Boediono Tak Sebut Perlawanan Mr Sjaf

LIFE/James Burke
Kolonel Dahlan Djambek (paling kiri), Burhanuddin Harahap, pemimpin Dewan
Revolusi Ahmad Husein, Mr Sjafruddin Prawiranegara, dan Maludin Simbolon.
Foto yang diambil Maret 1958 ini menunjukkan mereka sebagai pemimpin
Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) berkedudukan di
Bukittinggi, melawan rezim Soekarno.
 Selasa, 1 Maret 2011 | 03:51 WIB

*JAKARTA, KOMPAS.com *- Wakil Presiden Boediono memberikan orasi dalam
peringatan seabad Mr Sjafrudin Prawiranegara di Gedung Bank Indonesia, Kebon
Sirih, Jakarta, Senin (28/2/2011) malam.

Bagi Wapres, sosok Mr Sjafruddin merupakan teladan dan telah memberikan
sumbangsihnya bagi bangsa dan negara. "Beliau adalah putra terbaik bangsa
dan memberikan sumbangsih bagi bangsa ini dan yang penting juga beliau
adalah pribadi yang memberikan suri tauladan dengan nilai luhur bagi
pemimpin bangsa ini," kata Wapres saat memberi sambutan acara tersebut.

Wapres mengatakan, Mr Sjafrudin Prawiranegara sosok orang yang mempunyai
integritas tinggi  dan jujur, serta memiliki keberanian. "Benar itu benar,
salah itu salah," katanya.

Namun, sepanjang orasinya, Boediono tak menyebut sisi lain reputasi Mr
Sjafrudin sebagai Presiden Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Apalagi keterlibatan Mr Sjaf dalam perlawanan terhadap rezim Soekarno di
Jakarta, dengan ikut mendirikan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia
(PRRI) yang berkedudukan di Bukittinggi, 15 Februari 1958.

Ia juga mengenang saat Mr Syafrudin saat menjabat Menteri Keuangan dalam
Kabinet Hatta, pada Maret 1950 melaksanakan pengguntingan uang dari nilai Rp
5 ke atas, sehingga nilainya tinggal separuh.

Kebijakan yang terkenal dengan sebutan ’Gunting Sjafruddin’ tersebut sempat
menimbulkan polemik namun Sjafruddin tetap gigih membela kebijakannya.

"Banyak sekali cerita di balik gunting Sjaf, baik setuju atau tidak. Saya
sebagai ekonom, merasakan situasi saat itu memerlukan gunting, jumlah uang
beredar begitu banyak, harga meningkat, uang beredar macam-macam bukan suatu
sistem yang normal bisa berjalan kehidupan sehari-hari," katanya.

Menurut dia, negara saat itu membutuhkan dana untuk membiayai jalannya
pemerintahan. "Bagi saya, tidak bisa dihindari, memang itu tindakan yang
berani tetapi rasional," kata Boediono yang juga seorang ekonom.

Acara peringatan tersebut juga dihadiri Gubernur Bank Indonesia Darmin
Nasution, Ketua DPR Marzuki Alie, Ketua MPR Taufik Kiemas, Ketua Mahkamah
Konstitusi Mahfud MD, Ketua DPD Irman Gusman, dan mantan Wapres Try
Sutrisno.

Acara yang diketuai AM Fatwa juga menghadirkan anak Mr Sjafruddin, Farid
Prawiranegara dan juga diisi pembacaan puisi oleh Taufik Ismail yang
diiringi biola Idris Sardi.

Sjafruddin Prawiranegara lahir di Serang, Banten, 28 Februari 1911 dan
meninggal di Jakarta, 15 Februari 1989 pada umur 77 tahun. Ia pernah
menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan pada 1946, Menteri Keuangan yang
pertama kali pada 1946 dan Menteri Kemakmuran pada 1947.

Pada saat menjabat sebagai Menteri Kemakmuran inilah, terjadi Agresi Militer
II dan menyebabkan terbentuknya PDRI. Seusai menyerahkan kembali kekuasaan
Pemerintah Darurat RI, ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri RI pada
1949, kemudian sebagai Menteri Keuangan antara 1949-1950.

Sjafruddin kemudian menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Indonesia yang
pertama, pada 1951. Sebelumnya ia Presiden Direktur Javasche Bank yang
terakhir, kemudian diubah menjadi Bank Sentral Indonesia.

Akibat ketimpangan sosial, penilaian adanya pelanggaran konstitusi oleh
Presiden Soekarno, ketidakpuasan terhadap pusat dan semakin kuatnya pengaruh
PKI, Sjafruddin bergabung dengan PRRI dan diangkat  sebagai Presiden PRRI
yang berbasis di Sumatera Tengah pada 1958.

Pada Agustus 1958, perlawanan PRRI dinyatakan berakhir dan pemerintah pusat
di Jakarta berhasil menguasai kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya
bergabung dengan PRRI.

Keputusan Presiden RI No.449/1961 kemudian menetapkan pemberian amnesti dan
abolisi bagi orang-orang yang tersangkut dengan pemberontakan, termasuk
PRRI.

*Dapatkan artikel ini di URL:*
http://www.kompas.com/read/xml/2011/03/01/0351213/Boediono.Tak.Sebut.Perlawanan.Mr.Sjaf

Kirim email ke