lalakon kang Tharyana di NYC kungsi ditulis si kuring, nya pikeun conto yen US 
teh loba oge nu ngumbara ka mana mendi
dimuat Kompas Jawa Barat 2 Februari 2007

Wajah Lain Orang Sunda

Oleh Jamaludin Wiartakusumah 

Tulisan Sdr. Encep Dulwahab (Kompas, Sabtu 25 November 2006) senada dengan 
sebagian orang Sunda lainnya yang gelisah dengan minimnya eksistensi orang 
Sunda di kancah nasional dan -apalagi- internasional. Kegelisahan yang wajar 
mengingat berhubungan dengan masalah kebanggaan atas partisipasi orang Sunda 
membangun negeri dan dunia. 

Ketika Presiden SBY melakukan perombakan kabinet dengan mengganti beberapa 
menteri yang kebetulan orang Sunda, ada pihak, perorangan maupun lembaga 
kesundaan, yang menyesalkannya. Sikap yang wajar karena peristiwa itu 
melenyapkan kebanggaan orang Sunda. Meskipun dimata sebagian orang Sunda 
sendiri, sikap itu tampak naif mengingat perombakan kabinet semata urusan 
politik yang dibungkus hak prerogatif presiden. Orang Sunda yang menjadi 
menteri -di luar urusan politik- menjadi kebanggaan semata karena dianggap 
mewakili keberadaan Sunda di puncak manajemen negara. Meskipun menteri itu 
belum tentu peduli pada nasib orang dan kebudayaan Sunda.

Jarang yang tahu bahwa sesungguhnya ada orang Sunda pernah memegang posisi 
setara Presiden RI. Adalah Syafruddin Prawiranegara yang ketika Bung Karno dan 
Bung Hatta ditawan Belanda, mendirikan dan menjadi ketua Pemerintah Darurat 
Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera. Ia seorang ahli hukum kelahiran Serang 
28 Februari 1911, putra R. Arsyad Prawiraatmaja.
 
Eagles fly alone  
Berbagai latar belakang kurang eksisnya orang Sunda di pentas nasional telah 
banyak ditelaah, termasuk yang menjadi latar orang Sunda tidak mudah bersatu 
biladibanding suku bangsa lain. Salah satunya konon tradisi karuhun yang 
ngahuma (peladang). Kondisi peladang yang masing-masing berjauhan membuat 
bentuk guyubnya berbeda dengan misalnya orang Jawa yang lebih komunal karena 
tradisi pertanian yang telah lebih lama dibanding orang Sunda yang ngahuma itu.
 Tradisi karuhun ngahuma, selain memiliki sisi negatif, juga sisi positif yang 
pada gilirannya membuat orang Sunda muncul sesuai karakter ngahuma yaitu 
individual alias usaha keras yang diperjuangkan sendiri-sendiri tanpa dukungan 
komunitasnya. 

Beberapa solusi yang dikemukakan Sdr. Encep sesungguhnya telah lama terjadi. 
Arus mobilitas manusia di seluruh dunia juga diikuti sebagian orang Sunda 
sehingga selain 'beredar' di seluruh wilayah Tanah Air juga telah 'mengorbit' 
di planet bumi. Mereka tersebar di berbagai benua hingga di tempat terpencil 
seperti Kaledonia Baru Pasifik Selatan dan berbicara dalam bahasa Perancis. 
Selain mereka yang mendapat label tenaga kerja Indonesia dan kita apresiasi 
sebagai pahlawan devisa dengan pekerjaan menjadi pembantu atau buruh pabrik, 
masih ada, meski mungkin masih dapat dihitung dengan jari empat-lima orang, 
mereka yang tinggal dan bekerja di luar negeri karena nyali, keahlian dan  
pendidikan tinggi.

Keberadaan mereka di luar sana, barangkali hanya diketahui oleh pihak keluarga, 
kolega, instansi terkait dan kenalan. Sekedar contoh, salah seorang peneliti 
dan dosen di tingkat master serta doktor di Universitas Yonsei, kampus swasta 
tertua di Seoul, adalah Yaya Rukayadi PhD, orang Situraja Sumedang kelahiran 
1964 yang meraih gelar doktor bidang bio-engineering di Amerika. Kemampuannya 
yang relatif langka pernah membuat proposalnya diterima NASA untuk diujicoba di 
antariksa. Akan tetapi,  kemudian dengan alasan pribadi, ia menolak bekerja di 
lembaga paling canggih di Amerika itu. Beberapa hasil penelitiannya berbasis 
potensi Tanah Air seperti penelitian terhadap kandungan koneng gede (temulawak) 
telah diproduksi industri Korea Selatan. 

 Salah satu badan PBB yang belakangan sering muncul di media karena aktivitas 
Korea Utara dalam uji-coba rudal nuklir adalah Badan Tenaga Atom Internasional 
(IAEA). Salah seorang staf di Safeguard Department badan itu, yang  tugasnya 
antara lain mengawasi keamanan instalasi nuklir terutama radiasi, berasal dari 
sebuah desa di Kecamatan Talaga Majalengka bernama Suhermanto Duliman. Setelah 
lulus dari Fisika UI, ia bekerja di Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), 
kemudian mengambil S-2 Fisika Kuantum di Universitas Tokyo lalu ditawari 
bekerja di markas IAEA, Wina Austria, dengan wilayah kerja Asia Pasifik. 
Barangkali karena meningkatnya aktivitas Korea Utara di atas,  beberapa bulan 
lalu Herman dipindahkan ke kantor cabang IAEA Tokyo. 
 
Yang lebih senior, Dr. Willy R. Wirantaprawira (lihat wirantaprawira.net), 
orang Tasikmalaya kelahiran 22 Februari 1939 yang baru tiga-empat tahun lalu 
pensiun dari posisinya sebagai anggota peneliti utama di Max Planck Institute 
for Comparative Public Law and International Law di Heidelberg Jerman. Max 
Planck adalah lembaga riset bergengsi di dunia-beberapa penelitinya banyak 
mendapatkan hadiah Nobel. Di sana, Pak Willy adalah satu-satunya orang 
non-Jerman yang menjadi peneliti tetap. Biasanya orang luar Jerman hanya 
menjadi peneliti tamu yang bekerja paling lama delapan bulan. Putra seorang 
tukang jahit di Tasik yang beristrikan orang Jerman itu adalah lulusan Fakultas 
Hukum dan Hubungan Internasional Universitas Negeri Kiev, Ukraina (1963-1971). 
Sekarang Pak Willy membantu pemerintah Tasikmalaya diantaranya pengembangan 
ekspor industri kriya ke Eropa.

 Di Big Apple alias New York City, ada Abah Joe Raggan alias Singgih Nata (69) 
kelahiran Cicalengka yang puluhan tahun tinggal dan berwiraswasta di sana, 
malah sudah berpaspor sama dengan Oprah. Meskipun demikian, mimpinya masih 
sering tentang sawah dan pohon randu di pematang sawah. Masih di New York City, 
ada Tharyana Sastranegara, orang Bandung yang mendirikan Silat PD USA School 
(lihat www.silatpdusa.com). Di bidang militer, ada nama Sandy Latif, seorang 
serdadu marinir asal kota tahu Sumedang yang mendapat tugas di Sierra Leone 
Afrika Tengah, bergabung dengan pasukan PBB untuk menghentikan perang saudara 
di sana.

Kampung Halaman Imajiner
Seperti umumnya perantau yang butuh media untuk melepaskan rindu pada kampung 
halaman, orang Sunda yang ngumbara dimana-mana itu banyak yang mencarinya di 
internet. Selain membaca situs berita Tanah Air, banyak dari mereka bergabung 
dalam milis yang menggunakan bahasa Sunda sebagai salah satu cara 
mengekpresikan kerinduan. Dari milis itulah mereka saya temukan dan kenal.
 Semoga eksistensi mereka di 'antah berantah' itu memberi semangat dan memacu 
orang Sunda lainnya untuk berprestasi setinggi mungkin di bidang masing-masing, 
untuk Tanah Air dan dunia yang lebih baik. Nyanggakeun juragan!

Jamaludin Wiartakusumah
moderator KUSnet, 
milis [email protected]

Kirim email ke