PEPATAH Sunda di atas merupakan suatu imbauan atau ajakan bagi kita semua, 
untuk senantiasa menjaga dan menjunjung tinggi adat istiadat di mana pun kita 
berada. Ini sejalan dengan timbulnya berbagai kekhawatiran, khususnya di 
kalangan orang tua terhadap generasi muda kini. Tak jarang kita lihat, banyak 
kaum muda yang telah terpengaruh budaya deungeun (bangsa lain), bahkan 
terjerumus ke dalam jurang kenistaan. 
Tak sulit untuk membuktikan pengaruh atas kekhawatiran itu di zaman yang 
serbacanggih sekarang ini. Sebut saja, tindak kekerasan pada generasi muda, 
yang senantiasa menghiasi halaman surat kabar atau tayangan di televisi. Tidak 
sedikit pula anak-anak muda kini telah terbiasa mengonsumsi barang haram alias 
narkoba.
 
Entah sebagai pengaruh dari berbagai bahan bacaan, film, ataupun informasi yang 
dikaji secara salah kaprah, yang jelas, indikasi mental generasi muda kita yang 
lunak dan mudah terpengaruh tampaknya semakin nyata. Secara tidak sadar mereka 
telah masuk ke dalam lingkaran setan yang membahayakan hidup kita. 
 
Melihat makin menggejalanya budaya lain merasuk kepada generasi muda, makin 
tinggi pula kekhawatiran kita terhadap anak-anaknya terperosok ke dalam jurang 
kenistaan.Terlebih orang tua yang mempunyai anak-anak remaja di perantauan. 
Karena jangankan jauh dari pengawasan, ketika anak-anak berada satu rumah pun, 
pengaruh negatif senantiasa menghantui dan mengancam kehidupan.
 
Kalau segalanya sudah telanjur, kita hanya bisa mengusap dada dan menerima 
kenyataan pahit. Akankah berbagai pengaruh negatif kita biarkan merasuk dan 
merusak generasi muda? 
Tentunya, kita semua tak ingin hal itu terjadi sehingga segala sesuatunya harus 
dipersiapkan dan diantisipasi sedini mungkin. Apalagi warga Jawa Barat memiliki 
budaya Sunda yang mengajarkan etika dan nilai-nilai luhur. Jangan sampai budaya 
Sunda yang kita junjung, luntur atau bahkan hilang seketika akibat pengaruh 
luar. 
 
Kekhawatiran itu pula yang senantiasa menghantui atau muncul di benak Ki Demang 
Wangsafyudin, S.H., pupuhu adat sekaligus sesepuh Paguyuban Warga Jawa Barat 
(PWJB) di Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta. 
Seperti dituturkan Mang Demang--sapaan akrab Ki Demang Wangsafyudin- -PWJB kini 
merangkul tak kurang 37.000 warga Sunda (Jawa Barat) yang tinggal di 
Yogyakarta. Pendiriannya dijajaki sekitar tahun 1951-an, bermula dari sebuah 
perkumpulan "kontak biro" yang dibentuk orang-orang Sunda yang tinggal di 
Yogyakarta. Setahun kemudian (1952) paguyuban yang diprakarsai oleh Prof. 
Kusnadi Hardjasumantri (alm.) itu pun terbentuk.
**
AWALNYA kontak biro hanya diminati oleh orang-orang yang peduli untuk 
senantiasa menjunjung tinggi budaya leluhur (asal), yakni Sunda sebagai tempat 
kelahiran mereka. Waktu pun berlalu, tahun 1964 kontak biro mulai dilirik 
kalangan muda, umum, mahasiswa, serta pelajar dari Jawa Barat yang menuntut 
ilmu di Yogyakarta. Bahkan, kemudian peminatnya tak terbatas pada warga Sunda 
(Jawa Barat), tetapi juga warga dari daerah lain yang tinggal di Yogyakarta, 
termasuk orang Yogyakarta sendiri.
Kontak biro pun berubah menjadi paguyuban bernama Paguyuban Warga Jawa Barat 
dan membentuk enam komisariat, antara lain Komisariat Galuh Rahayu, KPC 
Cirebon, KPMB Bandung, Jakarta Raya, Suryakancana (terdiri atas warga asal 
Bogor, Karawang, Cianjur, dan Sukabumi), serta KBY Banten.
 
