Ralat:
Bojobgkokokosan ==> Bojongkokosan

2010/11/11 mh <[email protected]>

>
> Peristiwa Bojongkokosan
> Perang Besar yang Terlupakan
>
> PERTEMPURAN heroik Bojongkokosan seperti ada dan tiada. Padahal pertempuran
> di sepanjang lintasan Bogor-Sukabumi itu, tidak kalah hebat dengan
> pertempuran di Surabaya, 10 November 1945 yang selalu diperingati sebagai
> Hari Pahlawan.
>
> Oleh karena itu, tidak heran bila sesepuh Tentara Siliwangi sempat
> menumpahkan rasa sesal. Peristiwa Bojongkokosan yang berlangsung 9 Desember
> 1945 belum dicatatkan dalam sejarah nasional. Padahal, perang itu sejajar
> dengan peristiwa 10 November di Surabaya.
>
> Saat memperingati pertempuran Bojongkokosan tiga tahun lalu, almarhum
> Brigadir Jendral (Purn.) H. Herman Sarens Soediro sempat kecewa. Peristiwa
> itu kurang direspons Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun Pemerintah
> Kabupaten dan Kota Sukabumi.
>
> Ketika itu, Herman selaku Ketua Dewan Pembina Forum Komunikasi Keluarga
> Besar Siliwangi hanya terpaku saat memperingati detik-detik peritiwa
> Bojongkokosan di halaman Tugu Juang Siliwangi, Desa Bojongkokosan, Kecamatan
> Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Hanya sekitar puluhan veteran berusia sepuh
> yang hadir. Padahal jauh-jauh hari, mereka melayangkan undangan ke sejumlah
> instansi pemerintahan untuk peringatan pertempuran heroik itu.
>
> "Kualat bila generasi muda melupakan pertempuran Bojongkokosan. Dalam
> peritiwa itu, puluhan pejuang dan ratusan rakyat mengorbankan jiwa raga
> untuk mempertahankan negara. Di tanah ini ada sejarah yang tidak bisa
> dilupakan," kata almarhum Herman Sarens kepada "PR" dua tahun lalu.
>
> Rasa sesal pejuang dan eksponen 45 tidaklah berlebihan. Peristiwa itu
> dilupakan banyak orang. Padahal sudah ditetapkan sebagai Hari Juang
> Siliwangi. Peristiwa itu ada rangkaian dengan Bandung Lautan Api, 24 Maret
> 1946.
>
> Hingga sekarang, dalam sejarah nasional maupun mata pelajaran muatan lokal,
> peristiwa Bojongkokosan sama sekali tidak tertulis. Padahal itu merupakan
> insiden peperangan kedua setelah pertempuran 10 November di Surabaya .
>
> Pada persitiwa itu, 73 pejuang gugur. Selama dua jam, para pehlawan gagah
> berani itu menyergap konvoi militer Inggris yang dikawal beberapa tank jenis
> Stuart. Konvoi dihadang pasukan Tentara Keamanan Rakyat dan rakyat Sukabumi.
> Tercatat, 50 orang pasukan sekutu (Inggris) meregang nyawa, 100 lainnya
> terluka, dan 30 tentara hilang.
>
> Tidak hanya merengut nyawa pejuang, perang Bojongkokosan juga menewaskan
> dan melukai ratusan rakyat sipil. Ratusan rumah hancur setelah Angkatan
> Udara Inggris (Royal Air Force) melakukan serangan balasan. Sekutu mengebom
> beberapa desa di Kompa, Parungkuda, dan Cibadak hingga luluhlantak dan rata
> dengan tanah.
>
> **
>
> Peristiwa heroik itu berawal dari berita yang diterima para pejuang
> Sukabumi di Pos Cigombong. Ada serombongan truk konvoi sekutu menuju
> Sukabumi. Mendengar berita itu, Kompi III pimpinan Kapten Murad dan laskar
> rakyat Sukabumi segera menduduki tempat pertahanan di pinggir (tebing) utara
> dan selatan jalan di Bojongkokosan.
>
> Barisan pejuang yang terlibat dalam peristiwa Bojongkokosan diperkuat
> senjata rampasan dari tentara Jepang. Selain penghadangan laju kendaraan
> pasukan Sekutu dilakukan pasukan TKR, laskar rakyat seperti Barisan Banteng
> pimpinan Haji Toha, Hisbullah pimpinan Haji Akbar dan Pesindo spontan ikut
> bergabung.
>
> Selepas salat Ashar, konvoi tentara sekutu datang dari arah Bogor. Mereka
> diperkuat dengan puluhan tank, panser wagon, dan truk berisi ribuan pasukan
> Gurkha. Konvoi itu masuk garis pertahanan TKR. Saat mendekati tebing
> Bojongkokosan, pejuang dan rakyat melepaskan tembakan. Pasukan TKR dan
> laskar rakyat melakukan penyerangan secara sporadis.
>
> Menyadari ada serangan, pasukan sekutu bersenjatakan peralatan perang
> modern melakukan pembalasan. Mereka membombadir pertahanan pejuang dengan
> tank baja dan senapan mesin. Balasan serangan sekutu membuat pertahanan
> pejuang menjadi sasaran lesatan peluru dan mortir.
>
> Para pejuang berhasil lolos setelah beberapa jam melakukan penyergapan.
> Mereka meloloskan diri dari serangan balasan setelah hujan deras disertai
> kabut mengguyur kawasan itu.
>
> Melihat pejuang berhasil lolos, pasukan sekutu marah dan menyerang dengan
> membabi buta. Karena tidak terima, pejuang dan laskar rakyat kembali
> melakukan penyerangan terhadap konvoi tentara sekutu yang diboncengi tentara
> Belanda.
>
> Pertempuran kembali terjadi di sepanjang jalan Bojongkokosan hingga
> perbatasan Cianjur seperti Ungkrak, Selakopi, Cikukulu, Situawi, Ciseureuh
> hingga Degung. Perang juga meluas hingga lintasan Ngaweng, Cimahpardi,
> Pasekon, Sukaraja, hingga Gekbrong di perbatasan Sukabumi-Cianjur.
>
> Tentara sekutu yang dalam perjalanan ke Bandung itu dibuat gentar. Akhirnya
> komandan sekutu mengajak berunding dengan pemimpin TKR dan pemerintah
> setempat. Diwakili Komadan Resimen III, Letnan Kolonel (Letkol) Edi Sukardi,
> akhirnya disetujuilah usulan gencatan senjata.
>
> Hanya saja, gencatan senjata hanya berlangsung sehari. Tentara sekutu
> melakukan tindakan tidak terpuji. Tepat 10 Desember 1945, tentara sekutu
> kembali membombardir Kecamatan Cibadak. Pengeboman itu tercatat dalam
> majalah Belanda Fighting Cocks karangan Kolonel Doulton. Serangan
> pesawat-pesawat tempur itu bahkan tercatat sebagai yang terbesar sepanjang
> Perang Dunia II. Sekutu melakukan pengeboman udara setelah mengetahui
> puluhan tetaranya tewas di tangan pejuang dan rakyat. (Ahmad
> Rayadie/"PR")***
>
> http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=163611
>
>

Kirim email ke