MENATAP WAJAH ISLAM DARI JENDELA SUNDA Agus Ahmad Safei *
Kearifan Sunda Kearifan Semesta Ketika memberikan pengantar untuk buku tulisan Jusuf Sutanto, Kearifan Kuno di Zaman Modern, Haidar Bagir sampai pada sebuah kesimpulan yang agak mengejutkan. Menurutnya, seluruh kearifan kuno (ancient wisdom) dan kearifan lokal (local wisdom, al-bi‟at al-mahalliyat) yang dimiliki masyarakat di seluruh dunia, sesungguhnya, bersumber dan berpusat pada satu poros belaka, yakni kearifan Ilahi (perennial wisdom). Haidar Bagir (Sutanto, 2001: 9) mendasarkan kesimpulannya itu pada riset historis yang menyebutkan bahwa seluruh ajaran kearifan yang dimiliki oleh kebudayaan di seluruh dunia (Maya, Aztec, Zoroaster, dan India Kuno) merujuk pada satu sumber yang sama, yakni "Corpus Hermeticum", yang merupakan buah pemikiran Sang Guru Ilmu Pengetahuan, Hermes. Dalam telusur yang dilakukan oleh Al-Biruni, masa hidup Hermes dalam kurun waktu 300-100 SM (dibenarkan juga oleh hasil penelusuran Arnold J Toynbee dalam nama Hermaeus, 2006: 352) sama dengan masa hidup Nabi Idris (dalam bahasa Indonesia berarti "Sang Guru", dalam bahasa Yunani "Hermes"). Berdasarkan penelusuran ini, Al- Biruni berkeyakinan bahwa Hermes adalah Nabi Idris. Kenyataan ini diperkuat pula oleh penelusuran dan riset panjang yang dilakukan oleh Karen Armstrong. Hanya saja, menurut Armstrong (2007: 132), Hermes adalah "penyampai pesan dewa (Tuhan)" yang diabadikan dalam mitologi Yunani. Bila Al-Biruni benar, maka tak ragu lagi untuk dikatakan bahwa seluruh kearifan lokal maupun kearifan kuno memang merupakan kearifan Ilahi (perennial wisdom). Sebab, kesemuanya berawal dari Hermes, Sang Guru, Si Penyampai Pesan Tuhan, Nabi Allah. Kalaupun Al-Biruni meleset, kemungkinan seluruh kearifan lokal dan kearifan kuno berasal dari kearifan Ilahi masih sangat relevan. Hal ini berdasarkan pada kemungkinan "adanya" seorang Nabi Allah di setiap kaum yang memproduksi kearifan lokal sebagai "teks-budaya". Sebab, bukankah, "Sesungguhnya pada setiap kaum Dia menurunkan seorang Nabi" (QS. 35:24, 10:47, 21:7)? Juga bukankah menurut sebuah riwayat, jumlah Nabi ada lebih dari 124.000 Nabi, yang mengajarkan risalah dari sumber yang sama, dari kebenaran yang sama? Setidaknya demikianlah keyakinan para penganut kearifan perennial. Jika demikian adanya, mengikuti penjelasan Fahd Pahdepie (dalam Asep Saeful Muhtadi, ed., 2008: 14), kearifan Sunda juga sejatinya berasal dari kearifan Ilahi. Thus, demikian Pahdepie, kearifan Sunda adalah juga berarti kearifan Ilahi. Sebab, seperti yang sudah dipaparkan tadi, kebudayaan India (tempat lahirnya Hindu dan Budha yang menjadi warna awal tradisi Sunda) pun berasal dari Hermes, dari Idris. Berbicara soal kearifan Sunda, memang tak pernah bisa dilepaskan dari ajaran Hindu dan Budha (terutama aliran Tantra), sebab kedua agama kepercayaan ini menjadi warna tersendiri bagi kebudayaan, kearifan, dan masyarakat Sunda (Lihat Rosidi dkk., 2006).Yang menarik dari ajaran Hindu dan Budha ini adalah bahwa agama (kepercayaan) ini memiliki ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang dekat dan identik dengan ajaran Islam. Bahkan Abdul Kalam Azad, Muhammad Abduh, dan Al-Biruni pun meyakini bahwa Hindu dan Budha dapat dikategorikan sebagai agama semit sebab memiliki Nabi dan kitab suci. Dalam kesempatan lain, Nurcholish Madjid pernah mengatakan bahwa, Hindu dan Budha (juga Taoisme) merupakan ahl kitab (Sutanto, 2001: 13). [nyambung] 2011/1/24 Ahsa <[email protected]> > > > cing.... Manawi Kang MH tiasa ngaboleker keun kumaha eusi eta seratan teh? > > > --- In [email protected] <kisunda%40yahoogroups.com>, mh <khs579@...> > wrote: > > > > Aya artikel hade: MENATAP WAJAH ISLAM DARI JENDELA SUNDA. > > > > ======== > > > >
