Wah, ini mah tulisan bergengsi atuh.Hebat oge si ambu
--- In [email protected], mh <khs...@...> wrote:
>
> KARYASASTRA DARI MASA MAJAPAHIT (SATU)
> by Richadiana Kartakusuma<http://www.facebook.com/profile.php?id=1537983874>on
> Friday, August 20, 2010 at 2:34pm
>
> *KARYASASTRA MASA MAJAPAHIT *
>
> *KARYA SASTRA dari JAMAN MAJAPAHIT*
>
> Sumber tertulis lain yang dihasilkan pada masa pemerintahan Majapahit adalah
> Karya([su)sastra (manuscript), sebagian besar isi pesannya merupakan data
> kemasyarakatan yang kental pertaliannya dengan unsur-unsur kearifan lokal
> karena merupakan karya pujangga (kavya). *Kalimat-kalimat yang dipakai
> dalam suatu karyasastra secara khusus dirangkai sesuai emosi dan citra
> pengarang atau penggubahnya. Di dalam upaya menuangkan peristiwa sejarah
> menjadi kisah sejarah itu, diupayakan unsur-unsur keindahan bahasa dan
> kesejukan kata-kata diharapkan mampu mengajak pembaca larut ke dalam cerita
> dengan jalinan sedemikian rupa.*
>
>
>
> *Ditengarai bahwa karyasastra yang merupakan buah karya masyarakat yang
> mengandung vitalitas yang sarat bakat dan kekayaan terpendam itu belum
> berarti isinya menceritakan peristiwa yang pernah benar-benar terjadi.*
>
> Kesusastraan yang dihasilkan pada masa Majapahit (abad XIV-XV AD) terdiri
> dari karyasastra-karyasastra kakawin yang digubah, ditulis para Rakawi yang
> hidup dan berkarya kontemporer masanya. Diantaranya dapat disebutkan Mpu
> Prapanca menggubah Kakawin Desawarnnana (Nagarakrtagama); Mpu Tan Tular yang
> menggubah Kakawin Arjunawijaya dan Kakawin Sutasoma; Mpu Tan Akung yang
> menggubah Kakawin Lubdhaka (Siwaratrikalpa), Wrttasancaya; dan Mpu Dusun
> menggubah Kakawin Banawa Sekar dan Kunjarakarna Dharmakathana.
>
>
>
> *RAKAWI DAN KARYASASTRANYA*
>
> *MPU PRAPANCA*
>
> Prapanca menulis tentang dirinya pada akhir karyanya:
>
> "tanpa hasil ia menyibukkan diri, terus-menerus dantekun, dengan menggubah
> kakawin-kakawin yang dituliskannya sebagai sanjak-sanjak di atas papan
> tulis. Ia mulai dengan jenis kronogram (sakakala), kemudian lambang (sanjak
> lirisyang pendek), Parwasagara, padatempat yang keempat Bhismasarana,dan
> akhirnya dengan memaparkan kisah Sang Budha. Kemudian ia kembali kepadajenis
> lambang dan kronogram,karena ia ingin menambahi jumlahnya dan karena tugas
> itu belum selesai" (Nagarakrtagama 94.3).
>
>
>
> Dibandingkandengan kakawin-kakawin lainnya, baik yang sejaman ataupun
> sebelumnya, nampaknyata betapa berbedanya isi, gaya dancara yang dituangkan
> Rakawi Prapanca dalam kakawinnya. Kakawin Desawarnannaatau Nagarakrtagama
> adalah rekaman yang benar-benar saksi mata atas pengalaman langsung yang
> ditulis pada masanya. Sumber pengetahuan tentang kondisi dansituasi
> kehidupan masyarakat Jawa abad ke XIV 'kanvas dan nafas sosial budaya'
> dengan nilai dan otentisitas tak ada tandingan, tiada taranya.
