"Mendadak Bambu"

Oleh H. HERDIWAN

Alat musik angklung yang merupakan khazanah
budaya Indonesia, pada sidang ke-5 Inter-Governmental Committe UNESCO di
Nairobi, Kenya, 16 November 2010, ditetapkan sebagai The Representative List of
the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Peristiwa itu tentu kebanggaan
bagi bangsa Indonesia, khususnya warga Jawa Barat, karena membuktikan betapa
kekayaan budaya Indonesia memang sejajar dengan kehebatan budaya negara lainnya.


Selama ini kebanyakan dari kita memandang
remeh milik sendiri dan teramat silau akan budaya orang lain. Lihat saja,
program kegiatan di lembaga yang menangani kebudayaan, nyaris tidak ada gereget
bagaimana seharusnya kegiatan dalam rangka sukacita menyambut angklung yang
ditetapkan sebagai warisan dunia itu. Demikian pula di lembaga yang menangani
konservasi lahan tidak mengadakan program penggalakkan penanaman bambu di lahan
kritisnya. Di samping mengatasi kekrititisan lahan, bambu siap menopang 
ketika--siapa
tahu-- angklung menjadi booming karena ingin dimiliki dan dimainkan masyarakat
secara luas. 

Si multifungsi

Angklung merupakan salah satu rumpun kesenian
yang lahir di Jawa Barat, yang menggunakan alat musik dari bambu. Jenis bambu
yang dipakai biasanya menggunakan awi wulung (bambu hitam) dan awi temen (bambu
putih). Setiap nada yang dihasilkan dari bunyi tabung bambu yang berbentuk
wilahan dari ukuran kecil, sedang, hingga besar, akan membentuk irama lagu yang
mengasyikkan. Kendati muncul pertama kali di Jawa Barat, angklung dalam
perkembangannya, berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan
dan Sumatra. 

Beragam peralatan dari bambu ini ternyata
selalu berada dalam perikehidupan orang Jawa Barat. Sejak manusia Jawa Barat
dilahirkan sudah bersentuhan dengan bambu, karena begitu lahir, ari-arinya
dipotong oleh serpih bambu. Saat anak-anak bermain dengan permainan dengan
bahan bambu. Orang Jawa Barat juga memasak nasi menggunakan aseupan untuk
meniup bahan bakar memasak agar apinya menyala, mendinginkan nasi agar pulen
menggunakan hihid, lalu ketika makan ditemani sayur yang sangat sedap yaitu
lodeh rebung (bambu ater--Gigantochloa atter, bambu betung--Dendrocalamus
asper, bambu duri--Bambusa blumeana, dan bambu hitam--Gigantochloa 
atriviolacea),
usaha dagang (bacang dan keranjang tahu), semua menggunakan bahan dari bambu. 

Boleh jadi ketika anda telat pulang malam ke
rumah, mungkin oleh sang istri, siapa tahu anda akan di-papag oleh iwing-iwing
paneunggeul, yang materinya dari bambu juga. Bahkan ketika jasad sudah terbujur
kaku, ketika menuju peristirahatan terakhir berupa "rumah masa
depan", diangkutnya menggunakan tempat berbahan bambu pula. 

Budidaya bambu juga memiliki peranan yang
mampu mencegah longsornya lahan. Selama ini, penghijauan lahan selalu dengan
upaya penanaman pohon yang menjadi favorit lembaga maupun masyarakat, yaitu
albisia, yang kita kenal sebagai sengon alias jeungjing (Albizia falcataria).
Minat masyarakat untuk membudidayakan albisia semakin tinggi, karena memiliki 
nilai
jual tinggi, tetapi di lain pihak, justru tanaman inilah yang menjadi salah
satu penyebab bencana longsor. 

Mengapa demikian? Karena sengon memiliki
nilai ekonomi tinggi, walau masih berumur di bawah 10 tahun, pasti sudah
ditebang habis. Karena tidak pernah menjadi tua, akar tunggangnya belum sempat
menembus lapisan tanah yang lebih keras. Tanah di bawah tegakan albisia/sengon,
terutama tanah liat, akan menjadi jenuh air apabila curah hujan tinggi. Beban
batang dan tajuk tanaman di atas permukaan tanah, juga ikut mendorong
terjadinya longsor. 

Jenis bambu, sebenarnya akan lebih
menguntungkan. Pertama, secara finansial hasil dari satu hektare lahan yang
ditanami bambu, lebih besar dibandingkan dengan lahan yang ditanami
albisia/sengon, mengingat setelah bisa dipanen pada tahun ketiga, selanjutnya
akan bisa dipanen terus tanpa perlu penanaman ulang. Indonesia tercatat 
memiliki 142
jenis bambu yang sebagian besar rebungnya enak dimakan. 

Kedua, tanaman bambu yang selalu membentuk
rumpun dengan sistem perakarannya yang tumbuh sangat rapat dan serabut,
menjadikan lahan gembur dan menyerap air sangar cepat. Dalam kondisi curah
hujan sangat tinggi, tanah di sekitar rumpun bambu tidak akan jenuh air. Sebab
air dari curah hujan yang sangat tinggi itu akan diresapkan dalam jangka waktu
sangat cepat. Sangat bagus jika penanaman bambu dilakukan di media sabuk
gunung, sehingga longsor/gerakan tanah akan tertahan.

Dengan dua keuntungan ditambah nilai
"plus", yakni keuntungan finansial dan keuntungan ideal sebagai penyelamat
lingkungan, serta melestarikan kebudayaan angklung, maka sudah saatnya, sebagai
penguasa lahan terluas baik Perum Perhutani maupun PT Perkebunan Nusantara
(PTPN), melakukan pengayaan bambu pada areal tanaman pokoknya, agar kemudian
bisa dicontoh oleh masyarakat secara luas.

Falsafah hidup

Mengapa bambu tidak tumbang atau patah
batangnya ketika diterpa badai atau angin topan? Apakah karena akarnya dalam?
Bukan, akar pohon pinus lebih dalam. Apakah karena batangnya lebih kuat? Bukan
juga, pohon jati lebih kuat batangnya. Rahasia ketahanan bambu terletak pada
sikapnya. Ketika diterpa badai, pohon-pohon lain berdiri kaku dan tegak
seakan-akan menantang kekuatan angin. Akibatnya ranting dan batangnya bisa
patah. Sebaliknya, bambu justru merunduk. Bambu membiarkan diri diarahkan oleh
tiupan angin sampai termiring-miring. Batang bambu bersifat lentur, bisa
berlekuk dan melengkung. Sifat lentur itu menyebabkan pohon bambu mampu
bertahan dalam badai dan topan. Sifat lentur itu memulihkan kembali sikap tegak
bambu setelah badai berlalu. Bukan berarti bahwa bambu menyerah pada angin,
tetapi itu strategi bertahan. Bersikaplah lentur sebagaimana bambu, agar kita
bisa bertahan menghadapi cobaan. 

Sangat layak bila kemudian kita
"mendadak bambu", paling tidak di Jawa Barat ini, yang konon tempat
lahirnya angklung. Karena kalau kita adem ayem saja, jangan salahkan Malaysia 
lagi
jika jiran kita itu yang menangkap peluang tersebut. Jangan biarkan Malaysia 
kelak berkata "Biar angklung tidak
jadi milik Malaysia
tetapi ketika anda akan bikin angklung, maka anda akan meminta bahan bakunya
kepada ke kami".

Alamak.......!.

Penulis, Kepala Dinas Pariwisata dan
Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.

 




      

Kirim email ke