http://sumedangonline.com/2010/04/09/sejarah-sumedang-2

<http://sumedangonline.com/2010/04/09/sejarah-sumedang-2>

*I. ASAL KATA “SUMEDANG”*

Kata Sumedang berasal dari “in*SU*n *ME*dal insun ma*DANG*an”, *Insun* artinya
saya *Meda*l artinya lahir *Madangan* artinya memberi penerangan jadi kata
Sumedang bisa berarti “Saya lahir untuk memberi penerangan”. Kalimat “Insun
Medal Insun Madangan” terucap ketika Prabu Tajimalela raja Sumedang Larang I
melihat ketika langit menjadi terang-benderang oleh cahaya yang melengkung
mirip selendang (malela) selama tiga hari tiga malam. Kata Sumedang dapat
juga diambil juga dari kata Su yang berarti baik atau indah dan Medang
adalah nama sejenis pohon, *Litsia Chinensis* sekarang dikenal sebagai pohon
Huru, dulu pohon medang banyak tumbuh subur di dataran tinggi sampai
ketinggi 700 m dari permukaan laut seperti halnya Sumedang merupakan dataran
tinggi.

*II. ASAL MULA SUMEDANG*

Asal mula Sumedang berasal dari Kerajaan Tembong Agung yang didirikan
oleh *Prabu
Guru Aji Putih** ( 678 – 721 M* ) putra Aria Bima Raksa / Ki Balagantrang
Senapati Galuh cucu dari Wretikandayun pendiri Kerajaan Galuh. Kerajaan
Tembong Agung berada di Citembong Girang Kecamatan Ganeas Sumedang kemudian
pindah ke kampung Muhara Desa Leuwi Hideung Kecamatan Darmaraja. Pada masa
Prabu Tajimalela ( 721 – 778 M ) putra dari Guru Aji Putih di bekas Kerajaan
Tembong Agung didirikan Kerajaan Sumedang Larang. Sumedang Larang berarti
tanah luas yang jarang bandingnya” (Su= bagus, Medang = luas dan Larang =
jarang bandingannya).

Masa kejayaan Sumedang Larang pada masa pemerintahan *Prabu Geusan Ulun (**1578
– 1601 M)* ketika pada masa pemerintahan Pangeran Santri / Pangeran
Kusumahdinata I raja Sumedang Larang ke-8 ayah dari Prabu Geusan Ulun pada
tanggal 22 April 1578 atau bulan syawal bertepatan dengan Idul Fitri di
Keraton Kutamaya Sumedang Larang Pangeran Santri menerima empat *Kandaga
Lante* yang dipimpin oleh *Sanghiang Hawu* atau *Jaya Perkosa*, *Batara
Dipati**Wiradidjaya (Nganganan), Sangiang Kondanghapa*, dan *Batara Pancar
Buana* *Terong Peot* membawa pusaka Pajajaran dan alas parabon untuk di
serahkan kepada penguasa Sumedang Larang pada waktu itu dan pada masa itu
pula*Pangeran Angkawijaya / Pangeran Kusumadinata II *dinobatkan sebagai
raja Sumedang Larang dengan gelar *Prabu Geusan Ulun *sebagai nalendra
penerus kerajaan Sunda Padjajaran dan Raja Sumedang Larang ke-9. Ketika
dinobatkan sebagai raja Prabu Geusan Ulun berusia + 23 tahun menggantikan
ayahnya Pangeran Santri yang telah tua dan pada tanggal 11 Suklapaksa bulan
Wesaka 1501 Sakakala atau tanggal 8 Mei 1579 M kerajaan Pajajaran *“Sirna
ing bumi”*Ibukota Padjajaran jatuh ke tangan pasukan Kesultanan Surasowan
Banten

