Tak Seburuk Kesan yang Ada

DI benak hampir setiap orang, lumut identik dengan kesan kotor dan jorok.
Malah, tak sedikit yang menganggap lumut (Bryophyta) sebagai tumbuhan
pengganggu. Memang, lumut biasa tumbuh mengotori dinding tembok, lantai, dan
bagian bangunan lain yang kurang mendapat perawatan.

Relatif jarang yang mengetahui keanekaragaman ataupun peran dan arti penting
lumut dalam sebuah ekosistem. Sedikit orang saja yang mengetahui manfaatnya.
Padahal, lumut memiliki potensi lain yang bisa dimanfaatkan bagi kepentingan
manusia.

Menurut Tatang, Pranata Humas Kebun Raya Cibodas- Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (KRC-LIPI), salah satu peran penting lumut dalam ekosistem adalah
sebagai tumbuhan perintis dalam menciptakan habitat primer dan sekunder
setelah adanya kerusakan lingkungan. Selain itu, lumut pun memiliki peran
penting menjaga porositas tanah dan mengatur tingkat kelembapan ekosistem
karena kemampuannya dalam menahan dan menyerap air.

Lumut pun dapat digunakan sebagai indikator pencemaran udara. Ada spesies
lumut tertentu yang sangat peka terhadap perubahan komposisi gas di udara.
Bila udara sudah penuh polutan, jenis lumut tersebut tidak bisa tumbuh
dengan baik, malah bisa mati.

Para ahli sudah mulai melakukan penelitian terhadap komposisi zat yang
dikandung lumut. Beberapa di antaranya sudah diketahui hasilnya. Ada lumut
yang mengandung antibiotik dan zat lain yang memiliki khasiat obat.

Lumut memiliki potensi pula sebagai tanaman hias dengan bentuk dan
keanekaragaman jenisnya. Keunikan dan keindahan lumut juga memberikan nilai
lebih bagi mereka yang senang akan seni. Di negara tertentu, Singapura
misalnya, sudah ada lumut yang dijadikan tanaman hias, di antaranya
digunakan sebagai hiasan akuarium. Harganya cukup mahal.

Selain itu, lumut juga digunakan sebagai dekorasi ruangan ataupun penghias
taman. "Ada beberapa spesies lumut dapat digunakan sebagai media tanam
anggrek dengan harga jual yang cukup mahal," ucapnya.

**

Tatang mengatakan, lumut merupakan tumbuhan tingkat rendah, termasuk dalam
divisi Bryophyta. Lumut pada jamaknya menyukai tempat basah atau lembap di
dataran rendah sampai tinggi. Lumut sering disebut sebagai tumbuhan perintis
karena dapat tumbuh dengan berbagai kondisi pertumbuhan dimana tumbuhan
tingkat tinggi tidak bisa tumbuh.

Lumut merupakan tumbuhan pertama yang tumbuh ketika awal suksesi pada lahan
yang rusak atau daerah yang miskin unsur hara. Setelah areal ditumbuhi
lumut, nantinya akan menjadi media yang cocok untuk perkecambahan dan
pertumbuhan tumbuhan lainnya. Tumbuhan ini, kata Tatang, memiliki diversitas
dan keindahan yang tidak kalah bersaing serta memiliki variasi habitat yang
luas. Lumut dapat tumbuh menutupi bebatuan, batang pohon, dinding, batu
bata, dan membentuk hamparan seperti karpet hijau.

Berdasarkan buku koleksi KRC-LIPI, klasifikasi Bryophyta terdiri atas tiga
kelas, yakni lumut tanduk (Anthocerotae/Anthocerotopsida), lumut hati
(Hepaticae/Hepaticopsida), dan lumut sejati (Musci/Bryopsida). Lumut tanduk
merupakan kelompok terkecil dari divisi ini, memiliki kurang dari seratus
spesies di seluruh dunia, terbagi ke dalam 8-9 genus. Lumut hati memiliki
anggota sekitar lima ribu jenis, meliputi lumut hati berdaun dan Bertalus.
Sementara lumut sejati merupakan kelompok yang memiliki anggota paling
banyak, diperkirakan mencapai delapan ribu spesies dalam sembilan ratus
genus.

Lumut sangat bergantung terhadap kelembapan untuk bisa tumbuh dengan baik.
Soalnya tumbuhan ini memperoleh zat-zat makanannya dari udara. Oleh karena
itu, secara umum, tumbuhan ini lebih menyenangi tempat-tempat yang lembap.
Untuk bisa bertahan, beberapa jenis lumut memiliki metode khusus untuk
menyiasati masa kering berkepanjangan.

Meski keberadaannya sering dipandang sebelah mata lantaran dinilai tidak
menarik, lumut ternyata memiliki sejumlah manfaat penting bagi lingkungan,
termasuk medis. Manfaat lumut antara lain sebagai penyedia oksigen, penyerap
air, dan penyerap zat-zat pencemar (polutan).

Beberapa jenis lumut bahkan kini telah diketahui memiliki manfaat sebagai
bahan obat alami untuk mengobati beberapa jenis penyakit. Lumut jenis
Marchantia sp. misalnya, dapat digunakan sebagai bahan obat penyakit
hepatitis. Ada pula lumut jenis Spaghnum sp. yang memiliki khasiat sebagai
obat penyakit kulit. (Yusuf Adji/"PR")***

web:
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=149182


2010/7/19 mh <[email protected]>

Wisata Pendidikan
> Wah, Ada Taman Lumut di Cibodas
>
>

Kirim email ke