amerika, amerika, kunaon maneh?

Kahareup Amarika moal jadi kekuatan tungal deui baris muncul kutub-kutub sejen 
(global wisdom atawa american weakness?), sok sanajan dina dua dekade kahareup 
indonesia acan jadi kutub anyar.  muga-muga urang amerika sing geuwat saladar 
siga artikel dihandap ieu.

http://antara.co.id/arc/2008/10/25/rasisme-dan-osama-bin-laden-mengintai-obama/
Beberapa kalangan menduga, jika rasisme tak berhasil menghancurkan popularitas 
Obama, maka isu terorisme akan dimanfaatkan untuk menghempaskan capres Demokrat 
ini. 
Sejumlah tokoh Republik dan pihak yang tak menginginkan Obama menang (termasuk 
kelompok garis keras di Israel) diam-diam "memimpikan" munculnya lagi Osama bin 
Laden di televisi AS seperti terjadi pada Pemilu 2004, empat hari sebelum 
rakyat AS memilih John Kerry dan George Bush.
Editor Jurnal "Foreign Policy" Joshua Keating dan kolumnis "Boston Globe" Peter 
Canellos mengingatkan, Osama mungkin mengulangi aksi empat tahun silam saat 
berhasil memaksa warga AS memilih Bush ketimbang John Kerry dari Demokrat. 
Bagi Osama, presiden AS yang gemar mengancam seperti Bush lebih 
menguntungkannya dibanding presiden yang gemar berdialog.
"Faktor terbesar yang membuat McCain dipilih sebagai capres Republik adalah 
karena ia dipercaya sebagai orang terbaik yang bisa membuat negeri ini aman 
dari serangan teroris," kata Joshua.
Sementara Peter menyebut keberhasilan Osama membelokkan opini publik pada 
Pilpres 2004 mungkin diulanginya terhadap Obama, apakah dengan menyiarkan lagi 
video atau bahkan meneror langsung bumi Amerika.
Ironisnya, penasihat senior John McCain, Charlie Black, kepada majalah Fortune 
Juni lalu menyatakan, serangan Osama terhadap AS akan menjadi "keuntungan 
besar" bagi McCain. 
Charlie memang kemudian mengeluarkan bantahan, tapi diam-diam banyak orang AS 
mempercayai Osama bakal meneror lagi Amerika.
Dua hari lalu, sejumlah tempat dan kantor di AS diteror amplop berisi bubuk 
maut seperti terjadi pada Oktober 2001 saat AS dihinggapi paranoia kronis 
terhadap terorisme Alqaeda.
Mungkin saja Osama memang ingin "mengail" kembali di pemilu AS karena ia 
menginginkan presiden AS berikutnya bisa menyuburkan radikalisme Islam di 
seluruh dunia.
Jika McCain menjadi presiden AS, maka Osama diuntungkan karena McCain yang 
dipercaya bakal meneruskan kebijakan "main gertak" ala Bush, akan memupuk 
kemarahan umat Muslim sehingga Osama bisa terlihat lagi sebagai pahlawan di 
mata Muslim.
"Adalah lebih sulit mencap Amerika Serikat sebagai 'Setan Besar' jika 
presidennya dihormati dunia internasional," tulis William Bratton (mantan 
kepala Kepolisian New York, NYPD) dan RP Eddy (mantan direktur kontraterorisme 
Dewan Keamanan Nasional, NSC) dalam Daily News.
Tak jelas siapa sebenarnya yang berskenario, tapi tampak ada perekat yang aneh 
antara terorisme dengan kontraterorisme, keduanya saling menghancurkan tapi 
juga saling membutuhkan.
Oleh karena itu, sebagian rakyat AS mempertanyakan motif di balik perang 
melawan terorisme dan lelah dengan perang. 
"Rakyat Amerika tak membutuhkan sosok pendekar seperti McCain untuk memimpin 
Gedung Putih," kata Peter Canellos. (*)

wassalam
dudi_ss

Kirim email ke