NEGERI ini sedang berduka, lantaran setiap tahun selalu terjadi bencana alam. 
Bencana alam paling parah terjadi pada musim hujan. Tidak di kota besar tidak 
di daerah, selalu terjadi musibah alam karena hujan tiada henti. Namun, 
tiadalah bijaksana bila musibah banjir bandang, longsor, dan sebagainya, 
ditimpakan kepada hujan. Bukankah orang bilang kalau hujan itu adalah rahmat 
Tuhan?

Tak pelak lagi, musibah alam yang selalu datang silih berganti, dikarenakan 
ulah manusia yang tidak tepat memelihara alam. Musibah banjir bandang yang 
baru-baru ini melanda wilayah di Papua misalnya, kendati staf presiden 
menyebutnya sebagai perilaku alam yaitu hujan yang terus-menerus, tetapi tak 
pelak juga disubsidi kesalahan manusia karena penebangan hutan yang dilakukan 
dengan semena-mena.

Dalam penghormatan umat manusia terhadap keberadaan alam, saya malah memuji 
kepada leluhur Sunda. Mereka tidak gemar mengadakan seminar yang menghabiskan 
banyak dana, tetapi langsung rasjig (direalisasikan, dikerjakan seketika), dan 
mereka secara konsekuen merawat alam. Kesadaran manusia Sunda masa lampau 
tentang pentingnya memelihara alam, terlihat dari kegiatan mereka yang 
dinamakan ngertakeun bumi lamba. Ya, sebenarnya untuk manusia masa kini, 
istilah itu sudah sangat dikenal dengan sebutan melestarikan lingkungan/alam. 
Namun, ya itulah yang membedakannya. Ngertakeun bumi lamba telah menjadi bagian 
dari sikap hidup urang Sunda zaman dulu, sementara seminar hanya ramai di 
ruangan itu saja, selebihnya semua kembali lupa.

Silakan simak gaya pemerintahan Prabu Nila Wastu Kancana, raja Galuh Kawali 
(1371-1475). Selama hampir 104 tahun memerintah, di negeri Sunda tidak pernah 
terjadi banjir (apalagi banjir bandang), longsor, tanah tenggelam, kekurangan 
air atau pertanian gagal panen. Kehidupan alam bisa terkendali, karena Sang 
Prabu menerapkan tiga pembakti. Manusa babakti ka leuweung, leuweung babakti ka 
sato, sato babakti ka manusa (manusia berbakti kepada hutan/alam, hutan/alam 
berbakti kepada binatang, dan binatang berbakti kepada manusia), terjadilah 
tiga pasang pengabdian dalam memelihara kehidupan.

Pada zaman Prabu Jantaka (1622-1653), penguasa Kerajaan Denuh melakukan hukuman 
mati bagi siapa pun yang merusak hutan tanpa kecuali.

Lalu di zaman Kerajaan Arcamanik (wilayah Bandung Utara), Prabu Suryadiraksa 
Panangkaran (1579-1837), menerapkan hukum penggal kepala bagi siapa pun yang 
berani menggunakan cai kalahat bumi (minyak bumi). Menurut catatan tradisional, 
di tanah Sunda kala itu sudah dikenal energi minyak bumi (cai kalahat bumi), 
tetapi penguasa melarangnya. Alasannya, bila energi bumi digunakan, akan lebih 
banyak maslahatnya ketimbang manfaatnya. Bila butuh penerangan untuk cahaya 
pelita, mereka menggunakan energi nabati seperti biji jarak atau dari minyak 
hewani seperti lemak gajih. Itulah bagian dari penerapan ngertakeun bumi lamba, 
yaitu memanfaatkan alam dan isinya hanya dilakukan bila manusia sanggup 
membangun kelangsungan hidup kekayaan alam itu sendiri.

Saya juga amat terkesan ketika membaca buku perihal tradisi tahunan, biasa 
dilakukan masyarakat Pajajaran yang disebut upacara kuwerabakti. Ini adalah 
kegiatan tahunan yang digelar masyarakat dalam memberikan bakti kepada negara. 
Pada saat upacara kuwerabakti, rakyat berbondong-bondong menyerahkan sebagian 
hasil bumi kepada negara yang mereka sebut sebagai seba. Rakyat membayar seba 
pertanian/peternakan/perikanan tanpa mengeluh, karena diberikan sesuai dengan 
keuntungan yang diperoleh. Setiap tahun rakyat sukses dalam mengolah 
pertanian/peternakan/perikanan, lantaran memegang teguh perilaku dalam menjaga 
kelestarian alam. Itulah yang dinamakan ngertakeun bumi lamba.

Sikap pemeliharaan terhadap alam agar alam pun memelihara kita, masih tercermin 
dari masyarakat pedalaman di tanah Sunda. Semisal di tanah Baduy, kendati 
mereka sudah dapat informasi untuk menunjang kehidupan bercocok-tanam dikenal 
pupuk buatan, mereka tetap menggunakan pupuk tradisional. Tidak ada saprotan 
yang bisa membunuh serangga dan makhluk alam lainnya, karena semuanya 
dikembalikan kepada kodrat alami. Bukankah dengan alat tiup seperti taloet atau 
karinding, orang Baduy bisa mengusir hama tanaman? Masyarakat pesisir di Muara 
Sukawayana Palabuanratu atau di Cikelet, Garut Selatan, sudah melakukan tradisi 
nyalawean, yaitu berburu ikan setiap tanggal 25. Tatkala ikan dari laut menuju 
hulu sungai untuk bertelur, barulah masyarakat berani menangkapnya. Upacara 
marak di Tasik Selatan juga kerap dilakukan. Mereka hanya boleh mengeringkan 
danau setahun sekali dan tidak boleh menggunakan racun atau setrum.

Dulu juga di ibu kota Pakuan Pajajaran, setahun sekali pada upacara 
kuwerabakti, diadakan acara munday, yaitu mengeringkan leuwi (lubuk) 
Sipatahunan, berbagai ikan dengan ukuran besar diperoleh tanpa mengganggu 
kesinambungan regenerasi ikan-ikan itu.

Ngertakeun bumi lamba, hanya dilakukan orang yang kita sebut sebagai manusia 
primitif tetapi mereka amat bijaksana dalam memperlakukan alam.***

Aan Merdeka Permana, pengamat folklor, tinggal di Bandung. 
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=161972



------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke