rupana leuwih alus lamun kagambarkeun ku 'peta perjalanan sajarah'na, salian ti tulisan, anu netelakeun asal sumebar/bibit buit/wiwitanna ti galuh nk bali. hn*0catea
2010/9/22 mh <[email protected]> > > > KILAS PINTAS BANGUNAN KUNO (CANDI2) DI JAWA TENGAH - JILID SATU > by Richadiana > Kartakusuma<http://www.facebook.com/profile.php?id=1537983874>on Tuesday, > September 21, 2010 at 4:07pm > > *KILAS PINTAS BANGUNAN KUNO (CANDI2) DI JAWA TENGAH* > > > > *C**andi di Jawa Tengah dan Yogyakarta* > > Pada abad ke-7 sampai dengan awal abad ke-8, di Jawa Tengah terdapat sebuah > kerajaan Hindu bernama Kalingga. Pada akhir paruh pertama abad ke-8, > diperkirakan th. 732 M, Raja Sanjaya mengubah nama Kalingga menjadi Mataram. > Selanjutnya Mataram diperintah oleh keturunan Sanjaya (Wangsa Sanjaya). > Selama masa pemerintahan Raja Sanjaya, diperkirakan telah dibangun > candi-candi Syiwa di pegunungan Dieng. Pada akhir masa pemerintahan Raja > Sanjaya, datanglah Raja Syailendra yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya (di > Palembang) yang berhasil menguasai wilayah selatan di Jawa Tengah. Kekuasaan > Mataram Hindu terdesak ke wilayah utara Jawa Tengah. > > Pemerintahan Raja Syailendra yang beragama Buddha ini dilanjutkan oleh > keturunannya, Wangsa Syailendra. > > > > Dengan demikian, selama kurang lebih satu abad, yaitu tahun 750-850 M, Jawa > Tengah dikuasai oleh dua pemerintahan, yaitu pemerintahan Wangsa Sanjaya > yang beragama Hindu dan Wangsa Syailendra yang menganut agama Buddha > Mahayana. Pada masa inilah sebagian besar candi di Jawa Tengah dibangun. > Oleh karena itu, candi-candi di Jawa Tengah bagian Utara pada umumnya adalah > candi-candi Hindu, sedangkan di wilayah selatan adalah candi-candi Buddha. > Kedua Wangsa yang berkuasa di Jawa Tengah tersebut akhirnya dipersatukan > melalui pernikahan Rakai Pikatan (838 - 851 M) dengan Pramodawardhani, Putra > Maharaja Samarattungga dari Wangsa Syailendra. > > > > Candi di Jawa Tengah umumnya menghadap ke Timur, dibangun menggunakan batu > andesit. Bangunan candi umumnya bertubuh tambun dan terletak di tengah > pelataran. Di antara kaki dan tubuh candi terdapat selasar yang cukup lebar, > yang berfungsi sebagai tempat melakukan ‘pradaksina’ . Di atas ambang pintu > ruangan dan relung terdapat hiasan kepala Kala (Kalamakara) tanpa rahang > bawah. Bentuk atap candi di Jawa tengah umumnya melebar dengan puncak > berbentuk ratna atau stupa. Keterulangan bentuk pada atap tampak dengan > jelas. > > > > Di samping letak dan bentuk bangunannya, candi Jawa tengah mempunyai ciri > khas dalam hal reliefnya, yaitu pahatannya dalam, objek dalam relief > digambarkan secara naturalis dengan tokoh yang mengadap ke depan. Batas > antara satu adegan dengan adegan lain tidak tampak nyata dan terdapat bidang > yang dibiarkan kosong. Pohon Kalpataru yang dianggap sebagai pohon suci yang > tumbuh ke luar dari objek berbentuk bulat banyak didapati di candi-candi > Jawa tengah. > > > > Candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta jumlahnya mencapai puluhan, umumnya > pembangunannya mempunyai kaitan erat dengan Kerajaan Mataram Hindu, baik di > bawah pemerintahan Wangsa Sanjaya maupun Wangsa Syailendra. Belum semua > candi dimuat dalam situs web ini. Masih banyak candi, terutama candi-candi > kecil yang belum terliput, di antaranya: Abang, Asu, Bogem, Bugisan, > Candireja, Dawungsari, Dengok, Gampingan, Gatak, Gondang, Gua Sentana, > Gunungsari, Gunungwukir (Canggal), Ijo, Kelurak, Marundan, Merak, Miri, > Morangan, Muncul, Ngawen, Payak, Pendem, Pringapus, Retno, Sakaliman, > Sojiwan, Umbul dan Watugudig. > > > > *Candi Banyuniba * > > terletak di selatan Desa Cepit, Kelurahan Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, > Kabupaten Sleman. Letaknya sekitar 200 m dari Candi Barong, sekitar 1 km > sebelah barat daya jalan raya Yogya-Solo. Candi Buddha ini berdiri menghadap > ke barat, menyendiri di lahan pertanian. Sekitar 15 m di depan bangunan > candi mengalir sebuah sungai kecil. Pada saat ditemukan, candi ini hanya > berupa reruntuhan. Penelitian dan rekonstruksi yang pertama di mulai pada > tahun 1940. berdasarkan hasil penelitian diperkirakan bahwa Candi Banyuniba > terdiri atas satu candi induk yang menghadap ke Barat dan dikelilingi > deretan candi perwara berbentuk stupa, 3 berderet di selatan dan 3 lagi di > timur. Saat ini baru candi induknya yang berhasil dipugar. Tak satupun candi > perwara yang tersisa. Di halaman belakang candi terdapat sebuah lubang > seperti sumur. > > > > Ukuran Candi Banyuniba relatif kecil, yaitu lebar 11 m dan panjang sekitar > 15 m. Tubuh candi berdiri di atas 'batur' setinggi 2,5 m yang terletak di > tengah hamparan batu andesit yang tertata rapi. Selisih luas batur dengan > tubuh candi membentuk selasar yang cukup lebar untuk dilalui 1 orang. > Dinding dan pelipit atas batur dipenuhi dengan hiasan bermotif sulur dan > dedaunan yang menjulur keluar dari sebuah wadah mirip tempayan. Di setiap > sudut kaki candi terdapat hiasan mirip kepala Kala yang disebut 'jala > dwara". Hiasan ini berfungsi sebagai saluran pembuang air hujan. Atap candi > berbentuk limasan seperti kubah (dagoba) dengan stupa di puncaknya.Untuk > naik ke selasar di permukaan 'batur' (kaki candi) terdapat tangga selebar > sekitar 1,2 m, terletak tepat di depan pintu masuk bilik penampil. Pangkal > pipi tangga dihiasi dengan kepala sepasang naga dengan mulut menganga lebar. > > > > Pintu masuk dilengkapi dengan bilik 'penampil' beratap melengkung yang > menjorok sekitar 1 m keluar tubuh candi. Sisi depan atap bilik penampil > dipenuhi dengan hiasan bermotif sulur-suluran. Tepat di atas ambang pintu, > terdapat hiasan Kalamakara tanpa rahang bawah. Di bagian dalam dinding, di > atas ambang pintu, terdapat pahatan yang menggambarkan Hariti, dewi > pelindung anak-anak, sedang duduk bersila diapit oleh dua ekor burung merak. > Di sekeliling wanita itu terdapat anak-anak kecil yang mengerumuninya. > > > > Pada dinding selatan bilik penampil terdapat relief yang menggambarkan > Kuwera, dewa kekayaan, sedang duduk duduk dengan tangan kanan tertumpu paha. > Di sebelah kirinya, agak ke belakang, seorang pelayan memegangi pundi-pundi > berisi uang. Pada dinding di keempat sisi tubuh candi terdapat jendela > palsu, yaitu lubang yang terlihat seperti sebuah jendela, namun sesungguhnya > lubang tersebut tidak menembus ke ruang dalam tubuh candi. Di atas ambang > jendela palsu terdapat hiasan Kalamakara, sedangkan di kiri dan kanannya > terdapat relung yang berisi pahatan sosok penghuni kayangan atau surga, > seperti kinara dan kinari, hapsara dan hapsari, serta Hariti dan Avataka. Di > antara kalamakara dan pelipit atas ambang jendela tersembunyi pahatan sosok > pria yang sedang duduk seolah melongok ke bawah. Hiasan semacam ini disebut > 'kudu'. > > > > Tidak terdapat arca di ruangan dalam tubuh candi, namun dindingnya dihiasi > dengan sosok anak dan lelaki dalam berbagai posisi. Ada pahatan yang > menggambarkan seorang anak sedang bergantung pada dahan pohon, sederetan > orang yang sedang duduk berpelukan, seorang lelaki duduk bersila, dan > sebagainya. > > > > Di halaman candi terdapat sepasang arca lembu dalam posisi duduk. Tidak > didapat informasi apakah arca tersebut memang terletak di tempat aslinya > atau sudah dipindahkan dari tempatnya semula. > > > > *C**andi B**arong* > > Candi barong merupakan candi peninggalan agama Hindu yang terletak di Dusun > Candisari, Bokoharjo, Prambanan. Disebut Candi Barong karena terdapat hiasan > kala di relung tubuh candi yang