SARASEHAN ILMU KESAMPURNAAN

Terjemahan : 

Serat Kekiyasanning Pangracutan salah satu buah karya sastra Sultan Agung raja 
antara     ( 1613 - 1645 ).

 

Ini adalah keterangan Serat Suatu pelajaran tentang Pangracutan yang telah 
disusun oleh Baginda Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma di Mataram atas berkenan 
beliau untuk membicarakan dan temu nalar dalam hal ilmu yang sangat rahasia, 
untuk mendapatkan kepastian dan kejelasan dengan harapan dapat dirembuk dengan 
para ahli ilmu kasampurnaan.

 

Adapun mereka yang diundang dalam temu nalar itu adalah :

 

1. Panembahan Purbaya

 

2. Panembahan Juminah

 

3. Panembahan Ratu Pekik di Surabaya

 

4. Panembahan Juru Kithing

 

5. Pangeran di Kadilangu

 

6. Pangeran di Kudus

 

7. Pangeran di Tembayat

 

8. Pangeran Kajuran

 

9. Pangeran Wangga

 

10. Kyai Pengulu Ahmad Katengan

 

 

1. Berbagai Kejadian Pada Jenazah

 

Adapun yang menjadi pembicaraan, beliau menanyakan apa yang telah terjadi 
setelah manusia itu meninggal dunia, ternyata mengalami bermacam-macam kejadian 
pada jenazahnya dari berbagai cerita umum, juga menjadi suatu kenyataan bagi 
mereka yang sering menyaksikan keadaan jenazah yang salah kejadian atau 
berbagai macam kejadian pada keadaan jenazah adalah berbagai diketengahkan 
dibawah ini :

 

1) Ada yang langsung membusuk

 

2) Ada pula yang jenazahnya utuh

 

3) Ada yang tidak berbentuk lagi, hilang bentuk jenazah

 

4) Ada pula yang meleleh menjadi cair

 

5) Ada yang menjadi mustika (permata)

 

6) Istimewanya ada yang menjadi hantu

 

7) Bahkan ada yang menjelma menjadi hewan.

 

 

Masih banyak pula kejadianya, lalu bagaimana hal itu dapat terjadi apa yang 
menjadi penyebabnya.

 

Adapun menurut para pakar setelah mereka bersepakat disimpulkan suatui pendapat 
sebagai berikut :

 

Sepakat dengan pendapat Sultan Agung bahwa manusia itu setelah meninggal 
keadaan jenazahnya berbeda-beda itu suatu tanda bahwa disebabkan karena ada 
kelainan atau salah kejadian (tidak wajar), makanya demikian karena pada waktu 
masih hidup berbuat dosa setelah menjadi mayat pun akan mengalami sesuatu masuk 
kedalam alam penasaran. Karena pada waktu pada saat sedang memasuki proses 
sakaratul maut hatinya menjadi ragu, takut, kurang kuat tekadnya, tidak dapat 
memusatkan pikiran hanya untuk satu ialah menghadapi maut.

 

 

Maka ada berbagai bab dalam mempelajari ilmu ma'rifat, seperti yang akan kami 
utarakan berikut ini :

 

1. Pada waktu masih hidupnya, siapapun yang senang tenggelam dalam kekayaan dan 
kemewahan, tidak mengenal tapa brata, setelah mencapai akhir hayatnya, maka 
jenazahnya akan menjadi busuk dan kemudian menjadi tanah liat sukmanya melayang 
gentayangan dapat diumpamakan bagaikan rama-rama tanpa mata sebaliknya, bila 
pada saat hidupnya gemar menyucikan diri lahir maupun batin. Hal tersebut sudah 
termasuk lampah maka kejadiannya tidak akan demikian.

 

 

2. Pada waktu masih hidup bagi mereka yang kuat pusaka tetapi tidak mengenal 
batas waktunya bila tiba saat kematiannya maka mayatnya akan terongok menjadi 
batu dan membuat tanah perkuburannya itu menjadi sanggar adapun rohnya akan 
menjadi danyang semoro bumi walaupun begitu bila masa hidupnya mempunyai sifat 
nrima atau sabar artinya makan tidur tidak bermewah-mewah cukup seadanya dengan 
perasaan tulus lahir batin kemungkinan tidaklah seperti diatas kejadiannya pada 
akhir hidupnya.