>
> Tidak mengherankan apabila para pakar dari pelbagai disiplin ilmu sosial
> budaya (asing maupun pribumi) telah menjadikan kakawin ini pokok telaahnya
> untuk menelusuri tentang Majapahit. Diantaranya H. Kern yang menelaah edisi
> mengenai liriknya, dilengkapi terjemahan dengan catatan-catatan lengkap dan
> melimpah; Krom yang terus memperbaiki dan menambah catatan pada teks dan
> terjemahan karya Kern, sebagaimana dilakukan Poerbatjaraka (Aantekeningen op
> de Nagarakrtagama).
>
>
>
> Para sarjana ini sepakat untuk menempatkan karya Rakawi Prapanca sebagai
> sumber informasi yang paling utuh mengenai Jawa khususnya Majapahit baik
> dari segipengetahuan arkeologi maupun dari pengetahuan sejarah.Puncak
> pengakuan kredibilitas karya Rakawi Prapanca dikukuhkan oleh Th.G.Th.Pigeaud
> diterbitkan tahun 1960-1963 serta terdiri dari 5 Jilid, berjudul *Java in
> The 14th Century, A Study in Cultural History (The Nagara-Kertagama By
> Rakawi Prapanca of Majapahit, 1365 A.D)*. Suatu sajian gaya edisi dan
> terjemahan baru dan menulis disertai komentar panjang dari penulisnya
> (Pigeaud), khusus menyoroti hal-hal yang luput atas tulisan dan perhatian
> para sarjana terdahulu.
>
>
>
> Menurut H.Kern, dari Kakawin Nagarakrtagama (Nag.17,8) diketahui bahwa
> Prapanca pernah menjabat Dharmadhyaksa. Jabatan administratif keagamaan
> istana yang tugasnya mengurusi lembaga-lembaga, yayasan-yayasan,
> komunitas-komunitas keagamaan. Terdiri dari Dharmadhyaksa Kasogatan
> (Bodhadhyaksa) yang mengurusi pemeluk agama Budha, dan Dharmadhyaksa
> Kasaiwan (Saiwa- dhyaksa) khususmengurusi pemeluk agama Siwa (Hindu). Kedua
> pejabat ini termasuk kaum rohaniwan, namun karena tidak pernah tercantum
> bukti-bukti di dalam teks prasasti (dokumen resmi pemerintah); maka
> (dharma)-dhyaksa ini oleh H.Kern dan N.J.Krom diterjmahkan sebagai
> "pengawas" (superintendent).
>
>
>
> Dalam Nagarakrtagama (Nag.75) diterangkan wewenang dharmadhyaksa (Siwa dan
> Budha) mengawasi dharmalepas atau yayasan-yayasan keagamaan swasta dan milik
> keluarga istana (dharma kerajaan: dharma dalem atau dharÂma haji). Menurut
> Zoetmulder, inilah yang luput dari pengamatan Krom dan Kern sehingga
> keduanya keliru menafsirkan. Tatkala Prapanca menerangkan dirinya seorang
> dharmadhyaksa, ia menambahkan uraiannya bahwa sejak masih kanak-kanak 'duk
> ray' ia telah terbiasa bergaul dengan abdi dalem istana.
>
>
>
> Ia mengaku bahwa usianya tidak jauh berpaut dengan Sri Baginda, dikala Dyah
> Hayam Wuruk memimpin tahta Majapahit (1350) dan melakukan kirabke keliling
> daerah-daerah, Prapanca juga turut serta sambil mencatat dan menuliskan
> hasil perjalanan tersebut. Kala itu Prapanca berusia 25 tahunPrapanca lalu
> saat menyesaikannya menjadi tulisan yang benar-benar utuh berupa *Kakawin
> Desawarnanna,* usia Prapanca telah mencapai 30 tahun.
>
>
>
> Pigeaud menyimpulkan bahwa dharmadhyaksa yang disebut dalam teks itu bukan
> Prapanca sendiri, melainkan ayahnya dan justru karena kedudukan ayahnya yang
> menyebabkannya memiliki kesempatan istimewa. Maka itulah kala mengikuti
> perjalanan rombongan Sri Baginda raja, dimanapun dan kemana pun mengunjungi
> suatu komunitas Budhis, Prapanca selalu disambut hangat.
