ANAKRONISME PEMIKIRAN TENTANG SEJARAH SUNDA ????
by Richadiana Kartakusuma<http://www.facebook.com/profile.php?id=1537983874>on
Monday, October 18, 2010 at 1:41pm

Patut disayangkan bahwa telah banyak terjadi penyelewengan sejarah maupun
kesalahan dalam menafsirkannya, satu diantaranya yang FATAL adalah NASKAH
Pangeran Wangsakerta yang saat itu berada dibawah tekanan penjajah.
Kesalahan sangat besar akan berakibat fatal ketika anak bangsa salah
memahami sejarah kehidupan negaranya sendiri, patut dipahami bahwa sistem
kodefikasi dalam kata-kata merupakan ciri kearifan lokal bangsa Nusantara.
Perlu hati-hati dalam memaknai ‘situs atau ‘artefak'. Sebagai contoh;
mayoritas anak Indonesia dari tingkat SMP hingga SMA bahkan perguruan tinggi
jika ditanya tentang asal kata ‘Majapahit’ akan menjawab bahwa nama itu
artinya ‘buah maja yang pahit’. Jika benar nama Majapahit itu dari kata buah
maja yang pahit, maka hal tersebut akan menjadi rancu manakala kita harus
menguraikan arti dari nama kata atau nama kota seperti Majalengka, Majalaya,
Majakerta (Mojokerto), dan sebagainya.

   - Majalengka, berasal dari kata ‘Maharaja Alengka’ yaitu masa Prabhu
   Sindhu La Hyang.
   -  Majakerta, berasal dari kata ‘Maharaja Kertanegara’ yaitu masa Prabhu
   Dharmawangsa.
   - Majapahit, berasal dari kata ‘Maharaja Purahita’ yaitu dijaman Raden
   Wijaya.
   - Majalaya, berasal dari kata ‘Maharaja Mundinglaya’ yaitu dijaman Prabhu
   Silihwangi II.

Tatkala menguraikan asal mula kata Sunda, disamping beberapa pendapat serta
kemiripan beberapa kata pada beberapa kebudayaan di luar Nusantara, Sunda
menurut semiotika serta sistem kodefikasi Nusantara mengandung arti :



Sunda merupakan kependekan dari kata Su dan Ananda yang berarti ‘Su’
mengandung arti ‘kebenaran’, ‘A’ mengandung arti ‘tidak’, ‘Nanda’ mengandung
arti ‘bergeming’. Sehingga kata Sunda dapat berarti : Kebenaran yang tidak
bergeming atau Kebenaran yang Kokoh. Sunda sama sekali bukan nama suku
(etnis) yang tinggal di pulau Jawa, melainkan nama atau sebutan bagi wilayah
besar yang meliputi 1/4 dunia, atau sebutan lain dari sebutan Indonesia
sekarang. Batas wilayah Sunda diduga merupakan batas wilayah ajaran dari
Sundayana.



Menurut cerita yang beredar di kalangan para sesepuh Sunda, runtutan Pa-Ra
Buyut dan Rumuhun (Karuhun/Leluhur/Nenek Moyang) perjalanan bangsa Sunda
diawali dari daerah Su-Mata-Ra. Mereka membangun kebudayaan selama
beribu-ribu tahun di kawasan Mandala Hyang (Mandailing) daerah Ba-Ta-Ka-Ra
sampai ke daerah Pa-Da-Hyang (Padang). Pada masa tersebut, para Karuhun
telah memeluk ajaran yang disebut sebagai ‘Su-Ra-Yana’ atau Ajaran Surya.
Hingga satu masa Gunung Batara Guru meletus habis dan meninggalkan sisa
Kaldera yang sekarang menjadi danau yang sangat luas (Danau Toba seluas 100
Km2).



Akibat meletusnya gunung tersebut, diceritakan bahwa dunia tertutup awan
debu selama tiga bulan lamanya. Setelah itu, Mandala Hyang beralih ke Gunung
Sunda, yang sekarang terkenal sebagai Gunung Krakatau (Ka-Ra-Ka-Twa). Pada
saat itu belum dikenal konsep Negara, tapi lebih kepada konsep Wangsa
(bangsa). Wilayah Mandala Hyang pada masa itu dikenal dengan sebutan ‘Buana
Nyungcung’ karena terletak pada kawasan yang tinggi. Sementara Maya Pa-Da
(Jagat Raya) dikenal dengan sebutan Buana Agung/Ageung/Gede dan Buana Alit
(Jagat Alit). Kata buana di jaman yang berbeda mengalami metaformosis kata
menjadi ‘Banua’ atau ‘Benua’.



Puncak Pertala di Buana Nyungcung Gunung Sunda dijadikan Mandala Hyang,
begitu juga dengan gelar Ba-Ta-Ra Guru yang menggantikan petilasan atau
tempat yang sudah menghilang. Pada masa ini kehidupan wangsa menunjukan
kemajuan yang luar biasa. Perkembangan budaya serta aplikasinya mencapai
tahap yang luar biasa. Pada masa itu dicapai berbagai penemuan teknologi
darat dan laut. Kemudian daerah ini terkenal dengan sebutan ‘Buana A-ta’
atau buana yang kokoh dan tidak bergeming. Oleh bangsa luar dikenal dengan
sebutan ‘Atalan’ (mungkin maksudnya Ata-Land). Kemajuan disegala bidang
tersebut terhenti kembali, saat Gunung Sunda meletus (Gunung Ka-Ra-Ka-Twa).
Daratan terbagi menjadi dua (Sumatra dan Jawa).



Semua bukti kemajuan jaman wangsa tersebut hilang, tenggelam tidak bersisa,
yang tersisa hanyalah sebuah bentuk Ajaran Surayana. Persis kejadian di
Batara Guru (Gunung Toba) yang wilayahnya meliputi Pa-Da-Hyang, begtu uga
dengan Batara Guru (Sunda) yang wilayahnya meliputi Pa-Ra-Hyang. Ajaran
tersebut kemudian dilanjutkan oleh Prabu Sindhu (Sang Hyang Tamblegmeneng,
putra Sang Hyang Watugunung Ratu Agung Manikmaya) menjadi Ajaran Sundayana
(Sindu Sandi Sunda) yang kemudian menyebar ke seluruh dunia. Perjalanan
Prabu Sindu di wilayah Jepang membuat ajarannya diberi nama Shinto yang
memuja kepada Sang Hyang Manon (Dewa Matahari atau Na-Ra) bahkan lambang
dari ajaran tersebut kemudian dijadikan Bende-Ra bangsa tersebut.



Setelah itu ajaran tersebut menyebar sampai ke daerah India dan menyisir
sebuah aliran sungai besar yang membelah sebuah lembah yang dikenal sebagai
Lembah Sungai Sindu (orang Barat mengenalnya sebagai Lembah Sungai Hindus),
tepatnya di daerah Jambudwipa. Perkembangan ajaran tersebut sangat luar
biasa sehingga menghasilkan sebuah peradaban tinggi ‘Mohenjodaro dan Harapa’
yang memiliki kemiripan nama dengan Maharaja-Sunda-Ra dan Pa-Ra-Ha/Hu yang
kondisnya persis dengan sebuah tempat di wilayah Parahyangan sekarang ini.



Ajaran Prabu Sindu yang selanjutnya disebut agama Hindu asalnya merupakan
ajaran Surayana-Sundayan ( masih tersisa di daerah Bali sekarang), serta
Ajaran Sunda Wiwitan yang isinya sama menjadikan Matahari serta Alam sebagai
panutan hidup. Perjalanan sejarah kemudian menjadikan ajaran-ajaran tersebut
masuk kedalam klasifikasi Animisme dan Dinamisme. 



Sampai saat ini masyarakat ditatar sunda masih gamang tentang apa agama
Sunda Wiwitan itu. Memang kadang-kadang ada halangan yang terkait dengan
masalah keyakinan, terutama ketika suatu keyakinan tersebut dikatagorikan
pada istilah animisme dan dinamisme, karena dimata bayangnya menunjuk pada
urusan surga dan neraka.



Istilah Sunda Wiwitan memang asyik di “haleuangkeun” dalam lagu-lagu rakyat
atau di “padungdengkeun” dalam seminar-seminar atau saresehan. Tetapi
mencari dan mengetahui kesejatian dari ajaran ini agak sulit dan nyaris tak
diketahui. Mungkin juga masalahnya karena ketertutupan dari para
penganutnya, atau ada semacam eliminasi dari kita yang mengaku kaum
beragama!!!!!!!!!

http://www.facebook.com/notes/richadiana-kartakusuma/anakronisme-pemikiran-tentang-sejarah-sunda-/445657389474

Kirim email ke