EWEUH LAH anu nyebutkeun dina qur'an anu secara tekstual-literal anu 
nyebut-nyebut Imam Mahdi.
SEKULER teh, ceuk pamadegan kuring mah soal elmu kadunyaan.  Teu dina soal ilmu 
pengetahuan teknologi wungkul, tapi
dina elmu sosial-ekonomi-politik oge aya ELMU na anu kudu disiar dipedar jeung 
dianalisa ku manusa keur manusa keneh.
Umat Islam arek ti Syiah na arek Sunni na, lamun tetep make kacamata baheula 
dina soal kaelmuaan kamanusaaan boh Iptek jeung PolekSosbud moal maju-maju 
katinggaleun ku bangsa deungeun anu "teu boga agama".
Da elmu Agama mah pikeun "ngudag-2" ka Akheratan, sangkan manusa bisa "baralik" 
ka Mantena.




________________________________
From: Mohammad zen <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]
Sent: Wed, July 21, 2010 2:58:07 AM
Subject: [kisunda] Imam Mahdi -Kepemimpinan Bag I -kang JB



 
 
 
Keyakinan Imam Mahdi
 Keyakinan Umat Islam
Bag I
                                                                          
Kepemimpinan
Pendahuluan 
Manusia diberikan akalnya oleh Allah untuk berpikir mencari hakikat hidup ini. 
Dari mana kita hidup, bagaimana caranya hidup dan hendak kemana kita hidup. 
Pertanyaan itu selalu timbul dalam benak manusia yang tak kan pernah putus 
kecuali mencari jawabannya. Allah Maha Penyayang dan Pengasih, serta Maha 
Pemberi Petunjuk, tidak mungkin kebutuhan manusia tersebut tidak Allah sediakan 
di muka bumi ini sebagai konsekwensi dalam penciptaan manusia. Oleh sebab itu 
diutuslah para nabi as sebagai pembimbing manusia dan mengajarkan kebagaimanaan 
dalam hidup yang selaras dengan fitrah yang Allah ciptakan supaya kehidupan ini 
lebih baik bukan lebih merusak. Para nabi tersebut membimbing setiap ummatnya 
di 
setiap zaman, sampailah kepada nabi terakhir rasulullah saww. Muhammad saww 
adalah manusia suci nabi terakhir yang disebutkan dalam kitab-kitab samawi 
sebelumnya sebagai nabi yang luhur dan mulia, sebagai nabi rahmatan lil’alamin 
yang berlaku syariat dan ajarannya sampai akhir Zaman. Namun apakah yang harus 
terjadi dan akan terjadi di zaman setelah nabi saww wafat. Apakah berhenti 
kepemimpinan Ilahi atau tidak. Sebagian berpendapat kepemimpinan dikembalikan 
kepada masyarakat melalui syura sehingga hilanglah disini ciri khas 
kepemimpinan 
ilahi. Yang kedua justru Allah sendirilah yang menunjuk langsung orang 
tersebut, 
walaupun bukan berupa nabi.
Kalau kita melihat dari sudut pandang akal kita. Kita akan bertanya2 bagaimana 
kebutuhan kepemimpinan terputus hanya karena wafatnya rasulullah saww. 
Kebutuhan 
tersebut akan terus berlanjut sampai zaman sekarang sampai akhir zaman, 
buktinya 
seluruh golongan manusia mencari2 bentuk ideal dengan kepemimpinan ideal yang 
dipikirkannya. Terbentuklah golongan-golongan menurut versinya. Sekarang apakah 
Allah memberikan versi tersendiri mengenai kepemimpinan tersebut?
