Ari ceuk kuring mah rada beda hartina antara Jihad jeung gambaru.
Aya kesamaan (kasaruaan?) gabaru jeung jihad nyaeta dina perkara soson-soson 
(sungguh sungguh) dina ngalakukeun sagala pagawean, tapi mun teu lepat mah 
jihad 
aya latar belakang ngahareupkeun karidoan Allah. Duka tah upama gambaru, naha 
kasangtukangna miharep naon ka dewa matahari atawa ngan sakadar pikeun 
"survive" 
sabab kaayaan alamna rawan gempa.

Tapi memang rarasaan mah simpati urang Indonesia (umumna) ka Jepang leuwih jero 
batan ka bangsa sejen. Bandingkeun waktu aya bencana alam di China, Chernobil 
Rusia jeung bencana tornado di Amerika atawa Haiti, asana teh simpati urang 
Indonesia "datar-datar" wae. Eta meureun pedah sapopoe urang teh diwowoy ku 
barang-barang Jepang. Komo deui anu kungsi ngasaan tolab ilmi atawa mukim di 
Jepun, pasti aya kawaas atawa katineung ka nagri Jepun.

Baktos,

mrachmatrawyani





________________________________
From: Ki Hasan <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Fri, March 18, 2011 7:30:29 PM
Subject: Jihad = Gambaru? ==> Re: [kisunda] Say YES to GAMBARU

  
Cing baraya, sugan aya nu apal, aya teu hubung-kait-na antara "jihad" jeung 
"gambaru".
Kaci teu mun "jihad" ditafsirkeun "gambaru"? Hade jigana