>
>
>
> Bait menarik:*"... pengarang sendirilah yang menamakan dirinya Prapanca ia
> turut menikmati keindahan alam dengan rombongan Sri Baginda. Bahkan sang
> kawi, putera sang kawi,merasa senang sekali ditemani olehnya dan memberikan
> perhatian serta bantuan kepadanya, yang menaruh minat terhadap (Su)sastra.
> Ia seÂorang dharmadhyaksa bagi para orang Budhayang mengabdi kepada Sri
> Baginda, kemudia ia menggantikan jabatan ayahandanya...'*
>
>
>
> Kini jelaslah Prapanca menyebut 'dharmadhyaksa' adalah dalam konteks relasi
> antara anak dan ayah yaitu antara Prapanca yang waktu itu menjabat
> dharmadhyaksa dengan pendahulunya (ayahandanya). Ayah dan anak kedua-duanya
> juga terkenal sebagai Pujangga (ahli sastra dan susastra) 'rakawi', maka
> sangat ini tepat tatkala ia menyebut "sang kawi dan putera sang kawi". Maka
> pemuda Prapanca pun hendak menjadi seorang Rakawi pula (mangö ).
>
>
>
> Ia menetap danbergaul dengan lingkungan istana atasizin dan restu Sri
> Baginda, maka jelaslah bahwa ia menikmati kebebasan bergerak yang cukup
> luas, sehingga sesuka hatinya ia menempuh jalannya sendiri dan kemudian
> menggabungkan diri lagi dengan rombongan.
>
> Di Sawungan ia meninggalkan rombongan itu guna menengok beberapa saudara
> lewat jalan lain (Nag.18.6). Di Patukangan ia disambut berita duka yang
> membuatnya pilu, karena Krtayasa yang telah lama diharapkan jumpa ternyata
> telah tiada. Krtayasa adalah Rakawi senior, sahabat akrabnya Prapanca tetapi
> usianya lebih tua dari Prapanca. Ia memiliki naskah-naskah berharga sebagai
> Upapatti Budha yang pernah membantu Rakawi muda (Prapanca) pengetahuan
> menyusun kalangön (susastra/sastra indah). Rupanya kesehatan pujangga tua
> itu sudah agak lama terganggu, meski Prapanca tetap berharap kesehatannya
> pulih, namun Sanghiyang Agung menentukan lain. Jikalau saja Krtayasa masih
> hidup sang pujangga menemaninya dan menjadi membimbingnya mengambah alam
> raya, mencari bahan dan inspirasi kakawin-kakawinnya. Namun berita diterima
> mematahkan hatinya karena Pujangga Krtayasa ternyata telah lama tiada
> (Nag.29. 1-3).
>
>
>
> Di pertapaan Sagara ia mohon pamit dari kewajiban-kewajiban sehari-hari
> melayani Sri Baginda untuk menikmati keindahan alam sekitar. Ia mengunjungi
> pondok-pondok (yasa) yang berhiaskan untaian puisi-puisi singkat dipahatkan
> pada dinding dan atap-atapnya. Di tempat lain dalam perjalanan seorang diri
> ia pun menengok pertapaan Darbaru, Prapanca disambut pemimpin pertapaan dan
> memberikan seluruh informasi mengenai tempat itu sambilmemperlihatkan
> piagam-piagam yang menjadi bukti otentikkesejarahannya. Demikian terkesan
> Rakawi Prapanca tatkala mendengarkannya, serasa enggan beranjak dari tempat
> itu merasakan keinginan mengundurkan diri saja dari istana. Hatinya berbisik
> 'semoga suatu saat cita-cita ini terlaksana menjadi kenyataan' (Nag. 35.
> 2-3).