Bagaimana dengan sifat Allah yang Maha Pemimpin, apakah Allah pemimpin LAngit 
dan tak punya kekuasaan di bumi, atau tidak berusaha memberikan solusi akan 
kepemimpinan di bumi menurut versiNya, ataukah Allah acuh tak acuh dan tak 
peduli dengan seluruh masalah kepemimpinan di bumi.
Sungguh hal tersebut jauh dari sifat Allah yang Maha berkehendak dan maha Raja 
yang merajai seluruhnya. JIkalau kita analogikan seseorang itu super raja di 
sebuah daerah maka tak mungkin dia membiarkan tanah yang dirajainya dibiarakn 
oleh musuhnya, oleh sebab itu musti seluruhnya di bawah kerajaannya. Sehingga 
baik itu di jaman para nabi atau setelahnya sampai dimana masih adanya dunia 
ini 
maka suatu kemestian bahwa Allah memberikan dan menyisyaratkan memperhatikan 
dengan menunjuk dan mengutus orang-orang pilihan sebagai khalifahnya di muka 
bumi ini.
Sebuah misal kecil yang terjadi di sebuah pesantren , ketika seorang muridnya 
bertanya kepada ustadnya : JIkalau Anda meninggal atau pergi ke tempat lain dan 
tak mungkin kembali lagi siapa yang akan kau lakukan dengan pesantren besar ini 
, maka mejawab sang ustad : Jelas musti saya akan mengutus wakil yang ahli 
minimal seperti saya yang bisa memimpin dan mengelola pesantren ini kalau tidak 
seperti itu maka pesantren ini akan bubar. Maka bertanya lagi murid: Urusan 
pesantren saja bisa seperti ini bagaimana rasulullah saww yang mengurusi 
seluruh 
urusan muslimin di duni dan akhirat, tak mungkin sang nabi membiarkan begitu 
saja dan tak mengamanatkan untuk mengutus wakil setelahnya.
Kepemimpinan akhir zaman merupakan bagian fenomena yang ada di dalam 
masyarakat, 
setiap orang berpendapat dengan pendapat masing-masing. Bagi yang tidak 
meyakini 
kepemimpinan itu berasal dari Allah SWT mereka terbagi dalam beberapa golongan 
pemikiran ada yang menyatakan SEKULER, artinya kepemimpinan urusan manusia dan 
agama hanya mengurusi fiqih ibadah pribadi saja, ada juga SEKULER jenis kedua 
mereka mengakui bahwa kepemimpinan itu harus islam akan tetapi tidak ada 
hubungannya dengan Tuhan yang memilih atau tidak, kepemimpinan yang dimaksud 
adalah kepemimpinan menurut pilihan manusia. Sedangkan yang meyakini bahwa 
kepemimpinan ilahiah adalah Allah sendiri yang menunjuknya maka konsekwensinya 
tak ada hak bagi manusia dalam masalah ini kecuali Allah SWT.
إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ
Sesungguhnya segala urusan itu haq Allah.
Adapun kenyataannya masih banyak pemikiran kita yang keliru atau mengikuti 
kekeliruan orang lain dengan taqlid buta tak beralasan mengenai kebutuhan 
pribadinya akan kepemimpinan, terutama di zaman sekarang dan dimasa yang akan 
datang. Oleh sebab itu mari kita coba gali lebih lanjut beberapa sumber-sumber 
yang sahih dari Quran dan hadits nabi mengenai kepemimpinan ini , terutama yang 
ada hubungannya dengan kepemimpinan akhir zaman sebagai feedback kepemimpinan 
di 
awalnya.
 
