Nasib Angklung Indonesia Ditentukan November Ini
SEJUMLAH anak memainkan angklung di hadapan tamu dari luar negeri di Saung
Angklung Udjo Padasuka Kota Bandung, beberapa waktu lalu. Menyusul batik
yang telah diakui UNESCO, kini angklung dinominasikan sebagai salah satu
warisan budaya tak benda ("intangible cultural heritage"/ICH) dari
Indonesia.* DUDI SUGANDI/"PR"
Angklung Indonesia sudah diajukan ke UNESCO untuk dinominasikan sebagai
salah satu warisan budaya tak benda (intangible cultural heritage/ ICH)
Indonesia. Pendaftaran dilakukan pada Agustus 2009 oleh pemerintah Indonesia
melalui Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Koordinator Bidang
Kesejahteraan Sosial, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, serta KBRI
Paris.
Deputi Delegasi Permanen RI untuk UNESCO Patrick Hasjim menyampaikan hal itu
di tengah-tengah pergelaran keliling Tim Kesenian ke Eropa, Selasa (19/10).
Pada kesempatan itu, tim kesenian Unpad sudah mulai pentas di Conservatoire
Arthur Henegger, Le Lavre, kota yang berada sekitar 200 kilometer dari
Paris.
Patrick mengatakan, pada tahap ini Indonesia menunggu hasil proses
verifikasi yang dilakukan oleh UNESCO melalui subsidiary body-nya.
Verifikasi ini diperlukan untuk membuktikan apakah angklung dan musiknya
benar-benar memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia
pada umumnya dan di Banten serta Jawa Barat secara khusus.
Selain itu, harus dibuktikan bahwa masuknya angklung menjadi ICH dapat
meningkatkan kepedulian masyarakat akan budaya tak benda. Namun, yang
terpenting dari semua itu, menurut Patrick, berbagai upaya penjagaan dan
pelestarian budaya angklung dapat terus dilakukan oleh selain para pengguna
angklung, tetapi juga masyarakat serta pemerintah Indonesia.
Menurut rencana, hasil keputusan UNESCO akan diumumkan di Nairobi, Kenya
pada saat berlangsungnya pertemuan ke-6 Komite Antarpemerintah
(Inter-Governmental Committee/IGC) berkaitan warisan budaya tak benda (ICH)
pada 15-19 November 2010. Jika nominasi Angklung Indonesia diterima, warisan
budaya tak benda Indonesia akan bertambah banyak, mengikuti wayang golek,
keris, dan batik. "Jadi mari kita tunggu saja, semoga upaya yang sudah kita
lakukan untuk angklung bisa mendapat pengakuan dari UNESCO," ujarnya.
Memikat
Sementara itu, dari panggung pertunjukan tim kesenian Unpad di Gedung
Conservatoire Arthur Henegger membuktikan untuk kesekian kalinya, masyarakat
dunia khususnya Prancis sangat terpikat dengan angklung Indonesia. Pada
pementasan yang dimulai pukul 19.00 waktu setempat, hampir semua tempat
duduk yang tersedia terisi penuh.
Pada pergelaran pertama, panggung dibuka dengan persembahan tari ponggawa
yang dibawakan dengan gagah oleh lima penari. Pentas berlanjut dengan
suguhan tari blantek dan pertunjukan wayang golek yang mengusung tema
tentang lingkungan hidup.
Perhatian penonton semakin tersedot manakala tim kesenian Unpad menyuguhkan
arumba dan rampak kendang. Pada saat persembahan arumba itulah, semua
penonton terlibat langsung memainkan angklung dengan dipandau oleh Nadya.
Sama halnya di Consevatoire De Anthony di Paris, dua sesi ini memang selalu
memikat pengunjung.
Selain mereka bangga bisa menikmati lagu-lagu populer seperti "You Rise me
Up", "La Rose", dan "My Way", penonton juga diajak untuk bermain angklung
bersama. Tak ayal, suasana gedung pun menjadi meriah. "Ini sangat
menakjubkan! Bamboo can make a beautiful music," ujar Pamella, warga Le
Harve yang hadir malam itu.
Tidak cuma itu, banyak juga penonton yang ingin mengetahui Indonesia lebih
jauh. "I`ll get to Indonesia. I want to know how to make angklung and
everything about tradisional music from Sunda," ujar Michaell yang mengaku
sebagai mahasiswa jurusan seni musik di konservatori tersebut.
Kuasa Usaha RI untuk Paris Maruli Tua Sagala mengatakan, tujuan pementasan
hanya menyuguhkan kesenian berasal dari Jawa Barat (Sunda), memang untuk
mengajak penonton fokus pada seni yang disuguhkan. Hal itu tiada lain, agar
membuka peluang hubungan lebih dekat antara masyarakat Paris dan Jawa Barat.
Baik hubungan seni, budaya, pendidikan, maupun ekonomi.
Maruli mengatakan, Indonesia bukan negara Islam, tetapi masyarakatnya
sebagian besar beragama Islam. Kendati begitu, Indonesia juga negara yang
mengusung nilai-nilai demokrasi. "Adanya berbagai kesenian yang tumbuh dan
berkembang di Indonesia seperti yang dipertunjukan secara keliling saat ini,
merupakan satu di antara banyak ekspresi berdemokrasi di Indonesia,"
ujarnya. (Eriyanti/"PR")***
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=162066