>
>
>
> Di Singhasari ia disambut dengan penuh kehangatan oleh para pembesar dharma
> Budhis, Dang Acaryya (guru agama) Ratnangsa yang dikenal sebagai Paduka dari
> Mungguh. Guru yang terhormat itu"berusia lebih dari 1000 bulan". Atas
> permintaan sang Pujangga diberikan keterangan panjang lebar mengenai leluhur
> Sri Baginda yang diceritakan semenjak Rangga Rajasa dan seterusnya. Cerita
> yang dituturkan Pujangga tua itu sangat mengesankan dan menambah keyakinan
> Prapanca bahwa raja raja Jawa benar-benar inkarnasi dewa yang memerintah di
> dunia. Bilamana setiap orang mendengar cerita (katha) mengenai sejarah
> raja-raja, maka jiwa akan dipuaskan dan menambah rasa bakti kepada
> raja-raja, sehingga perbuatan jahat kehilangan dayanya, bahkan penyakit dan
> bencana pun terhalaukan.
>
> Banyak keuntungan yang diterima oleh Prapanca mendengarkan sejarah leluhur
> raja-rajaJawa. Menurut Guru Agung Ratnangsa:"... *pahala tinggi tiada
> terkira apabila memiliki kehendak tulus dan bakti meriwayatkan sejarah
> raja-raja yang demikian unggul dan luar biasa kesaktiannya. Semogalah Rakawi
> Prapanca senantiasa dianugrahi kesejahteraan dengan wawasan pengetahuan ilmu
> (pandita)..".*
>
>
>
> Bagian-bagian ini, penuh kenangan-kenangan pribadi yang menyimpang dari pola
> umum suatu sastra kakawin. kendati memberi nilai tambah mengenai kepribadian
> Rakawi Prapanca, ia mengakui pemeluk Budha yang memuaskan rasa ingin tahu
> serta perhatiannya terhadap tempat-tempat suci serta tradisi; diajukan
> kepada guru-guru yang juga ahli Budha.
>
>
>
> Demikian pula ketika secara khusus mengungkapkan perasaannya bahwa
> Krtayasa,guru sekaligus sahabat karib yang dikenalnya dengan baik, tempatnya
> berbagirasa sebagai pujangga, ternyata telah pergi meninggalkan dunia.
> Tatkala berkunjung ke Sagara, ia tampil sebagai sang kawi yang mengejar
> keindahan dan hendak mengungkapkannya ke dalam bentuk *mangö*.
>
>
>
> Pada bagian akhir karyanyaia menyebut seluruh para pujangga yang unggul baik
> dari luar maupun dari Jawa, terutama yang pernah mengumandangkan pujian sang
> raja. Kendati ia sadar betapa kerdil dirinya sebagai pujangga (*tan tameng
> langö*), namun ia berharap Sri Baginda tidak melupakan hambanya yang sekian
> lama berusaha keras mengabdikan karya susastranya kepada sang raja (*atpadeng
> langö*). Baktinya kepada sang Raja telah mendorong hamba yang hina bergabung
> dengan pujangga-pujangga lainnya dan yang terdahulu, semata hendak menggubah
> karya susastra,khususnya Desawarnana ini. Jikalau saja nanti *kalangöan* ini
> menjadi bahan cercaan dan sasaran tertawa semua orang iapun akan menerimanya
> dengan sewajar-wajarnya.
>
>
>
> Jikalau disimak, nada pesan untaian kalimat indah (Nag. 93. 1-2; 94.1-4) ini
> sebenarnya merupakan bagian penutup, namun ternyata sesudah bait-bait ini
> masih ada tambahan lain. Isinya tidak jelas dan tidak ada hubungannya sama
> sekali, bahkan mengesankan 'sangat dibuat-buat'. Agaknya tidak ada alasan
> lain yang lebih tepat bahwa bait-bait tersebut dirangkai dengan sengaja oleh
> seorang penyair lain dan bukan Prapanca.
>
>
>
> Sebagaimana yang diakuinya bahwa hasil karya kakawinnya merupakan deskripsi
> mengenai wilayah-wilayah(kerajaan) yang diuraikannya satu persatu. Maka itu
> karyanya ini lebih tepat disebut Desawarnana 'pelukisan tentang wilayah
> kerajaan'.