tampak seperti Barong. Keberadaan Candi > Barong yang juga bernama Candi Sari Suragedug disebutkan dalam Prasasti Ratu > Baka (856 M) dalam bahasa Sansekerta dan ditulis menggunakan huruf Jawa > kuno. Dalam prasasti tersebut diceritakan tentang seorang raja bernama Sri > Kumbaja atau Sri Kalasodbhava yang membangun tiga 'lingga', yaitu > Krttiwasalingga dengan pendamping Dewi Sri, Triyarbakalingga dengan > pendamping Dewi Suralaksmi, dan Haralingga dengan pendamping Dewi > Mahalaksmi. Diperkirakan bangunan yang dimaksud adalah Candi Barong. Dalam > Prasasti Pereng (863 M), yang juga ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan > menggunakan huruf Jawa kuno, disebutkan bahwa pada tahun 784 Saka (860 M) > Rakai Walaing Pu Kumbhayoni menganugerahkan sawah dan dua bukit di > Tamwahurang untuk keperluan pemeliharaan bangunan suci Syiwa bernama > Bhadraloka. Para ahli berpendapat bahwa Sri Kumbaja atau Sri Kalasodbhava > adalah Pu Kumbhayani dan bangunan Syiwa yang dimaksud adalah Candi Barong. > > > > Berbeda dengan candi-candi lainnya di Jawa Tengah, Candi Barong merupakan > bangunan punden berundak, yaitu model bangunan suci pada masa prahindu. > Candi ini terdiri atas teras bersusun tiga, makin ke atas main sempit. Luas > teras pertama adalah 90 x 63 m2, sedangkan teras kedua adalah 50 x 50 m2. > Dilihat dari letak tangga naik dari teras ke terasnya, candi Hindu ini > menghadap ke barat. Di pertengahan sisi barat terdapat tangga naik dari > teras pertama ke teras kedua setinggi sekitar 4 m dengan lebar 3 m. > > > > Teras ketiga, yang berukuran 25 x 38 m2, terletak 5 m dari permukaan teras > kedua, dan dapat dicapai melalui tangga selebar 3,2 m. Tangga tersebut > dilengkapi dengan pipi tangga di kiri-kanannya. Di pangkal tangga terdapat > hiasan menyerupai 'ukel' yang sudah tidak jelas bentuknya. Di kiri dan kanan > dinding pipi tangga terdapat hiasan berupa daun kalpataru yang sebagian > sudah rusak. Di puncak tangga terdapat gerbang beratap (gapura paduraksa) > menuju ke pelataran teras ketiga. Di atas ambang gapura terdapat hiasan > Kalamakara. > > > > Dinding teras diberi penguat berupa susunan balok batu andesit yang > diperhalus dengan lapisan batu putih di permukaannya. Dinding teras candi, > dari teras terbawah sampai yang teratas, terlihat polos tanpa hiasan. > Mendekati ujung selatan dinding barat teras ketiga terdapat ceruk yang belum > jelas fungsinya. > > > > Di pelataran teras teratas, yang dianggap sebagai tempat yang tersuci > terdapat dua bangunan berjajar arah utara-selatan, masing-masing mempunyai > luas dasar 8 x 8 m2. Bangunan pertama terletak di ujung selatan, sedangkan > yang kedua terletak di tengah pelataran, tepat berhadapan dengan tangga. Di > ujung utara terdapat reruntuhan bangunan yang belum dipugar. > > > > Kedua bangunan yang ada tidak mempunyai mempunyai pintu masuk ke tubuh > candi, karena tidak terdapat ruangan di dalamnya, walaupun, menurut hasil > penelitian, diperkirakan terdapat rongga dalam tubuh bangunan. Relung-relung > yang ada saat ini dalam keadaan kosong. Arca yang pernah ditempatkan di sana > sudah tak bersisa, walaupun konon pada saat pemugarannya ditemukan 3 arca > dewi dan 4 arca dewa yang berciri Syiwaistik. Pada keempat sisi > masing-masing bangunan hanya terdapat relung tempat menaruh arca. Di atas > ambang relung terdapat hiasan kalamakara lengkap dengan rahang bawah yang > sangat sederhana pahatannya. > > > > Tidak terdapat hiasan relief pada dinding dan kaki bangunan, hanya ada > pahatan berpola dedaunan dan sosok manusia yang sederhana. Atap candi > bersusun dengan puncak runcing. Pelipit atap berpola bunga dan kumuda. > > > http://www.facebook.com/notes/richadiana-kartakusuma/kilas-pintas-bangunan-kuno-candi2-di-jawa-tengah-jilid-satu/434952459474 > > >
