Mereka Pahlawan Sesungguhnya

SOEBARNA (84) terlihat sedih saat mengingat peristiwa pertempuran heroik
Bojongkokosan, 9 Desember 1945 lalu. Kesedihan bercampur haru saat mengingat
teman seperjuangannya yang sebagian besar telah wafat.

Walau daya ingatnya melemah, untuk perjuangannya melawanan pasukan sekutu di
Sukabumi ingatannya seolah masih segar. Mungkin karena peristiwa itu menjadi
hal paling luar biasa selama perjalanan hidupnya. Dengan bersemangat,
Soebarna berusaha mengingat-ingat peristiwa yang tercatat sebagai perang
besar di dunia itu. "Walau sudah tua, kenangan pertempuran Bojongkokosan
masih saya ingat. Terutama saat kami melakukan penghadangan di atas tebing
Bojongkokosan," kata Soebarna kepada "PR", Senin (8/11).

Pertempuran yang berlangsung tengah hari itu, kata Soebarna, merupakan
kontak senjata kedua setelah pertempuran di Surabaya sebulan sebelumnya,
atau pada 10 November 1945. Selain sebagai rangkaian perang di Surabaya,
pertempuran Bojongkokosan juga terkait peristiwa Bandung Lautan Api (BLA).
Pada peristiwa itu, para pejuang membakari rumah-rumah dan fasilitas di
Bandung selatan untuk memperlambat laju pasukan sekutu yang diboncengi
pasukan Belanda (NICA).

"Pertempuran terjadi setelah TKR dan rakyat melakukan penghadangan. Kami
tidak rela tanah air ini kembali dinjak-injak Belanda. Setelah peristiwa
Bojongkosan, terjadilah pertempuran serupa di Bandung yang kemudian dikenal
peristiwa Bandung Lautan Api," katanya.

**

Walaupun pertempuran Bojongkosan tidak kalah heroik dengan pertempuran di
Surabaya dan Bandung, kata mantan Ketua Dewan Harian Cabang Legium Veteran
Republik Indonesia Sukabumi itu, peristiwa tersebut telah dilupakan banyak
orang. Pelajar atau generasi muda pun sama sekali tidak mengetahui betapa
heroiknya aksi para pejuang dan rakyat Cianjur-Sukabumi pada peristiwa
Bojongkokosan.

"Kami memang tidak memusuhi tentara Inggris. Hanya masalahnya, dalam pasukan
sekutu itu terdapat tentara NICA Belanda. Ini yang kami lawan. Para pejuang
dan rakyat tidak mau akal licik Belanda yang membonceng pasukan sekutu,
datang untuk menjajah kembali Indonesia," tutur Soebarna.

Veteran itu sangat menyesalkan bahwa hingga saat ini pertempuran
Bojongkokosan belum dicatatkan dalam sejarah nasional. Peristiwa itu pun
tidak pernah diajarkan di sekolah-sekolah secara nasional. Kesannya
peristiwa itu hanya sebagai pertempuran lokal. Padahal, sekutu sendiri
mencatat peristiwa Bojongkokosan sebagai salah satu pertempuran paling
heroik dalam sejarah Perang Dunia. "Sedih sekali bila orang telah melupakan
persitiwa besar itu," tuturnya.

Peristiwa itu harusnya menjadi kebanggaan, tak hanya bagi rakyat Cianjur dan
Sukabumi, tetapi juga bagi rakyat Indonesia secara keseluruhan. Meski
begitu, Soebarna sangat menyesal dengan kurangnya perhatian pemerintah
terhadap peristiwa itu, termasuk perhatian kepada para pejuang yang gugur
dengan gagah berani.

Banyak pejuang yang terlibat langsung dalam peristiwa itu kini kondisi
ekonominya memprihatinkan. Bahkan beberapa di antaranya tidak memperoleh
pensiun hingga akhir hayatnya.

"Masih banyak pelaku dan veteran yang hidupnya memprihatinkan. Padahal
mereka telah rela mengorbankan nyawa dan darahnya demi bangsa ini. Namun,
perhatian dari pemerintah tidak memadai. Bagaimana pun, mereka adalah
pahlawan sesungguhnya," ujarnya. (Ahmad Rayadie/"PR")***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=163610

Kirim email ke