Ass. wr wb
Hapunten ah ngiringan. Abdih mani resep sakaligus ngaranjug maca artikel nu ku 
kang Dudi dipulish (SEMOGA ANAKKU TIDAK MINTA SEKOLAH/By: Jazimah Al-Muhyi). 
Serat ieu sanes bade mengaji atau membahas atawa adu renyom satuju atawa 
henteu, tapi bade nyuhunkeun izin bade dipublish di portal berita pendidikan 
www.mataguru.com. 

Punten bae ka penulisna abdi nyuhunkeun izinna. 
Tambihan, portal ieu teh nembe tayang ping 2 agustus kamari, maksadna mah 
hoyong ngarojong babarengan sareng masyarakat, pamarentah, guru, sakola, atawa 
individu saha bae, majukeun pendidikan di Indonesia, dalam arti yang luas, 
mikro dan makro. rada kritis, tapi santun jeung henteu mopohokeun andil 
pamarentah sareng rakyat nu tos berjuang majukeun pendidikan; maksadna mah nu 
kurang hade urang hadekeun, nu melenceng urang luruskeun, nu berprestasi urang 
puji, nu tos berjuang dan berkorban urang dukung sasarengan supados nu lian 
ngiring berjuang, nu teu acan ngabantu nya dimotivasi sareng didorong supados 
ngabantu, nu tos putus asa kana sistem pendidikan nya kedah dipasihan sumanget 
deui, sareng nyuhunkeun jalan kaluarna kumaha. Artikel tadi sae pisan sebagai 
masukan ka sadayana, oge ka pamarentah, reh aya rakyat urang anu tos putus asa 
pisan kana pendidikan nasional teh. 

Kulantaran portalk ieu teh nembean tayang, nya teu acan gaduh keneh modal 
kanggo mayar penulis/wartawan, jadi hapunten bae ka penulis teh teu aya honor 
na samet ieu mah. Ka sadayana urang Sunda, sok lah sasarengan, lamun aya berita 
atawa tulisan nu sae, tiasa dikirim ka abdi, ulah hilap foto penulis (artikel) 
atawa foto sumber berita (lamun berita). 

Ka kang Dudi puntren atuh nyuhuhunkeun foto penulis nu di luhur tea.
Sakitu bae, hatur nuhun pisan

salam
yayat s. soelaeman

Saya merasa bahwa sistem persekolahan di Indonesia pada umumnya belum baik. 

Bahkan saya terkadang menyesali waktu-waktu yang saya buang percuma di bangku 
sekolah selama belasan tahun. Dan bersyukur segera mengakhirnya pada semester 3.
Saya adalah orang yang merasakan indahnya belajar di luar sistem sekolah.

Masa-masa paling indah, masa-masa tak sekolah :-)

Kini saya punya anak. Yang sulung umur 4 tahun, yang kedua 2 tahun. Umumnya 
sudah masuk TK dan PAUD. Dan pertanyaan demi pertanyaan terus kami terima

Sekolah belum? 

Sekolah di mana?
Kelas berapa?
Sudah bisa apa?

Aulia/Mbak Lia (si sulung) yang sensitif itu terlihat tertekan dengan 
pertanyaan 
yang diajukan. Saya pun sesungguhnya juga demikian (he he, kan yang mewariskan 

sifat sensitif ke Mbak Lia tak lain adalah ibunya)

Tapi saya tidak tega kalau harus menyerahkan anak saya ke lembaga persekolahan 
yang ada di dekat saya, yang tidak sesuai standar pendidikan yang saya pahami. 

Belum lagi `memaksa' anak-anak bangun pagi, pasti membuat hari pagi tidak indah 
lagi. Saya pikir, belum saatnya anak-anak itu didisiplinkan sedemikian rupa. 
Kecuali kalau ada sekolah yang seperti Qoryah Thoyyibah. Mau masuk jam berapa 

aja, terserah.

Ada sih TK dan PAUD yang menurut kami bagus, tapi lokasinya jauh. Mungkin harus 
satu jam lebih untuk sampai sana. Ada 2 pilihan. Naik motor dengan resiko 
terkena polusi selama berangkat dan pulang. Atau naik bis yang ngebutnya luar 

biasa tidak tahu aturan. Dua-duanya tidak menyenangkan.
Maka saya dan suami akhirnya memutuskan untuk tidak menyekolahkan anak-anak.