 

 

3. Pada masa hidupnya seseorang yang menjalani lampah tidak tidur tetapi tidak 
ada batas waktu tertentu pada umumnya disaat kematiannya kelak maka jenaahnya 
akan keluar dari liang lahatnya karena terkena pengaruh dari berbagai hantu 
yang menakutkan. Adapun sukmanya menitis pada hewan. Walaupun begitu bila pada 
masa hidupnya disertai sifat rela bila meninggal tidak akan keliru jalannya.

 

 

4. Siapapun yang melantur dalam mencegah syahwat atau hubungan seks tanpa 
mengenal waktu pada saat kematiannya kelak jenazahnya akan lenyap melayang 
masuk kedalam alamnya jin, setan, dan roh halus lainnya sukmanya sering 
menjelma menjadi semacam benalu atau menempel pada orang seperti menjadi 
gondaruwo dan sebagainya yang masih senang mengganggu wanita kalau berada pada 
pohon yang besar kalau pohon itu di potong maka benalu tadi akan ikut mati 
walaupun begitu bila mada masa hidupnya disertakan sifat jujur tidak berbuat 
mesum, tidak berzinah, bermain seks dengan wanita yang bukan haknya, semuanya 
itu jika tidak dilanggar tidak akan begitu kejadiannya kelak.

 

 

5. Pada waktu masih hidup selalu sabar dan tawakal dapat menahan hawa nafsu 
berani dalam lampah dan menjalani mati didalamnya hidup, misalnya mengharapkan 
janganlah sampai berbudi rendah, rona muka manis, dengan tutur kata sopan, 
sabar dan sederhana semuanya itu janganlah sampai belebihan dan haruslah tahu 
tempatnya situasi dan kondisi dan demikian itu pada umumnya bila tiba akhir 
hayatnya maka keadaan jenazahnya akan mendapatkan kemuliaan sempurna dalam 
keadaannya yang hakiki. Kembali menyatu dengan zat yang Maha Agung, yang dapat 
mneghukum dapat menciptakan apa saja ada bila menghendaki datang menurut 
kemauannya apalagi bila disertakan sifat welas asih, akan abadilah menyatunya 
Kawulo Gusti.

 

Oleh karenanya bagi orang yang ingin mempelajari ilmu ma'arifat haruslah dapat 
menjalani : Iman, Tauhid dan Ma'rifat.

 

 

2. Berbagai Jenis Kematian

 

Pada ketika itu Baginda Sultan Agung Prabu Hanyangkra Kusuma merasa senang atas 
segala pembicaraan dan pendapat yang telah disampaikan tadi. Kemudian beliau 
melanjutkan pembicaraan lagi tentang berbagai jenis kematian misalnya :

 

1. Mati Kisas

 

2. Mati kias

 

3. Mati sahid

 

4. Mati salih

 

5. Mati tewas

 

6. Mati apes

 

Semuanya itu beliau berharap agar dijelaskan apa maksudnya maka yang hadir 
memberikan jawaban sebagai berikut :

 

Mati Kisas, adalah suatu jenis kematian karena hukuman mati. Akibat dari 
perbuatan orang itu karena membunuh, kemudian dijatuhi hukuman karena keputusan 
pengadilan atas wewenang raja.

 

Mati Kias, adalah suatu jenis kematian akibatkan oleh suatu perbuatan misalnya: 
nafas atau mati melahirkan.

 

Mati Syahid, adalah suatu jenis kematian karena gugur dalam perang, dibajak, 
dirampok, disamun.

 

Mati Salih, adalah suatu jenis kematian karena kelaparan, bunuh diri karena 
mendapat aib atau sangat bersedih.

 

Mati Tiwas, adalah suatu jenis kematian karena tenggelam, disambar petir, 
tertimpa pohon , jatuh memanjat pohon, dan sebagainya.

 

Mati Apes, suatu jenis kematian karena ambah-ambahan, epidemi karena santet 
atau tenung dari orang lain yang demikian itu benar-benar tidak dapat sampai 
pada kematian yang sempurna atau kesedanjati bahkan dekat sekali pada alam 
penasaran.

 

 

Berkatalah beliau : "Sebab-sebab kematian tadi yang mengakibatkan kejadiannya 
lalu apakah tidak ada perbedaannya antara yang berilmu dengan yang bodoh ? 
Andaikan yang menerima akibat dari kematian seornag pakarnya ilmu mistik, 
mengapa tidak dapat mencabut seketika itu juga ?"