Yang akhirnya Sumedang mewarisi wilayah bekas wilayah Padjajaran dengan
wilayahnya meliputi seluruh Padjajaran sesudah 1527 masa Prabu* *Prabu
Surawisesa dengan batas meliputi; Sungai Cipamali (daerah Brebes sekarang)
di sebelah timur, Sungai Cisadane di sebelah barat, Samudra Hindia sebelah
Selatan dan Laut Jawa sebelah utara. Daerah yang tidak termasuk wilayah
Sumedang Larang yaitu Kesultanan Banten, Jayakarta dan Kesultanan Cirebon.
Dilihat dari luas wilayah kekuasaannya, wilayah Sumedang Larang dulu hampir
sama dengan wilayah Jawa Barat sekarang tidak termasuk wilayah Banten dan
Jakarta kecuali wilayah Cirebon sekarang menjadi bagian Jawa Barat. sehingga
Prabu Geusan Ulun mendapat restu dari 44 penguasa daerah Parahiyangan yang
terdiri dari 26 Kandaga Lante*, Kandaga Lante adalah semacam Kepala yang
satu tingkat lebih tinggi dari pada Cutak (Camat) *dan 18 Umbul dengan cacah
sebanyak +9000 umpi. Pemberian pusaka Padjajaran pada tanggal 22 April 1578
akhirnya ditetapkan sebagai hari jadinya Kabupaten Sumedang.

Peristiwa penobatan Prabu Geusan Ulun sebagai *Cakrawarti* atau
*Nalendra* merupakan
kebebasan Sumedang untuk mengsejajarkan diri dengan kerajaan Banten dan
Cirebon. Arti penting yang terkandung dalam peristiwa itu ialah pernyataan
bahwa Sumedang menjadi ahli waris serta penerus yang sah dari kekuasaan
Kerajaan Pajajaran di Bumi Parahiyangan. Pusaka Pajajaran dan beberapa
atribut kerajaan yang dibawa oleh Senapati Jaya Perkosa dari Pakuan dengan
sendirinya dijadikan bukti dan alat legalisasi keberadaan Sumedang, sama
halnya dengan pusaka Majapahit menjadi ciri keabsahan Demak dan Mataram.

*III. DARI MASA KERAJAAN KE MASA KABUPATEN*

Pada tahun 1601 Prabu Geusan Ulun wafat dan digantikan oleh putranya
Pangeran Aria Soeriadiwangsa, pada masa Aria Soeriadiwangsa kekuasaan
Sumedang Larang di daerah sudah menurun dan Mataram melakukan perluasan
wilayah ke segala penjuru tanah air termasuk ke Sumedang. Pada waktu itu
Sumedang Larang sudah tidak mempunyai kekuatan untuk melawan yang akhirnya
Pangeran Aria Soeriadiwangsa pergi ke Mataram untuk menyatakan Sumedang
menjadi bagian wilayah Mataram pada tahun 1620. Wilayah bekas kerajaan
Sumedang Larang diganti nama menjadi *Priangan*yang berasal dari kata *
“Prayangan*” yang berarti daerah yang berasal dari pemberian yang timbul
dari hati yang ikhlas dan Pangeran Aria Soeriadiwangsa diangkat menjadi
Bupati Sumedang pertama dan diberi gelar *Rangga Gempol I* (1601 – 1625 M).
Sumedang menjadi bagian dari wilayah Mataram karena Pangeran Aria
Soeriadiwangsa I mengganggap ; 1. Sumedang sudah lemah dari segi
kemiliteran, 2. menghindari serangan dari Mataram karena waktu itu Mataram
memperluas wilayah kekuasaannya dari segi kekuatan Mataram lebih kuat
daripada Sumedang dan 3. menghindari pula serangan dari Cirebon dan VOC.
Sultan Agung kemudian membagi-bagi wilayah Priangan menjadi beberapa
Kabupaten yang masing-masing dikepalai seorang Bupati, untuk koordinasikan
para bupati diangkat seorang Bupati Wadana. Pangeran Rangga Gempol I adalah
Bupati Sumedang yang merangkap sebagai Bupati Wadana Priangan pertama (1601
– 1625 M).

Yang akhirnya wilayah Sumedang Larang pada masa Prabu Geusan Ulun menjadi
wilayah Sumedang sekarang. Berakhirlah sudah kerajaan Sunda terakhir
Sumedang Larang di Jawa Barat Sumedang memasuki era baru yaitu Kabupaten
pada tahun 1620 sampai sekarang. Sejak menjadi Kabupaten, Bupati yang
memimpin Sumedang sampai tahun 1949 merupakan keturunan langsung dari Prabu
Geusan Ulun (lihat masa pemerintahan) tetapi pada tahun 1773 – 1791 yang
menjadi Bupati Sumedang adalah Bupati penyelang / sementara dari Parakan
Muncang. Menggantikan putra Bupati Surianagara II yang belum menginjak
dewasa Rd. Djamu atau terkenal sebagai Pangeran Kornel.

*IV. LETAK IBUKOTA KERAJAAN DAN KABUPATEN ( 678 – 1706 M )*

*BEKAS IBUKOTA KERAJAAN*
*No.**NAMA TEMPAT**TAHUN**MASA PEMERINTAHAN**KETERANGAN*1.Tembong Agung –
Leuwi Hideung Darmaraja678 – 893- Prabu Guru Aji Putih

- Prabu Tajimalela.

- Prabu Lembu Agung
- Raja Tembong Agung.

- Raja Sumedang Larang 1

- Raja Sumedang Larang 2
2.Ciguling – Pasanggrahan Sumedang Selatan893 – 1530- Prabu Gajah Agung.

- Prabu Pagulingan.

- Sunan Guling.

- Prabu Tirtakusumah.

- Nyi Mas Patuakan
- Raja Sumedang Larang 3

- Raja Sumedang Larang 4

- Raja Sumedang Larang 5

- Raja Sumedang Larang 6

- Raja Sumedang Larang 7
3.Kutamaya – Padasuka1530 – 1578Ratu Pucuk Umum / Pangeran Santri- Raja
Sumedang Larang 84.Dayeuh Luhur – Ganeas1578 – 1601Prabu Geusan Ulun- Raja
Sumedang Larang 9

*BEKAS IBUKOTA KABUPATIAN*
*No.**NAMA TEMPAT**TAHUN**MASA PEMERINTAHAN*1.Tegal Kalong – Sumedang Utara1601
– 1625Rangga Gempol I.2.Canukur Sukatali – Situraja1601 – 1625Rangga Gede3.
Parumasan1625 – 1633Rangga Gede.4.Tenjo Laut Cidudut – Conggeang1633 –
1656Rangga
Gempol II5.Sulambitan – Sumedang Selatan1656 – 1706Pangeran Panembahan6.Regol
Wetan – Sumedang Selatan1706 – sekarangDalem Adipati Tanumadja

*MASA PEMERINTAHAN*

*RAJA DAN BUPATI SUMEDANG*

*I.** MASA KERAJAAN.*

1. Prabu Guru Aji Putih (Raja Tembong Agung) 678 – 721

2. Batara Tuntang Buana / Prabu Tajimalela. 721 – 778

3. Jayabrata / Prabu Lembu Agung 778 – 893

4. Atmabrata / Prabu Gajah Agung. 893 – 998

5. Jagabaya / Prabu Pagulingan. 998 – 1114

6. Mertalaya / Sunan Guling. 1114 – 1237

7. Tirtakusuma / Sunan Tuakan. 1237 – 1462

8. Sintawati / Nyi Mas Ratu Patuakan. 1462 – 1530

9. Satyasih / Ratu Inten Dewata Pucuk Umum 1530 – 1578

( kemudian digantikan oleh suaminya Pangeran Kusumadinata I / Pangeran
Santri )

10. Pangeran Kusumahdinata II / Prabu Geusan Ulun 1578 – 1601

*II.** **MASA BUPATI PENGARUH MATARAM.*

11. Pangeran Suriadiwangsa / Rangga Gempol I 1601 – 1625

12. Pangeran Rangga Gede / Kusumahdinata IV 1625 – 1633

13. Raden Bagus Weruh / Pangeran Rangga Gempol II. 1633 – 1656

14. Pangeran Panembahan / Rangga Gempol III 1656 – 1706

*III.** **MASA PENGARUH KOMPENI VOC.*

15. Dalem Adipati Tanumadja. 1706 – 1709

16. Pangeran Karuhun / Rangga Gempol IV 1709 – 1744

17. Dalem Istri Rajaningrat 1744 – 1759

18. Dalem Adipati Kusumadinata VIII / Dalem Anom. 1759 – 1761 19. Dalem
Adipati Surianagara II 1761 – 1765 20. Dalem Adipati Surialaga. 1765 – 1773

*IV. MASA BUPATI PENYELANG / SEMENTARA*

21. Dalem Adipati Tanubaya 1773 – 1775

22. Dalem Adipati Patrakusumah 1775 – 1789

23. Dalem Aria Sacapati. 1789 – 1791

*V.** **MASA PEMERINTAHAN BELANDA.*

Merupakan Bupati Keturunan Langsung leluhur Sumedang.