2011/3/16 <[email protected]>

  
>Punten teu disundakeun, da aslina mah basa jepang he he..
>
>salam
>
>
>From: 
>Subject:  Soal Jepang, dari temenku....
>
>
> Memang agak panjang, tapi baik sekali untuk dibaca.
>Ditulis oleh seorang mahasiswi yg tinggal Jepang:
>------------ --------- --------- 
>Say YES to GAMBARU!
>By Rouli Esther Pasaribu
>Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba di 
>Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai titik 
>darah penghabisan. 
>Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup 
>selalu : 
>motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni 
>gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama) , 
>motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih  dan lebih lagi). 
>Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? 
>apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru. 
>Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo males atau 
>ada banyak rintangan, ya udahlah ya...berhenti aja. 
>Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya : "doko made mo nintai 
>shite doryoku suru" (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan) 
>Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter "keras" dan 
>"mengencangkan". Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah 
>"mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus 
>mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu" 
>(maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah 
>kewajaran 
>dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep 
>gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.). 
>Terus terang aja, dua tahun gw di jepang, dua tahun juga gw ngga ngerti, 
>kenapa 
>orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya.
>Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di sekolahnya, 
>kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar ngga manja terhadap 
>cuaca 
>dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki 
>langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan, sakit2 dikit cuma ingus meler2 
>atau demam 37 derajat mah ngga usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari 
>pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia 
>melawan penyakitnya itu sendiri. 
>Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan gw ngos2an 
>kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! mama faitoooo! (mama ayo 
>berjuang, mama ayo fight!). 
>Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah penghabisan 
>it's a must! 
>Gw bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget dalam 
>hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan 9.0 di 
>jepang bagian timur. Gw tau, bencana alam di indonesia seperti tsunami di 
>aceh, 
>nias dan sekitarnya, gempa bumi di padang, letusan gunung merapi....juga 
>bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi. Tapi, tsunami dan gempa bumi di 
>jepang 
>kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa 
>bumi 
>dan tsunami terparah dan terbesar di dunia. 
>Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat jepang panik 
>kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian mulai 
>ngerasa galau, nangis2, ga tau mesti ngapain. 
>Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa "dimaafkan" jika 
>stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu ebiet dan 
>membuat 
>video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang 
>penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan. 
>Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh 
>kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya 
>harapan. 
>Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini? 
>Dari hari pertama bencana, gw nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala ebiet 
>diputar 
>di stasiun TV. Nyari-nyari juga di mana rekening dompet bencana alam. Video 
>klip 
>tangisan anak negeri juga gw tunggu2in. Tiga unsur itu (lagu ala ebiet, 
>rekening 
>dompet bencana, video klip tangisan anak negeri), sama sekali ngga disiarkan 
>di 
>TV. 
>Jadi yang ada apaan dong? 
>Ini yang gw lihat di stasiun2 TV : 
>1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada
>2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi 
>bencana 
>(termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah tokyo dan 
>tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)
>3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman 
>listrik terencana
>4. Tips-tips menghadapi bencana alam
>5. nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam
>6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang terkena 