 

Dijawab oleh yang menghadap : "Yang begitu itu mungkin disebabkan karena 
terkejut menghadapi hal-hal yang tiba-tiba. Maka tidak teringat lagi dengan 
ilmu yang diyakininya dalam batin yang dirasakan hanyalah penderitaan dan rasa 
sakit saja. Andaikan dia mengingat keyakinan ilmunya mungkin akan kacau didalam 
melaksanakannya tetapi kalau selalu ingat petunjuk-petunjuk dari gurunya maka 
kemungkinan besar dapat mencabut seketika itu juga.

 

Setelah mendengar jawaban itu beliau merasa masih kurang puas menurut pendapat 
beliau bahwa sebelum seseorang terkena bencana apakah tidak ada suatu firasat 
dalam batin dan pikiran, kok tidak terasa kalau hanya begitu saja beliau kurang 
sependapat oleh karenanya beliau mengharapkan untuk dimusyawarahkan sampai 
tuntas dan mendapatkan suatu pendapat yang lebih masuk akal.

 

Kyai Ahmad Katengan menghaturkan sembah: "Sabda paduka adalah benar, karena 
sebenarnya semua itu masih belum tentu, hanyalah Kangjeng Susuhunan Kalijogo 
sendiri yang dapat melaksanakan ngracut jasad seketika, tidak terduga siapa 
yang dapat menyamainya

 

 

3. Wedaran Angracut Jasad

 

Adapun Pangracutan Jasad yang dipergunakan oleh Kangjeng Susuhunan Kalijogo, 
penjelasannya yang telah diwasiatkan kepada anak cucu seperti ini caranya:

 

"Badan jasmaniku telah suci, kubawa dalam keadaan nyata, tidak diakibatkan 
kematian, dapat mulai sempurna hidup abadi selamanya, didunia aku hidup, sampai 
di alam nyata (akherat) aku juga hidup, dari kodrat iradatku, jadi apa yang 
kuciptakan, yang kuinginkan ada, dan datang yang kukehendaki".

 

 

4. Wedaran Menghancurkan Jasad

 

Adapun pesan beliau Kangjeng Susuhunan di Kalijogo sebagai berikut : "Siapapun 
yang menginginkan dapat menghancurkan tubuh seketika atau terjadinya mukjizat 
seperti para Nabi, mendatangkan keramat seperti para Wali, mendatangkan ma'unah 
seperti para Mukmin Khos, dengan cara menjalani tapa brata seperti pesan dari 
Kangjeng Susuhunan di Ampel Denta :

 

1. Menahan Hawa Nafsu, selama seribu hari siang dan malamnya sekalian.

 

2. Menahan syahwat (seks), selama seratus hari siang dan malam

 

3. Tidak berbicara, artinya membisu, dalam empat puluh hari siang dan malam

 

4. Puasa padam api, tujuh hari tujuh malam

 

5. Jaga, lamanya tiga hari tiga malam

 

6. Mati raga, tidak bergerak lamanya sehari semalam.

 

 

Adapun pembagian waktunya dalam lampah seribu hari seribu malam itu beginilah 
caranya :

 

o Manahan hawa nafsu, bila telah mendapat 900 hari lalu teruskan dengan

 

o Menahan syahwat, bila telah mencapai 60 hari, lalu dirangkap juga dengan

 

o Membisu tanpa berpuasa selama 40 hari, lalu lanjutkan dengan

 

o Puasa pati selama 7 hari tujuh malam, lalu dilanjutkan dengan

 

o Jaga, selama tiga hari tiga malam, lanjutkan dengan

 

o Pati raga selama sehari semalam.

 

 

Adapun caranya Pati Raga adalah : tangan bersidakep kaki membujur dan menutup 
sembilan lobang ditubuh, tidak bergerak-gerak, menahan tidak berdehem, batuk, 
tidak meludah, tidak berak, tidak kencing selama sehari semalam tersebut. Yang 
bergerak tinggallah kedipnya mata, tarikan nafas, anapas, tanapas nupus, 
artinya tinggal keluar masuknya nafas, yang tenang jangan sampai 
bersengal-sengal campur baur.

Kirim email ke