Kesetiaan Enoch kepada Tari Rakyat

  KOMPAS/CORNELIUS HELMY HERLAMBANG
ENOCH ATMADIBRATA
 Kamis, 27 Januari 2011 | 03:41 WIB

Oleh *Cornelius Helmy*

Pertengahan tahun 1968, ceramah Enoch Atmadibrata tentang tarian Sunda di
Konservatori Tari kini Sekolah tinggi Seni Indonesia Bandung mengundang
decak kagum perwakilan Institute of Ethnomusicology University of
California. Saat itu, ia memaparkan tentang pentingnya pengemasan
pertunjukan dan dokumentasi dalam berbagai kesenian rakyat.

Tanpa diduga, perwakilan University of California (UCLA) langsung memberikan
penawaran beasiswa bagi Enoch untuk belajar di AS selama tiga tahun.
Tujuannya, membantu seniman Indonesia mengembangkan pertunjukan kesenian
rakyat.

Hati Enoch muda pun penuh dengan perasaan bangga dan senang. ”Saya bertekad
mencari ilmu yang banyak untuk mengangkat dan ikut membesarkan berbagai
kesenian rakyat Indonesia,” kata Enoch yang masih kesulitan berbicara karena
sakit dan harus didampingi salah satu muridnya, Yuli Sunaryo (53),
pertengahan Januari.

Pengalaman belajar di luar negeri menunjukkan banyak karya seni rakyat
Indonesia butuh pengembangan, terutama pengemasan panggung. Saat itu,
mayoritas teknik pengemasan panggung kesenian rakyat di Indonesia tanpa
ornamen dan membosankan. Ia khawatir kesenian rakyat akan kehilangan
peminat.

Hal itu berbeda dengan teater rakyat Jepang, kabuki. Teater yang memadukan
tari dan nyanyian dengan cerita lokal ini dipentaskan di panggung
ber-setting meriah. Setiap babak diberi latar belakang berbeda dengan warna
beraneka ragam.

Enoch mengatakan, Indonesia juga memiliki bentuk kesenian seperti kabuki,
salah satunya wayang orang. Wayang orang merupakan pentas perpaduan tari,
teater, dan nyanyi yang unik. Namun, saat itu wayang orang belum dikemas
dengan baik, khususnya penataan panggung.

Contoh pengemasan panggung yang baik juga dia lihat saat diundang menjadi
pembicara di Radio BBC Inggris. Saat itu ia melihat penataan akustik dan
audio pada seperangkat gamelan minimalis. Hasilnya, ragam dan jenis suara
yang jernih. Kondisi itu jarang ia temui di Indonesia. Sering kali suara
gamelan dalam suatu pementasan seni tak terdengar baik meski diperkuat
banyak variasi alat lainnya.

”Kesimpulannya, penataan dan pengemasan panggung yang dimiliki negara lain
jauh lebih baik. Hal itu sangat disayangkan karena kekuatan dan potensi seni
rakyat Indonesia tidak kalah berkualitas,” katanya.

*Cinta menari*

Keinginan Enoch membesarkan kesenian rakyat segera ia wujudkan setiba di
Tanah Air. Penataan panggung ala kabuki dan penempatan audio yang tepat
menjadi kekuatan setiap pertunjukan Enoch. Beberapa pertunjukan tari yang
berhasil ia gelar antara lain ”Mundinglaya Dikusuma”, ”Sangkuriang”, dan
”Nyi Pohaci Sanghyang Sri”.

Kecintaan Enoch kepada dunia seni tak lepas dari kesenangannya menari.
Lelaki asli Garut ini pertama kali belajar tari klasik Sunda dari Raden
Gandjar pada tahun 1943. Setelah perang kemerdekaan RI, Enoch melanjutkan
belajar tari pada Raden Tjetje Somantri di Bandung.