24. Pangeran Kusumadinata IX / Pangeran Kornel. 1791 – 1828

25. Dalem Adipati Kusumayuda / Dalem Ageung. 1828 – 1833

26. Dalem Adipati Kusumadinata X / Dalem Alit. 1833 – 1834

27. Tumenggung Suriadilaga / Dalem Sindangraja 1834 – 1836

28. Pangeran Suria Kusumah Adinata / Pangeran Sugih. 1836 – 1882

29. Pangeran Aria Suriaatmadja / Pangeran Mekkah. 1882 – 1919

30. Dalem Adipati Aria Kusumadilaga / Dalem Bintang. 1919 – 1937

31. Tumenggung Aria Suria Kusumahdinata / Dalem Aria. 1937 – 1946

*VI.** **MASA REPUBLIK INDONESIA*

32. Tumenggung Aria Suria Kusumahdinata / Dalem Aria. 1945 – 1946

33. R. Hasan Suria Sacakusumah. 1946 – 1947

34. R. Tumenggung Mohammad Singer. 1947 – 1949

35. R. Hasan Suria Sacakusumah. 1949 – 1950

(Bupati terakhir keturunan langsung leluhur Sumedang)

SEJARAH MUSEUM PRABU GEUSAN ULUN.

Awal berdirinya Museum Prabu Geusan Ulun, diawali berdirinya “Yayasan
Pangeran Aria Soeria Atmadja (YAPASA)”, yayasan yang mengurus, memelihara
dan mengelola barang – barang wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja Bupati
Sumedang 1882 – 1919. Untuk melestarikan benda – benda wakaf tersebut YAPASA
merencanakan untuk mendirikan Museum. Pada tahun 1973 YAPASA berubah nama
menjadi Yayasan Pangeran Sumedang (YPS) dan didirikan sebuah Museum yang
bernama Museum Yayasan Pangeran Sumedang yang pada mulanya dibuka hanya
untuk di lingkungan para wargi keturunan dan seketurunan Leluhur Pangeran
Sumedang.

Pada tanggal 7 – 13 Maret 1974 di Sumedang diadakan Seminar Sejarah Jawa
Barat yang dihadiri oleh para ahli-ahli sejarah Jawa Barat. Pada kesempatan
yang baik itu Sesepuh YPS dan Sesepuh Wargi Sumedang mengusulkan untuk
mengganti nama Museum YPS. Dan salah satu hasil dari Seminar Sejarah Jawa
Barat tersebut dapat diputuskan dan ditetapkan untuk memberi nama Museum
YPS, diambil dari nama seorang tokoh yang karismatik yaitu Raja pertama dan
terakhir Kerajaan Sumedanglarang yang bernama “Prabu Geusan Ulun”. Maka pada
tanggal 13 Maret 1974 Museum YPS diberi nama menjadi Museum “Prabu Geusan
Ulun” –YPS.

Gedung pertama yang dipakai sebagai Museum adalah Gedung Gendeng

Pada tanggal 7 – 13 Maret 1974 di Sumedang diadakan Seminar Sejarah Jawa
Barat yang dihadiri oleh para ahli-ahli sejarah Jawa Barat. Pada kesempatan
yang baik itu Sesepuh YPS dan Sesepuh Wargi Sumedang mengusulkan untuk
memberi nama Museum YPS yang disampaikan pada forum Seminar Sejarah Jawa
Barat. Dan salah satu hasil dari Seminar Sejarah Jawa Barat tersebut dapat
diputuskan dan ditetapkan untuk memberi nama Museum YPS, diambil dari nama
seorang tokoh yang karismatik yaitu Raja pertama dan terakhir Kerajaan
Sumedanglarang yang bernama “Prabu Geusan Ulun”. Maka pada tanggal 13 Maret
1974 Museum YPS diberi nama menjadi Museum “Prabu Geusan Ulun”.

-- 
d-: dudi herlianto :-q
kunyuk nuyun kuuk, kuuk nuyun kunyuk

Kirim email ke