>
>
>
> *KAKAWIN NAGARAKRTAGAMA(DESAWARNANNA)*
>
> Kakawin Desawarnanna buah karya Mpu Prapanca lebih populer disebut Kakawin
> Nagarakrtagama ditemukan di Pulau Lombok tahun 1894. Namun penamaan
> Nagarakrtagama (kerajaan yangdipimpin menurut tradisi suci) tidak tercantum
> di dalam teks naskah melainkan catatan tambahan yang bagian akhir teks.
> Menurut C.C.Berg Berg (1962:204) Nagarakrtagama diterjemahkan sebagai
> 'laporan mengenai jaman keemasan kerajaan'; sedangkan Desawarnana samaran
> sang pujangga untuk merendahkan karyanya.
>
>
>
> Sejak J.L.A.Brandes (1902) menerbitkannya ke dalam bentuk 'edisi teks'
> Kakawin Nagarakrtagama dan Rakawi Mpu Prapanca pun terangkat harum mewangi
> tidak hanya membumi di Negri Nusantara, juga kalangan pakar dan kebudayaan
> di dunia. Zoetmulder menguraikan dengan sangat jelas tentang kepiawaian
> Rakawi dan karyanya. Disebutkan olehnya Prapanca dan karyanya memiliki
> kekhasan, bukan sekedar karena kelebihan atas sifat kesusastraannya,
> melainkan sifatnya yang lain daripada yang lain dalam khasanah karyasastra
> yang dapat dinilai 'tiadataranya'.
>
>
>
> Kakawin ini memaparkan lukisan mengenai kerajaan Majapahit di bawah
> pemerintahan Raja Rajasanagara (Dyah Hayam Wuruk). Termasuk keluarganya,
> kratonnya dan banyak bagian wilayahnya, peresis seperti dilukiskan seorang
> yang hidup pada jamannya (kontemporer) sebagai warga istana. Betapa Sang
> Rakawi tidak sekedar menuliskan tentang yang dilihatnya, namun juga
> keterangan tentang segala sesuatu peristiwa yang dilihat, disaksikan dan
> dialaminya secara langsung olehnya. Kepiawaiannya dalam mengetengahkan seluk
> beluk masyarakat Jawa Kuno dan berbagai segi kehidupan selaras ruang, waktu,
> dan bentuk kepribadian kebudayaan masanya.
>
>
>
> Demikianlah Kakawin Desawarnanna diawali manggala yang ditujukan kepada dewa
> tertinggi 'yang hadir secara halus di dalam samadhi kepada Siwa-Budha
> sakala-niskala'. Sang Rakawi dengan rendah hati menghaturkan untaian kata
> dalam susunan kalimat indah memukau dan begitu mendalam bahwa karyanya ini
> semata dipersembahkan kepada penguasa tertinggi Wilwatikta (Majapahit) 'Sri
> Baginda Rajasanagara inkarnasi dewa yang turun ke dunia untuk memelihara
> ketertiban dan mengusir segala anasir jahat'
>
>
>
> Seluruh anggota keluarga raja disebutkan dan ditata satu persatu sesuai
> urutan geneologisnya (1.1-7.4); diiringi deskripsi ibukota MajaÂpahit
> (8.1-12.6); daerah-daerah daerah dan negara-negara tetangga yang disebutkan
> lengkap dengan sifat serta hubungan kekerabatannya dengan kekuasaan pusat
> (13.1-16.5).
