Lebih Dekat dengan "Mbah Rono"
Minggu, 7 November 2010 | 09:09 WIB

Oleh: *Doty Damayanti & Mohamad Final Daeng*

Wajah lelah kurang tidur dari pria berkumis dan berkacamata dengan rambut
agak kribo itu akrab bagi pemirsa televisi. Kalimat yang dia ucapkan tidak
pernah bombastis meski itu menyangkut bencana letusan Gunung Merapi—gunung
teraktif di Indonesia—yang sejak 26 Oktober lalu letusannya kian mengancam
jiwa mereka yang berdiam di sekitar Merapi.

Bergulat dengan perilaku gunung api sejak tahun 1982, tugas yang diemban
Surono meliputi tiga aras: riset pengetahuan, publikasi, dan keselamatan
warga. Tiga kepentingan yang sering kali memunculkan dilema.

Lulusan jurusan Fisika ini terpanggil menekuni kegunungapian setelah
pengalamannya membawa seorang periset Amerika Serikat ke Gunung Galunggung,
Provinsi Jawa Barat, tahun 1982, sementara Gunung Kelud memberikan pelajaran
baru tentang berubahnya perilaku sebuah gunung api. Kelud yang dikenal
ledakannya yang eksplosif (meletus dengan kekuatan besar) menjadi efusif
(materi piroklastik tidak dilontarkan ke udara, tetapi meleleh, mengalir di
punggung gunung).

Tugasnya mengawal Gunung Merapi kali ini entah kapan berakhir. Tak seorang
pun tahu. Namun, Surono pasti akan tetap setia untuk menerapkan prinsipnya:
toleransi nol demi keselamatan jiwa manusia (*zero tolerance for a safe life
*).

Di bawah merupakan rangkuman wawancara *Kompas* di berbagai kesempatan,
termasuk di sela-sela kesibukannya melihat pemasangan alat seismik di
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu (6/11/2010).

*Ambil alih komando
*
Sejak Merapi berstatus Awas pada 25 Oktober lalu, Surono, sebagai Kepala
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral, mengambil alih komando pemantauan dan
mitigasi bencana yang sebelumnya dipegang Balai Penyelidikan dan
Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta.

Sejak saat itu seluruh data pemantauan instrumental dan visual Merapi
diolah, diserap, dan dianalisisnya untuk mengambil keputusan-keputusan
penting, khususnya terkait dengan keamanan warga di sekitar Merapi—ini
terkait dengan penentuan radius bahaya primer Merapi.

Tugas yang diembannya amat berat mengingat faktor-faktor: tingkat kesulitan
yang tinggi dalam memprediksi perilaku suatu gunung api, keselamatan jiwa
warga yang dipertaruhkan, serta dampak-dampak sosial, ekonomi, dan
psikologis dari sebuah keputusan. Di ranah itulah posisi Surono berada.
Selalu menghadapi dilema dari waktu ke waktu. Hasil analisis dan
keputusannya diteruskan sebagai rekomendasi kepada pemerintah daerah
sekeliling Merapi dan pihak-pihak terkait lainnya.

Rekomendasi itu menjadi patokan bertindak, khususnya dalam upaya mitigasi
dengan mengevakuasi warga. Maka, Surono pun sering dipanggil dengan sebutan
Mbah Rono, mengacu pada panggilan *kuncen* gunung—yang perannya dekat dengan
warga.

Salah satu saat paling krusial adalah saat dia menaikkan status Merapi dari
Siaga (level III) menjadi Awas (level tertinggi), pada 25 Oktober. Status
Awas mengandung konsekuensi: pemerintah harus mengungsikan puluhan ribu
penduduk dari ”zona merah”—saat itu radiusnya 10 kilometer dari puncak.

”Jika jarak waktu antara status Awas dan letusan terlalu pendek, pemerintah
daerah tidak akan punya cukup waktu mengevakuasi warga. Namun, jika jaraknya
terlalu lama, akan menimbulkan masalah sosial besar karena warga akan
terlalu lama di pengungsian,” ujarnya suatu waktu.

Dengan segala pengalaman, pengetahuan, dan teknologi terbatas untuk memahami
gunung berapi, Surono harus mengambil keputusan dalam kondisi genting. Benar
saja, 35 jam setelah ditetapkan berstatus Awas, Merapi meletus pertama kali
pada 26 Oktober pukul 17.02.

Meski puluhan ribu jiwa terselamatkan, Surono tetap merasa gagal karena
masih terdapat 32 korban jiwa, termasuk juru kunci Merapi, Mbah Maridjan.
”Saya merasa gagal karena ternyata tidak bisa dipercaya oleh mereka yang
masih bertahan di zona bahaya,” ujar Surono.

Letusan 26 Oktober itu bukan babak akhir drama Merapi tahun ini. Rentetan
letusan hingga Jumat (5/11/2010) terus terjadi—letusan pada 3 November dan 5
November berskala lebih dahsyat dibandingkan dengan letusan 26 Oktober.
Keputusan-keputusan krusial terus menghadang dari waktu ke waktu.

