JEMPOL !!!! 2010/11/4 mh <[email protected]>
> > > Membunyikan Prasasti Cikapundung > > WAKIL Wali Kota Bandung Ayi Vivavanda didampingi Oong Rusmana warga yang > menemukan batu prasasti bertulis saat peninjauan di RT 07 RW 07 Kel. > Tamansari, Kec. Bandung Wetan, Jumat (8/10). Prasasti ini masih dalam > penelitian Direktorat Peninggalan Purbakala serta Kementerian Kebudayaan dan > Pariwisata.* ANDRI GURNITA/"PR" > > Prasasti sebagai salah satu tinggalan karuhun orang Sunda masa lampau, > bisa dijadikan sebagai ciri utama adanya perubahan dalam kehidupan budaya > orang Sunda, dari kebudayaan prasejarah kepada kebudayaan sejarah > (bandingkan Ekadjati, 2006). > > Tulisan prasasti terdiri atas rangkaian aksara. Aksara itu sendiri > merupakan lambang suara, terutama suara yang dikeluarkan atau yang dipakai > dan digunakan oleh manusia. Dengan adanya prasasti, tampak bahwa aksara, > menulis, dan membaca sudah menjadi pengetahuan dan kegiatan baru dalam > kehidupan sehari-hari orang Sunda pada masa itu di Tatar Sunda. > > Prasasti merupakan tulisan yang dipahat di atas batu atau lembaran logam. > Cara menulisnya dengan teknis ditatah umumnya alatnya terbuat dari besi, > sedangkan alat pemukulnya menggunakan batu atau berupa lempengan besi. > Hasilnya akan berupa rangkaian aksara yang tampak legok dan menjorok ke > dalam di atas batu tersebut berbahasa singkat. > > Prasasti yang dalam bahasa asing disebut glory, laudation, direction, atau > guidance merupakan pujian, sanjungan, keagungan, petunjuk, pedoman atau doa > yang menyatakan suatu permohonan (keinginan untuk kedamaian dalam kerajaan; > atau inskripsi dalam bahasa yang indah (berirama). Ahli prasasti itu sendiri > biasa disebut epigraf, sedangkan ilmunya disebut epigrafi. Ada perbedaan > antara epigrafi dengan paleografi. Epigrafi merupakan aksara kuno > mendasarkan pada bahan-bahan tertulis (teks), sedangkan paleografi adalah > penyelidikan aksara didasarkan kepada bentuk dan perkembangan aksara itu > sendiri. > > Sesuai dengan fungsinya, prasasti berusaha merekonstruksi sejarah sunda > kuno. Adapun bahannya ada yang terbuat dari tamra (tembaga), ripta (daun > tal), dan upala (batu). Isinya beragam, di antaranya ada yang berupa: surat > kepada raja, memperingati peresmian bangunan suci/arca, peringatan > kemenangan raja dalam menaklukkan daerah, ketetapan hukum/keputusan > pengadilan, tulisan lain, berupa mantra magis dalam upacara. > > Prasasti ada juga yang berfungsi sebagai legitimasi. Raja-raja yang membuat > silsilah biasanya yang tidak berhak atas takhta kerajaan. Prasasti meliputi: > baris awal berupa penanggalan. Ada yang disebut pancawarna yakni pasaran, > wugu yaitu kedudukan terhadap matahari. Cara penulisannya ada yang dari atas > ke bawah, berputar dari sisi pertama sampai keempat, ada juga yang berputar > dari bawah pada dua sisi. Pada prasasti ada sambada, yang meliputi perintah > raja, biasanya berupa nama raja atau pejabat, pejabat yang menerima > perintah, isi perintah raja, alasan, keterangan, nama penulis > (citraleka/patralekha), dan persembahan. > > Berkaitan dengan penemuan batu yang ditengarai sebagai `prasasti` yang > berada dekat rumah Pak Oong, aksara yang terpahat pada batu itu tampak > jelas, meliputi dua baris tulisan. Baris pertama ditengarai terdiri atas > enam aksara, sedangkan baris kedua ditengarai sembilan aksara. Menurut > pembaca pertama (Nandang Rusnandar), teks itu berbunyi "unggal jagat/ jalma > hdap" yang diterjemahkan, setiap manusia di bumi ini akan melakukan sesuatu. > > > Andai menyimak dan memperhatikan teks yang tertera pada batu itu secara > saksama, pembacaan dan pembunyian serta penerjemahan atas teks tersebut > `terlalu dini` sebagaimana dikatakan Undang A. Darsa (filolog Unpad) dalam > acara urun rembuk, juga terlalu berani menurut penulis, meskipun itu sah-sah > saja. Mengapa terlalu dini dan berani? Karena baik Dr. Hasan Djapar (Dosen > Jurusan Arkeologi FIB UI) maupun Dr. Titi Surti Nastiti (Koordinator > Peneliti Puslit Arkenas) yang datang ke lokasi didampingi Kepala Balai > Arkeologi Bandung, mereka hanya berkomentar tentang jenis tulisan dan cara > memahatnya yang `kaku`, tidak luwes, serta seperti asal-asalan, dalam > pengertian bahwa tulisan tersebut bukan dibuat oleh citraleka/patraleka yang > ahli. > > Arkeolog sekahot Hasan pun sangat hati-hati untuk berkomentar. Bukan karena > mereka tidak bisa `membaca`, tetapi mereka tidak mau berspekulasi dan > gegabah sebelum menelitinya lebih jauh. > > Dari dua baris aksara yang tertuang di atas batu tersebut hanya beberapa > aksara yang `terbaca`, serta ada dua aksara yang mirip. Aksara yang kami > tengarai sebagai aksara `ha` dalam foto, setelah dibuktikan ke lokasi > ternyata bukan, karena aksaranya terpisah. Demikian juga dengan aksara yang > ditengarai `ga`, ada perbedaan, karena aksara dalam teks prasasti itu, di > bagian `bawahnya` seperti `memakai sepatu`. > > Aksara yang telah dibaca `ung`, tampaknya seperti `ong` sebagaimana terbaca > pada prasasti lainnya. Ada lagi yang sama, seperti aksara `sa` dalam > prasasti lain, pada `prasasti Cikapundung` ada tambahan lengkung di akhir > tulisannya. Apakah aksara itu harus dibaca `sa` juga? Selebihnya, aksaranya > belum `terbaca` dan belum bisa `dibunyikan` secara keseluruhan. Dengan > demikian, isi dan makna yang terkandung di dalamnya pun belum terkuak. > > Pembacaan dan penelusuran teks salah satu prasasti harus dibaca dan > ditelusuri dari berbagai aspek, baik melalui intern evidentie maupun ekstern > evidentie. Banyak aspek penunjang lainnya yang harus dipertimbangkan, > seperti teraan goresan telapak kaki yang berada di sebelah kiri tulisan > serta telapak tangan yang berada di sebelah kanannya. > > Gambar tengkorak yang diapit dengan garis kiri dan kanan pun perlu > dipertimbangkan. Apakah goresan yang tampak `tidak serupa` dengan gambar > telapak kaki (gambar telapak kaki lebih dalam, dibandingkan gambar telapak > tangan dan gambar tengkorak) itu sezaman? Ini penting dalam upaya menelusri > apa isi dan makna teks itu? Untuk kepentingan apa prasasti itu dibuat? > Berfungsi sebagai apa? Apa pesan yang ingin disampaikannya? Semua aspek itu > akan mengarah kepada waktu penulisan prasasti dimaksud, kapan, zaman > kerajaan, dan pemerintahan siapa prasasti itu dibuat? Cerita lisan (folklor) > pun bisa membantu dalam penelusuran dan pembacaan teks. Namun sayang sekali, > penduduk yang masih hidup di sekitar `batu` itu kebanyakan warga pendatang. > Jadi, tampaknya agak sulit untuk menelusurinya. > > Apa pun yang telah dilakukan oleh peneliti dan pakar berkaitan dengan > prasasti itu, patut kita apresiasi dan kita hargai. Mereka telah > menyumbangkan ilmu dan kemampuannya untuk mengungkap aksara yang tertulis di > atas `batu` tersebut, sebagai `jati diri` dan kareueus `kebanggaan` orang > Sunda yang senantiasa harus kita raksa, riksa, tur mumulé agar tetap eksis, > dan dipikawanoh `dikenal` oleh generasi muda Sunda masa kini. Semoga para > ahli mampu membunyikan Prasasti `Cikapundung dimaksud dengan segara. Semoga! > (Elis Suryani NS, Dosen, Filolog, dan Peneliti Budaya Unpad)*** > > http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=162867 > > -- ................. 8-| 8| B-| B|
