Istana Daendels vs. Uang
Oleh *Redaksi Indonesia*
Dibuat *13 Agustus 2010 12:09*

*Istana yang dibangun pada masa Daendels masih berdiri kokoh di kawasan
komplek Kementerian Keuangan, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Menurut
sejarah, Istana yang diarsiteki Letnan Kolonel JC Schultze itu dulu
disebut Groote
Huise (rumah besar).*

Istana Daendels (begitu banyak orang menyebutnya) sekarang mulai dijadikan
cagar budaya, oleh karena itu pegawai kementerian keuangan banyak yang
dipindah ke Gedung baru. Namun arsip arsip sejarah Kementerian Keuangan
masih ada dalam Gedung Daendels. Pencetakan Nota Keuangan dan APBN pun masih
dilakukan di gedung tersebut. Nuansa sejuk dan lenggang menjadi kelebihan
dari Gedung itu dibandingkan gedung baru (juanda I dan II) yang dibangun
pada 5 tahun terakhir.

Ruangan yang lebar dan plafon yang tinggi membuat pegawai terasa nyaman.
Sebagai orang Jawa saya menyukai karakteristik bangunan yang memiliki langit
langit tinggi. Menurut orang jawa kuno adanya korelasi antara tata ruang
dengan cara pandang atau pikir seseorang. Dengan tata ruang yang lebar dan
tinggi diharapkan memiliki pikiran jauh ke depan. Setidaknya bisa mewariskan
pikiran dan ide ide ke generasi ke depan. Sesuatu yang tidak saya dapatkan
pada Gedung baru yang memiliki ruangan kecil dengan sekat sekat dan langit
langit yang tidak tinggi.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah berkomentar tentang korelasi tata
ruang dengan cara pandang orang khususnya di Jakarta. Beliau berujar bahwa
banyak demonstrasi di Jakarta salah satu disebabkan oleh terlalu padatnya
penduduk di kawasan Jakarta. Memang, perumahan padat penduduk di Jakarta
hanya berukuran rata rata sebesar 15 M2, dengan pola rumah tingkat. Jarak
antar rumah di depannya hanya 4 m2. Dengan luas jakarta 661,52 km2 dihuni 10
juta penduduk.

Perubahan pemanfaatan Gedung Daendels sebagai museum dengan memindahkan
semua para pegawai ke Gedung Baru menurut saya kurang tepat sekali. Banyak
sekali Gedung Gedung lama peninggalan jaman Belanda akhirnya rusak karena
tidak berpenghuni. Salah satu contoh adalah di kawasan Kota, Jakarta Pusat.
Justru peninggalan tersebut akan lebih lestari apabila tetap dipergunakan
dan diperhatikan pemeliharaannya. Faktor pemeliharaan memang suatu hal yang
paling jelek di Indonesia. Contoh nyata Gedung peninggalan Belanda yang
masih dioperasionalkan dan masih lestari adalah Gedung Kantor Pos yang
terletak tidak jauh dari Istana Putih Daendels. Kementerian Keuangan
memiliki gedung peninggalan jaman Belanda yang cukup banyak dan tersebar di
seluruh wilayah Indonesia. Hampir seluruh gedung Keuangan di wilayah
Indonesia adalah peninggalan Jaman Belanda.

Yang terpenting sebenarnya adalah penghematan kas negara. Membangun gedung
baru bukanlah prioritas utama dalam perekonomian Indonesia yang masih dalam
tahap merangkak. Infrastruktur seperti jalan, jembatan seharusnya menjadi
prioritas utama Pemerintah. Gedung yang perlu dibangun adalah
Sekolah-sekolah, yang masih belum tersedia dengan cukup meskipun dana 20%
APBN tercapai.
*
Judul asli: Gedung daendels dalam Sejarah Kementrian Keuangan
Oleh: Lisno Setiawan*

 *Artikel ini diikutsertakan dalam sayembara Cita-cita Proklamasi. Demi
menjaga keaslian, artikel diterbitkan tanpa proses editing dari redaksi.
Dalam beberapa kasus, Ranesi hanya mengubah judul untuk keperluan teknis.
Isi dan format di luar tanggung jawab Ranesi.*


 ------------------------------
*URL sumber:* http://www.rnw.nl/article/istana-daendels-vs-uang
 *Links:*
 *Images:*
[i1]
http://www.rnw.nl/data/files/images/lead/daendelsgebouw-collectietropenmuseum-wikimedia.jpg
[i2] http://www.rnw.nl/

Kirim email ke