>
>
>
> Bagian terbesar dari karya kakawinnya melukiskan perjalanan Baginda raja
> menelusuri wilayah kerajaannya. Diterangkannya bahwa perjalanan resmi
> kenegaraan seperti itu selalu rutin dilakukan setiap tahun pada akhir musim
> sejuk, yaitu bulan Bhadrawada (Agustus-September). Rakawi juga menyebutkan
> perjalanan-perjalanan serupa yang dilakukan pada tahun-tahun terakhir,
> ditata secara kronologis,
>
> 1. Perjalanan ke Pajang pada tahun 1353,
> 2. Perjalanan ke Lasem pada tahun 1354;
> 3. Perjalanan ke pantai selatan pada tahun 1357; dan
> 4. Perjalanan yang tengah berlangsung kini tahun 1359 adalah perjalanan
> menuju ke Lamajang. Iadiikuti oleh para puteri (masing-masing bergelar ratu
> salah satu daerah di dalam kawasan kerajaan) beserta suaminya; para
> pejabat
> tinggi dan sejumlah pendeta; semua abdi dhalem kraton, pokoknya semua tokoh
> terkemuka di Majapahit (sa-Wilwatikta, 17.4).
>
> Diuraikan dengan cermat bahwa perjalanan ini terdiri dari beratus-ratus
> kereta; dan diantara mereka ada Prapanca yang kadang-kadang menyempatkan
> meninggalkan rombongan mengikuti acaranya sendiri, menjenguk kerabat dan
> keluarganya; termasuk menengok tempat-tempat yang menarik perhatiannya,
> kemudian ia kembali bergabung dengan rombongan, begitu seterusnya hingga
> perjalanan usai.
>
>
>
> Rombongan perjalanan kini sedang menuju ke timur hingga tiba di pantai lalu
> membelok dari utara ke timur, menyusuri pantai hingga ke Panarukan, lalu
> kembali lewat jalan yang disana-sini menyimpang dari rute semula. Di daerah
> Pasuruhan rombongan membelok ke selatan, menuju Singhasari; disana raja
> menghormati leluhurnya dari wangsa Singhasari yang telah kembali ke alam
> dewata (raja-raja Majapahit menganggap dirinya keturunan langsung wangsa
> Singhasari).
>
>
>
> Sang Rakawi menyebutkan tempat-tempat yang dilewatinya selama dalam
> perjalanan satu persatu, dan tidak hanya kota-kota besar, juga dusun-dusun,
> tempat-tempat suci, dan pertapaan-pertapaan.Bahkan Kadang-kadang
> tempat-tempat itu disoroti dan dilukiskan secara mendalam. Bagaimana
> masyarakat berduyun-duyun berlarian datang untuk menghormati raja, dan
> bagaimana raja beserta rombongannya mengasyikkan diri ditempat-tempat yang
> disinggahi dalam perjalanan. Mengapa rombongan tinggal lebih lama di
> Patukangan, kunjungan paling jauh di dalam perjalanan. Penduduk Patukangan
> rupanya menyambut kunjungan sang raja dengan mengadakan berbagai
> pertunjukkan kesenian diprakarsai para pejabat pemerintah setempat. Di
> Patukangan ini sang raja juga menerima sembah dan bakti dari para pejabat
> dari Bali, Madura dan daerah-daerah yang letaknya lebih ke timur
> (25.1-29.2).
>
>
>
> Uraian lengkap lainnya adalah tatkala kunjungan ke pertapaan Sagara
> (32.2-34.1); dan ketika rombongan menginap di Singhasari, Prapanca
> mempergunakan waktunya untuk mencari informasi mengenai leluhur Baginda Raja
> Dyah Hayam Wuruk. Selingan pertama yang memotong cerita perjalanan
> (38.3-49.5) adalah informasi dari seorang bhiksu Budha berusia 1000
> bulan mengenai raja-raja Singhasari-Majapahit yang memerintah antara tahun
> 1182-1343. Diikuti deskripsi peristiwa raja melakukan hobi berburu di
> sekitar Singhasan (50.1-54.3) diuraikan hingga 25 bait); Rakawi mengikuti
> fantasi dan imajinasinya seakan-akan satwa melakukan 'meeting' (rapat) yang
> dipimpin oleh raja satwa hutan yaitu 'Sang Singha', agar tidak gentar dan
> secara sukacita memenuhi kewajibannya sebagai makhluk menuju kematian suci
> di tangan titisan dewa 'layaknya moksa menuju tempat tertinggi'
>
>
>
> Menjelang pulang dari Singhasari ke Majapahit dilukiskan secara singkat,
> yaitu kunjungan ke candi Jajawa yang didirikan oleh Krtanagara hanya
> diberitakan sekedarnya. Kisah perjalanantahun 1359 ini dituntaskan dengan
> deskripsi masyarakat ibu kota dan warga istana menyambut Baginda dan
> rombongannya pulang dari perjalanan (55.1-60).
>
>
>
> Perjalanan tahun 1360 dan 1361 hanya diceritakan enam bait saja (61.1-62)
> tetapi sebaliknya pengarang menguraikan cukup panjang peristiwa yang terjadi
> tahun 1362 karena dianggapnya merupakan puncak peristiwa kenegaraan tahun
> itu, yaitu upacara keagamaan sradha di dalam rangka memperingati 12 tahun
> setelah mangkatnya ibunda suri Dyah Dewi Gayatri (Rajapatni).
>
>
>
> Diceritakan persiapan dimulai bulan Srawana (Juli-Agustus), dan padabulan
> Bhadrawada (Agustus-September) upacara agung Sradha diselenggarakan di
> istana Majapahit dipimpin kepala Bhiksu Budha yang usianya sudah lebih dari
> 80 tahun; salah satu muridnya praktis bertindak sebagai pelaksana upacara
> yang bertugas menarik 'garis mandala ditarik(lingkaran kosmis)' tanggal 12
> bulan Bhadrawada dipersiapkan gambar Dyah Dewi Gayatri dengan bunga-bunga
> (puspasarira) diiringi yoga dan meditasi sebagaimana mestinya. Pada malam
> bulan purnama gambar itu ditempatkan di atas singgasana di tengah-tengah
> sabha (balai pertemuan). Sejak hari itu hingga tujuh hari berikutnya Baginda
> Raja, para pangeran, para pejabat berbagai golongan, para pendeta, dan
> masyarakat banyak berbondong-bondong menghaturkan persembahannya. Usai
> melakukan upacara inti, seluruh masyarakat Majapahit mengadakan pesta
> hiburan diisi aneka ragam pertunjukkan kesenian dan ketrampilan.
>
>
>
> Tuntaslah sudah Dyah Dewi Gayatri dilepaskan dari segala ikatan dan noda
> dunia, beliau sang Rajapatni adalah Prajnaparamita yang memasuki alam Sang
> Budha; acara pamungkas melarung Puspasarira ke sungai. Selanjutnya beliau
> dihormati dan dipuja sembah di Kamal Pandak, tempat pendharmaan baginya yang
> telah didirikan selepas mangkat tahun 1351, dan telah disucikan melalui
> upacara bhumisuddhi (pensucian bumi atau tanah); juga tempat puja lainnya
> berbagai Prajnyaparamita senantiasa dilangsungkan upacara pada tiap-tiap
> bulan Bhadrawada itu. Upacara-upacara tersebut senilai dengan upacra sradha
> kepadanya sehingga menjamin kesejahteraan pemerintahan cucunya dan
> senantiasa berada di dalam lindungannya (63.1-69.3).
>
>
>
> Tahun 1363 tidak diadakan "anjangsana keraÂjaan" mengelilingi kawasan
> sebagaimana selalu dilakukan setiap tahun, melainkan menyelenggarakan
> kegiatan berharga lainnya yang dari segi keagamaan sama tinggi nilainya
> dengan perjalanan kenegaraan dan juga upacara agung sradha. Kegiatan itu
> adalah memperbaiki dan memugar 'pendharmaan Krtarajasa'yang terletak di
> Simping. Namun rombongan Baginda Raja agak terburu-buru pulang karena diberi
> kabar Mahapatih Gajah Mada menderita sakit keras. Tak berapa lama Mahapatih
> pun mangkat dan kabinet negara segera membentuk pejabat-pejabat baru untuk
> mengisi kedudukannya.
