Asal Usul Gelar Entol di Banten E.Zaenal.Muttaqin Banten sebagai sebuah wilayah yang dahulu kala merupakan pusat peradaban dan kerajaan yang sangat maju dan cukup diperhitungakan, tentuanya memiliki berbagai keanekaragaman sejarah dan budaya. seperti halnya pada komunitas kebudayaan lainnya, Banten pun memiliki strata sosial yang cukup bervariasi yang berasal dari sejak masa kesultanan maupun sebelum masa kesultanan Banten. ada beberapa kategori gelar atau nasab yang mengidentifikasi bahwa gelar tersebut adalah berasal dari Banten, antara lain, Tubagus, Ratu, Raden, Mas, Nyimas, dan Entol. kalangan bangsawan keturunan sultan Banten bergelar tubagus dan ratu, sedangkan untuk gelar bangsawan yang tidak memiliki darah keturunan dengan sultan bergelar mas, nyimas, entol, dan beberapa gelar lainnya yg termasuk dalam kategori bangsawan bukan dari keturunan sultan.
setiap gelar memiliki riwayat dan asal usul yang berbeda-beda, karenanya dalam tulisan ini akan hanya mengetengahkan asal-usul gelar Entol. menurut satu riwayat dan cerita yang paling kuat dan paling dipercaya, yang juga saya dapatkan dari lembaran surat kabar tua “Surosoewan” yang terbit tahun 1929 di Rangkasbitung, Gelar tersebut adalah pemberian Sultan Maulana Hasanudin. Pada masa penyebaran Islam tengah berlangsung di Banten yang disebarkan oleh Maulana Hasanudin yang juga sampai ke daerah di dekat gunung Pulosari, dan di tempat tersebut terdapat sebuah komunitas penduduk asli yang masih memeluk ajaran leluhur kuno yang bernama “Denggung” (nama tersebut adalah nama yang diyakini, meskipun terdapat banyak versi) dan diketuai oleh sorang kepala suku bernama Ki Andong Mohol yang kemudian hari berganti nama Ki Djamang Bulu. Ki Andong Mohol telah mendengar kabar datangnya seorang penyebar agama Islam yaitu sang Sultan, ia tertarik untuk bertukar fikiran dan akhirnya tertarik untuk mengabdi kepadanya dan memeluk Islam bersama-sama dengan kaumnya. Ki Andong Mohol juga turut membantu syiar Islam di daerah tersebut. seperti halnya ssesorang yang berdakwah tentu saja tidak luput dari pertentangan dan perlawanan dari kelompok pribumi lainya, hal ini juga dialami oleh sultan dan Ki Andong yang saat itu menghadapi perlawanan dari Ki Dago Satru yang memiliki kesaktian dan jimat yang berupa bedug yang apabila ditabuh dapat melemahkan hati setiap orang dan tidak akan berani untuk melawan. tentu saja sang sultan sangat kebingungan dalam menghadapi musunya tersebut, karena Ki Dago menghasut masyarakat untuk tidak memeluk Islam. pada suatu pertemuan Sultan memanggil para pembantu-pembantunya dan menyatakan kepada mereka siapa yang mampu untuk menghentikan aksi dari Ki Dago yang semakin membahayakan, kemudian Ki Andong memberanikan diri untuk mengemban tugas tersebut. Ki Andong dengan pasukannya akhirnya berperang dengan Ki Dago dan pasukannya, meskipun memiliki kesaktian dan jimat yang ampuh terepi Ki Dago dapat dikalahkan oleh Ki Andong dengan kesaktian yang tentunya lebih hebat. mendengar hal tersebut, sultan meras senang dan sangat bangga dengan pembantunya tersebut, karena dengan begitu rintangan terberat dalam menyebarkan Islam dapat dilalui. Tidak lama setelah itu, sultan mengumpulkan Ki Andong dan pembesar-pembesar kaumnya seraya mengutarakan kekagumannya terhadap kehebatan dan keajaiban yang mereka miliki, dengan begitu sultan menghadiahkan gelar Entol untuk setiap anak laki-laki dan Ayu kepada anak perempuan bagi kaum dan keturunan Ki Andong. karena pengabdian yang tinggi kepada sultan sejak saat itu mereka memakai gelar tersebut terhadap anak cucu mereka dan gelar kamonesan (keajaiban) bagi kaum tersebut yang akhirnya tempat mereka tinggal di beri nama Menes oleh sultan yang saat ini nama tersebut menjadi nama daerah Menes di kabupaten Pandeglang. http://zaymuttaqin.wordpress.com/2010/07/20/asal-usul-gelar-entol-di-banten/ 2010/12/20 <[email protected]> > > > > Kitu oge panginten. 'Trik' rek ngalestarikeun feodalisme-monarki, ngan > kabujeng teu laku kacegat ku NKRI he he he..Kula ge mun Banten ngajukeun > referendum jiga DIY yen nu janten Gubernur Di Banten teh kedah Tubagus > atanapi Ratu, rek janten profokatorna. Bade nyuhun bantosan ka BahIm, > supados nurunkeun jin-jin di sakuliah Banten, ngilu nyolok. Sirik ah ka DIY, > RUU na geus beres tacan eta? > Ongkarana Sangtabean Pukulun Sembah Rahayu > Tirilik ti Banten nu Sunda, teu ngaku jawa bis disebat jaed. >