Ini memang bukan keputusan yang mudah. Terlebih kami yakin, hujan pertanyaan 

seputar sekolah itu masih akan terus menerpa kami. Saya, suami dan anak-anak. 
Belum lagi kalau kumpul-kumpul keluarga lebaran nanti.

Apa yang membuat saya keberatan dengan sistem sekolah yang ada?
Satu, penyeragaman.

Untuk apa segala sesuatu harus sama? Bukankah senyatanya kehidupan ini memang 
berisi orang-orang yang berbeda? Agar si miskin tak minder pada si kaya? Bukan 
dengan cara itu solusinya.
Biarkan yang memang berbeda terlihat bedanya, agar bisa lebih mudah mengajarkan 

konsep berbagi, empati, berderma. 

Saya sedih dengan kenyataan bahwa seringkali pihak sekolah menaruh konsentrasi 
terlalu besar pada masalah seragam ini. Tidak jarang siswa dihukum hanya 
masalah 
ikat pinggang, kaos kaki. Saya pun ingin punya anak yang disiplin. Tapi bukan 

dengan cara seperti itu.

Dua, semua dipandang sama
Anak dipandang sebagai gelas kosong yang boleh diisi apa saja oleh pengajarnya. 
Bukan sebagai seorang hebat yang butuh dipandu untuk menemukan kehebatannya.

Empat tahun lebih membersamai anak-anak, saya seringkali takjub dengan 
kemampuan 
nalar, emosi, kreasi dan sebagainya dari mereka. Saya yakin bukan anak saya 
saja 
yang begitu. Pastilah semua anak juga seperti itu. Dinamis, kreatif, percaya 

diri, cekatan, ingin tahu, ingin selalu mencoba.
Dan menurut pengalaman saya, sistem sekolah MEMBUNUH satu per satu keistimewaan 
itu..

Tiga, banyaknya jajanan tidak sehat di luar sekolah yang mudah dikonsumsi anak. 


Saat Aulia mengangguk saat saya tawari masuk PAUD dekat rumah, hampir-hampir 
saya ingin memasukkannya ke PAUD. Tapi suami kemudian mengingatkan.
(Suami dulu pernah bilang, "Mama yakin kalau doktrin-doktrin para pengajar PAUD 

itu akan sama dengan doktrin-doktrin yang Mama berikan selama ini ke anak-anak?)
Ya, kasihan anak-anak kalau mereka harus menerima sistem nilai yang berbeda.

Ya, saya harus berjuang. Saya tidak boleh menyerah. Bukankah saya telah 

mengambil keputusan dengan keyakinan? Mengapa harus goyah?

Kemarin, saat berada di lokasi acara Batang Book On The Street, yang salah satu 
acaranya adalah lomba mewarnai anak TK, saya menyaksikan seorang anak yang 
muram 

sepanjang acara lantaran dia belum menyelesaikan pewarnaan gambarnya dan waktu 
sudah habis. Temannya menyanyi gembira dipandu seorang pendongeng, dia duduk di 
pangkuan Ayahnya tanpa senyum. 

Saat itulah saya menjadi lebih paham tentang tulisan yang pernah saya baca. 

Bahwa secara psikis, anak usia TK itu belum siap berkompetisi.
Untuk anak-anak TK, mereka semua harus diyakinkan bahwa mereka semua hebat, 
mereka semua adalah pemenang.
SEMUA anak HEBAT, SEMUA anak adalah PEMENANG.


Harus demikian agar semua anak memiliki harga diri yang sama, agar semua anak 
memiliki nilai diri yang positif, agar semua anak berbahagia.
Hingga, kelak apabila mereka menjadi guru, mereka menjadi guru yang bahagia. 

Polisi yang bahagia, petani yang bahagia, pedagang yang bahagia, pejabat yang 
bahagia

Pribadi yang bahagia, insya Allah akan memancarkan energi semangat dan 
kebahagiaan untuk sekelilingnya. Pribadi yang bahagia, alergi dengan segala hal 

yang bersifat menyengsarakan sesama.

Itulah masalahnya. Begitu sulit mencari sekolah yang misinya memBAHAGIAkan 
anak. 
Yang memperlakukan SEMUA anak didiknya dengan istimewa, karena semua manusia 
terlahir istimewa.

So, sekarang tugas saya adalah membuat anak-anak bahagia di rumah, bahagia saat 
beraktivitas bersama saya, agar tidak minta sekolah :-)
(plus tugas tambahan menyiapkan mental kalo ditanya soal sekolah sama kakek 

nenek, om tante, juga pakde budenya nanti, hehe)

Mohon masukan dari teman-teman ya


    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke