Ceuk saha kang ? Walanda bebeja ka akang iraha mimiti datang ka jawa ? :) Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message----- From: Gunawan Yusuf <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Fri, 18 Feb 2011 01:35:36 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [kisunda] Budaya - Ritual Ngalungsur Pusaka, Godog, Garut? jaman siliwangi mah walanda can datang atuh 2011/2/18 <[email protected]> > > > Ralat : ka kuncen godog, tetep we alesana naon wae ge anjeun nu tanggung > jawab kana kamusyrikan di dinya, nu di makamkeun di dinya teu ngajarkeun > kitu, nu dimakamkeun didinya jalma muslim nu ngajauhan kamusyrikan. > > Jeung hiji deui, nu dimakamkeun di dinya lain rakean santang, tapi > siliwangi, nu make gelar samaran sunan rohmat, nu nyebarkeun islam di sunda. > Nu nyamar kusabab diudag2 kunu hianat ka raja sunda nyaeta banten jeung > cirebon dibantuan ku nagara ti jawa jeung walanda. Nuhun > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: * Ki Hasan <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Fri, 18 Feb 2011 07:13:33 +0800 > *To: *Ki Sunda<[email protected]>; Baraya Sunda< > [email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *[kisunda] Budaya - Ritual Ngalungsur Pusaka, Godog, Garut? > > > > Ngalungsur Pusaka, Buat Hormati Leluhur > > > disparbud.jabarprov.go.id > Ngalungsur Pusaka > Jumat, 18 Februari 2011 | 03:56 WIB > > Oleh *Feri Purnama* > > Upacara adat "Ngalungsur Pusaka" atau membersihkan benda-benda pusaka > peninggalan Prabu Kiansantang atau Syech Sunan Rochmat Suci di makam keramat > Godog, Kampung Godog Makam, Desa Lebak Agung, Kecamatan Karangpawitan, > Kabupaten Garut, Jabar, Kamis, merupakan penghormatan terhadap leluhur. > > "Bukan menghormati pusakanya, tapi menghormati beliau (Syech Sunan Rochmat > Suci) yang telah berjasa menyebarkan ajaran agama Islam disini," kata Ketua > Juru Kuncen Makam Godog, Ahmad Syarifudin. > > Prabu Kiansantang merupakan seorang anak dari Raja Padjadjaran yakni Prabu > Siliwangi yang menyebarkan agama Islam di tanah Pasundan, dan dimakamkan di > Gunung Suci, Garut. > > Upacara adat "Ngalungsur Pusaka" tersebut selalu digelar di makam Godog > setiap satu tahun sekali atau dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi > Muhammad SAW. > > Upacara membersihkan benda pusaka tersebut, ditegaskan Ahmad bukan > menyembah suatu benda yang diyakini akan memberikan sebuah keajaiban atau > melebih kekuatan Tuhan Yang Maha Esa, melainkan sebagai cara melestarikan > budaya seperti menjaga peninggalan benda-benda pusaka zaman dulu. > > Para peziarah yang datang ke makam Godog tersebut oleh pihak kuncen selalu > diingatkan bahwa melestarikan benda pusaka dan menghormati pemiliknya itu > bukan menyembah pusaka. > > "Jangan sampai kita melestarikan benda pusaka salah langkah atau salah > aqidah, ini bukan menyembah tetapi melestarikan, beberapa kali kepada jemaah > jangan sampai salah aqidah, mendewa-dewakan sesuatu atau benda, tapi kita > tetap memohon dan berdoa kepada Allah SWT," kata Ahmad. > > Upacara adat "Ngalungsur Pusaka" digelar dengan hati-hati dari awal > dibawanya tempat benda pusaka yang disimpan di makam, hingga ke aula dan > dilakukan pembersihan kemudian dikembalikan ke tempat semula oleh kuncen > berseragam gamis identik warna hijau. > > Prosesi upacara adat yang digelar tersebut, ditegaskan Ahmad bukan berarti > mengunggulkan benda pusaka sehingga timbul keyakinan akan memberikan barokah > melainkan bentuk penghormatan agar benda tersebut terjaga baik. > > "Seperti kita punya benda, terus dilemparkan oleh orang lain, berarti itu > tidak menghormati kepada yang punya barang," kata Ahmad mencontohkan bahwa > uapcara adat benda pusaka dengan hati-hati merupakan bentuk penghormatan > kepada pemiliknya. > > Keberadaan benda pusaka tersebut, diceritakan Ahmad berawal ketika Syech > Sunan Rochmat Suci membawa benda tersebut dengan sebuah peti kayu dari > tempat keramaian kerajaan Padjadjaran. > > Dengan bekal benda pusaka tersebut Syech Sunan Rochmat Suci mendapatkan > ilham harus menyebarkan ajaran Islam ditempat lain hingga akhirnya > mendapatkan petunjuk dengan menempatkan benda pusaka di Gunung Suci yang > sekarang menjadi tempat pemakamannya. > > Benda pusaka tersebut disimpan Syech Sunan Rochmat di Gunung Suci setelah > beberapa tempat telah dilakukan untuk mencari petunjuk menyebarkan ajaran > agama Islam. > > Dalam petunjuk itu, peti yang berisikan benda pusaka tersebut bergoyang dan > diyakini Gunung Suci sebagai lokasi yang harus memberikan perubahan yang > lebih baik kepada masyarakat dengan menganut agama Islam. > > "Pertamanya di Padjajaran beliau mendapat ilham untuk hijrah, meninggalkan > tempat rame dan bertafakur disini, dan berjuang mengajarkan agama Islam," > kata Ahmad. > > Sedangkan nama Godog tersebut dijelaskan Ahmad berasal dari kata bahasa > Sunda yang artinya matang kemudian diartikan disimpannya benda pusaka > tersebut telah matang dan Syech Sunan Rochmat harus menetap di Gunung Suci > dan menyebarkan ajaran Islam. > > "Tafakur di tempat ini lebih matang, sehingga pendekatannya dalam > mengajarkan agama Islam berhasil dengan matang," katanya. > > Selama prosesi "Ngalungsur Pusaka" tersebut para juru kunci makam > mendampingi kuncen yang sedang membersihkan benda pusaka dengan minyak > khusus seperti minyak keletik, jeruk nipis untuk menghilangkan karat, dan > minyak wangi. > > Benda pusaka yang sudah berusia ratusan tahun itu yakni seperti senjata > keris yang berjumlah 15 yang dahulu digunakan bukan sebagai senjata > melakukan kekerasan melainkan sebagai pegangan menjaga diri saat berjuang > menyebarkan ajaran Islam. > > Pusaka tanduk berbentuk terompet, kata Ahmad oleh Syech Sunan Rochmat Suci > digunakan untuk memberitahukan dan mengajak masyarakat berkumpul menggelar > musyawarah dengan cara ditiup hingga mengeluarkan bunyi khas. > > "Benda pusaka tanduk ini hanya bisa berbunyi oleh kangjeung Sunan Rochmat, > kalau sekarang tidak bisa bunyi, itulah keajaiban yang tidak dapat masuk > akal manusia," kata Ahmad menerangkan di hadapan peziarah yang hadir di > makam Godog. > > Benda peninggalan lainnya yakni pecut atau disebut Cameti, kemudian rante > untuk mengukur waktu hingga mengatahui waktu menjalankan ibadah shalat. > > Kemudain Babango atau gunting yang ukurannya kecil sebagai alat tajam zaman > dulu untuk khitanan atau memotong kelamin laki-laki sebagai salah satu > syarat mengikuti ajaran agama Islam. "Alat gunting ini untuk khitanan > ukurannya kecil, tapi anjeuna (Syech Sunan Rochmat) bisa melakukannya," > katanya. > > Selain itu benda pusaka lainnya yakni benda miniatur alat-alat menanak nasi > dan pertanian, Ahmad menilai adanya benda tersebut sebagai gambaran bahwa > macam-macam bentuk alat pertanian dan menanak nasik sudah dibentuk pada > zaman dulu. > > "Setelah dilakukan pembersihan, kita perlihatkan kepada masyarakat, inilah > benda-benda pusaka," kata Ahmad. > > *Jodhi Yudono* > > *Dapatkan artikel ini di URL:* > > http://www.kompas.com/read/xml/2011/02/18/0356332/Ngalungsur.Pusaka.Buat.Hormati.Leluhur > > > >
