Aduh.... Kacolongan deui wae-nya ku malaya. Kumaha atuh???? 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: mh <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 2 Jan 2011 22:14:17 
To: Ki Sunda<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [kisunda] Tokoh - Aef Deet

Petani Tasikmalaya Sejahtera di Malaysia
Sabtu, 10 Juli 2010 10:56 WIB | Artikel | Spektrum | Dibaca 3175 kali
Feri Purnama
Bandung (ANTARA News) - Dulu, orang di kampungnya cuma memanggil dia dengan
sapaan Aef. Tapi, sejak dia sukses mengembangkan pertanian organik di lahan
dangkal (*deet*, begitu orang Sunda menyebutnya) pada  dasawarsa 90, maka
terkenallah nama Aef Deet di seluruh Tasikmalaya dan sekitarnya.

Ketenaran pria kelahiran 1966 itu sebagai ahli pertanian organik boleh
dibilang terus tersiar hingga keluar  tanah parahyangan bahkan ke luar
negeri. Banyak orang, baik sendiri-sendiri maupun berkelompok, datang
berguru kepada petani itu.

Di sisi lain, ketenaran petani asal Desa Sukapada, Kecamatan Pagerageung itu
sebagai pelopor teknik sistem penanaman padi organik dangkal itu tidak
kunjung memperbaiki kehidupan ekonomi keluarganya.

Hingga, datanglah sejumlah orang dari Serikat Sunnah Tani dari Kelantan,
Malaysia, menemui Aef beberapa tahun lalu. Mereka  bukan hanya untuk
berguru, tapi menawarkan perbaikan ekonomi bagi pria itu.

Setahun lalu, pergilah dia merantau ke Malaysia. Bukan sebagai buruh kasar
tentunya, karena orang-orang Malaysia itu rupanya tertarik pada keahlian
yang dimiliki Aef.

"Saya senang bekerja di Malaysia," kata Aef, ketika kembali ke kampung
halamannya, setahun setelah dia ke Malaysia. Pada kunjungannya kali itu, dia
juga membawa sejumlah orang Malaysia.

Aef mengantar tiga orang, yakni Direktur Serikat Sunnah Tani H Muhammad
Nuri, kepala marketing H Julemi, bagian keuangan H Alyas, untuk bertemu
dengan ketua gabungan kelompok tani padi organik Tasikmalaya Uu Syaeful
Bachri.

Pada akhir pekan minggu pertama Juli itu, mereka juga melihat proses
pertanian organik di Tasik.

Di sela-sela kegiatan itu, Aef menyatakan kebanggaannya hidup di Malaysia.
Dia menyatakan, pilihannya menjadi petani dan mengabdikan ilmunya di
Kelantan, sebagai sesuatu yang lebih baik dibandingkan ketika dia melakukan
hal yang sama di tanah kelahirannya sendiri.

"Saya mendapatkan materi yang cukup besar dan fasilitas memadai hingga saya
merasa terjamin," katanya.Menurut dia, berkat pilihannya itu, dia mengaku
keluarganya ikut sejahtera.

Baru setahun Aef di Malaysia, dia mengaku mampu mengubah kehidupan ekonomi
keluarganya menjadi lebih baik. Bahkan dia dia bisa mengumpulkan dana untuk
menunaikan ibadah haji.

Menurut Aef, selain menjadi petani dan menggarap sawah padi di negeri jiran
itu, dia juga memberikan pelatihan cara penanaman padi organik kepada petani
di Malaysia.

Dari hasil mengajar pelatihan sistem penanaman padi itu, ia mendapatkan gaji
cukup besar dari pemerintah Malaysia hingga mampu membangun rumah di kampung
halamannya menjadi layak huni.

Menurut Aef, ada enam petani Indonesia yang yang bekerja dan memberikan
pelatihan tentang pertanian di sana, yang datang ke Kelantan dibawa oleh
Serikat Sunnah Tani.

"Saya dan yang lainnya diberi gaji sebesar Rp 12 juta per bulan," kata Aef
dengan nada bicara bangga.

Menurut dia, kepergiannya ke Malaysia memang untuk mencari perubahan ekonomi
agar dapat menyejahterakan keluarganya.

Selama di Malaysia, menurut Aef, segala ilmu dan jasa-jasanya sebagai petani
lebih dihargai. Penghargaan itu berupa sejumlah fasilitas pertanian maupun
kesejahteraan ekonomi.

"Buruh tani di sini sulit sejahtera karena yang dibayar hanyalah tenaganya
bukan dilihat dari ilmu atau jasanya," katanya.

Sementara itu, Ketua Agribisnis Tasikmalaya Wawan mengatakan, kepergian
petani terbaik asal Kabupaten Tasikmalaya itu ke negara Malaysia menjadi
boomerang bagi pertanian di Indonesia.

Dinilai dari jangka pendeknya, menurut dia, sepertinya tidak ada kerugian
apa-apa.

"Kepergian Aef justru seperti hanya memberikan keuntungan bagi buruh tani
yang mengabdikan dirinya di Malaysia hingga mendapatkan kesejahteraan yang
cukup besar," katanya.

Padahal, kata dia, kepergian Aef, dan sejumlah petani lain yang memiliki
keahlian itu, memiliki dampak negatif tersembunyi bagi perkembangan pertaian
di dalam negeri.

"Bisa saja terjadi lama-lama Malaysia akan mencuri teknologi penanaman padi
organik di Tasikmalaya. Lalu, jika selama ini Malaysia mendatangkan beras
dari Tasikmalaya, maka lama-lama nanti bisa jadi sebaliknya," kata Wawan.
(KR-FPM/B/A038)

COPYRIGHT © 2010

http://www.antaranews.com/berita/1278734206/petani-tasikmalaya-sejahtera-di-malaysia

Kirim email ke