Hade yeuh artikel revolusi pikiran, nalar dikaitkeun jeung ngawangun deui 
karakter!
 
Makarya Mawa Raharja

Perlu Revolusi Berpikir tentang Bahari
Laporan wartawan KOMPAS Yurnaldi
Rabu, 1 Desember 2010 | 20:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Genderang Bahari Pontjo Sutowo mengatakan, 
diperlukan revolusi berpikir tentang bahari, sehingga potensi laut yang begitu 
besar bisa dikelola dengan baik dan dioptimalkan hasilnya untuk kesejahteraan 
rakyat.
Sebab, masa depan kita ada di laut. Indonesia akan lebih maju, jika menguasai 
kembali alur perdagangan dunia dan mengembangkan pusat-pusat perdagangan dalam 
negeri yang secara geografis memiliki keunggulan strategis.
"Kedaulatan Indonesia di laut dewasa ini amat lemah. Kekayaan laut terutama 
ikan 
dicuri nelayan-nelayan asing. Semestinya laut dikelola untuk kesejahteraan 
rakyat," katanya , pada Forum Konsultasi Kebijakan Bidang Kelautan yang 
mengambil tema Budaya Bahari Mendorong Perwujudan Bangsa Bahari, Rabu 
(1/12/2010) di Jakarta.
 
Menurut Pontjo, kekayaan alam hanya memberikan kesejahteraan dalam waktu 
panjang 
kepada pengelolanya, bukan kepada pemiliknya.
Pengelolaan hanya bisa dilakukan kalau kita memiliki pengetahuan, sumberdaya 
manusia dan peralatan/teknologi yang memadai.
Mengenalkan atau merubah cara pandang tentang laut/bahari membutuhkan 
perjuangan 
yang serius. Untuk itu perlu pemberdayaan rakyat, meningkatkan kemampuan rakyat 
untuk mengelola potensi laut.
 
Sektor yang dapat diolahkembangkan di laut ini, antara lain pelayaran, 
perikanan, pertanian, pertambangan, pemukiman, dan pariwisata, serta kesehatan.
"Sektor pariwisata dapat menjadi sektor andalan bagi bangsa kita ke depan, jika 
kika sanggup dan mampu mengembangkannya," jelas Pontjo, yang juga penggagas dan 
pendiri Aliansi Kebangsaan dan Ketua Umum FKPPI.
 
Daud Aris Tanudirjo, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada yang 
membahas Perkembangan Budaya Bahari di Kepulauan Nusantara mengatakan, budaya 
bahari paling tua di dunia muncul di kepulauan Nusantara.
Keyakinan ini semakin kyat ketika tim arkeologi berhasil menemukan jejak-jejak 
kehidupan manusia Testua Homo Erectus di Flores pada sekitar 800.000 tahun lalu.
 
Sebagian penduduk Nusantara yang telah menguasai teknologi canggih lalu 
berlayar 
ke berbagai penjuru dunia. Para pelaut itulah yang kemudian membantu komunitas 
di berbagai tempat untuk mengembangkan budaya mereka menjadi peradaban besar, 
seperti Mesopotamia, Mesir, Cina, dan India, jelasnya.
 
Sutejo K Widodo, dosen FIB Universitas Diponegoro Semarang mengatakan, sebagai 
negara maritim, Indonesia harus mampu mengontrol dan memanfaatkan laut untuk 
mencapai kesejahteraan dan kejayaannya. Negara maritim dibangun oleh visi 
maritim yang kuat dan jelas.
"Karakter penduduk dan pemerintah masih perlu dibangkitkan kembali sifat 
kemaritimannya melalui penanaman nilai-nilai budaya bahari," katanya.

Kirim email ke