A. Alquran menyebutkan hal kepemimpinan
1. Khalifah.
 وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً 
قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَن يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَ 
نَحْنُ 
نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَ نُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّيْ أَعْلَمُ مَا لاَ 
تَعْلَمُوْنَ
 Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku 
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Mengapa 
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi ini orang yang akan membuat 
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih 
memuji Engkau dan mensucikan  Engkau?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku 
mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”[1]
Diatas dikatakan bahwa Allah ternyata berkehendak mengutus khalifahnya di muka 
bumi, dan DIA sendiri lah yang menjadikan pemimpin itu bukan orang lain. 
 إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ  , Ja’il dengan bentuk isim fa’il yang artinya 
aku menjadikan (penjadi).
 


2. Imamah
وَ إِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيْمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّيْ 
جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ قَالَ لاَ يَنَالُ 
عَهْدِي الظَّالِمِيْنَ
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat 
(perintah dan larangan), lalu ia menunaikannya (dengan baik). Allah berfirman, 
“Sesungguhnya Aku menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata, 
“Dan 
dari keturunanku (juga)?” Allah berfirman, “Janji-Ku (ini) tidak mengenai 
orang-orang yang zalim.[2]
Kata Ja’iluka artinya menandakan bahwa yang menjadikan kepemimpinan adalah 
Allah. Ditambah lagi disana kata kunci terhadap keturunannya yang beriman 
artinya yang tidak zalim, artinya para imam setelah nabi Ibrahim adalah 
keturunannya yang tidak zalim.
3. Wali 
إِنَّما وَلِيُّكُمُ اللهُ وَ رَسُولُهُ وَ الَّذينَ آمَنُوا الَّذينَ يُقيمُونَ 
الصَّلاةَ وَ يُؤْتُونَ الزَّكاةَ وَ هُمْ راكِعُونَ
Sesungguhnya pemimpinmu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang 
beriman, 
yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, sedang mereka dalam kondisi 
rukuk.[3]
Dalam riwayat dijelaskan bahwa ayat ini turun mengenai Imam Ali. Tapi pada 
dasrnya kita bisa melihat bahwa kata إِنَّما  mengandung arti hasr artinya 
hanyalah, sehingga disini bisa dilihat bahwa Allah mengisyaratkan kepemimpinan 
tersebut adalah orang yang beriman menurut versi Allah.
 
4. Amiril Mukminin
يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا أَطيعُوا اللهَ وَ أَطيعُوا الرَّسُولَ وَ أُولِي 
الْأَمْرِ مِنْكُمْ
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul-(Nya) dan ulil 
amri (para washi Rasulullah) di antara kamu.[4]
Ayat ini menjelaskan bentuk ketaatan tanpa syarat . Kalau kita melihat diatas 
huruf waw diatas merupakan huruf athaf yang menyambungkan kata sebelumnya, 
sehingga ketika kita perhatikan perintah Allah untuk taat kepada dirinya dan 
rasulnya dan amiril mukmini merupakan ketaatan tanpa syarat. Sekarang siapakah 
selain rasul yang berhak ditaati tanpa syarat. Jelas tak mungkin orang biasa 
yang pernah berbuat salah, minimal mereka memiliki derajat kesucian dalam 
menjaga ilmu dan akhlaq sehingga perintah ketaatan tersebut cocok baginya, dan 
ditunjuk olehNya.
Ayat tersebut selaras dengan hadits 
مَنْ أَطَاعَنِى فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ عَصَى اللَّهَ 
وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِى فَقَدْ أَطَاعَنِى وَمَنْ عَصَى أَمِيرِى فَقَدْ 
عَصَانِى[5]
Barang siapa yang taat kepada ku maka dia taat kepada Allah , barang siapa yang 
bermaksiat kepada ku maka ida bermaksiat kepada Allah, Barang siapa yang taat 
kepada Amiri maka dia taat kepada ku dan barang siapa yang bermaksiat kepada 
amir ku (walik nya) maka dia bermaksiat kepadaku.
banyak ayat lain yang menggambarkan hal masalah kepemimpinan yang dimana 
ayat-ayat diatas saling menjelaskan mengenai kepemimpinan tersebut.satu ayat 
berhubungan dengan ayat lainnya atau dalam istilah dikenal dengan tafsir quran 
bil quran.
B. Al-Quran menyebutkan setiap manusia ada Imamnya
 
يَوْمَ نَدْعُوا كُلَّ أُناسٍ بِإِمامِهِمْ فَمَنْ أُوتِيَ كِتابَهُ بِيَمينِهِ 
فَأُولئِكَ يَقْرَؤُونَ كِتابَهُمْ وَلا يُظْلَمُونَ فَتيلاً
(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan 
(Imam)pemimpin mereka; dan barang siapa yang diberikan kitab amalannya di 
tangan 
kanannya, maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya 
sedikit pun.[6]
Ayat ini berhubungan dengan ayat sebelumnya bahwa yang menjadikan pemimpin di 
muka bumi adalah Allah dan Allahlah yang mengurusi dan menunjuk Imam kepada 
setiap zaman selama manusia hidup. 

 
zen

Bersambung...
 
 
 
 
 

________________________________
 
[1]  (al-Baqarah: 30)
[2] Al-Baqarah -124
[3] Al-Maidah 55
[4] An-Nisa 59
[5] Sunan Nisai bab Targhib fi tha’atil mam
[6] Al-Isra 71 


      

Kirim email ke