Angger ari geus susuadmaan teh kang halimun mah, naon pihartieunana atuh eta 
teh, piraku kudu diterjemahkeun "Anging Allah anu uninga mah". Cenah tiheula 
geus menta dihampura, bejakeun atuh ka sakabeh anggota tim halimun jeung 
nonggerak ulah ngirim beja nu matak teu kaharti ku nu lian sabab eta teh 
penghamburan energy atawa mubadzir tea.




________________________________
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wed, December 8, 2010 2:12:02 PM
Subject: Re: [kisunda] Fw: Ngamandian "titinggal" Sang Prabu -->Re: Fw: Prabu 
Siliwangi beragama Islam?

  
Uwugfbvu 
Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From: "Waluya" <[email protected]> 
Sender: [email protected] 
Date: Wed, 08 Dec 2010 06:09:53 -0000
To: <[email protected]>
ReplyTo: [email protected] 
Subject: [kisunda] Fw: Ngamandian "titinggal" Sang Prabu -->Re: Fw: Prabu 
Siliwangi beragama Islam?
  
Dina 1 Muhararam kamari, museum sajarah Islam "Parbu Siliwangi" di Sukabumi 
ngayakeun acara "ngamandian" pusaka titinggal Prabu Siliwangi. Wartosna 
nyanggakeun:

MEMPERINGATI TAHUN BARU HIJRIYAH
Pencucian Benda Pusaka Prabu Siliwangi
SELASA, 07/12/2010 - 20:56
http://www.pikiran-rakyat.com/node/129133

RAYADIE/"PRLM"
PERINGATAN tahun baru hijriyah di, di Komplek Gading Kencana, Kelurahan Karang 
Tengah, Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, Selasa (7/12) diwarnai pencucian 
ratusan benda pusakan peninggalan Prabu Siliwangi. Kegiatan berlangsung ba'da 
shalat Dzuhur hingga sebelum adzan Magrib yangt berlangsung di aula Museum 
Sejarah Islam Sunda "Prabu Siliwangi".*
CIANJUR, (PRLM).- Peringatan tahun baru hijriyah di, di Komplek Gading Kencana, 
Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, Selasa (7/12) 
diwarnai pencucian ratusan benda pusakan peninggalan Prabu Siliwangi.

Kegiatan yang berlangsung Ba'da Shalat Dzuhur hingga sebelum adzan Magrib 
berlangsung di aula Museum Sejarah Islam Sunda "Prabu Siliwangi".

Sebelum ritual pencucian benda pusaka itu, diawali pembacaan kitab suci 
Al-Quran 
dan doa-doa. Bahkan sebelum pusaka yang diyakini peninggalan Raja Pajajaran 
itu, 
dibersihkan dengan air yang ditaburi bunga-bungaan dan minyak harum, Pimpinan 
Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath, KH. Muhammad Fajar Laksana meminta salah 
seorang sesepuh musium untuk membacakan Sasakala Prabu Siliwangi.

Pemandiaan benda pusaka sempat menarik perhatian warga dan para santri disana. 
Dengan serius mereka mengikuti setiap tahapan proses pencucian. Satu persatu 
benda pusaka dikeluarkan dari sarungnya untuk dibersihkan. Terdengar doa-doa 
dan 
dzikir para santri mengiringi proses ritual itu.

"Kegiatan yang bertepatan dengan satu Muharam ini, merupakan salah satu bentuk 
kecintaan kita terhadap sejarah dan budaya Islam Sunda," kata Pimpinan Pondok 
Pesantren Dzikir Al-Fath, KH. Muhammad Fajar Laksana kepada "PRLM", Selasa 
(7/12).

Apalagi bertepatan dengan momen memperingati tahun baru hijriyah kali ini, kata 
KH Muhammad Fajar Laksana diharapkan dapat menambah khasanah budaya sunda yang 
selama ini mulai terkikis. Apalagi sosok Prabu Siliwangi mulai ditinggalkan 
para 
generasi muda. Padahal sosok Prabu Siliwangi yang selama ini telah melenggenda 
dapat mendorong seluruh eleman masyarakat untuk terus mengkajinya.

"Diharapkan tonggak memperingati Muharam ini, generasi muda dapat termotivasi 
untuk ikut serta memelihara serta melestarikan sejarah dan budaya Islam Sunda. 
Apalagi budaya sunda sangat kaya dengan nilai-nilai luur yang dapat diaplikasi 
dalam kehidupan sehari-hari," katanya. (A-162/A-26).***





      

Kirim email ke