Bahkan sempat keputusan memperluas radius berbahaya menjadi berbeda dengan
pemerintah setempat. Radius bahaya terus meluas dari 10 km menjadi15 km (3
November) dan menjadi 20 km pada 5 November. Tugas Surono masih panjang
karena tidak ada yang tahu kapan gejolak Merapi akan berhenti. Tak ada yang
bisa menjamin klimaks letusan telah tercapai.

Tugas Surono semakin berat dan memusingkan karena kali ini Merapi keluar
dari tabiat khasnya yang ”kalem” dan tidak meledak-ledak. Meski sudah ada
persiapan sejak tahun 2007, setelah Merapi meletus 2006, tak seorang pun
mengira letusan kali ini bakal sedemikian besar.

”Tadinya kami mengira masyarakat kita sudah cukup terdidik untuk menghadapi
bahaya letusan Merapi. Masyarakat masih terus mengacu pada pengalaman
letusan-letusan sebelumnya. Padahal, generasi yang mengalami letusan tahun
1930 tinggal sedikit, sementara letusan tahun 1994 dan 2006 sifatnya hanya
sektoral dan kecil. Kita perlu belajar bahwa ternyata Merapi berubah,” tutur
Surono.

*Ingatan empiris
*
Dia menjelaskan, karena acuan yang ada hanya ingatan empiris, pada waktu
Awas masyarakat tidak melihat api diam, juga tidak terbiasa dengan status
Awas yang demikian pendek. Rupanya kekagetan melihat perilaku Merapi yang
berubah juga dialami ilmuwannya. Sejak tanggal 23 Oktober, energi Merapi
meningkat langsung menjadi tiga kali lipat daripada letusan 1997, 2001,
ataupun 2006.

”Sewaktu kita mau menaikkan ke status Awas, proses pengambilan keputusannya
jadi krusial karena hanya sejam,” katanya.

”Tidak ada pengetahuan yang bisa mengontrol kemauan alam, termasuk mengatur
Merapi. Yang tahu maunya Merapi, ya cuma Merapi sendiri. Saya hanya membaca
dan menyampaikan pesan-pesannya,” ujarnya.

Dia kini sering menambahkan, ”Mari kita berdoa, berharap yang terbaik yang
terjadi, semoga kondisi tidak semakin parah.”

Sebagai upaya mitigasi, tidak perlu semua gunung api ditambah alat pemantau.
”Selektif saja, di daerah bahaya yang dekat dengan tempat wisata. *City
volcano*, seperti Merapi ini, perlu ditambah peralatan pemantaunya, makanya
kita datangkan dari Sinabung. Dari empat stasiun pemantau di Merapi, tinggal
Plawangan yang menyala, tiga yang lain mati, tidak kuat terkena erupsi.
Sekarang sedang kita tambah dengan memasang alat pemantau di UGM, Museum
Merapi, dan Imogiri,” tuturnya.

Dia menegaskan, data dari pos-pos gunung api adalah lini pertahanan
terdepan, lini kedua ada di kantor pusat vulkanologi di Bandung. ”Sistem
peringatan dini yang kita pasang harus disertai riset tentang karakter
setiap gunung api,” lanjutnya.

Sebagai negeri di daerah cincin api dengan 129 gunung api, negeri ini kaya
akan ilmuwan. ”Ahli kita banyak sebenarnya, banyak yang dilamar oleh lembaga
riset luar negeri. Riset itu penting, tetapi tetap harus berguna, harus bisa
dipakai untuk mitigasi, *what next*, jangan sampai riset itu kesimpulannya
masih kurang data dan perlu riset lanjutan,” tegasnya.

Teknologi yang dimiliki Indonesia sebenarnya telah mencukupi. Dia tak rela
jika Indonesia menjadi laboratorium dunia. ”Orang luar mencoba alat, lalu
kalau bagus dijual ke kita. Ketika Badan Geologi AS (USGS) menawari
Indonesia masuk dalam pemantauan 1.000 gunung api, saya tanya ke staf saya,
’Bisa tidak kamu belajar di sana lalu kamu curi ilmunya’.”

”Target kita, tahun 2011 sudah harus mandiri dalam teknologi. Tahun ini peta
kawasan rawan bencana gunung api tipe A sudah harus selesai agar pemerintah
daerah bisa segera menyesuaikan dengan penyusunan tata ruang,”
ungkapnya. *(Brigitta
Isworo Laksmi)*


*Lahir*
Cilacap, Jawa Tengah, 8 Juli 1955
*Istri*
Sri Surahmi (46)
*Anak*
1.       Amy Rahmawati (28)
2.       Bestri Aprilia (21)
*Pendidikan*
S-1 Institut Teknologi Bandung, Jurusan Fisika (1982)
S-2 dan S-3 Universite Joseph Furier, Gronable, Perancis, Programe
Mechanique Mileux Geophysique et Enveronment (1986-1992)
*Pekerjaan*
-          Bekerja di lingkungan PVMBG (dulu Direktorat Vulkanologi),
Departemen ESDM sejak 1982
-          Kepala Subdirektorat Mitigasi, Bencana Geologi (2003)
-          Kepala PVMBG (2006-sekarang)

*Dapatkan artikel ini di URL:*
http://www.kompas.com/read/xml/2010/11/07/09094248/Lebih.Dekat.dengan.Mbah.Rono

Kirim email ke