Tak puas, Enoch juga belajar tari wayang dari Mochamad Sari Redman, tari
keurseus, dan berguru tari topeng Palimanan dari Bi Dasih, tahun 1960. Lewat
kecintaannya kepada tari, ia merintis berdirinya Konservatori Tari (kini
Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung) dan jurusan sendratari di Fakultas
Ilmu Bahasa dan Seni IKIP Bandung (kini Universitas Pendidikan Indonesia).

Namanya pun dikenal di kalangan penari Jabar. Ia menciptakan banyak karya
baru yang masih sering dimainkan hingga kini, seperti Gending Karesmen
Lutung Kasarung, Cendrawasih, Hujan Munggaran, dan Katumbiri. Mayoritas tema
yang diangkatnya tentang perjuangan manusia untuk hidup dan mendapatkan
keadilan. Tari Cendrawasih, misalnya, diciptakan untuk memberikan semangat
kepada masyarakat Irian Jaya (kini Papua) memperjuangkan kesetaraan dan hak
sebagai warga negara Indonesia.

”Dukungan tak bisa diperlihatkan begitu saja, karena dulu, kritik langsung
dilarang pemerintah,” katanya.

Ciri khas lain yang jarang dimiliki umumnya seniman adalah minat Enoch
menulis dan mendokumentasikan karya seni. Hingga kini, ia telah menghasilkan
14 judul karya tulis dan buku tentang kesenian di Indonesia, di antaranya
Panungtun Dalang Wayang Golek di Pasundan (1982) dan Khasanah Seni
Pertunjukan Daerah Jawa Barat (2007). Bahkan, ada juga tulisan berbahasa
Inggris, seperti Sunda Dance dalam buku Grove Dictionary (1977) dan Ketuk
Tilu and Tayuban, Performing Arts (1999).

Enoch juga gemar mendokumentasikan karya dalam media elektronik. Koleksinya
adalah ratusan rekaman seni pertunjukan dari berbagai negara dan daerah
dalam bentuk film, foto, dan kaset.

”Saya ingin semakin banyak masyarakat mengetahui, lantas menyukai kesenian
dan adat istiadat yang kami miliki,” ujar Enoch yang pernah memimpin Misi
Kesenian Indonesia yang terdiri dari seni Topeng Cirebon dan Pencak Silat
selama tujuh pekan di 24 tempat di AS dan Kanada.

Kini, Enoch terbaring sakit dan menjalani perawatan di Rumah Sakit
Kebonjati, Bandung. Tubuh rentanya mulai kewalahan melawan gangguan prostat,
jantung, dan diabetes. Ia harus segera dioperasi, tetapi tim dokter belum
memberikan lampu hijau karena kondisi kesehatannya belum memungkinkan.

Nama besarnya terlihat saat banyak pihak peduli terhadap kondisi kesehatan
mantan pengajar di University of Santa Cruz, AS, ini. Pemerintah Jabar
berinisiatif membebaskan semua biaya pengobatan. Selain itu, pemerintah juga
memberikan bantuan untuk revitalisasi dokumentasi karya-karya Enoch.

Sekelompok seniman yang mayoritas anak asuhnya berencana mengadakan
pertunjukan karya seni Enoch. Keuntungan pergelaran ini untuk membiayai
pengobatan.

Enoch sangat berterima kasih kepada semua pihak yang peduli kepadanya. Hal
itu menjadi semangat baginya untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum
rampung. Ia berkeinginan terus memperkenalkan karya seni Jabar kepada
masyarakat nasional dan internasional.

”Bersama Yayasan Kesenian dan Kebudayaan Jayaloka, saya sedang mengolah
dokumentasi banyak karya seni rakyat dalam bentuk digital. Tujuannya agar
masyarakat mampu mengenal lebih jauh potensi seni yang dimilikinya,” ujar
mantan pengajar tari di University of Ohio ini.

*Dapatkan artikel ini di URL:*
http://www.kompas.com/read/xml/2011/01/27/0341414/Kesetiaan.Enoch.kepada.Tari.Rakyat

Kirim email ke