>
>
>
> Kemudian daftar panÂjang menyebutkan daerah-daerah swatantra yang di
> dalamnya terdapat pendharmaan keluarga kerajaan yang telah mangkat, termasuk
> para pengelolanya yang bermukim dalam biara. Akhir dari kakawin menceritakan
> tentang perayaan kenegaraan yang juga merupakan upacara keagamaan. Acara
> perayaan yang selalu diselenggarakan diistana setiap tahun pada tiap bulan
> Caitra-Asuji.
>
>
>
> *RESENSI KAKAWIN NAGARAKRTAGAMA*
>
> Demikianlah Kakawin Desawarnnana atau Nagarakrtagama digubah Mpu Prapanca
> pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan diselesaikan tahun 1287 Saka/1365
> AD.Dalam teksnya kakawin ini disebut Desawarnnana 'perjalanan ke desa-desa
> yang melukiskan wilayah kerajaan'. Kakawin Nagarakrtagama ditemukan di Puri
> Cakranegara, Pulau Lombok berikut beberapa naskah lainnya yang kini
> disimpan di Bali.
>
>
>
> KakawinNagrakrtagama (Desawarnnana) memiliki keunikan tiada tara isinya
> menguraikan keadaan Kerajaan Majapahit:
>
> (1) uraian tentang para anggota keluarga raja,
>
> (2) lukisan tentang ibu kota Majapahit
>
> (3) uraian tentang daerah-daerah vasal dan negaraÂnegara tetangga Majapahit
> (4)perjalanan sang raja menjelajah wilayah kerajaan
>
> (5) kunjungan ke pertapaan Sagara
>
> (6) perjalanan Prapanca yang memisahkan diri dari rombongan kerajaan
>
> (7) lukisan sang raja yang berburu di sekitar Singhasari
>
> (8) perjalanan sang raja pada tahun 1360 dan 1361 AD dan perayaan sraddha
> untuk memperingati Dyah Gayatri
>
> (9) upacara Prajnaparamita
>
> (10) kunjungan raja ke Simping dan mangkatnya Gajah Mada
>
> (11) daftar semua tanah milik raja beserta biara-biara dan para penghuninya
>
> (12) pesta pada setiap bulan Caitra. yangdiselenggarakan setiap tahun di
> Kraton.
>
>
>
> Menilik kandungan isinya, kakawin ini banyak diteliti oleh para ahli dan
> dianggap sebagai sumber sejarah Jawa Kuna yang penting. Selain informasi
> tentang Majapahit, dalam kakawin ini juga terdapat informasi tentang
> periode-periode sejarah sebelumnya,seperti pembagian kerajaan Erlangga oleh
> Mpu Bharada. Dari segi genre sastra dapat dikatakan Nagarakrtagama dalam hal
> isinya menyimpang dari konvensi kakawin-kakawin yang diciptakan oleh para
> Rakawi terdahulu. Dalam kekiniannya Nagarakrtagama ada diantara prasasti
> yang kerap kali juga ditulis dengan metrum, dan berisi tentang kronik
> kerajaan, seperti Pararaton.
>
>
>
> *Selain itu, pada masa Majapahit muncul pula genre sastra baru, yakni
> kidung. Banyak kidung yang berkisah tentang Raden Wijaya dantokoh-tokoh di
> sekitarnya, seperti KidungPanji Wijayakrama Ranggalawe, Kidung Harsawijaya,
> dan Kidung Sorandaka. Sekalipun banyak kidung ditulis di Bali, dan kidung
> yang tertua mungkin juga mengalami penulisan kembali, namun
> sekurang-kurangnya Kidung Ranggalawe dalam sengkalannya menunjuk peranggalan
> tua (24 November 1334 AD). Mungkin sekali dalam persaingan dengan genre baru
> itu Nagarakrtagama ditulis dengan kandungan isi yang serupa.*
>
>
> **
>
> *
> http://www.facebook.com/notes/richadiana-kartakusuma/karyasastra-dari-masa-majapahit-satu/423251354474
> *
>
> *
> *
>
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/