Kalangan muda dan pelajar pun makin menampakkan ketertarikannya maka tahun 1972 
terbentuk KPM (Keluarga, Pelajar, dan Mahasiswa) Jawa Barat. Ini berbarengan 
dengan pendirian pemondokan bagi para pelajar dan mahasiswa warga Jawa Barat. 
Tak heran jika asrama ini diwarnai berbagai kegiatan seni bernapaskan Sunda, 
yang diprakarsai oleh Sanggar Seni Sunda Paguyuban, antara lain degung, kecapi 
suling, seni tari, serta perpustakaan Sunda. "Tempat dan berbagai kegiatan di 
sini bisa dikatakan sebagai jendela budaya Jawa Barat," tutur Mang Demang.
 
Kegiatan seni pun pada perkembangannya tak hanya dinikmati oleh orang Sunda, 
tetapi juga masyarakat Yogyakarta. Tidak jarang mereka (warga Yogya) bahkan 
kalangan keraton, mengundang seni Sunda ini untuk mentas (gelar kebolehan). 
Antara lain pada acara ritual peringatan panjang jimat (setiap tanggal 10 
Maulud), atau acara silaturahmi/ halalbihalal di kalangan orang-orang keraton, 
serta perayaan pawai budaya.
"Lewat berbagai kegiatan seni ditunjang oleh acara dialog Sunda secara rutin, 
paguyuban bisa dibilang onjoy (unggul) di antara perkumpulan warga lain yang 
ada di Yogyakarta," katanya.
Mang Demang yang beristrikan orang asli Kota Gudeg melihat, saking kompak dan 
banyaknya kegiatan positif yang ditunjukkan warga Jabar di paguyuban ini, 
menjadi filter khususnya bagi kaum muda. Dengan menjunjung tinggi budaya 
sendiri, paling tidak bisa menekan kecenderungan negatif arus budaya lain.
 
Oleh karena itu, katanya, paguyuban akan terus berusaha untuk merekrut anggota, 
khususnya warga Jabar sebanyak mungkin, tanpa memandang sebelah mata adanya 
dukungan dari berbagai pihak, khususnya dari pemerintahan Jabar sendiri. Biar 
bagaimanapun, paguyuban telah menjadi wahana atau sarana, dalam rangka 
mempromosikan budaya dan wisata Jabar. 
 
Masing-masing membentuk wadah sesuai minat dan ketertarikan, seperti Paguyuban 
Kerupuk yang dihuni oleh para pengusaha kerupuk, Paguyuban Tanaman Hias, 
Paguyuban Bubur Kacang Ijo, Paguyuban Teralis, Paguyuban Fotografer, serta 
Paguyuban Istri-istri PWJB.
 
"Sebagai masyarakat pendatang, sudah seharusnya kami membanggakan sekaligus 
mempromosikan daerah asal sendiri. Untuk itu, mau nggak mau kami harus 
nyontoan, dengan berbuat positif dan bermanfaat. Ibaratnya, kami harus punya 
prinsip teuas peureup, lemah usap (berani tapi mempunyai rasa sayang-red.) , 
atau pageuh keupeul lega aweur (hidup hemat, tetapi tidak pelit-red.), " tambah 
Mang Demang yang juga menjadi pengacara LBH Armidah. (Cepi Juniar/"PR") ***
Tags: sunda, budaya




 audio reply video replyAdd a Comment 
 
 
         
 


Copyright 2008 Multiply Inc, 6001 Park of Commerce, Boca Raton, FL 33487, USA 
Stop e-mails, view our privacy policy, or report abuse: click here
  
 


      New Email addresses available on Yahoo!
Get the Email name you&#39;ve always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

Kirim email ke