>bencana
>7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang 
>terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai 
>banget harganya)
>8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan 
>tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi 
>(government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara 
>harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati
>9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :
>*ada yang nyari istrinya, belum ketemu2, mukanya udah galau banget, tapi tetap 
>tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat pengungsian : 
>gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo kita berjuang cari 
>istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)
>*Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu, kita 
>mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana ini;
>Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu 
>bintang 
>yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas. 
>Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana ala 
>gambaru kayak gini, gw bener-bener merasa malu dan di saat yang bersamaan : 
>kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang. 
>Ini negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas banget, 
>negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya mental sekuat 
>baja, karena : falsafah gambaru-nya itu. 
>Bisa dibilang, orang-orang jepang ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, 
>gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan dalam hidup. 
>Bener banget, kita mesti berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan. 
>Hanya, mental yang apa-apa "nyalahin" Tuhan, bilang2 ini semua kehendakNya, 
>Tuhan marah pada umatNya, Tuhan marah melalui alam maka tanyalah pada rumput 
>yang bergoyang... ..
>I guarantee you 100 percent, selama masih mental ini yang berdiam di dalam 
>diri 
>kita, sampai kiamat sekalipun, gw rasa bangsa kita ngga akan bisa maju. 
>Kalau ditilik lebih jauh, "menyalahkan" Tuhan atas semua bencana dan persoalan 
>hidup, sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani bertanggungjawab terhadap 
>hidup yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup. 
>Jika diperjelas lagi, ngga berani bertanggungjawab itu maksudnya  : lari dari 
>masalah, ngga mau ngadepin masalah, main salah2an, ngga mau berjuang dan baru 
>ketemu sedikit rintangan aja udah nangis manja. 
>Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan, untuk apa 
>gw menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada gunanya, kalo mau S2 
>atau S3 mah, ya di eropa atau  amerika sekalian, kalo di Jepang mah nanggung. 
>Begitulah kata beliau. 
>Sempat terpikir juga akan perkataannya itu, iya ya, kalo mau go international 
>ya 
>mestinya ke amrik atau eropa sekalian, bukannya jepang ini. Toh sama-sama 
>asia, 
>negeri kecil pula dan kalo ga bisa bahasa jepang, ngga akan bisa survive di 
>sini. 
>Sampai sempat nyesal juga,kenapa gw ngedaleminnya sastra jepang dan bukan 
>sastra 
>inggris atau sastra barat lainnya. 
>Tapi sekarang, gw bisa bilang dengan yakin  sama sanak keluarga yang 
>menyatakan 
>ngga ada gunanya gw nuntut ilmu di jepang. 
>Pernyataan beliau adalah salah sepenuhnya. 
>Mental gambaru itu yang paling megang adalah jepang. Dan menjadikan mental 
>gambaru sebagai way of life adalah lebih berharga daripada go international 
>dan 
>sejenisnya itu. 
>Benar, sastra jepang, gender dan sejenisnya itu, bisa dipelajari di mana saja. 
>Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap berjuang abis-abisan biar udah 
>ngga 
>ada jalan, gw rasa, salah satu tempat yang ideal untuk memahami semua itu 
>adalah 
>di jepang. 
>Dan gw bersyukur ada di sini, saat ini. Maka, mulai hari ini, jika gw 
>mendengar 
>kata gambaru, entah di kampus, di mall, di iklan-iklan TV, di supermarket, di 
>sekolahnya joanna atau di mana pun itu, gw tidak akan lagi merasa muak jiwa 
>raga. 
>Sebaliknya, gw akan berucap dengan rendah hati : 
>Indonesia jin no watashi ni gambaru no seishin to imi wo oshietekudasatte, 
>kokoro kara kansha itashimasu. Nihon jin no minasan no yoo ni, gambaru seishin 
>wo mi ni tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu. 
>(Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti 
>dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia. Saya akan berjuang tiap hari, 
>agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian semuanya, 
>orang-orang Jepang). 
>Say YES to GAMBARU!
>
>Powered by my Onyx®
>http://agushermawan.com
________________________________

>From:  [email protected] 
>Date: 16 Mar 2011 13:35:16 -0000
>To: <[email protected]>
>ReplyTo:  "No Reply"<[email protected]> 
>Subject: [kisunda] Digest Number 4193
>
>
>Mailing List Ki Sunda  
>Messages In This Digest      (1                Message) 
> 
>1. 
>Religiusitas Urang Jepun? From:        Ki Hasan 
>View All Topics | Create New Topic 
>Message 
>1. 
>Religiusitas Urang Jepun?  
>Posted by:      "Ki Hasan" [email protected]    khs579  
>Wed Mar 16, 2011 4:26 am        (PDT) 
>
>
>Nu kieu meureun nya nu disebut sikap religius teh:
>
>=======
>Ketangguhan Jepang Memukau Dunia
>
>AP<http://www1.kompas.com/printnews/xml/2011/03/16/07391145/Ketangguhan.Jepang.Memukau.Dunia#>
>
>Seorang perempuan memasak untuk keluarganya di depan rumah mereka yang
>hancur di Ishinomaki di Prefektur Miyagi.
>Rabu, 16 Maret 2011 | 07:39 WIB
>*Oleh*: *Pascal S Bin Saju *
>
>*KETANGGUHAN *Jepang menghadapi tekanan tiga bencana besar sekaligus, yakni
>gempa bumi, tsunami, dan radiasi nuklir, memukau dunia. Reputasi
>internasional Jepang sebagai negara kuat mendapat pujian luas. Tak adanya
>penjarahan menguatkan citra ”bangsa beradab”.
>
>Pemerintah Jepang, Selasa (15/3), terus memacu proses evakuasi dan
>distribusi bantuan ke daerah bencana yang belum terjangkau sebelumnya.
>Seluruh kekuatan dan sumber dayanya dikerahkan maksimal ke Jepang timur
>laut, daerah yang terparah dilanda tsunami.
>
>Evakuasi korban tsunami berjalan seiring dengan evakuasi ribuan warga yang
>terancam terpapar radiasi nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)
>Fukushima Daiichi, utara Tokyo. Prefektur Fukushima juga termasuk salah satu
>daerah korban gempa dan tsunami yang terjadi pada Jumat lalu.
>
>Televisi, media cetak, radio, dan situs berita *online *di seluruh dunia
>telah merilis bencana itu. Hal yang mengagumkan dunia, seluruh kejadian
>serta momen dramatis dan mendebarkan direkam televisi Jepang detik demi
>detik, sejak awal gempa, datangnya tsunami, hingga air bah itu ”diam”.
>
>Jepang lalu mengabarkan drama amuk alam yang menyebabkan lebih dari 10.000
>orang tewas dan 10.000 orang hilang itu ke seluruh dunia. Meski sempat
>panik, Jepang dengan cepat bangkit, mengerahkan seluruh kekuatannya, mulai
>dari tentara, kapal, hingga pesawat terbang. Jumlah tentara dinaikkan dua
>kali lipat dari 51.000 personel menjadi 100.000 personel. Sebanyak 145 dari
>170 rumah sakit di seluruh daerah bencana beroperasi penuh.
>
>Sekalipun kelaparan dan krisis air bersih mendera jutaan orang di sepanjang
>ribuan kilometer pantai timur Pulau Honshu dan pulau lain di Jepang, para
>korban sabar dan tertib menanti distribusi logistik. Hingga hari keempat
>pascabencana, Selasa, tidak terdengar aksi penjarahan dan tindakan tercela
>lainnya.
>
>*Associated Press* melukiskan, warga Jepang tenang menghadapi persoalan yang
>ditimbulkan bencana. Sisi lain yang diajarkan masyarakat Jepang ialah sikap
>sabar meski mereka diliputi dukacita akibat kehilangan orang-orang terkasih.
>Mereka sabar menanti bantuan. Pemerintah bisa lebih tenang untuk fokus pada
>evakuasi, penyelamatan, dan distribusi logistik.
>
>Bencana terbaru adalah bahaya radiasi nuklir akibat tiga ledakan dan
>kebakaran pada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi. Dari enam
>reaktor nuklir, empat di antaranya telah bermasalah. Jepang belajar dari
>kasus Chernobyl dan membangun sistem PLTN-nya lebih baik. Pemerintah
>menjamin tak akan ada insiden Chernobyl di Jepang.
>
>”Perserikatan Bangsa-Bangsa belum mengambil langkah-langkah selama belum ada
>permintaan. Jepang adalah negara paling siap di dunia (menghadapi bencana),”
>kata Elisabeth Byrs, juru bicara Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan
>Kemanusiaan (OCHA), kepada *Reuters*.
>
>Byrs melanjutkan, ”Jepang menanggapi tiga darurat sekaligus, yakni gempa,
>tsunami, dan ancaman nuklir, dan melakukannya dengan sangat baik.”
>
>Para *blogger *dan pengguna situs jejaring sosial berbahasa Inggris memuji
>Jepang sebagai bangsa yang tabah (*stoic*) dan bertanya-tanya tentang
>kemampuan bangsa lain, terutama di Barat, jika diguncang tiga bencana besar
>sekaligus. Mereka memuji Jepang adalah sebuah bangsa yang hebat, kuat, dan
>beretika.
>
>Profesor Harvard University, Joseph Nye, mengatakan, bencana telah
>melahirkan Jepang sebagai bangsa *soft power*. Istilah itu diciptakannya
>untuk melukiskan Jepang mencapai tujuannya dengan tampil lebih menarik bagi
>bangsa lain.
>
>Saat bencana dan tragedi kemanusiaan mengundang simpati dari dunia Jepang,
>citra negara yang tertimpa bencana jarang mendapat keuntungan dari bencana
>tersebut. Pakistan, misalnya, menerima bantuan AS dan negara lain saat
>dilanda banjir bandang tahun lalu. Namun, bantuan individu sangat sedikit,
>yang disebabkan citra negeri itu di mata dunia. China dan Haiti juga
>menghadapi kritik atas penanganan gempa bumi tahun 2008 dan 2009.
>
>Menghadapi kebutuhan akan dana rekonstruksi skala besar, Jepang masih
>menimbang tawaran internasional. ”Meski dilanda tragedi dahsyat, peristiwa
>menyedihkan, ada fitur-fitur yang sangat menarik dari Jepang,” kata Nye
>kepada *AFP*.
>
>”Terlalu dini untuk memprediksi apakah mereka berhasil memulihkan ekonomi.
>Tetapi, dilihat dari jauh, rakyat Jepang memperlihatkan ketabahan saat
>krisis. Hal ini berbicara banyak soal Jepang di masa depan,” kata Wakil
>Direktur Center for Strategic and International Studies Nicholas Szechenyi.
>
>*Dapatkan artikel ini di URL:*
>http://www.kompas.com/read/xml/2011/03/16/07391145/Ketangguhan.Jepang.Memukau.Dunia
>
>


 


      

Kirim email ke